Wednesday, August 19, 2026
Merebut Sistem Kontrol
Friday, July 31, 2026
Bussy Time
Monday, June 29, 2026
Imperfection
Ada orang-orang yang berbicara tentang situasi dan kondisi masyarakat yang tak baik-baik saja. Ada pula yang berkisah tentang sesama yang menghadapi tantangan hidup secara keluarga, anaknnya tak jadi meneruskan ke jenjang pembinaan selanjutnya karena penilaian yang kurang dari pembimbing. Ada situasi di mana tidak semua hal itu mulus-mulus saja. Ada situasi bahwa dalam diri manusia itu dipengaruhi oleh cara orangtua berelasi dan mendampingi dirinya. Ada orang tua yang bahkan sampai anaknya dewasa tidak kenal anaknya, tidak kenal karakternya atau bahkan membutuhkan validasi dan konfirmasi dari orang lain karena kurang yakin dengan apa yang dialami dirinya dan menghadapi anaknya.
Itulah fenomena yang terjadi dalam hidup. Kadang hidup ini tidak
terdiri dari success story saja namun ada juga kisah-kisah lain yang tertulis
dengan kalimat yang dicoret-coret dan tintanya tidak semua lancar. Ada tinta
yang terlalu tebal sehingga mengotori tulisan dan ada pula tinta seret dan
cenderung mati ketika dipakai untuk menulis di atas kertas.
Jika memang kita itu tidak baik, maka kita sebenarnya sudah
harus menyadari diri sejak awal memang kita ini rapuh dan tidak sempurna. Jika
ada yang menghakimi dan menjelek-jelekkan kita, memang kita sudah jelek. Jika
ada yang mengapresiasi kita, kita juga pantas bersyukur. Jadi dalam hidup ini,
kita tidak perlu mencari validasi, konfirmasi bahwa kita baik. Memang jika kita
sudah sampai pada kaca mata melihat bahwa segala sesuatu itu baik, itu adalah
hal istimewa. Kalau ada orang yang mampu melihat sisi baik dari
ketidaksempurnaan ini, itulah keilahian. Kemanusiawian kita selalu akan
melihatnya jelek karena memang kita ini tidak sempurna.
Di zaman ini, di komunitas bangsa ini pun aku hanya bisa
mengelus dada. Ada banyak ketidakberesan yang terjadi. Namun demikian, aku
lantas bertanya, bisa apa aku dengan hal ini? Bisa menyuarakan apa aku dengan kondisi
ini? Menyalakan cahaya di tengah kegelapan memang perlu dibuat daripada kita
mengutuki kegelapan itu sendiri. Lantas bagiku ini yang tidak mudah, yaitu
menerima kenyataan pahit akan adanya ketidakberesan dalam hidup itu sendiri.
Inginnya adalah hal-hal yang baik, namun yang terjadi sebaliknya. Melihat
terang dalam sisi gelap itu tidak mudah. Keberanian menembus pekatnya kegelapan
itulah yang perlu kubuat. Melihat masyarakat yang dibuat pusing oleh kelakuan
segelintir orang yang menghambur-hamburkan uang demi syahwat kepentingan politik
kekuasaan memang tidak mudah menjalaninya. Dengan gamblang kita melihat dengan
mata fisik dan batin adanya salah kelola dalam hidup bersama, namun kita belum
bisa berbuat banyak. Bahkan seorang guru pernah mengeluh, kepada siapa lagi
harus melapor karena pihak-pihak yang dijadikan tempat mengadu adalah
mereka-mereka yang turut ambil bagian dalam kesalahan pengelolaan hidup
bersama. Lalu kepada siapa harus mengadu?
Itulah yang terjadi akhir-akhir ini. Tidak internal dan
eksternal, kita semua sedang mengalami masa di mana ketidakmampuan mengelola
hidup bersama terjadi. Kadang hal itu membuat gemas, karena kita bisa melihat
namun tidak bisa berbuat banyak. Banyak kritikan ke pihak-pihak yang terkait,
tapi hanya dibiarkan dan cenderung bebal untuk mampu mendengarkan dan
memerbaiki diri. Itulah kiranya dilema dan paradoks hidup. Apakah lantas aku
hanya bisa menerima itu semua dalam kenyataan yang tidak baik-baik saja?
