Monday, November 7, 2022

Hupokrinesthai

Pagi ini, aku keluar untuk ke Alfamart. Sepulang dari sana, di jalan aku melihat beberapa petugas Satpol PP yang foto-foto bersama di pinggir jalan. Aku bertanya-tanya kenapa orang itu cenderung suka foto, selfie, atau mendokumentasikan dirinya? Sedang aku saat ini sangat anti akan hal itu. Lantas apakah ini bagian dari kepura-puraan? Ini bagian dari pemanis dan pemulas dari yang sebenarnya terjadi? Bisa jadi. Aku lantas ingat dengan tulisan Alissa Wahid beberapa waktu lalu. Dia menyorot soal "pesohor'. Intinya adalah bahwa di zaman medsos ini, setiap orang berpeluang menjadi "pesohor" asalkan dia hidup dalam sorotan media sosial atau menyorot diri sedemikian rupa sehingga menjadi terkenal. Dengan demikian, ketersohoran bukan lagi karena keahlian di bidang tertenu namun karena kemahirannya menyorot diri sedemikian rupa sehingga ia menjadi "media darling", "viral", "influencer", dan pemakai platform media lainnya. 

Aku lantas menjadi semakin bertanya, sebenarnya apa sih yang dicari selama orang suka masuk dalam dunia platform itu? Atau setidaknya mengapa orang suka mengekspose dirinya sehingga menjadi "sorotan" di seantero media? Apakah ketersohoran itu sebuah pencarian yang berujung pada tujuan? 

Aku lantas ingat sebuah kata, "hipokrit". Apakah ini sebuah bagian dari kemunafikan? Orang cenderung menutupi, memulas, memoles, bersolek dengan foto dan video dengan editan daripada kehidupan real yang dialami. Bisa jadi awalnya adalah memudahkan orang untuk melaporkan bahwa "saya sudah mengerjakan ini dan itu, saya berada di sini dan situ, saya sedang ini dan itu". Lantas karena menjadi keseringan, dan itu sangat mudah, tinggal "klik" dan "send" maka apa yang dilakukan sudah dilihat pimpinan, rekan, dan keluarganya. 

Para pasukan oranye atau yang berwarna apapun di Jakarta ini sudah sering kulihat melakukan hal yang sama untuk sekedar melaporkan atau mengupdate pimpinan atau grup-nya tentang apa yang dikerjakan. Memang mudah dan praktis, "klik" dan "kirim", seolah semua itu sah. Aku kemudian menjadi sanksi dengan kualitas kerja mereka yang hanya formalitas kirim-kirim foto ke sana ke mari hanya untuk memoles bahwa seolah-olah itu sudah terjadi. Perkara kualitasnya nomer sekian, itu mah nanti. 

Nah, persis di situlah kata "hupokrinesthai" yang adalah akar kata dari hipokrit itu. Artinya sendiri adalah berpura-pura menjadi atau berperan atau melakukan seperti... Atau kata lainnya adalah aktor dalam seni teater. Kepura-puraan itulah yang kemudian didukung oleh teknologi saat ini yaitu teknologi informasi dan telekomunikasi dengan media yang super canggih. 

Kemunafikan sudah mendapat wadahnya. Kemunafikan sudah difasilitasi. Orang tidak kenal lagi atau sangat amat asing dengan otentisitas diri dan aktivitasnya. Semua itu polesan dan serba hiasan luaran belaka. Orang lebih senang memoles daripada hidup dalam keaslian diri. Walau itu baru mulai, tetapi sudah difoto dan video, seolah-olah aktivitas itu sudah "marketable". Orang lupa pada kesejatian. Memang ini berbeda pendekatan. Ada yang mementingkan isi. Ada yang mementingkan bungkus. Namun kalau keduanya hanya pepesan kosong, lantas apa yang bisa dipegang? 

