Ada orang-orang yang berbicara tentang situasi dan kondisi masyarakat yang tak baik-baik saja. Ada pula yang berkisah tentang sesama yang menghadapi tantangan hidup secara keluarga, anaknnya tak jadi meneruskan ke jenjang pembinaan selanjutnya karena penilaian yang kurang dari pembimbing. Ada situasi di mana tidak semua hal itu mulus-mulus saja. Ada situasi bahwa dalam diri manusia itu dipengaruhi oleh cara orangtua berelasi dan mendampingi dirinya. Ada orang tua yang bahkan sampai anaknya dewasa tidak kenal anaknya, tidak kenal karakternya atau bahkan membutuhkan validasi dan konfirmasi dari orang lain karena kurang yakin dengan apa yang dialami dirinya dan menghadapi anaknya.
Itulah fenomena yang terjadi dalam hidup. Kadang hidup ini tidak
terdiri dari success story saja namun ada juga kisah-kisah lain yang tertulis
dengan kalimat yang dicoret-coret dan tintanya tidak semua lancar. Ada tinta
yang terlalu tebal sehingga mengotori tulisan dan ada pula tinta seret dan
cenderung mati ketika dipakai untuk menulis di atas kertas.
Jika memang kita itu tidak baik, maka kita sebenarnya sudah
harus menyadari diri sejak awal memang kita ini rapuh dan tidak sempurna. Jika
ada yang menghakimi dan menjelek-jelekkan kita, memang kita sudah jelek. Jika
ada yang mengapresiasi kita, kita juga pantas bersyukur. Jadi dalam hidup ini,
kita tidak perlu mencari validasi, konfirmasi bahwa kita baik. Memang jika kita
sudah sampai pada kaca mata melihat bahwa segala sesuatu itu baik, itu adalah
hal istimewa. Kalau ada orang yang mampu melihat sisi baik dari
ketidaksempurnaan ini, itulah keilahian. Kemanusiawian kita selalu akan
melihatnya jelek karena memang kita ini tidak sempurna.
Di zaman ini, di komunitas bangsa ini pun aku hanya bisa
mengelus dada. Ada banyak ketidakberesan yang terjadi. Namun demikian, aku
lantas bertanya, bisa apa aku dengan hal ini? Bisa menyuarakan apa aku dengan kondisi
ini? Menyalakan cahaya di tengah kegelapan memang perlu dibuat daripada kita
mengutuki kegelapan itu sendiri. Lantas bagiku ini yang tidak mudah, yaitu
menerima kenyataan pahit akan adanya ketidakberesan dalam hidup itu sendiri.
Inginnya adalah hal-hal yang baik, namun yang terjadi sebaliknya. Melihat
terang dalam sisi gelap itu tidak mudah. Keberanian menembus pekatnya kegelapan
itulah yang perlu kubuat. Melihat masyarakat yang dibuat pusing oleh kelakuan
segelintir orang yang menghambur-hamburkan uang demi syahwat kepentingan politik
kekuasaan memang tidak mudah menjalaninya. Dengan gamblang kita melihat dengan
mata fisik dan batin adanya salah kelola dalam hidup bersama, namun kita belum
bisa berbuat banyak. Bahkan seorang guru pernah mengeluh, kepada siapa lagi
harus melapor karena pihak-pihak yang dijadikan tempat mengadu adalah
mereka-mereka yang turut ambil bagian dalam kesalahan pengelolaan hidup
bersama. Lalu kepada siapa harus mengadu?
Itulah yang terjadi akhir-akhir ini. Tidak internal dan
eksternal, kita semua sedang mengalami masa di mana ketidakmampuan mengelola
hidup bersama terjadi. Kadang hal itu membuat gemas, karena kita bisa melihat
namun tidak bisa berbuat banyak. Banyak kritikan ke pihak-pihak yang terkait,
tapi hanya dibiarkan dan cenderung bebal untuk mampu mendengarkan dan
memerbaiki diri. Itulah kiranya dilema dan paradoks hidup. Apakah lantas aku
hanya bisa menerima itu semua dalam kenyataan yang tidak baik-baik saja?
#eveningtime#

No comments:
Post a Comment