#eveningtime#
Thursday, May 28, 2026
Lihatlah Manusia
Tuesday, April 28, 2026
Akar dan Kekacauan
Ada anggapan bahwa bangsa yang tidak pernah kembali memahami akarnya adalah bangsa yang selalu akan hidup dalam lingkaran kekacauan. Dan itu benar adanya. Orang hanya tahunya dan pijakannya pada masa kekinian. Sedangkan masa lalu ibaratnya sudah berlalu. Itu ada benarnya, namun dari sisi kurang bijaksananya seorang makhluk manusia karena ia tidak memakai dan memaknai dimensi masa lalu sebagai proses peziarahan mencari yang mendasar atau fundamentumnya. Keberakaran itu sangat amat penting. Ketika akar itu tercerabut maka sehebat apapun tanamannya akan mati. Atau kalaupun dipindahkan ke tempat lain, di tanah yang baik sekalipun, pasti akan mengalami adaptasi yang tidak mudah. Hidup apapun ibaratnya adalah tumbuhan yang punya akar. Keberakaran manusia itu hanya dan jika memang diberi sebuah pentradisian yang baik dan baku. Kita jauh api dari panggang dalam hal itu.
Aku menulis ini karena sebuah hal yang tadi malam itu berita yang setengah kubaca dan setengah tidak kuanggap. Ada sebuah peristiwa kecelakaan kereta di Bekasi. Ah, berita serupa itu pernah terdengar saat aku masih kecil yaitu "tragedi Bintaro". Setelah pagi tadi ngobrol di meja makan pas sarapan, ternyata ada berbagai tambahan informasi. Ada yang mengatakan bahwa itu gara-gara KRL-nya menabrak sebuah taxi yang menerobos palang pintu perlintasan kereta. Ada yang mengatakan ada keterlambatan koordinasi untuk segera memperingatkan evakuasi atau KRL harusnya segera pergi dari lintasan rel yang sama yang akan dipakai oleh Argo Bromo yang menabrak KRL itu. Ada yang menyalahkan taxinya. Ada yang menyalahkan koordinasi. Ada yang melihat bahwa itu sesuatu yang tak habis pikir. Semua bisa ditunjuk; semua bisa disalahkan. Namun demikian sebenarnya dengan demikian kita sebagai makhluk manusia bisa berefleksi dari dan mengevaluasi sebuah kecelakaan. Semua akan mengacu pada manusianya itu sendiri. Bahwa orang pada akhirnya akan mengatakan itu semua adalah kecelakaan, namun pada dasarnya manusianya dulu yang harus dilihat dan dibuat perkaranya.Aku melihat akhir-akhir ini bangsa ini makin kacau. Kacaunya itu bahkan terang-terangan namun orang tak mau disebut itu kekacauan karena yang membuat kacau adalah penyelenggara negara atau aparat itu sendiri. Sebenarnya tulisan-tulisanku sebelumnya juga menunjuk hal ini. MBG yang sarat dengan proyek kacau dalam arti korupsi terang-terangan mabuk dengan korupsi. Proyek ini jelas tidak tepat sasaran, dipaksakan, aktornya juga kroni-kroni dari penyelenggara negara. Dari MBG ini menghasilkan banyak kekacauan lain: pengadaan SPPG yang memang kacau, proyek cari untung, masakan beracun, dan selalu akan berhadapan dengan keterlibatan sosok bersenjata dan berseragam. MBG juga membawaku pada proyek KOPDES Merah Putih. Namanya kelihatan sangat nasionalis fasis. Dan itulah yang memang sedang terjadi di negeri ini, sebagai mantan jajahan fasis dan totalitarian ala kolonialis. DNA negeri in adalah itu. KOPDES ini sudah mengusung proyek-proyek korup lain. Jika dilihat di lapangan, aku sebagai masyarakat biasa melihatnya hanya secara common sense saja. Ada tanah yang dijadikan tempat bangunan koperasi itu. Bangunannya mencolok dengan warna yang sesuai namanya "merah putih". Aku tidak paham betul nanti gedung itu akan dipakai untuk apa. Koperasi yang dipaksakan dari atas ke bawah (top down) pasti akan sama nasibnya dengan KUD pada zaman ORBA. Kopdes itu saat ini juga memperanakkan anak-anak korup lain seperti: pengadaan kendaraan mobil dari India dan Cina. Proyek pengadaannya pasti bermasalah, terlalu dipaksakan, tidak ada kontrol yang memadahi dari pihak penyelenggara negara. Dan tentunya masih banyak korupsi yang diperanakkan lainnya.
Di saat tadi malah ada peristiwa resuffle kabinet yang sama dengan nama Kopdes itu, terjadilah kecelakaan kereta di Bekasi itu. Aku hanya bisa mengatakan pada diriku, alam akan terus berbicara mengiringi energi bangsa ini. Kekacauan dan bencana akan selalu berkelindan dengan apa yang diperbuat oleh makhluk manusianya. Manusia membuat kekacauan pasti ada energi kacau lain. Dan kalau tidak sadar untuk berhenti, pastilah alam ini akan mencari cara menghentikan itu semua. Aku bayangkan bahwa kekacauan akan sampai pada puncaknya dan terakumulasi pada sebuah gelombang energi manapun yang akan menghentikan ini. Apapun itu namanya, kekacauan ada batasnya. Kekacauan selalu akan terkait dengan kekurangberakaran kita pada sejarah, jati diri, DNA yang kita punyai. Ada sebab dan ada akibat. Aku hanya mau melihat bahwa hidup itu bisa diatur sedemikian rupa sehingga keamanan dan kenyamanan itu terwujud. Sejak lama aku selalu menyoroti bahwa bangsa ini tak mau repot tapi selalu menyerempet-nyerempet bahaya. Mengapa tidak ada tempat penyeberangan yang dipakai? Mengapa kita jarang buat U-turn yang membuat yang lain selamat dengan cara membuat flyover atau underpass? Jawabannya (1) orangnya tak mau repot dengan membangun karena (2) duitnya lebih baik dikorupsi.
