Thursday, November 26, 2020

Adios, Diego

Waktu itu, umurku masih 10 tahun. Di rumahku mulai membeli TV berwarna dengan merk Sanyo. Itulah saat menyenangkan sebagai anak karena selama ini hanya bisa nonton TV hitam putih yang umurnya setahun lebih tua dari diriku. Di musin panas belahan bumi utara biasanya ada event 4 tahunan yang menjadi perayaan manusia seantero bumi, maka disebut sebagai "Piala Dunia". Pada hal itu hanya pagelaran salah satu cabang olahraga di dunia yang bernama sepak bola. Namun orang menyebutnya "World Cup", "Copa del Mundo", "Coupe du Monde".   Tidak fair memang. Tetapi apa boleh buat, itu sudah terjadi dan tidak ada yang protes. Tahun 1986, aku masih ingat betul, karena sebelum event muali TVRI selalu menyiarkan rekaman profil kesebelasan-kesebelasan di berbagai negara yang akan pentas di Piala Dunia ini. Dari persiapan sampai event-nya aku ikuti dengan seksama. Namun yang menjadi mengesan adalah akhirnya kesebelasan Argentina yang menjadi juara. Aku agak-agak lupa bagaimana itu bisa terjadi. Aku sendiri lupa peristiwa pertandingannya, namun sosok fenomenal itulah yang akhirnya membuatku jatuh cinta dengan sepak bola dan sampai saat ini baju lorek biru putih dengan celana hitam kesebelasan Argentina masih menjadi favoritku. Sosok bintang yang menjadi kapten kesebelasan juga menjadi penting dalam diriku, Diego Armando Maradona. 

Tanggal 25 November 2020 malam hari, sosok itu dikabarkan meninggal dunia karena serangan jantung. Aku pun langsung mengenang dan membangkitkan memoriku tentang dia dan perjalananku sampai jatuh cinta dengan sepak bola. Diego, bagiku fenomenal bukan karena "Tangan Tuhannya" atau "La Mano de Dios"-nya. Bagiku sosok Diego Armando Maradona akhirnya membuat aku tersengat dengan fenomena sepak bola. Mulai saat itu, aku mengikuti liga-liga di Eropa dengan menonton TV atau membaca berita olahraga, khususnya bola. Mulai dari Piala Dunia 1986 di Mexico itulah perjalananku mengikuti sepak bola makin menjadi. Sosok Maradona membuatku masuk dalam pusaran liga sepak bola dunia. Dia adalah sosok fenomenal yang setidaknya membawa Argentina juara dunia untuk yang kedua kali. Ia juga menjadi sosok penting di kota Napoli Italia karena membawa klub itu juara  Seri A pada tahun 1987, untuk pertama kalinya, kemudian juara lagi di tahun 1990, juara UEFA tahun 1989. Klub yang bermarkas di Napoli, daerah selatan Italia yang tidak dipandang karena kemiskinannya menjadi klub yang disegani di Seri A yang didominasi klub-klub bagian utara Italia seperti duo Milan, AC dan Inter, juga klub kota Torino yang kaya yaitu Juventus. 

Sontak, saat itu sosok Maradona menjadi dewa. Ada kabar pula yang disayangkan bahwa akhirnya ada pihak-pihak yang mempengaruhi gaya hidupnya yang akhirnya kecanduan obat. Ada teori konspirasi yang entah benar atau tidak katanya ada kaitannya dengan mafia Italia yang karena kekalahan Italia dari Argentina di babak semifinal Piala Dunia 1990 di Italia, Maradona dijerumuskan dalam kancah narkoba ini. Ah, bagiku itu memang selalu ada, entah terkait atau tidak. Setidaknya sosok Maradona yang gempal dan tidak tinggi itu telah membuatku sadar akan ketertarikanku pada sepak bola. Bintang-bintang lapangan dari Argentina yang menonjol bagiku akhirnya ikut mengesan. Suka atau tidak suka, para pemain bola dari Argentina membuatku menyorotnya. Argentina memang belum sebanyak Brazil sebagai juara dunia, namun bagiku akan lebih memilih pemain Argentina dibanding Brazil, termasuk kesebelasan negaranya juga. 

