Thursday, May 26, 2016

"Mangkat Ra Mangkat Sing Penting Lulus"


Cerita ini hanya curahan hati, "ngudarasa" dari diri sendiri dan sebenarnya otokritik terhadap praktik kerja mendampingi jiwa-jiwa yang mempunyai cita. Ada salah terima jika dibaca, silakan. Ada yang kecewa dan kurang setuju, itu hal yang mungkin bisa terjadi. Otokritik dan kecewa pada diri sendiri adalah hal yang lumrah. Namun jika ada yang tersinggung karena merasa tersangkut di dalamnya, saya sebelumnya meminta maklum dan maaf [edisi revisi dan permintaan maaf jika ada yang mengganjal dan kecewa, sebelum takbir lebaran, tanda permintaan maaf semua dikabulkan]. Aku hanya mendengar sebuah cerita. Cerita yang kudengar ketika pulang malam dari bandara. Cerita yang bikin aku miris dan hanya merasa prihatin, merasa tak berguna kerja keras mendampingi orang-orang muda yang memang aku hanya bisa mengelus dada bahwa ini juga kesalahan yang tua. Sebuah cerita, kisah pelecehan telah terjadi. Malam itu sampai saat ini ketika jariku memencet tuts keyboard ini pun masih terasa. Rasa itu tak pernah bisa dikhianati. Rasa yang berasal dari pengkhianatan yang mungkin sama dan persis traumatiknya seperti sebagian orang Indonesia yang masih trauma atau dibikin trauma dengan gambar berbau palu arit.


Kesalahan dari pihak yang tua. Mengapa aku mengatakan kesalahan dari pihak yang tua? Aku melihat bahwa orangmuda pasti akan mengatakan dirinya dididik oleh orang yang lebih tua. Mereka juga dididik oleh situasi pastinya. Orangtua mereka yang ada di sini memungkinkan mereka untuk berkhianat. Atau dengan kata lain, bagiku cara orang tua yang ada di sini melahirkan sebuah tindakan pengkhianatan dan pelecehan karena beberapa alasan.

Pertama, orangtua yang ada di sini terlalu memanjakan dan sangat membela anak. Cara ini sebenarnya cara yang tidak mendidik karena apa-apa selalu dituruti. Ketika semua dituruti, yang muncul kemudian adalah sikap yang serba terfasilitasi dan kemaruk. Apa-apa merasa diriku dilayani, diberi fasilitas, dimudahkan. Itulah kemanjaan yang menyebabkan anak menjadi tak dewasa. Orangtua mungkin juga terimbas mode saat ini yang apa-apa selalu dikaitkan dengan fasilitas. Jika tidak terfasilitasi sepertinya koq kasihan dan kurang up to date. Memanjakan berarti memberi kemudahan yang akhirnya membelenggu orang muda.

Kedua, orangtua terlalu mengandaikan dan tidak mendampingi. Kerja orangmuda sampai usia SMA perlu didampingi bukan hanya ditunggui pasif namun harus dengan arahan yang jelas, dibuatkan rambu-rambu, SOP, strategi mengerjakan, cara-cara mengerjakan yang jelas, dsb. Ketika orangtua hanya menunggui tetapi tidak hadir mengarahkan maka yang terjadi adalah anak muda itu berbuat seenaknya. Pikir mereka, "aku diperbolehkan koq". Anggaran yang diajukan semua harus dipakai karena merasa semua itu miliknya, tidak diarahkan bahwa penggunaan anggaran harus dilihat dari konteks pembentukan diri, cara mengatur anggaran, apa kegunaannya, apa tujuannya. Tidak semua tujuan baik itu bisa direalisasikan. Orangtua harus mendampingi untuk memberi kesadaran bahwa mereka harus melihat motivasi di balik penggunaan anggaran, bahkan bertanya tentang apa saja di balik tujuan yang mereka paparkan. Road to hell is paved by good intention. Itu kata pepatah.

Ketiga, orangtua tidak berani dan kurang tegas membuat kebijakan tertulis maupun tidak tertulis bagi pembentukan karakter pribadi dan bersama. Ketika tidak ada keberanian atau ada ketakutan dari pihak orangtua untuk "memarahi", "menegasi" dengan maksud yang baik tentu akan ada konsekuensi logis yaitu mereka akan "nglunjak" (istilah Jawa yang berarti: tidak sopan dan cenderung sombong). Apalagi dunia modern ini mengatakan bahwa anak tidak boleh dimarahi, anak tidak boleh dibentak, anak tidak boleh diatur, dsb. Alasan yang selalu akan melemahkan mental pribadi manusia sebenarnya. Benar atau tidak dalam realitas kehidupan dunia ini, keras dan kejamnya kehidupan justru harus dihadapi oleh setiap makhluk, dan itulah yang menjadikan makhluk hidup menjadi hidup dan berkembang. Manusia dapat merekayasa genetika kehidupan namun justru yang ditemukan ahli kemudian bahwa ketika rekayasa itu terjadi, malah makhluk hidup tidak mempunyai kemampuan menghadapi tantangan dunia. Adanya penyakit, tantangan, virus, kelemahan dan sebagainya adalah bagian alami dari keberlangsungan hidup itu sendiri. Tidak bisa kita memungkiri hidup dengan menolak tantangan itu.

