Thursday, July 19, 2018

Rongsokan

Aku sangat terkesan dengan barang rongsokan yang ditinggal di inggir jalan saat mampir di warung kopi di Parapat. Setelah melihat pemandangan Danau Toba dan memotret dari berbagai view sebatas tempat kami mampir di warung kopi itu, aku tertegun dengan onggokan mobil kijang yang "ndongkrok" di pinggir jalan, sudah karatan, hanya untuk jemuran di atasnya. Kesan tentang barang rongsokan dan tua adalah demikian adanya. Lengkap dengan bentuk, warna dan kegunaannya atau ketidakgunaannya. Kijang tua rongsokan, tak terpakai itu menginspirasiku untuk menulis. Apalagi aku termotivasi karena beberapa waktu ini aku terlalu sibuk dengan berbagai urusan.

Ya, barang rosokan hanya akan ditinggal atau didongkrokan di tempat yang seadanya. Tidak dipakai ia. Tidak ada orang yang melirik, apalagi memakai. Usang sudah tubuhnya. Semua hanya berkarat dan menjijikkan. Aku ingat kepada istilah rongsokan atau orang Jawa mengatakan rosokan. Refleksi tentang hidup dan kerja setahun ini pun sebenarnya menyinggung soal rongsokan ini. Kalau tidak mau disebut dan menjadi rongsokan, maka hiduplah dengan energi yang terus terawat serta kemauan untuk memperbaharui diri. Orang belajar supaya tidak jadi rongsokan. Orang punya motivasi tinggi supaya hidup ini terus dinamis dan tidak mandeg. Kemandegan adalah kematian. Kematian adalah ketidakbergunaan dalam hidup yang bergerak dan dinamis.

Belum berbicara soal kemendalaman. Belum kita ke ranah yang menukik dan mau belajar secara lebih dalam, ini berbicara pada tataran kemauan terlebih dahulu. Jika ada sesuatu yang baru dan orang mengatakan, "opo meneh iki?" dan itu dibunyikan dengan nada dongkol dan meninggi, itu artinya bukan bertanya, ingin tahu tetapi nada yang berbicara soal tak mau menerima sesuatu yang baru. Nada itu menyiratkan bahwa itu hanya menambah kerjaan lagi. Orang tak mau repot dan menerima yang serba baru. Usang menyuarakan keengganan berubah. Keusangan jiwa mengungkap bahwa tak usah bergerak. Cukup aku begini dan aku tak mau repot lagi. Cukup aku dengan kepuasanku sekarang. Tak ada lagi orientasi diri. Apakah itu dikarenakan tak ada insentif? Apakah motivasi harus dengan insentif? Bisa jadi. Orientasi dipengaruhi insentif? Aku khawatir akan terjadi hal sedemikian itu. Motivasi diri hanya sebatas kebutuhan fisik duniawi, tidak memikirkan lagi namanya kemajuan jiwa dan pikiran, wawasan hanya demi insentif diri. Bisa jadi itulah dinamika rongsokan.

Kita berpikir demi kemajuan banyak orang. Kita berpikir soal orang muda yang harus maju melampui orangtua. Kita berpikir tentang segala sesuatu yang lebih mulia, namun kandas gegara hanya soal insentif rongsokan berjiwa kelam dan tanpa nyawa. itulah ironisnya. Namun bisa jadi atmosfer yang dihirup adalah atmosfer udara insentif yang sudah mendarah daging sejak bayi. Orang sekarang mikirnya adalah soal duit dan materi karena kuatir akan hidup di masa depan dan masa tua. Pensiunan hanya dapat sedikit bila tidak ubet sejak awal mula. Pensiunan hanya akan nelangsa dan tak terpakai karena tak lagi punya kuasa, tak punya kerja, tak punya apa-apa kalau hati tak lapang dan tak punya kemurahan hati sebelumnya.

"I am old but not obsolete", itulah kata-kata Pops, terminator tua yang ternyata masih bisa mengalahkan musuhnya. Dia mampu menembus batas keusangannya. Dia mampu mengalahkan keusangan diri. Dia mampu mengatasi kelemahan sebagai mesin tua yang ternyata masih berguna. Ketakutan orang tua dan mau pensiun adalah karena dia tidak mampu mengalahkan dirinya, ia tak mampu melampaui ketuaannya. Kalau ia mampu melampaui ketuaanya, maka yang ada hidup ini selalu muda, terus berjalan dan tidak ada bedanya. Walau memang secara ragawi, semua itu akan mengalami batasnya. Setidaknya orang tidak lagi hanya berpikir usangnya, mandegnya, cukupnya. Orang harus berpikir bahwa hidup itu bukan hanya dirinya, namun hidup ini bagi generasi selanjutnya. Itulah motivasi yang harus dibangun. Oleh karena itu, supaya tidak "obsolete" maka dibukalah wawasan dan motivasi diri. Orang perlu belajar dan belajar itu untuk hidup. Hidup itu harus terus berlangsung dan terus berjalan.