Akhir-akhir ini memang Argentina tidak shebat Argentina pada tahun 1990-an. Bahkan dengan bintang Lionel Mesi pun tidak berhasil menjadikan Argentina juara dunia. Nyaris pada tahun 2014 saat Piala Dunia di Brazil, Argentina saat bertemu musuh bebuyutan Jerman, akhirnya kalah di perpanjangan waktu. Hal yang terulang pada Piala Dunia 1990 di Italia, setelah menang dari Jerman, akhirnya Argentina kalah lewat gol pinalti Andreas Brehme. Sayang. Argentina kalah. Maradona menangis. Aku pun ikut terbawa kesedihan karena kesebelasan jagoanku kalah.

Maradona bagiku juga membuat pengetahuan akan sepak bola menjadi bertambah karena sering mengikuti berita liga di beberapa negara Eropa. Kesan pertama sebagai anak kecil umur 10 tahun membuat terpana dan akhirnya menyentuh sebagian dari pengalaman hidupku. Maradona seperti guru yang mengajarkan sebuah pertunjukan di lapangan dengan skill drible-nya, gaya main yang penuh ide dan sering jadi sasaran lawan karena harus mematikan dia. Setidaknya dia mengajarkanku sisi hidup yang lain. Memang dia tidaklah seorang yang suci seperti para santo, namun karena kemampuan sepak bola alamiah yang dimilikinya, dia menjadi fenomenal. Pele pun mengakui sebagai legenda. Dia mengucapkan di twitternya bahwa "semoga bisa bermain bola bersama ketika sudah meninggalnya nanti". 

Aku pun tergerak membuat tulisan ini juga karena terkesannya diriku pada sosoknya. Sosok yang sudah membuatku suka dengan sepak bola. Kostum Argentina pun pernah kubeli walau itu jersey "KW". Melihat kostum Argentina, aku pun senang. Terima kasih, Diego. Setidaknya, engkau telah memperkenalkanku dengan sepak bola, mengenalkanku pada sosokmu, dan tentu Argentina. Umur 10 tahunku saat itu adalah usiaku belajar menyukai sepak bola yang sampai saat ini masih ada. Selamat jalan, Diego. Adios. Doakan kami yang masih berziarah di dunia ini. 


#in my room#
  

Monday, November 16, 2020

Di Warung Pak Syam

Hari Minggu kemarin, aku menyempatkan diri keluar untuk memanasi motor yang seminggu ini belum kupakai. Ya, tentu biar mesinnya panas karena dipakai dan juga menjaga bannya supaya tidak kempes karena lama ndongkrok aja. Aku mencoba berjalan memanasi mesin motor sambil melihat-lihat suasana sepanjang jalan. Berjalan mulai dari arah jalan protokol dari tengah ke timur melihat orang berlalu lalang di jalanan di hari Minggu yang biasanya sepi di kota. Dan benar, jalanan ramai tetapi seperti situasi saat ini di mana orang takut pada pandemi, maka aku bisa nyaman mengendarai motor. Pagi agak siang itu aku bisa melihat orang yang menawarkan jasa cat duko, ada yang berdagang di sekitar trotoar, ada juga yang bepergian dengan mobil dan motor. Setelah agak capai mengendarai dan mampir di toko buku melihat-lihat yang ada di sana, aku pun memutuskan mampir warung yang dulu pernah jadi semacam langganan saat kuliah. Ya, Warung Pak Syam, menunya sate kambing dan masakan kawan-kawannya. 

