Monday, January 25, 2021

Kamar, Pintu, dan Kursi

Di ruang yang baru dan harus kudiami ini, sore ini aku hanya bisa duduk, baca, menulis, selain aktivitas pribadi lain. Inilah nasib orang yang sedang terpenjara dalam ruang dan waktu karena situasi saat ini. Sekali lagi perpindahan ini juga masih harus ditandai dengan keterpenjaraan raga di sebuah ruang yang cukup untuk diam, duduk, berdiri, tidur, membaca, menulis, dan sebagainya. Aku membayangkan banyak orang yang kemerdekaannya terenggut karena suatu dan lain hal. Bagaimana Bung Karno tidak mau diam terpasung oleh ruang dan tempat dimana ia diasingkan. Bagaimana para tokoh yang lain yang dipenjarakan tetapi tak ingin meninggalkan diri dalam kesepian penjara atau kamar pengasingan. Aku di sini bukan pula diasingkan namun berada di tanah asing, baik secara kultur maupun atmosfer. Berpindah sementara untuk sesuatu yang harus dikerjakan bukan untuk diriku sendiri tapi untuk banyak orang. Aku pun hanya bisa berdoa dan berharap agar hal itu berguna bagi banyak orang. Kesendirian ini pun tidak tanpa alasan. Sekali lagi situasi dan kondisi pandemi memaksa manusia untuk terkungkung dalam ruangannya. Demikian aku, ikut dalam arus yang sama, terisolasi dan harus diam untuk sementara waktu, memastikan situasi dan kondisi diri.

Adalah rekan lain yang mengatakan kepadaku, "Bersabarlah" dan aku juga sadar akan hal itu. Ketika mangalami sendiri pengalaman terasing dan terisolasi dalam kamar sendiri, harus ada yang mengantar makanan, menghubungi pihak lain dengan segala macam cara, aku pun masih bersyukur bahwa masih ada pihak lain yang membantu. Di tanah asing dan terasing ini, aku merasakan pertolongan. Masih ada banyak tangan yang membantuku. Masih ada liyan yang bukan saja menolong tetapi berbaik hati mau dikontak, diinterkom, dan mengantar makanan dan mengambil bekas yang sudah kumakan. Dalam ruang kesendirian ini, aku menyadari diriku yang belum apa-apa. Aku masih bisa kontak sana dan sini dalam urusan dengan persiapan atau hal lainnya. Di masa sekarang ini yang sarat dengan kemajuan teknologi informasi, orang bisa saja terhubung satu dengan yang lain, namun kadang keterhubungan itu menjadi candu atau malah toxic yang membuat hidup terpenjara juga.

Aku disadarkan pagi ini waktu di sini, ketika ada seorang yang mengatakan bahwa "aku tak ingin keterhubunganku putus dengan kawan-kawan di medsos". Ada sebuah keterpenjaraan yang sudah menyangkut eksitensi diri. Seolah tanpa keterhubungan, hidupku mati, duniaku kiamat. Seolah tanpa keterhubungan itu, kita tak bisa apa-apa. Benarkah?

Ada sementara orang yang memang dengan pandemi ini menjadi tak terhubung secara langsung (fisik). Sekolah tempat mendidik orang muda atau dewasa menjadi kosong dan tak ada lagi suasana kerumunan orang "bersekolah". Guru tidak bisa lagi "berkuasa" atas orang-orang yang didiknya. Di situ aku disadarkan bahwa sekolah ada tempat "guru menguasai orang yang didiknya". Sekarang guru hanya bisa menghadapi layar dengan segala perangkat yang harus dikuasai. Kadang lancar kadang tidak. Ketika tidak bisa menguasai perangkat dengan layar untuk medium "penguasaan" yang dibahasakan mendidik itu, aku harus merumuskan kembali arti sekolah, pedidikan yang selama ini menjadi istilah umum. 

Memang ada juga yang mengatakan bahwa semakin memakai cara online, anak tidak bersemangat belajar. Orangtua banyak dibebani dengan mau mundurnya anak dari seolah atau kuliah. Mereka tidak bisa lagi berharap masa depan anaknya nanti. Sudah terlanjur membayar uang sekolah yang tak murah, ditambah anak yang menyerah untuk tidak mau sekolah. Orang tua menjadi tertekan dan tidak bisa mengendalikan anaknya. Orangtua di rumah pun tak mampu menguasai anaknya karena tak ada pihak lain yang bisa menjadi perantara kekuasaan di sekolah seperti saat mereka datang ke ruang kelas dan guru bisa mengawasi. Sementara ini, semua itu tidak terjadi seperti yang dulu. Lantas apa rumusan sekolah dengan situasi seperti saat ini? Akankah sekolah adalah ruang dan waktu untuk menguasai dan dikuasai?