"Jangan kuatir akan hidupmu, akan apa yang kamu makan, akan apa yang kamu pakai, tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah, maka segalanya akan disediakan bagimu." (#hal kekuatiran#)



@noontime

Monday, July 2, 2018

Pengalaman

Akhir Bulan Mei lalu, aku mencoba berkegiatan bersama orang-orang muda. Intinya aku hanya memberi pengalaman. Dari pengalaman itulah berbagai hal bisa diolah. Yang bisa kuberikan adalah hanya sebuah kegiatan berjalan. Dan itulah hal yang sangat mengesan buat kami karena berjalan ternyata memuat banyak hal. Orang bisa saja mengatakan bahwa hidup adalah perjalanan. Perjalanan ibarat orang bergerak dari satu titik ke titik yang lain. Berjalan bukan sekedar berjalan namun ada waktu, tempat, pemandangan dan sebagainya. Di sana juga ada rasa peduli, ada kesan, ada perhatian, dan macam-macam.

Aku melakukan ini juga dengan persiapan pendek. Jalan dan berjalan itu muncul karena pengalaman diri juga. Pengalaman berjalan adalah pengalaman yang tak terlupakan ketika semua itu memunculkan banyak hal. Ada rasa, ada cara pandang, ada ungkapan lain yang bisa diolah dalam berbaga hal yang membantu mengenali sosok diri ini. Memang ini kubuat supaya orang mengenal diri. Ketika seseorang diajak untuk berjalan dengan berjerih payah, ia akan mengeluarkan keaslian diri saat berjalan dan saat di jalan. Ketika hanya diungkapkan secara tertulis dan konseptual mungkin hanya orang paha secara kognitif. Namun ketika orang mengalami sendiri, barulah ia sadar akan dirinya yang punya keaslian, keterbatasan, kelemahan dan kelebihan. Ada emosi di sana yang perlu disadari. Ya, pengalaman berjalan ini kubuat supaya orang makin kenal diri dan kenal sekitarnya.

Kesan dari mereka saat setelah berjalan memang beragam. Ada yang mengatakan capai karena jauh. Ada yang mengatakan tak terduga karena belum pernah mengalaminya sebelum ini karena ternyata jauh dan selama ini kita banyak "mager" alias malas gerak. Ada juga yang mengatakan sebaliknya ngapain harus ada kegiatan seperti ini. Ada juga yang mengungkap kesan saat di jalan bahwa ada orang-orang yang selama ini tak pernah terperhatikan mereka. Bahkan ada yang mengatakan 11 km pun kami tidak takut dan sanggup menjalaninya. Itulah mereka dan kami semua. Ya, berjalan ternyata banyak sekali mengandung makna. Memang aku berusaha untuk berhati-hati dan berserah juga menjalankan kegiatan ini. Yang tampkanya sepele namun jika  tidak ada perencanaan bisa saja banyak kendala terjadi. Kurencanakan bersama pembimbing lain bahwa mereka perlu didampingi dalam kelompok jalan itu. Pendampingan pun juga perlu untuk keamanan dan mengajak memaknai kegiatan ini.

Saat berproses pun mereka ada yang marah karena melihat pendamping lain tidak jalan. Mereka ada yang tak sopan dan ditegur orang di jalan karena saat mereka bertanya tidak punya etiket. Mereka ada yang sakit karena ada yang memgalami pergulatan fisik dan mental. Itulah yang menjadi reaksi tubuh dan diri mereka. Justru itulah yang perlu disadari dan dimunculkan. Tujuannya supaya hal-hal itu diolah demi perkembangan diri dan kenal diri. Kegiatan ini memang untuk latihan alias gladi diri. Prinsipnya sederhana: sarananya berjalan, tujuannya supaya melihat diri dan sekitar, kemudian dilihat dan diolah apa yang muncul dan bisa kubuat demi diriku dan orang lain/sekitarku.

Dari prinsip sederhana itu butuh cara dan tahapan-tahapan pengolahan. Itulah yang kemudian bisa kuambil hikmah. Dengan demikian sebenarnya aku mencoba melatih diri juga untuk berbuat sesuatu bagi sesama. Dan dari pengalaman sederhana ini yang ingin kuajakkan ke mereka adalah rasakan, alami, dan olahlah dengan cara berbagi. Berbagi itu bisa saja menulis pengalaman mereka secara pribadi. Ada juga yang makin mantap dalam hidup. Ada yang makin mempunyai makna dalam menjalani setiap tahapan peziarahan dan sebagainya. Jika diperdalam ini bisa mengarah pada pengolahan diri yang lebih dalam.

Salah satu persiapan batin adalah dengan membaca Ragawidya dari Mangunwijaya tentang "Berjalan". Ada yang menangkap ini: "Orang baru sadar sedalam-dalamnya betapa besar anugerah kemampuan berjalan, bila ia mengalami malapetaka terkena sakit lumpuh...Barulah kita sadar, betapa bahagia manusia yang masih bisa bergerak dan berjalan, dari tempat yang satu ke tempat yang lain."



#awal Juli 2018#