Aku nongkrong di situ sambil beristirahat. Warungya masih sama. Letaknya juag tidak berubah. Artinya, tidak tergusur atau pindah ke mana. Dan artinya juga masih dipandang oleh pelanggan. Ada pemasukan yang membuat dia bertahan di situ dengan menunya, khas Solo, katanya. Sambil menunggu pesanan menu utama, aku menikmati minuman. Sambil melihat beberapa orang yang sedang makan atau datang. Aku juga sadar bahwa tidak bisa bergerombol, tentu juga mengambil posisi menyendiri dan jauh dari orang lain. 

Nongkrong dan menikmati suasana panasnya kota, aku juga mengumpulkan ide ini. Panasnya udara di luar sana membuatku pesan tambahan air mineral. Pikiranku melayang-layang memikirkan suasana masyarakat saat ini. Ada keramaian karena satu kelompok yang dipimpin seorang H. Banyak orang tengah komplain tentang kedatangannya dari luar negeri dan mulai mengobok-obok suasana karena disiarkan secara viral ke seluruh penjuru dunia karena online. Dia seolah menikmati kebesaran namanya. Orang sudah banyak menunjuk kepada siapa lagi kalau bukan pemerintahan sah di negeri ini yang dinilai koq tidak berani mengambil tindakan pada satu orang ini dan kelompoknya. Kelompoknya sudah diancam namun belum dibubarkan. Satu orang ini pun tidak bisa ditangkap karena lari duluan ke luar negeri selama 3,5 tahun. Sedangkan waktu itu banyak tuduhan kasus dialamatkan ke dia. Namun keburu kabur maka tidak jadilah pemrosesan lapoan-laporannya. Bahkan dengan dengan kepulangannya ini salah satu media Aussie menyebutnya "Ex Porn Fugitive." 

Aku melihat semua ini dengan sedikit geli namun gusar, apa iya nanti orang seperti ini yang akan berkuasa dan menikmati segala kenyamanannya? Apa iya suasana seperti ini yang akan menjadi dominasi waktu selanjutnya di negeri ini? Jika iya, maka percumahlah apa yang menjadi perjuangan selama ini dan bahkan masa lalu sebuah negeri ini. Jika tidak ada tindakan tegas, maka kita mubazir sebagai bangsa dan negara. Memang semalem juga ada sebuah ungkapan alasan mengapa negara belum bertindak yaitu karena suasana pandemi ini belum bisa berbuat apa-apa. Jika ditindak langsung saat kedatangan yang sudah mengganggu kepentingan publik yaitu membatalkan banyak penerbangan dan jalan orang ke bandara, itu jelas sudah merupakan gangguan publik. Negara pun bisa melihat itu sebenarnya. Ketika ditindak tegas dan langsung ada perlawanan kemungkinan memang ada kerusuhan dan kerusuhan memang disukai orang-orang seperti mereka (radikalis intoleran) karena dengan kerusuhan itu ada medan perang untuk kepentingan ambil kekuasaan. Teroris bertepuk tangan. Bom akan meledak di mana-mana. Kekerasan horisontal dan vertikal juga akan terjadi.

Aku melihatnya dengan kacamataku yang lain. Aku melihat bahwa adanya kekuasaan mayoritas yang apapun bentuknya itu real terjadi. Itulah kenyataan bahwa mayoritas itu akan selalu berkuasa, lebih-lebih dalam struktur masyarakat feodal yang mencoba berdemokrasi seperti di sini.  Mayoritas sekorup apapun ya tetap akan berkuasa. Sejelek-jeleknya mereka dari kacamata kita, tetap saja mereka yang berkuasa. Atas nama apapun, dan mereka akan membawa jargon apapun bahkan "Revolusi Akhlak" pun yang kita nilai tidak berakhlak ya tetap saja diusung dan "laku". Sedangkan ada dua ormas besar di antara mayoritas yang lebih dahulu daripada mereka namun mereka koq berdiam diri. Mengapa itu? Sekali lagi ini adalah soal kue kekuasaan. Kedua ormas yang besar di negeri ini di antara mereka sudah terlanjur sakit hati dengan orang nomer satu, karena posisi di kementrian (eksekutif) tidak mereka dapat lagi di masa ini. Inilah sebabnya mereka berdua seolah berdiam diri, biar pemerintah yang menghadapi. 

