
Cerita ini hanya curahan hati, "ngudarasa" dari diri sendiri dan sebenarnya otokritik terhadap praktik kerja mendampingi jiwa-jiwa yang mempunyai cita. Ada salah terima jika dibaca, silakan. Ada yang kecewa dan kurang setuju, itu hal yang mungkin bisa terjadi. Otokritik dan kecewa pada diri sendiri adalah hal yang lumrah. Namun jika ada yang tersinggung karena merasa tersangkut di dalamnya, saya sebelumnya meminta maklum dan maaf [edisi revisi dan permintaan maaf jika ada yang mengganjal dan kecewa, sebelum takbir lebaran, tanda permintaan maaf semua dikabulkan]. Aku hanya mendengar sebuah cerita. Cerita yang kudengar ketika pulang malam dari bandara. Cerita yang bikin aku miris dan hanya merasa prihatin, merasa tak berguna kerja keras mendampingi orang-orang muda yang memang aku hanya bisa mengelus dada bahwa ini juga kesalahan yang tua. Sebuah cerita, kisah pelecehan telah terjadi. Malam itu sampai saat ini ketika jariku memencet tuts keyboard ini pun masih terasa. Rasa itu tak pernah bisa dikhianati. Rasa yang berasal dari pengkhianatan yang mungkin sama dan persis traumatiknya seperti sebagian orang Indonesia yang masih trauma atau dibikin trauma dengan gambar berbau palu arit.
Kesalahan dari pihak yang tua. Mengapa aku mengatakan kesalahan dari pihak yang tua? Aku melihat bahwa orangmuda pasti akan mengatakan dirinya dididik oleh orang yang lebih tua. Mereka juga dididik oleh situasi pastinya. Orangtua mereka yang ada di sini memungkinkan mereka untuk berkhianat. Atau dengan kata lain, bagiku cara orang tua yang ada di sini melahirkan sebuah tindakan pengkhianatan dan pelecehan karena beberapa alasan.
Pertama, orangtua yang ada di sini terlalu memanjakan dan sangat membela anak. Cara ini sebenarnya cara yang tidak mendidik karena apa-apa selalu dituruti. Ketika semua dituruti, yang muncul kemudian adalah sikap yang serba terfasilitasi dan kemaruk. Apa-apa merasa diriku dilayani, diberi fasilitas, dimudahkan. Itulah kemanjaan yang menyebabkan anak menjadi tak dewasa. Orangtua mungkin juga terimbas mode saat ini yang apa-apa selalu dikaitkan dengan fasilitas. Jika tidak terfasilitasi sepertinya koq kasihan dan kurang up to date. Memanjakan berarti memberi kemudahan yang akhirnya membelenggu orang muda.
Kedua, orangtua terlalu mengandaikan dan tidak mendampingi. Kerja orangmuda sampai usia SMA perlu didampingi bukan hanya ditunggui pasif namun harus dengan arahan yang jelas, dibuatkan rambu-rambu, SOP, strategi mengerjakan, cara-cara mengerjakan yang jelas, dsb. Ketika orangtua hanya menunggui tetapi tidak hadir mengarahkan maka yang terjadi adalah anak muda itu berbuat seenaknya. Pikir mereka, "aku diperbolehkan koq". Anggaran yang diajukan semua harus dipakai karena merasa semua itu miliknya, tidak diarahkan bahwa penggunaan anggaran harus dilihat dari konteks pembentukan diri, cara mengatur anggaran, apa kegunaannya, apa tujuannya. Tidak semua tujuan baik itu bisa direalisasikan. Orangtua harus mendampingi untuk memberi kesadaran bahwa mereka harus melihat motivasi di balik penggunaan anggaran, bahkan bertanya tentang apa saja di balik tujuan yang mereka paparkan. Road to hell is paved by good intention. Itu kata pepatah.