Bisa saja pengurus negara ini berbicara baik-baik di depan publik tapi jika di dalamnya, di dalam lingkaran energi hidupnya tidak baik, maka akan terbaca dan terungkap oleh apapun nanti. Apapun proyek yang dirasa baik oleh pengurus negara ini namun kalau tidak kembali pada kesejahteraan bersama (bonum commune), maka akan terjadi kesenjangan, penindasan yang pada akhirnya akan bermuara pada gelombang amuk massa. Mau disebut ada konspirasi asing atau aseng, energi itu akan tetap berbicara dengan caranya sendiri untuk mencari keseimbangan lagi karena ini adalah hal yang sudah menimbulkan ketidakseimbangan dalam hidup.
Ya, intinya aku hanya mencatat dan mengingat bahwa semua itu tak jauh dari gerak energi alam yang saling bertaut. Akar dan kekacauan adalah hal yang saling terkait. Pohon tak berakar kuat akan tercerabut oleh kekuatan angin badai atau banjir bandang. Demikian juga hidup manusia itu sendiri.
#feelingsad#
Sunday, March 29, 2026
Vonis dan Ikhlas
Friday, February 27, 2026
Mutu
Monday, January 26, 2026
Elysium
Fratres! Three weeks from now, I will be harvesting my crops. Imagine where you will be, and it will be so. Hold the line! Stay with me! If you find yourself alone, riding in green fileds with sun on your face, do not be troubled. For you are in Elysium, and you are already dead! Brothers… what we do in life echoes in eternity.
Itu adalah kata-kata Maximus Decimus Meridius dalam lakon film Gladiator (2000). Di bagian akhir ia mengatakan bahwa "jika kalian mendapati diri sendiri sendirian, berkuda di padang hijau dengan matahari di wajah, jangan cemas. Karena kalian berada di Elysium, dan kalian sudah mati!" Hal itu disertai dengan gelak tawa legiun tentaranya. Dan memang awal dari film itu adalah tentang peperangan legiun Romawi pinpinannya dengan suku utara yang disebut Germania. Dalam film itu, peperangan itu dimenangkan tentara Romawi dan menjadi penaklukan di Eropa bagian utara. Kalimat yang ikonik dalam film itu karena akhirnya dia yang pernah berjuang bagi negaranya, akhirnya harus mati karena perebutan kekuasaan setelahnya. Ia yang loyal pada kaisar Marcus Aurelius kemudian disingkirkan oleh penggantinya yaitu Commodus. Itulah tragedi dalam kehidupan di manapun dan kapanpun. Intrik-intrik dalam sebuah komunitas apapun pasti terjadi, entah telah, sedang dan akan.