Selalu saja kekuasaan adalah kepentingan ini dan itu. Kekuasaan selalu membawa orang untuk meminta ini dan itu. Tidak ada istilah humility, service, and love dalam kekuasaan (politik).  Itu semua adalah omong kosong bagi mereka walau di awal penuh janji tentang hal itu. Dan itu kebiasaan formal saja sebagai sebuah jargon supaya memoles cantik kekuasaan yang brutal dan angkuh. Terlebih lagi, sebuah aliran besar dunia yang dikritik oleh Macron dengan sebutan "ada dalam situasi krisis". Ini makin kelihatan sekali bahwa aliran itu tidak terima dan karenanya, orang menjadi bodoh karena penganutnya menjadi anti kritik. Jika sebuah aliran sudah anti kritik, di sana sebenarnya kebenaran dari kritikan itu menjadi nyata adanya. Ibaratnya seorang yang dikritik orang lain dan orang itu tidak terima namun tidak bisa memberi alasan yang sahih dan mendasar. Bisanya hanya protes dan tidak terima, kemudian menunjukkan kebencian yang ofensif, ya jelas bahwa orang itu tersengat karena dalam dirinya memang demikian. 

Dalam permenungan dan menikmati makanan di warung itu, akhirnya aku hanya bisa mengatakan "entahlah, apa yang akan terjadi nantinya." Orang bisa saja mengutak-atik ke arah mana seharusnya berjalan rel dan kereta negara ini akan menuju. Perlukah menghadapi dengan lebih militan dan ofensif dengan kegilaan yang sama atau lebih dari yang mereka miliki? Itu juga salah satu pikiran. Atau perlukah menghadapi dengan lebih taktis? Apakah kita mengandalkan covid-19 biar menyelesaikan semuanya? hehehe itu juga sempat terlontar dalam sebuah ide berkelakar. Jika covid yang menyelesaikan, sebenarnya habis perkara. Seperti pepatah "Roma locuta, finita est"....bisa jadi akan berubah "Corona locuta finita est". 

Yang terus mengusik publik adalah rasa keadilan. Di tengah pandemi covid-19, PSBB diberlakukan. Ada aturan atau kebijakan yang mengena ke semua orang. Ketika ada kerumunan dan pengumpulan massa saja dilarang, lha koq malah ada yang nekat. Bahkan kenekatan mereka dipertontonkan ke seantero dunia. Apakah ini tidak melukai rasa perasaan keadilan masyarakat dan bukan hanya netizen yang maha kuasa tetapi itulah dunia real kita saat ini. Efeknya....lihat saja perkembangan narasi yang belum selesai ini... Masih banyak hal yang terus berkembang tentunya. 

Yah, akhirnya manusia (aku) hanya bisa berkomentar dan memikirkan, ekseskusi masih ada pihak manusia lain yang lebih berhak dan berwenang mengeksekusi semuanya. Dan tentu perlu momentum (waktu) dalam sebuah aksi/eksekusi itu. Segala sesuatu ada konsekuensinya. Tindakan kita mempunyai sebuah konsekuensi. Keberanian memilih dan memutuskan yang berguna bagi bonum commune itu jauh lebih berharga walau ada konsekuensinya juga. Dan bonum commune kita sebagai bangsa sudah final. Membela kebenaran dari finalitas kita itu jauh lebih penting daripada membela gerombolan yang walaupun itu mengatasnamakan diri dari mayoritas.  Semoga perut tetap kenyang, badan tetap sehat, hati tetap hening, dan akal tetap bernalar sehat.

#in my room#