Kembali ke yang "seolah mati jika tak terhubung", spesies manusia sedang diuji sampai sejauh mana keterputusan kontak ini tidak membawa pada kepunahan dan keputusasaan. Seolah keterhubungan adalah harga mati bagi spesies manusia. Memang ada slogan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Namun kesosialan macam apa yang saat ini harus dihadapi manusia? Apakah sosialita yang hanya terkoneksi dengan media? Apakah sosialita yang serba ingin tahu akan ini dan itu, upload atau posting foto, atau pasang status? Keterkoneksian macam apa yang sebenarnya manusia itu inginkan saat ini? 

Dalam hal ini, yang bisa kuduga adalah manusia tak tahan dengan kesepian dan kesunyian. Kesendirian dalam arti tak terhubung terlalu sering menjadikan manusia kesepian. Sebenarnya keterhubungan dengan media itu juga fisiknya sendiri namun pasang foto atau statusnya yang banyak. Manusia sudah kecanduan media untuk terhubung. Manusia dengan sendirinya memenjarakan diri dalam keramaian ruang virtual (kalau tidak ingin disebut keramaian semu). Mungkin bagi manusia saat ini realitas adalah keramaian semu itu. Tapi di satu sisi manusia sebenarnya tak siap dengan keramaian itu. Garin Nugroho (dalam sebuah wawancara) mengatakan bahwa kita harus siap dengan budaya internet dan revolusi ini dan itu, tapi nyatanya kita tidak siap dengan itu semua. Ketidaksiapan itu terlihat dari gagap dan efek kecanduannya. Toh, kalau kita tak punya internet dan keterhubungan pun tidak berpengaruh pada hidup wajar yang kita jalani. Orang menganggap tak wajar tak punya alat akses interconnectedness itu. Namun toh hidup tak hanya ditentukan oleh alat itu. Justru keterhubungan itu membawa orang terasing pada dirinya, tak kenal lagi dunia batin yang harus dimasuki. 

Ruangan dengan pintu tetap saja terbuka namun aku mau apa dan situasi menentukan apa, itulah yang selalu kita hadapi. Aku bisa saja menutupnya atau bisa saja membukanya. Tergantun pilihanku, apakah mau melihat dunia luar atau menutup diri, itu semua terserah aku. Kemerdekaanku yang menentukan apakah aku terpenjara atau merdeka.


#kalahujansorehari#

Sunday, January 24, 2021

Berpindah Sejenak

Sejak hari kemarin aku sampai di tanah rantau. Berpindah sejenak dalam hidup yang berbeda zona waktu, berbeda cuaca, suhu, cuaca, makanan, dan tentu orang dan bahasanya. Mengalami lagi hidup di tanah rantau sejenak. Hawa dingin memasuki tanah rantau dengan budaya baru harus membuat diri cukup berjuang. Berjuang dengan cuaca, suhu, dan berbagai hal yang kuperlukan. Kemarin tubuhku masih merasakan tubuh yang iramanya di tanah asal. Jam tidur dan rasa kantuk masih suasana di asal. Hari ini sudah agak mending walau kemarin sempat ada penolakan makanan yang masuk perut, harus dimuntahkan malam harinya...hehe. Entah ada sesuatu yang asing dan ditolak tubuhku. Mungkin ada racun tertentu yang belum siap kuterima. Namun untunglah tidak sakit dan tidak berefek yang merugikan. Saat pagi tadi diberi sarapan sekitar jam 09.00 pagi di sini yang dingin, tubuh mulai stabil lagi. Ada rasa lapar sampai jam 09.00 pagi ini tadi. Kemungkinan karena isi lambung dimutahkan semalem. 

Banyak orang mengontak saat aku tahu pergi sejenak berpindah karena tugas ini. Ada yang guyon ada yang ingin tahu. Ada yang berharap ini dan itu. Ah, semua itu kadang kulihat hanya sebatas apa perlunya. Toh yang menjalani diriku. Nasib ini hanya diriku yang menjalani. Orang lain hanya bisa komentar. Orang lain hanya bisa berharap. Orang lain hanya bisa ini dan itu saja. Kubiarkan saja, ada yang kuucapi terima kasih. Ada juga yang memang kuberi informasi karena terkait dengan pekerjaan dan berbagai kepentingan yang terkait dengan kepergianku ini. Informasi demi informasi memang sudah menjadi makanan berhamburan bagi orang-orang zaman ini. 

