Adalah rekan lain yang mengatakan kepadaku, "Bersabarlah" dan aku juga sadar akan hal itu. Ketika mangalami sendiri pengalaman terasing dan terisolasi dalam kamar sendiri, harus ada yang mengantar makanan, menghubungi pihak lain dengan segala macam cara, aku pun masih bersyukur bahwa masih ada pihak lain yang membantu. Di tanah asing dan terasing ini, aku merasakan pertolongan. Masih ada banyak tangan yang membantuku. Masih ada liyan yang bukan saja menolong tetapi berbaik hati mau dikontak, diinterkom, dan mengantar makanan dan mengambil bekas yang sudah kumakan. Dalam ruang kesendirian ini, aku menyadari diriku yang belum apa-apa. Aku masih bisa kontak sana dan sini dalam urusan dengan persiapan atau hal lainnya. Di masa sekarang ini yang sarat dengan kemajuan teknologi informasi, orang bisa saja terhubung satu dengan yang lain, namun kadang keterhubungan itu menjadi candu atau malah toxic yang membuat hidup terpenjara juga.
Aku disadarkan pagi ini waktu di sini, ketika ada seorang yang mengatakan bahwa "aku tak ingin keterhubunganku putus dengan kawan-kawan di medsos". Ada sebuah keterpenjaraan yang sudah menyangkut eksitensi diri. Seolah tanpa keterhubungan, hidupku mati, duniaku kiamat. Seolah tanpa keterhubungan itu, kita tak bisa apa-apa. Benarkah?
Ada sementara orang yang memang dengan pandemi ini menjadi tak terhubung secara langsung (fisik). Sekolah tempat mendidik orang muda atau dewasa menjadi kosong dan tak ada lagi suasana kerumunan orang "bersekolah". Guru tidak bisa lagi "berkuasa" atas orang-orang yang didiknya. Di situ aku disadarkan bahwa sekolah ada tempat "guru menguasai orang yang didiknya". Sekarang guru hanya bisa menghadapi layar dengan segala perangkat yang harus dikuasai. Kadang lancar kadang tidak. Ketika tidak bisa menguasai perangkat dengan layar untuk medium "penguasaan" yang dibahasakan mendidik itu, aku harus merumuskan kembali arti sekolah, pedidikan yang selama ini menjadi istilah umum.
Memang ada juga yang mengatakan bahwa semakin memakai cara online, anak tidak bersemangat belajar. Orangtua banyak dibebani dengan mau mundurnya anak dari seolah atau kuliah. Mereka tidak bisa lagi berharap masa depan anaknya nanti. Sudah terlanjur membayar uang sekolah yang tak murah, ditambah anak yang menyerah untuk tidak mau sekolah. Orang tua menjadi tertekan dan tidak bisa mengendalikan anaknya. Orangtua di rumah pun tak mampu menguasai anaknya karena tak ada pihak lain yang bisa menjadi perantara kekuasaan di sekolah seperti saat mereka datang ke ruang kelas dan guru bisa mengawasi. Sementara ini, semua itu tidak terjadi seperti yang dulu. Lantas apa rumusan sekolah dengan situasi seperti saat ini? Akankah sekolah adalah ruang dan waktu untuk menguasai dan dikuasai?
Kembali ke yang "seolah mati jika tak terhubung", spesies manusia sedang diuji sampai sejauh mana keterputusan kontak ini tidak membawa pada kepunahan dan keputusasaan. Seolah keterhubungan adalah harga mati bagi spesies manusia. Memang ada slogan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Namun kesosialan macam apa yang saat ini harus dihadapi manusia? Apakah sosialita yang hanya terkoneksi dengan media? Apakah sosialita yang serba ingin tahu akan ini dan itu, upload atau posting foto, atau pasang status? Keterkoneksian macam apa yang sebenarnya manusia itu inginkan saat ini?
Dalam hal ini, yang bisa kuduga adalah manusia tak tahan dengan kesepian dan kesunyian. Kesendirian dalam arti tak terhubung terlalu sering menjadikan manusia kesepian. Sebenarnya keterhubungan dengan media itu juga fisiknya sendiri namun pasang foto atau statusnya yang banyak. Manusia sudah kecanduan media untuk terhubung. Manusia dengan sendirinya memenjarakan diri dalam keramaian ruang virtual (kalau tidak ingin disebut keramaian semu). Mungkin bagi manusia saat ini realitas adalah keramaian semu itu. Tapi di satu sisi manusia sebenarnya tak siap dengan keramaian itu. Garin Nugroho (dalam sebuah wawancara) mengatakan bahwa kita harus siap dengan budaya internet dan revolusi ini dan itu, tapi nyatanya kita tidak siap dengan itu semua. Ketidaksiapan itu terlihat dari gagap dan efek kecanduannya. Toh, kalau kita tak punya internet dan keterhubungan pun tidak berpengaruh pada hidup wajar yang kita jalani. Orang menganggap tak wajar tak punya alat akses interconnectedness itu. Namun toh hidup tak hanya ditentukan oleh alat itu. Justru keterhubungan itu membawa orang terasing pada dirinya, tak kenal lagi dunia batin yang harus dimasuki.
Ruangan dengan pintu tetap saja terbuka namun aku mau apa dan situasi menentukan apa, itulah yang selalu kita hadapi. Aku bisa saja menutupnya atau bisa saja membukanya. Tergantun pilihanku, apakah mau melihat dunia luar atau menutup diri, itu semua terserah aku. Kemerdekaanku yang menentukan apakah aku terpenjara atau merdeka.
#kalahujansorehari#
