Ya, barang rosokan hanya akan ditinggal atau didongkrokan di tempat yang seadanya. Tidak dipakai ia. Tidak ada orang yang melirik, apalagi memakai. Usang sudah tubuhnya. Semua hanya berkarat dan menjijikkan. Aku ingat kepada istilah rongsokan atau orang Jawa mengatakan rosokan. Refleksi tentang hidup dan kerja setahun ini pun sebenarnya menyinggung soal rongsokan ini. Kalau tidak mau disebut dan menjadi rongsokan, maka hiduplah dengan energi yang terus terawat serta kemauan untuk memperbaharui diri. Orang belajar supaya tidak jadi rongsokan. Orang punya motivasi tinggi supaya hidup ini terus dinamis dan tidak mandeg. Kemandegan adalah kematian. Kematian adalah ketidakbergunaan dalam hidup yang bergerak dan dinamis.
Belum berbicara soal kemendalaman. Belum kita ke ranah yang menukik dan mau belajar secara lebih dalam, ini berbicara pada tataran kemauan terlebih dahulu. Jika ada sesuatu yang baru dan orang mengatakan, "opo meneh iki?" dan itu dibunyikan dengan nada dongkol dan meninggi, itu artinya bukan bertanya, ingin tahu tetapi nada yang berbicara soal tak mau menerima sesuatu yang baru. Nada itu menyiratkan bahwa itu hanya menambah kerjaan lagi. Orang tak mau repot dan menerima yang serba baru. Usang menyuarakan keengganan berubah. Keusangan jiwa mengungkap bahwa tak usah bergerak. Cukup aku begini dan aku tak mau repot lagi. Cukup aku dengan kepuasanku sekarang. Tak ada lagi orientasi diri. Apakah itu dikarenakan tak ada insentif? Apakah motivasi harus dengan insentif? Bisa jadi. Orientasi dipengaruhi insentif? Aku khawatir akan terjadi hal sedemikian itu. Motivasi diri hanya sebatas kebutuhan fisik duniawi, tidak memikirkan lagi namanya kemajuan jiwa dan pikiran, wawasan hanya demi insentif diri. Bisa jadi itulah dinamika rongsokan.
Kita berpikir demi kemajuan banyak orang. Kita berpikir soal orang muda yang harus maju melampui orangtua. Kita berpikir tentang segala sesuatu yang lebih mulia, namun kandas gegara hanya soal insentif rongsokan berjiwa kelam dan tanpa nyawa. itulah ironisnya. Namun bisa jadi atmosfer yang dihirup adalah atmosfer udara insentif yang sudah mendarah daging sejak bayi. Orang sekarang mikirnya adalah soal duit dan materi karena kuatir akan hidup di masa depan dan masa tua. Pensiunan hanya dapat sedikit bila tidak ubet sejak awal mula. Pensiunan hanya akan nelangsa dan tak terpakai karena tak lagi punya kuasa, tak punya kerja, tak punya apa-apa kalau hati tak lapang dan tak punya kemurahan hati sebelumnya.
"I am old but not obsolete", itulah kata-kata Pops, terminator tua yang ternyata masih bisa mengalahkan musuhnya. Dia mampu menembus batas keusangannya. Dia mampu mengalahkan keusangan diri. Dia mampu mengatasi kelemahan sebagai mesin tua yang ternyata masih berguna. Ketakutan orang tua dan mau pensiun adalah karena dia tidak mampu mengalahkan dirinya, ia tak mampu melampaui ketuaannya. Kalau ia mampu melampaui ketuaanya, maka yang ada hidup ini selalu muda, terus berjalan dan tidak ada bedanya. Walau memang secara ragawi, semua itu akan mengalami batasnya. Setidaknya orang tidak lagi hanya berpikir usangnya, mandegnya, cukupnya. Orang harus berpikir bahwa hidup itu bukan hanya dirinya, namun hidup ini bagi generasi selanjutnya. Itulah motivasi yang harus dibangun. Oleh karena itu, supaya tidak "obsolete" maka dibukalah wawasan dan motivasi diri. Orang perlu belajar dan belajar itu untuk hidup. Hidup itu harus terus berlangsung dan terus berjalan.
"Jangan kuatir akan hidupmu, akan apa yang kamu makan, akan apa yang kamu pakai, tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah, maka segalanya akan disediakan bagimu." (#hal kekuatiran#)
@noontime