Ketika berjalan untuk berpindah sejenak, yang kurasakan awalnya adalah selalu berharap-harap cemas. Saat ini segala sesuatunya jadi ribet dengan urusan ini dan itu yang amat sangat terkait. Ketika mau pergi, ada persyaratan tentang ditutup tidaknya sebuah wilayah, lalu persyaratan adanya keterangan kesehatan dan harus PCR, harus ada hasil negatif dari covid-19. Ya, itu semua karena covid-19. Covid memang sedang jadi penguasa dunia, terutama bagi manusia. Bangsa manapun tidak akan menang melawan dia. Apapun yang akan dilakukan orang sangat tergantung dari dia. Bagaimana akan dilakukan juga harus menghindari atau mendapat kepastian apakah terdampak dari dia atau tidak. 

Ketika harus terbang, semua urusan harus dinyatakan terbebas dari dia. Sampai di tujuan, orang bertanya apakah aku terdampak atau tidak dari dia. Itu pun masih harus mendapat perlakuan bahwa aku harus menjalani karantina dan isolasi mandiri juga karena dia. Orang suka mengucapkan salam sehat dan semoga tidak sakit saat ini juga gara-gara dia. Hehe...memang lucu kadang kalau dirasakan. Ada sesuatu di masa ini yang diungkapkan karena efek dari covid-19. Dalam ruang terbatasku ini, yang bisa kulakukan adalah bagaimana aku menikmati efek dari sikon pandemi ini dengan nyaman. Aku sendiri berada di zona yang ketika awal pandemi menjadi tempat paling banyak terdampak karena berbagai hal yang mempengaruhi. Aku kadang ragu dan khawatir saat mau berangkat. Aku juga disarankan untuk membatalkan keberangkatan ini oleh salah seorang senior yang sudah lama tinggal di sini. Mungkin juga banyak kekhawatiran dari beberapa orang yang menjadi bagian dari hidupku, baik keluarga dan rekan lain. Namun apapun itu, aku saat ini sudah berada di tempat ini dan harus menjalani perutusanku. 

Berpindah sejenak untuk sesuatu yang dikerjakan dan dialami dengan berbagai hal yang juga belum jelas semua. Ada yang jelas bahwa tugas itu tentu bukanlah yang menyenangkan. Tugas yang tidak mudah juga. Tugas yang banyak resiko pribadi dan resiko banyak orang. Seperti kata Sang Guru, kalau boleh cawan ini berlalu, namun karena kehendak-Mulah maka terjadilah. Selalu ada rahmat di kelokan-kelokan hidup, ada hal-hal yang harus dialami oleh manusia yang kadang tidak mau diterima. Banyak orang hanya komplain dan komplain namun sebenarnya tidak mau bergerak dan berubah. Orang tidak mau ambil resiko. Orang tidak mau dirinya kalah atau gagal. Memang keduanya tidak mengenakkan. Kalah dan gagal itu selalu dihindari dalam hidup. Pagi tadi kubaca lagi ada informasi dari kenalan yang anaknya tidak mau sekolah walau sudah semester ke-7. Alasannya adalah tidak kuat lagi dan karena online maka tidak ada semangat, tidak ada rekan yang bisa diajak bicara saat belajar. Tidak ada perjumpaan yang offline seperti ketika tidak ada covid-19. Itu semua membuat persoalan bagi sementara orang. Tiadanya perjumpaan mengakibatkan tiadanya semangat belajar. Dan itu riil dihadapi sementara orang dalam hidupnya. Akankah spesies manusia kalah oleh tiadanya perjumpaan konkrit, offline, langsung kemudian tak bisa apa-apa? 

Sekali lagi, aku berjumpa dengan banyak pengalaman sesama spesies manusia dengan berbagai kerumitannya. Apalagi ditambah dengan kerumitan hidup plus kerumitan yang dialami ketika berhadapan dengan covid-19. Covid jadi alasan langsung atau tidak langsung keruwetan hidup manusia. Covid jadi alasan untuk tidak pergi. Covid juga jadi alasan untuk taat pada protokol kesehatan jika mau selamat. Dampak baik dan buruk ini seharusnya dijadikan pembelajaran dari manusia. Sudah hampir setahun ini tentunya spesies manusia belajar. Namun ternyata waktu selama ini belum cukup membuat kita belajar dengan baik. Masih banyak hal yang membuat spesies manusia ini perlu lebih teliti, rajin, dan berhati-hati dalam hidupnya. Jika mau selamat, silahkan belajar dengan baik, taat azas dan protokol kesehatan. Keselamatan bukan berarti diriku saja yang selamat namun juga keselamatan orang lain.

Ternyata berpindah sejenak ini, tidak menyingkirkanku dari pengaruh Covid juga. Banyak hal selama ini kutulis juga terkena efek dari Covid-19 ini sejak 9 bulan lalu. Harapanku adalah kepindahan sejenak ini banyak memberi pelajaran berharga bagiku. Semoga Tuhan memberkati dan memberi rahmat bagi sekalian banyak spesies manusia yang hidup di planet bumi ini. 


#in room 105 @Canisio-Rome#