Aku tidak bisa menjawab langsung. Jawaban itu hanya sebuah rerasanan dalam diri yang kutuangkan dalam artikel sederhana ini. Mengapa orang begitu mudah main suap? Pengalaman selama ini demikian: saat mau urus KTP dari Jateng ke Jakarta tahun 1998, aku harus membayar per orangnya Rp. 5000,00. Artinya, yang sebenarnya tidak perlu bayar karena itu harus dikerjakan layaknya sebuah pelayanan dan memang tugasnya sebuah instansi pembuat KTP dalam pemerintahan lokal ya masyarakat tidak perlu membayar. Atau kalaupun itu ada dalam UU Pembuatan KTP, ya seharusnya masyarakat sudah tahu tarifnya. Nah, dari pengalaman 20 tahun lalu ini lantas aku berpikir, tidak ada UU Pembuatan KTP dengan tarif yang ada di dalamnya, ya kita harus membayar. Uangnya pun seharusnya standar dan tidak sesuai wilayah, kecuali ada ketentuan dalam peraturan atau UU tersebut. Kembali ke pengalaman 20 tahun lalu itu, aku sebenarnya diminta lebih tetapi sambil mengetes petugas di Tanah Abang waktu itu, aku beralasan bahwa aku hanya naik sepeda ontel saat mengurus perpindahan KTP ini. Waktu itu pun aku diancam karena mungkin melihat kami berempat orang udik dari desa Bregas Jateng lalu pindah ke Metropolitan Jakarta dengan alasan demikian: tanggal perpindahan sudah telat. Padahal tanggal itu berlaku nasional dan kami yakin tidak telat. Lalu jawaban kami: "Kami memilih dipenjara daripada harus bayar uang sejumlah Rp. 500 juta rupiah." Para petugas menyuruh kami menunggu. Lalu kami mendapat jawaban: "Ya sudah, silakan memberi uang administrasi Rp. 20.000, 00". Lha, koq begitu mudah berubah. Seharusnya kalau aturannya memang kuat dan tegas kami salah ya antara denda dan hukuman penjara karena salah dalam urusan KTP. Ternyata itu hanya motivasi di balik seluruh konspirasi mafia birokrasi urusan KTP.Begitu mudahnya orang mencari keuntungan dengan embel-embel "uang pelicin" sehingga Fadli Zon dan Fahri Hamzah mengatakan bahwa korupsi adalah oli pembangunan. Mungkin yang dimaksud adalah uang pelicin ini. Begitu mudahnya orang cari cara untuk menambah keuntungan materi dengan merugikan dan tidak konsisten dengan UU atau PP atau peraturan lainnya. Atau aku selalu berpikir, apakah pengaruh dari mentalitas Orde Baru zaman Soeharto yang begitu melihat banyaknya praktik-praktik kongkalikong dalam keluarga penguasa sehingga orang mau membayar harga supaya kerja dan urusannya lancar. Kalau kita mau lancar ya silakan menyuap. Siapa yang tidak ingin pekerjaan dan urusannya lancar? Kalau mau lancar ya dekatlah dengan penguasa. Kalau mau dekat dengan penguasa ya harus berani membayar jalur kepada kedekatan itu. Zaman itu memang paradigmanya adalah kalau mau meloloskan dengan lancar usahanya entah mau jadi pegawai negeri, mau jadi pejabat, mau lulus perguruan tinggi, atau yang lain maka pakai uang pelicin. Itu sudah seperti normal. Mau buat KTP/SIM/pindah tugas/mencaftar jadi polisi/mahasiswa dsb, segala urusan harus dengan uang pelicin karena orang ingin mudah lolos. Tes penerimaan atau ujian apapun hanya sebagai formalitas. Yang penting adalah uang pelicin dan siapa yang "membawa." Semakin tinggi pangkat dan kekuasaannya, semakin cepat urusan yang kita bawa. Plus berapa duit yang harus dibuat pelicin.
Ternyata pola bertindak yang menjadi kebiasaan dan menjadi "lumrah" di kalangan masyarakat kita ini sudah menjadi mendarah daging dan dimasuki, diyakini, diamini. Maka aku pun dengan sebenarnya tidak begitu rela mengatakan jenis agama baru itu adalah pola perilaku korupsi ini. Sebenarnya korupsi sendiri berasal dari bahasa Latin, "corrumpere" yang berarti membusuk(kan). Ketidakrelaanku adalah moso agama baru ini adalah kebusukan? Namun demikian jika memang praktik-praktik keyakinan supaya menjadi terkabul semua itu dengan pelicin alias main suap tadi, maka masyarakat akan "menganut" cara bertindak yang salah alias busuk ini.Pernyataan kritis lagi adalah bahwa sebenarnya agama atau institusi keyakinan iman ini tidak sekedar mengajak penganutnya untuk cari mudah dalam perjuangan hidup maka inilah yang menjadi kontraproduktif dari istilah "agama baru" yang bernama korupsi ini. Namun untuk membuat satir ya boleh saja. Orang bisa menjadi baik karena agama, sebaliknya orang menjadi busuk juga karena praktik agama yang salah seperti situasi akhir-akhir ini. Korupsi dan radikal-fundamentalisme merusak mentalitas kebanyakan orang.
Pertanyaan dalam diriku: apakah orang hanya cari mudahnya dalam hidup? Cari kebahagiaan itu ya. Namun kebahagiaan bukan lantas cari jalan pintas. Apakah orang tidak ingin repot? Kebanyakan iya. Ada kesalingan dalam kebutuhan, di sisi lain ada orang yang ingin difasilitasi dan di sisi lain ada orang yang menyediakan kesempatan dan fasilitas itu. Budaya feodal juga berpengaruh karena penguasa harus diberi persembahan atau upeti. Jika tidak ada upeti maka wilayahnya akan dihancurkan oleh penguasa. Ini adalah soal penguasaan. Perang kekuasaan juga terlibat dalam skandal korupsi. Jadi, selain motivasi kemudahan juga ada sisi lain yaitu praktik penyalahgunaan kekuasaan. Oleh karena itu klop sudah lahirnya "agama baru" itu.
#noon time
in my office#