Setidaknya tiga hal itu yang menyebabkan tindakan pengkhianatan itu terjadi. Bisa jadi pemahaman mereka belum diluruskan akan arti hidup di sini dan untuk apa di sini. Bisa jadi mereka memang maunya memberontak karena keinginan mereka harus dituruti. Bisa jadi karena mereka tidak pernah diajari dari awal bagaimana seharusnya bersikap, bertutur, berpikir, bertindak karena mereka merasa bahwa yang mereka perbuat adalah benar di mata mereka tetapi tidak di mata publik. Rambu-rambu kehidupan tidak selalu tertulis namun mereka harus menghadapi dan sistem itu tetap ada walau tidak selalu terpampang dalam tembok atau bahkan tertulis di langit sekalipun.

Ungkapan "Mangkat Ra Mangkat Sing Penting Lulus" adalah ungkapan yang melecehkan beberapa hal. Pertama, itu melecehkan proses belajar panjang selama 4 tahun di sini. Artinya tidak ada apa-apa lagi dengan yang mereka lakukan di sini. Bahkan ucapan terima kasih pun tidak karena mereka tidak mementingkan lagi pihak-pihak yang sudah berperan di sini. Kedua, melecehkan lembaga yang didirikan untuk sebuah tujuan tertentu, yaitu yang disebut melanjutkan ke lembaga yang mereka pilih sesuai tujuan rumah formasi ini didirikan oleh pendiri awal. Pelecehan ini sepertinya sebuah ketidaksadaran dan kemampuan kognitif yang lemah akan sebuah pemahaman diri mereka dan lembaga di mana mereka hidup. Mereka hanya hidup dengan dunia mereka, "autisme" praktis. Ketiga, melecehkan kedewasaan diri sendiri karena usia mereka adalah usia dewasa yang di luar adalah usia masuk perguruan tinggi. Pelecehan tingkat kedewasaan ini sangat memprihatinkan karena mereka ternyata kurang dapat mempertanggungjawabkan apa yang mereka kerjakan, pelajari, hayati sampai sebuah keputusan sadar memilih dan mengikuti tes di lembaga religius yang akan dimasuki. Keempat, melecehkan keluarga yang sudah menyerahkan mereka dididik di sini. Pelecehan terhadap keluarga ini bisa diartikan (1) bisa jadi tidak dipahami oleh keluarga karena keluarga bermotivasi tidak seperti lembaga, (2) bagi yang peka dan paham, bisa jadi ini sebuah tamparan bagi mereka karena ternyata pendidikan selama ini tidak berjalan semestinya.

"Mangkat Ra Mangkat Sing Penting Lulus" adalah sebuah penghinaan dan pelecehan lengkap bagi yang sudah berproses dan yang terlibat melaksanakan proses pendampingan. Oleh karena itu, aku tak mau berpanjang lebar, kita telah gagal setidaknya mendampingi bagi sebagian angkatan yang ada di sini. Kegagalan ini bisa jadi sebuah gugatan untuk berbuat lebih baik lagi.

#Morning @offc

Thursday, May 12, 2016

Fait accompli

Kata itu berasal dari bahasa Perancis. Fait artinya ia melakukan; accompli artinya menyelesaikan di depan (faire a compli). Lalu dalam bahasa Indonesia menjadi fetakompli. Artinya sebuah tindakan yang mengharuskan orang lain mau tidak mau harus menyetujui tindakan tersebut. Gampangnya begini saja, seorang anak sudah mengadakan persetujuan dengan pihak gedung futsal untuk disewa selama sejam untuk main futsal bersama teman-temannya. Padahal ia belum mempunayi uang untuk membayarnya. Ia baru lapor ke orangtuanya dan orangtua harus membayarnya karena anak adalah tanggungjawab orangtua. Bisa jadi orangtua itu akan dengan mudah membayar jika ia memanjakan anak itu dan orang tua itu kaya. Bisa jadi orangtua itu akan marah karena anaknya membuat keputusan tanpa sepengetahuan orangtuanya apalagi soal urusan duit dengan pihak lain. Ada dua kemungkinan.