Dari kisah itu aku bisa belajar banyak. Pertama, bagaimana kekuasaan akhirnya adalah perebutan antara kekuatan yang mau menyejahterakan rakyat dan yang hanya demi kepentingan segelintir orang (kelompok/ kubu) tertentu. Kedua, sebaik-baiknya orang, jika sudah ada yang tidak suka, atau karena iri terhadap dirinya maka akhirnya juga akan mengalami disingkirkan. Apalagi jika sudah tersebar bahwa entah diplintir atau karena memang pernah ada tindakan yang mencoreng hidupnya, maka penghakiman itu akan seumur hidup bahkan akan sampai pada sebuah kematian itu sendiri. Ketiga, kemenangan dan penghargaan itu tidak berarti akan akan langgeng dari satu penguasa ke penguasa yang lain. Ketika terjadi pergantian rejim, maka kemenangan dan penghargaan itu bisa dinilai sebagai kegagalan dan cemoohan. Oleh karena itu, tidak baik jika kita merasa cepat puas dan merasa hidup ini demi kemenangan dan mencari penghargaan semata, karena itu semua ada karena konteks tertentu saja. Semua tak abadi. Yang abadi adalah kepentingan itu sendiri. Keempat, aku sangat terkesan dengan cara Maximus menertawakan hidup dan itu dipakai untuk menyemangati tentaranya dengan mengatakan hal di atas: "jika kalian mendapati diri sendiri sendirian, berkuda di padang hijau dengan matahari di wajah, jangan cemas. Karena kalian berada di Elysium, dan kalian sudah mati!" Kematian bukan sebuah hal menakutkan, kematian bukan sebuah hal yang gagal, kematian bukan harus dihindari.Di hal yang keempat itu, aku selalu terkesan. Manusia selalu mencari kehidupan material, lewat kesuksesan, nama baik, prestasi, penghargaan, sanjungan, kehormatan dan sebagainya. Setelah hidup sekian waktu, aku menyadari bahwa semua itu tidak pernah terjadi, sehingga hidup ini adalah sebuah peperangan dan pergantian waktu, kesempatan, dan bukan mengejar idealisme yang mengawang. Ketika masih hidup pun kita bisa saja berada dalam kematian, karena memang tidak bisa memaknai hidup atau kita dibunuh karakter kita oleh situasi atau lebih tepatnya penilaian politis dari komunitas (masyarakat). Sudah banyak contoh adanya pembunuhan karakter atau stigmatisasi dalam sebuah komunitas. Saat Nazi berkuasa di Jerman, orang Yahudi distigma dan tidak dianggap sebagai manusia yang layak hidup maka dibantai. Pada rezim Orba, Indonesia (tepatnya diktator Soeharto dan antek-anteknya) menstigma dan membunuh karakter orang-orang yang dianggap (1) anggota PKI, (2) simpatisan atau anggota dari salah satu organisasi underbouw PKI, dan orang-orang yang dinilai "kiri" dan (3) mereka yang dianggap "Soekarnois". Ada yang dibunuh tanpa proses pengadilan, ada yang dipenjara di kamp konsentrasi, dan keturunannya bahkan ditandai dengan kebijakan tidak boleh menjadi ASN. Kesalahan yang dipolitisasi itu dilanggengkan dalam sebuah sistem politik dan sosial yang mengimbas ke budaya dan lainnya sehingga masyarakat itu mempunyai cara berpikir bahwa mereka adalah musuh negara yang layak dibunuh secara apapun caranya.
Media sosial saat ini menjadi sarana stigmatisasi dan pembunuhan karakter dari pihak satu ke pihak lain dengan massif. Bahkan dengan pola yang sama, jika isu itu menghilang, bisa dibangkitkan lagi demi sentimen tertentu yang dihembuskan ke publik. Maka yang dulu dianggap sebagai "pelaku" (kekerasan, kejahatan, atau apapun) itu bisa menjadi "korban" ketika akhirnya kalah dan dikalahkan. Hidup ini adalah peperangan. Ada yang kalah dan ada yang menang. Kadang ada situasi seri (draw). Tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang. Kesadaran akan kesehatan mental memang baik, namun tanpa dibarengi dengan keberanian melatih diri untuk kuat dalam menghadapi tekanan, kita akan terombang-ambing pada aku menjadi "korban" terus atau aku dihakimi menjadi "pelaku" terus. Bagiku saat ini yang penting adalah menerima diri apa adanya, tanpa harus memendam kemarahan meledak-ledak. Jika aku pernah jadi penjahat bagi yang lain, ya ini adalah kesempatan untuk mengubah hidup walau stigma "penjahat" itu tidak akan pernah hilang. Di mata manusia, tidak ada pertobatan. Jika aku saat ini diadili oleh situasi dan khalayak, biarlah aku menerima dan mengatakan seperti Maximus, tidak usah cemas karena aku sudah berada di Elysium, aku sudah mati. Kematian yang masih diberi kesempatan berada dan bersanding dengan kehidupan, itulah yang perlu kuhayati. Saudara kematian berdampingan dengan saudara kehidupan, demikian kata Fransiskus Asisi.
Yah, hidup selalu berdampingan dengan kematian. Itulah yang kulihat dalam film dokumenter tentang sebuah tempat di India yang bernama Varanasi, di mana kehidupan berdampingan dengan kematian. Banyak orang membawa keluarganya yang sakit parah dan tidak bisa diobati lagi untuk mati di Varanasi karena ketika mati di sana mereka berkeyakinan bahwa yang meninggal dilepaskan dari siklus reinkarnasi. Mereka akan langsung ke nirvana. Di tempat itu Sungai Gangga mengalir, dan dipakai untuk pemujaan serta melarung abu jenasah yang mati dikremasi. Namun, ini pertanyaanku: bukankah dunia ini adalah "Varanasi" juga? Tempat kehidupan berdampingan dengan kematian? Maka, dengan coretanku ini, aku hanya ingin mengingatkan diriku dan menertawakan kehidupan (entah sebagai penjahat atau orang baik) bahwa tidak perlu cemas, karena aku sudah berada di Elysium, aku sudah mati.
#embracinglifeanddeath#
.jpg)