Ketiga, orangtua tidak berani dan kurang tegas membuat kebijakan tertulis maupun tidak tertulis bagi pembentukan karakter pribadi dan bersama. Ketika tidak ada keberanian atau ada ketakutan dari pihak orangtua untuk "memarahi", "menegasi" dengan maksud yang baik tentu akan ada konsekuensi logis yaitu mereka akan "nglunjak" (istilah Jawa yang berarti: tidak sopan dan cenderung sombong). Apalagi dunia modern ini mengatakan bahwa anak tidak boleh dimarahi, anak tidak boleh dibentak, anak tidak boleh diatur, dsb. Alasan yang selalu akan melemahkan mental pribadi manusia sebenarnya. Benar atau tidak dalam realitas kehidupan dunia ini, keras dan kejamnya kehidupan justru harus dihadapi oleh setiap makhluk, dan itulah yang menjadikan makhluk hidup menjadi hidup dan berkembang. Manusia dapat merekayasa genetika kehidupan namun justru yang ditemukan ahli kemudian bahwa ketika rekayasa itu terjadi, malah makhluk hidup tidak mempunyai kemampuan menghadapi tantangan dunia. Adanya penyakit, tantangan, virus, kelemahan dan sebagainya adalah bagian alami dari keberlangsungan hidup itu sendiri. Tidak bisa kita memungkiri hidup dengan menolak tantangan itu.
Setidaknya tiga hal itu yang menyebabkan tindakan pengkhianatan itu terjadi. Bisa jadi pemahaman mereka belum diluruskan akan arti hidup di sini dan untuk apa di sini. Bisa jadi mereka memang maunya memberontak karena keinginan mereka harus dituruti. Bisa jadi karena mereka tidak pernah diajari dari awal bagaimana seharusnya bersikap, bertutur, berpikir, bertindak karena mereka merasa bahwa yang mereka perbuat adalah benar di mata mereka tetapi tidak di mata publik. Rambu-rambu kehidupan tidak selalu tertulis namun mereka harus menghadapi dan sistem itu tetap ada walau tidak selalu terpampang dalam tembok atau bahkan tertulis di langit sekalipun.
Ungkapan "Mangkat Ra Mangkat Sing Penting Lulus" adalah ungkapan yang melecehkan beberapa hal. Pertama, itu melecehkan proses belajar panjang selama 4 tahun di sini. Artinya tidak ada apa-apa lagi dengan yang mereka lakukan di sini. Bahkan ucapan terima kasih pun tidak karena mereka tidak mementingkan lagi pihak-pihak yang sudah berperan di sini. Kedua, melecehkan lembaga yang didirikan untuk sebuah tujuan tertentu, yaitu yang disebut melanjutkan ke lembaga yang mereka pilih sesuai tujuan rumah formasi ini didirikan oleh pendiri awal. Pelecehan ini sepertinya sebuah ketidaksadaran dan kemampuan kognitif yang lemah akan sebuah pemahaman diri mereka dan lembaga di mana mereka hidup. Mereka hanya hidup dengan dunia mereka, "autisme" praktis. Ketiga, melecehkan kedewasaan diri sendiri karena usia mereka adalah usia dewasa yang di luar adalah usia masuk perguruan tinggi. Pelecehan tingkat kedewasaan ini sangat memprihatinkan karena mereka ternyata kurang dapat mempertanggungjawabkan apa yang mereka kerjakan, pelajari, hayati sampai sebuah keputusan sadar memilih dan mengikuti tes di lembaga religius yang akan dimasuki. Keempat, melecehkan keluarga yang sudah menyerahkan mereka dididik di sini. Pelecehan terhadap keluarga ini bisa diartikan (1) bisa jadi tidak dipahami oleh keluarga karena keluarga bermotivasi tidak seperti lembaga, (2) bagi yang peka dan paham, bisa jadi ini sebuah tamparan bagi mereka karena ternyata pendidikan selama ini tidak berjalan semestinya.
"Mangkat Ra Mangkat Sing Penting Lulus" adalah sebuah penghinaan dan pelecehan lengkap bagi yang sudah berproses dan yang terlibat melaksanakan proses pendampingan. Oleh karena itu, aku tak mau berpanjang lebar, kita telah gagal setidaknya mendampingi bagi sebagian angkatan yang ada di sini. Kegagalan ini bisa jadi sebuah gugatan untuk berbuat lebih baik lagi.
#Morning @offc