Monday, June 29, 2026

Imperfection

Ada orang-orang yang berbicara tentang situasi dan kondisi masyarakat yang tak baik-baik saja. Ada pula yang berkisah tentang sesama yang menghadapi tantangan hidup secara keluarga, anaknnya tak jadi meneruskan ke jenjang pembinaan selanjutnya karena penilaian yang kurang dari pembimbing. Ada situasi di mana tidak semua hal itu mulus-mulus saja. Ada situasi bahwa dalam diri manusia itu dipengaruhi oleh cara orangtua berelasi dan mendampingi dirinya. Ada orang tua yang bahkan sampai anaknya dewasa tidak kenal anaknya, tidak kenal karakternya atau bahkan membutuhkan validasi dan konfirmasi dari orang lain karena kurang yakin dengan apa yang dialami dirinya dan menghadapi anaknya.

Itulah fenomena yang terjadi dalam hidup. Kadang hidup ini tidak terdiri dari success story saja namun ada juga kisah-kisah lain yang tertulis dengan kalimat yang dicoret-coret dan tintanya tidak semua lancar. Ada tinta yang terlalu tebal sehingga mengotori tulisan dan ada pula tinta seret dan cenderung mati ketika dipakai untuk menulis di atas kertas.

Kisah sebuah kehidupan tidaklah selalu sama. Dinamika kehidupan akan selalu naik turun atau cepat lambat atau sukses dan gagal dan segala dinamik duo yang lain. Kadang ada seseorang yang maunya cepat namun kenyataan yang dihadapi lambat. Ada juga yang inginnya yang baik-baik saja tetapi yang didapat adalah yang buruk. Maunya yang ideal tapi kita harus dengan rendah hati menerima kenyataan hidup real ini. Itulah kehidupan. Bahkan dalam berelasi pun kita tak bisa semua mengharapkan puja dan puji dari pihak lain. Pastilah ada sisi gelap, gagal, aib, jatuh yang akan dicaci, dicerca, dihakimi oleh pihak lain. Tak semua itu sempurna. Bahkan sekali lagi tidak ada yang sempurna, namun ketidaksempunaan itulah yang memampukan kita berharap dan memohon agar kita diberi kekuatan berjuang ke sana. Ketidaksempurnaan bukanlah penghalang untuk berbuat baik, berjuang, berjalan dalam jalan yang terjal, membuat ruang hidup ini sebagai ruang bernafas bagi sesama. Ketidaksempurnaan bukan sebuah hal yang harus dihakimi jelek. Justru dalam ketidaksempurnaan ini kita diajak untuk berani menatap sisi yang tak ingin dilihat oleh siapapun karena gelapnya, karena gagalnya, karena menakutkannya.

Jika memang kita itu tidak baik, maka kita sebenarnya sudah harus menyadari diri sejak awal memang kita ini rapuh dan tidak sempurna. Jika ada yang menghakimi dan menjelek-jelekkan kita, memang kita sudah jelek. Jika ada yang mengapresiasi kita, kita juga pantas bersyukur. Jadi dalam hidup ini, kita tidak perlu mencari validasi, konfirmasi bahwa kita baik. Memang jika kita sudah sampai pada kaca mata melihat bahwa segala sesuatu itu baik, itu adalah hal istimewa. Kalau ada orang yang mampu melihat sisi baik dari ketidaksempurnaan ini, itulah keilahian. Kemanusiawian kita selalu akan melihatnya jelek karena memang kita ini tidak sempurna.

Di zaman ini, di komunitas bangsa ini pun aku hanya bisa mengelus dada. Ada banyak ketidakberesan yang terjadi. Namun demikian, aku lantas bertanya, bisa apa aku dengan hal ini? Bisa menyuarakan apa aku dengan kondisi ini? Menyalakan cahaya di tengah kegelapan memang perlu dibuat daripada kita mengutuki kegelapan itu sendiri. Lantas bagiku ini yang tidak mudah, yaitu menerima kenyataan pahit akan adanya ketidakberesan dalam hidup itu sendiri. Inginnya adalah hal-hal yang baik, namun yang terjadi sebaliknya. Melihat terang dalam sisi gelap itu tidak mudah. Keberanian menembus pekatnya kegelapan itulah yang perlu kubuat. Melihat masyarakat yang dibuat pusing oleh kelakuan segelintir orang yang menghambur-hamburkan uang demi syahwat kepentingan politik kekuasaan memang tidak mudah menjalaninya. Dengan gamblang kita melihat dengan mata fisik dan batin adanya salah kelola dalam hidup bersama, namun kita belum bisa berbuat banyak. Bahkan seorang guru pernah mengeluh, kepada siapa lagi harus melapor karena pihak-pihak yang dijadikan tempat mengadu adalah mereka-mereka yang turut ambil bagian dalam kesalahan pengelolaan hidup bersama. Lalu kepada siapa harus mengadu?

Itulah yang terjadi akhir-akhir ini. Tidak internal dan eksternal, kita semua sedang mengalami masa di mana ketidakmampuan mengelola hidup bersama terjadi. Kadang hal itu membuat gemas, karena kita bisa melihat namun tidak bisa berbuat banyak. Banyak kritikan ke pihak-pihak yang terkait, tapi hanya dibiarkan dan cenderung bebal untuk mampu mendengarkan dan memerbaiki diri. Itulah kiranya dilema dan paradoks hidup. Apakah lantas aku hanya bisa menerima itu semua dalam kenyataan yang tidak baik-baik saja?


#eveningtime#

No comments:

Post a Comment