Aku melakukan ini juga dengan persiapan pendek. Jalan dan berjalan itu muncul karena pengalaman diri juga. Pengalaman berjalan adalah pengalaman yang tak terlupakan ketika semua itu memunculkan banyak hal. Ada rasa, ada cara pandang, ada ungkapan lain yang bisa diolah dalam berbaga hal yang membantu mengenali sosok diri ini. Memang ini kubuat supaya orang mengenal diri. Ketika seseorang diajak untuk berjalan dengan berjerih payah, ia akan mengeluarkan keaslian diri saat berjalan dan saat di jalan. Ketika hanya diungkapkan secara tertulis dan konseptual mungkin hanya orang paha secara kognitif. Namun ketika orang mengalami sendiri, barulah ia sadar akan dirinya yang punya keaslian, keterbatasan, kelemahan dan kelebihan. Ada emosi di sana yang perlu disadari. Ya, pengalaman berjalan ini kubuat supaya orang makin kenal diri dan kenal sekitarnya.
Kesan dari mereka saat setelah berjalan memang beragam. Ada yang mengatakan capai karena jauh. Ada yang mengatakan tak terduga karena belum pernah mengalaminya sebelum ini karena ternyata jauh dan selama ini kita banyak "mager" alias malas gerak. Ada juga yang mengatakan sebaliknya ngapain harus ada kegiatan seperti ini. Ada juga yang mengungkap kesan saat di jalan bahwa ada orang-orang yang selama ini tak pernah terperhatikan mereka. Bahkan ada yang mengatakan 11 km pun kami tidak takut dan sanggup menjalaninya. Itulah mereka dan kami semua. Ya, berjalan ternyata banyak sekali mengandung makna. Memang aku berusaha untuk berhati-hati dan berserah juga menjalankan kegiatan ini. Yang tampkanya sepele namun jika tidak ada perencanaan bisa saja banyak kendala terjadi. Kurencanakan bersama pembimbing lain bahwa mereka perlu didampingi dalam kelompok jalan itu. Pendampingan pun juga perlu untuk keamanan dan mengajak memaknai kegiatan ini.Saat berproses pun mereka ada yang marah karena melihat pendamping lain tidak jalan. Mereka ada yang tak sopan dan ditegur orang di jalan karena saat mereka bertanya tidak punya etiket. Mereka ada yang sakit karena ada yang memgalami pergulatan fisik dan mental. Itulah yang menjadi reaksi tubuh dan diri mereka. Justru itulah yang perlu disadari dan dimunculkan. Tujuannya supaya hal-hal itu diolah demi perkembangan diri dan kenal diri. Kegiatan ini memang untuk latihan alias gladi diri. Prinsipnya sederhana: sarananya berjalan, tujuannya supaya melihat diri dan sekitar, kemudian dilihat dan diolah apa yang muncul dan bisa kubuat demi diriku dan orang lain/sekitarku.
Dari prinsip sederhana itu butuh cara dan tahapan-tahapan pengolahan. Itulah yang kemudian bisa kuambil hikmah. Dengan demikian sebenarnya aku mencoba melatih diri juga untuk berbuat sesuatu bagi sesama. Dan dari pengalaman sederhana ini yang ingin kuajakkan ke mereka adalah rasakan, alami, dan olahlah dengan cara berbagi. Berbagi itu bisa saja menulis pengalaman mereka secara pribadi. Ada juga yang makin mantap dalam hidup. Ada yang makin mempunyai makna dalam menjalani setiap tahapan peziarahan dan sebagainya. Jika diperdalam ini bisa mengarah pada pengolahan diri yang lebih dalam.
Salah satu persiapan batin adalah dengan membaca Ragawidya dari Mangunwijaya tentang "Berjalan". Ada yang menangkap ini: "Orang baru sadar sedalam-dalamnya betapa besar anugerah kemampuan berjalan, bila ia mengalami malapetaka terkena sakit lumpuh...Barulah kita sadar, betapa bahagia manusia yang masih bisa bergerak dan berjalan, dari tempat yang satu ke tempat yang lain."
#awal Juli 2018#
No comments:
Post a Comment