Kisah ini hanya dari sebuah cerita dari film tahun 2017. Namun kisah itu sudah beberapa kali kuulang dalam sebuah moment berbagi. Terlebih untuk hari ini aku memang mendedikasikan bagi seluruh pribadi atau jiwa-jiwa yang sudah dimuliakan Hyang Kuasa ke haribaanNya. Aku perlu mengingat karena mengingat itu adalah sebuah tindakan itu sendiri. Mengingat adalah cara bertindak untuk merengkuh dan menyatukan kembali. Mengingat adalah menghadirkan kembali (anamnese). Mengingat adalah sebentuk mencintai itu sendiri. Tanpa sebuah ingatan akan sebuah hal, kejadian atau sosok pribadi atau banyak pihak lain yang singgah dalam perjalanan hidup, rasanya kehidupan ini hanya sebuah slide yang berjalan tanpa makna. Ingatan itu membantu memaknai. Oleh karena itu, bagian dari sejarah yang terpenting adalah ingatan. Sejarah bukan menghafal walau itu juga harus memakai ingatan. Ingatan jauh lebih dalam daripada sekedar hafalan.

Seorang bocah bernama Miguel itu akhirnya berjumpa dengan leluhurnya karena ada sebuah ingatan yang awalnya dipertanyakan. ia bertanya mengapa ada leluhur yang dalam foto di rumahnya, bagian kepalanya disobek. Waktu itu, ia ingin mengikuti lomba seni musik. Namun sayang ia tidak punya alat musik. Ketika di sebuah makam, ia menemukan di sebuah nisan, ada gitar putih yang diletakkan di situ. Ia bergembira karena ia akhirnya menemukan alat musik yang hendak dipakainya untuk lomba. Namun sayangnya, ketika menyentuh gitar itu, ia justru dibawa ke alam kematian. Ia berjumpa dengan jiwa-jiwa yang ada di sana. Dan karena itulah, ia kemudian bisa merunut, siapa sebenarnya sosok foto keluarga yang bagian kepala (wajah) disobek. Ternyata itu adalah foto ayah dari nenek buyutnya. Ia bertemu "Mbah Canggah"-nya (dalam istilah Jawa-nya). Ternyata "Mbah Canggah"-nya adalah seborang musikus, setidaknya gitaris pada zamannya. Namun demikian, keahlian "Mbah Canggah"-nya itu justru yang menjadikan keluarga mereka menyobek foto itu. Mengapa demikian?
Keluarga tidak selalu menginginkan anggotanya menjadi seorang musikus karena alasan bahwa musikus itu profesi yang tidak menghasilkan uang. Menjadi musikus itu ibaratnya profesi yang tidak bisa diharapkan mampu menghidupi keluarga. Itulah mengapa keluarga besar membenci Mbah Canggahnya itu. Namun demikian, bagi Miguel, justru peristiwa itulah yang kemudian menyadarkan dirinya untuk mengingat keluarganya itu. Dalam tradisi Katolik Mexico, ketika orang tidak lagi mengingat salah seorang anggota keluarganya, ibaratnya ia sudah tidak lagi dianggap dalam kalangan keluarga besar atau kecil. Bahkan saat mendoakan arwahnya pun ia tidak diingat lagi karena tidak memenuhi harapan keluarga. Inilah yang menyadarkan Miguel untuk kembali membangkitkan harapan dalam keluarganya supaya tidak meniadakan atau mengasingkan atau membunuh bahkan ingatan itu. Sejelek-jelek atau setidak baiknya pribadi dalam keluarga itu dan tidak mampu ia memenuhi tuntutan keluarga, tidak baiklah jika pribadi itu dilupakan dari memori keluarga. Melupakan itu sama saja dengan meniadakan atau mengubur dalam ketidakingatan. Digambarkan dalam film itu, ketika jiwa-jiwa tidak lagi diingat atau didoakan atau diperingati, maka mereka akan terhapus dari dunia orang-orang mati dan entah kemana kita tidak tahu. Maka jiwanya akan menghilang seperti lenyap dalam asap dan tidak kelihatan lagi.
Entah itu keluarga dekat atau hanya kenalan atau saudara jauh sekalipun, jika itu ada dalam ingatan kita, maka kita tetap memberi kehidupan baik di dunia dan di akhirat. Di dunia ini, kita masih berziarah dalam perjuangan hidup. Di akhirat, kita tidak tahu seperti apa situasinya, setidaknya kita memberi asa bahwa kita mengingat mereka. Mengingat adalah menghidupi, menghadirkan, merengkuh, mendukung, memberi sapaan, dan kita percaya bahwa mereka adalah pendoa bagi kita yang masih berziarah di dunia ini. Aku lantas terngiang bahwa kita semua masih berada dalam perjuangan dan seperti terhempah dalam lembah kedukaan di dunia ini. Seperti dalam kidung Salve Regina, kita bernafas terengah-engah dan menangis dalam lembah air mata, "gementes et flentes in hac lacrimarum valle."
Mengingat banyak hal, banyak peristiwa, banyak pribadi-pribadi, baik yang masih hidup dan sudah meninggal, aku pun diajak mengingat banyak rahmat dan pergulatan yang pernah terjadi. Lagu "Remember me" atau "Recuérdame" itu mengajak bermenung tentang hidupku, peristiwa-peristiwa dan tentu relasi yang pernah kita buat. Keluarga akhirnya mengajarkan kepada kita untuk hidup dan berdamai dengan masa lalu juga. Jika ada kekurangan, tentu itu bagian dari peziarahan. Sesuatu yang pada masa lalu tidak diharapkan oleh keluarga bisa didamaikan asal kita semua terbuka dan mau rendah hati memeluk kerapuhan kita dan keluarga kita. Mengingat adalah menyembuhkan dan menyatukan.
Sambil mengingat dan mendoakan semua jiwa yang sudah dipanggil Tuhan, aku mengingat doa yang tiba-tiba dari kesadaran primordialku muncul kembali, yaitu Salve Regina (Salam, ya Ratu), karena sang Ibulah yang sudah mencarikan jalan lewat lorong-lorong lembah duka itu menuju kepada Firdaus kembali. Sang Ibu telah menjadi penolong dan pembelaku dalam menyusuri jalan setapak di dunia ini dari keterbuangan di lembah air mata. Tak lupa aku juga mengingat akan sekian banyak orang yang turut mendoakanku dalam pergulatan hidup ini, mereka yang dengan berani membelaku dan berkata bahwa mereka ada di sisiku dan mendoakanku. Maka doaku yang kubaharui lewat terjemahan dari bahasa asali dan nuansa yang lebih mengena, kutuliskan demikian:
Salam ya, Ratu. Ibu yang berbelaskasih, salam dari kami, hai Engkau yang hidup, yang manis, dan harapan kami. Kami, anak-anak Hawa yang terasing ini, menangis kepadamu. Kepadamu, kami bernafas terengah-engah dalam lembah air mata ini. Ya, Ibunda, pembela kami, arahkanlah matamu kepada kami yang malang ini. Dan tunjukanlah, Yesus, buah rahimmu kepada kami, agar kami diberkati dalam pengasingan ini. O, penyayang, O, engkau yang saleh, O, Perawan Maria yang manis.
#mementomori#