Friday, July 31, 2026

Bussy Time

Sibuk itu nyata. Mungkin orang kalau tidak bersibuk ria juga akan mengalami rasa "nglangut". Namun demikian, jika terlalu sibuk orang juga akan mengalami tekanan terus karena harus mengerjakan ini dan itu. Dalam kesibukan bulan ini dan puncaknya di hari terakhir yang muncul tadi sebenarnya adalah sedikit kecewa, marah dan kawatir.

Kecewa karena kadang yang kuharapkan tidak terjadi. Kadang aku mengharapkan adanya kejelasan sejak awal dengan kedetilan tapi orang-orang di sekitarku tidak memberi respon cukup. Tapi ya sudahlah. Memang benar bahwa semakin kita banyak berharap kita akan banyak kecewa. Intinya memang kadang aku harus bekerja sendiri dan membuat pilihan sendiri jika call friends pun tidak ada responnya.

Marah karena ada hal yang membuat "milik" kami ini menjadi rusak karena ada kesalahan teknis. Karena satu dan lain hal biasanya orang hanya memikirkan hasil dan bukan proses awal, tengah, dan akhir. Apalagi terkait dengan proses di tahap akhir, orang akan menghindari karena merasa sudah selesai, dan soal beres-beres, cuci piring, mengembalikan ke tempat semula itu hal yang tak mudah. Salah penanganan maka akan ada kerusakan, entah sedikit atau banyak.

Kawatir karena aku melihat dengan mataku sendiri orang tua yang terjatuh "krengkangan" (dalam bahasa Jawanya) karena salah langkah. Salah langkah karena seorang yang sudah cukup disebut senior, lansia atau tua itu terjatuh karena melompat di posisi langkah yang salah. Ada ketergesa-gesaan. Ada kekurang-waspadaan. Aku sendiri merasa bersalah karena sebagai tuan rumah tidak mengantisipasi adanya kesalahan langkah ini. Entah karena salah siapa tadi, di luar penilaian salah benar, aku tetap merasa kawatir karena pengalaman cedera ini akan dirasakan di waktu depan nanti.

Itulah sekelumit kisah kesibukan yang berpuncak di hari ini. Memang karena hari ini, aku sebenarnya mau menolak berbagai persiapan yang ada, namun karena itulah yang harus kupeluk maka akhirnya harus terjadi dan dikerjakan. Inilah bagian dari apa yang kuhayati, memeluk yang tidak mengenakkan, memanggul beban, menyangkal diri dari hal-hal yang membuat aku hanya merasa nyaman saja. Dan akhirnya berani mengikuti sebuah suara hati yang membawa pada situasi yang tak menarik sekalipun/ disingkiri/ perjuangan/ duka lara dan sebagainya.

Belum lagi, akhir-akhir ini makin menjadi kekecewaan dan perasaan tak jelas tentang tata hidup bersama di sebuah negara yang kutempati ini. Aku tak mau membebani pikiranku dengan hal itu tapi akan selalu muncul dan kumunculkan dalam pembicaraan-pembicaraan di meja makan juga, karena aku harus membagikan itu kepada pihak-pihak yang kurang info dan kurang sadar akan adanya bahaya yang berpotensi menghancurkan kehidupan bersama maupun pribadi. Yah, begitulah, mau bagaimana lagi?


#inmyroom#

No comments:

Post a Comment