Kemunafikan sudah menguasai hidup. Oleh karenanya, orang cenderung hanya bangga dengan foto yang menjadi "status" luaran yang nampak. Orang menjadi puas seolah ia sudah melakukan yang terbaik. Orang bangga karena bisa update status dengan segala manipulasinya. Orang cenderung terasing dari kesejatiannya. Ia tak kenal lagi siapa dirinya. Dan bisa jadi dirinya adalah yang carut-marut, bisa jadi ia adalah psikopat akut yang memoles diri dengan manipulasi canggih, bisa jadi ia adalah yang berlawanan dari apa yang ia gambarkan dalam "statusnya". 

Pagi ini, diiringi hujan, aku hanya menuangkan sekdar pikiran dan pertanyaan yang tadi sempat tersirat dalam benakku. Dan mungkin ini sebagai bagian dari refleksiku dalam perjalanan hidup ini.


#morningrain#

Wednesday, November 2, 2022

Recuérdame

Kisah ini hanya dari sebuah cerita dari film tahun 2017.  Namun kisah itu sudah beberapa kali kuulang dalam sebuah moment berbagi. Terlebih untuk hari ini aku memang mendedikasikan bagi seluruh pribadi atau jiwa-jiwa yang sudah dimuliakan Hyang Kuasa ke haribaanNya. Aku perlu mengingat karena mengingat itu adalah sebuah tindakan itu sendiri. Mengingat adalah cara bertindak untuk merengkuh dan menyatukan kembali. Mengingat adalah menghadirkan kembali (anamnese). Mengingat adalah sebentuk mencintai itu sendiri. Tanpa sebuah ingatan akan sebuah hal, kejadian atau sosok pribadi atau banyak pihak lain yang singgah dalam perjalanan hidup, rasanya kehidupan ini hanya sebuah slide yang berjalan tanpa makna. Ingatan itu membantu memaknai. Oleh karena itu, bagian dari sejarah yang terpenting adalah ingatan. Sejarah bukan menghafal walau itu juga harus memakai ingatan. Ingatan jauh lebih dalam daripada sekedar hafalan. 

Seorang bocah bernama Miguel itu akhirnya berjumpa dengan leluhurnya karena ada sebuah ingatan yang awalnya dipertanyakan. ia bertanya mengapa ada leluhur yang dalam foto di rumahnya, bagian kepalanya disobek. Waktu itu, ia ingin mengikuti lomba seni musik. Namun sayang ia tidak punya alat musik. Ketika di sebuah makam, ia menemukan di sebuah nisan, ada gitar putih yang diletakkan di situ. Ia bergembira karena ia akhirnya menemukan alat musik yang hendak dipakainya untuk lomba. Namun sayangnya, ketika menyentuh gitar itu, ia justru dibawa ke alam kematian. Ia berjumpa dengan jiwa-jiwa yang ada di sana. Dan karena itulah, ia kemudian bisa merunut, siapa sebenarnya sosok foto keluarga yang bagian kepala (wajah) disobek. Ternyata itu adalah foto ayah dari nenek buyutnya. Ia bertemu "Mbah Canggah"-nya (dalam istilah Jawa-nya). Ternyata "Mbah Canggah"-nya adalah seborang musikus, setidaknya gitaris pada zamannya. Namun demikian, keahlian "Mbah Canggah"-nya itu justru yang menjadikan keluarga mereka menyobek foto itu. Mengapa demikian?

Keluarga tidak selalu menginginkan anggotanya menjadi seorang musikus karena alasan bahwa musikus itu profesi yang tidak menghasilkan uang. Menjadi musikus itu ibaratnya profesi yang tidak bisa diharapkan mampu menghidupi keluarga. Itulah mengapa keluarga besar membenci Mbah Canggahnya itu. Namun demikian, bagi Miguel, justru peristiwa itulah yang kemudian menyadarkan dirinya untuk mengingat keluarganya itu. Dalam tradisi Katolik Mexico, ketika orang tidak lagi mengingat salah seorang anggota keluarganya, ibaratnya ia sudah tidak lagi dianggap dalam kalangan keluarga besar atau kecil. Bahkan saat mendoakan arwahnya pun ia tidak diingat lagi karena tidak memenuhi harapan keluarga. Inilah yang menyadarkan Miguel untuk kembali membangkitkan harapan dalam keluarganya supaya tidak meniadakan atau mengasingkan atau membunuh bahkan ingatan itu. Sejelek-jelek atau setidak baiknya pribadi dalam keluarga itu dan tidak mampu ia memenuhi tuntutan keluarga, tidak baiklah jika pribadi itu dilupakan dari memori keluarga. Melupakan itu sama saja dengan meniadakan atau mengubur dalam ketidakingatan. Digambarkan dalam film itu, ketika jiwa-jiwa tidak lagi diingat atau didoakan atau diperingati, maka mereka akan terhapus dari dunia orang-orang mati dan entah kemana kita tidak tahu. Maka jiwanya akan menghilang seperti lenyap dalam asap dan tidak kelihatan lagi. 

Entah itu keluarga dekat atau hanya kenalan atau saudara jauh sekalipun, jika itu ada dalam ingatan kita, maka kita tetap memberi kehidupan baik di dunia dan di akhirat. Di dunia ini, kita masih berziarah dalam perjuangan hidup. Di akhirat, kita tidak tahu seperti apa situasinya, setidaknya kita memberi asa bahwa kita mengingat mereka. Mengingat adalah menghidupi, menghadirkan, merengkuh, mendukung, memberi sapaan, dan kita percaya bahwa mereka adalah pendoa bagi kita yang masih berziarah di dunia ini. Aku lantas terngiang bahwa kita semua masih berada dalam perjuangan dan seperti terhempah dalam lembah kedukaan di dunia ini. Seperti dalam kidung Salve Regina, kita bernafas terengah-engah dan menangis dalam lembah air mata, "gementes et flentes in hac lacrimarum valle." 

Mengingat banyak hal, banyak peristiwa, banyak pribadi-pribadi, baik yang masih hidup dan sudah meninggal, aku pun diajak mengingat banyak rahmat dan pergulatan yang pernah terjadi. Lagu "Remember me" atau  "Recuérdame" itu mengajak bermenung tentang hidupku, peristiwa-peristiwa dan tentu relasi yang pernah kita buat. Keluarga akhirnya mengajarkan kepada kita untuk hidup dan berdamai dengan masa lalu juga. Jika ada kekurangan, tentu itu bagian dari peziarahan. Sesuatu yang pada masa lalu tidak diharapkan oleh keluarga bisa didamaikan asal kita semua terbuka dan mau rendah hati memeluk kerapuhan kita dan keluarga kita. Mengingat adalah menyembuhkan dan menyatukan. 

Sambil mengingat dan mendoakan semua jiwa yang sudah dipanggil Tuhan, aku mengingat doa yang tiba-tiba dari kesadaran primordialku muncul kembali, yaitu Salve Regina (Salam, ya Ratu), karena sang Ibulah yang sudah mencarikan jalan lewat lorong-lorong lembah duka itu menuju kepada Firdaus kembali. Sang Ibu telah menjadi penolong dan pembelaku dalam menyusuri jalan setapak di dunia ini dari keterbuangan di lembah air mata. Tak lupa aku juga mengingat akan sekian banyak orang yang turut mendoakanku dalam pergulatan hidup ini, mereka yang dengan berani membelaku dan berkata bahwa mereka ada di sisiku dan mendoakanku. Maka doaku yang kubaharui lewat terjemahan dari bahasa asali dan nuansa yang lebih mengena, kutuliskan demikian: 

Salam ya, Ratu. Ibu yang berbelaskasih, salam dari kami, hai Engkau yang hidup, yang manis, dan harapan kami. Kami, anak-anak Hawa yang terasing ini, menangis kepadamu. Kepadamu, kami bernafas terengah-engah dalam lembah air mata ini. Ya, Ibunda, pembela kami, arahkanlah matamu kepada kami yang malang ini. Dan tunjukanlah, Yesus, buah rahimmu kepada kami, agar kami diberkati dalam pengasingan ini. O, penyayang, O, engkau yang saleh, O, Perawan Maria yang manis.


#mementomori#