Tanggal 6 Mei lalu ketika ada day off (hari libur) di asrama kami, seorang anak keluar dan pergi sendiri tidak dengan temannya. Tanpa disadari pendamping dan rekan-rekannya, ternyata ia dijemput ibunya di sebuah tempat dan dibawa pulang. Dalam aturan day off, kami hanya diperbolehkan pergi sampai sebelum makan malam. Dan itu sudah dijelaskan secara gamblang pada hari sebelumnya. Karena memang sudah punya niat dan itu sudah berkali-kali, ternyata orangtua itu menelpon pihak sekolah malam hari setelah pukul 21.00, "anak kami saya bawa pulang karena alasan sakit dan dibawa ke rumah sakit maka akan dikembalikan pada hari setelahnya jam 10 pagi." Padahal sehari sebelumnya dan saat day off ia jalan kaki sengan segar bugarnya. Telisik punya telisik, ada info dari rekannya memang ia sudah berniat untuk pulang karena akan dijemput mama-nya. Dan dari beberapa penelusuran, pendamping menemukan modus ini sudah beberapa kali dilakukan oleh orangtuanya. Alasan bisa macam-macam, seperti kemaleman, diajak ke tempat saudara dan yang terakhir memakai alasan sakit dan ketika diantar ke sekolah anak itu "akting" dengan membawa bungkusan obat dalam plastik dengan logo dari sebuah rumah sakit.

Perbuatan orangtua yang sedemikian itu adalah sebuah fait accompli terhadap kebijakan sekolah. Reaksi dari pembimbing yang ditelpon adalah marah dan menegasi orangtua supaya malam itu juga harus dikembalikan ke sekolah karena tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Artinya, si anak dilatih untuk tidak taat dan tidak mau ikut cara pembinaan dari sekolah tempat ia belajar. Maksud dari kebijakan sekolah adalah bahwa day off bukan untuk berlama-lama dan pulang namun untuk refreshing bersama rekan lain dalam waktu yang lama. Orangtua semacam ini selalu cari celah kebijakan lembaga untuk "menjemput" anaknya dan jika tidak hati-hati akan bermain selalu dengan alasan dia sendiri. Aturan main yang dibuat sekolah adalah untuk latihan tertentu dari si anak supaya lebih fokus membina diri di sekolah. Entah alasan kangen atau ingin melihat anaknya, orangtua ini sudah merusak dinamika yang didesign sekolah. Karena kejadiannya sudah lebih dari 2 kali, ini menjadi sebuah catatan bagi kami untuk membuat kebijakan tegas terhadap anak dan orangtua ini. Jika memang tidak kooperatif lagi dengan sekolah, kita berhak menyerahkan kembali anak ke pihak orangtua supaya orangtua sendirilah yang mendidik anaknya dengan cara yang ia kehendaki.

Sebenarnya banyak kasus-kasus fait accompli lain yang dibuat oleh anak maupun orangtua dalam lingkup sekolah, dan aku hanya terusik dengan kejadian ini karena ternyata ini seperti menjadi pola perilaku dari orangtua ini dan si anak dibuat "membenarkan" tindakan orangtuanya. Dia hidup dalam dua dunia: kebijakan sekolah dan kemauan orangtuanya. Dua dunia ini dialami sebagai diri real dalam keluarga ini. Ada keinginan untuk menyekolahkan anaknya di sekolah dan menyerahkan pada kebijakan sekolah tetapi di lain sisi ada kehendak untuk bertemu dengan anaknya entah apa motivasinya. Diri real yang terpecah dari keluarga dapat menyebabkan situasi yang pantas disayangkan pada diri seorang anak. Anak cenderung akan pandai merasionalisasi dan menutup diri karena ia harus bermuka dua atau lebih untuk mempertahankan dirinya supaya dibenarkan atau diberi persetujuan dari pihak yang ia minta. Anak menjadi tertutup. Yang ada dalam dirinya adalah mencari kebenaran real yang ingin dihayatinya namun dalam dirinya ada kebenaran lain yang sifatnya rasionalisasi dirinya akibat didikan fait accompli orangtua. Dirinya terpecah. Keterpecahan inilah yang harus diolah kemudian. Sayang jika karena dominasi orangtua, si anak menjadi pribadi yang terpecah. Sepertinya orangtua ini menyayangi anaknya tetapi dalam konteks pembinaan, hal ini justru malah berlawanan.

Ada juga kasus-kasus pemalsuan tandatangan pembimbing dan waktu untuk keluar. Alasannya adalah ingin mencari  ini dan itu sehingga mereka melanggar tata tertib yang ada. Kadang ada motivasi "tidak dapat mengendalikan diri" dalam diri manusia. Itulah yang kemudian menjadi kerucut dalam sebuah tindakan memanipulasi diri, surat, dan tindakan tidak jujur lainnya. Pencatutan nama seseorang juga sempat mencuat dengan kasus "Papa minta saham" di negeri ini. Sekiranya hal-hal yang mencuat dalam kancah bangsa juga bermula dari hal-hal kecil seperti ini.

Keterpecahan dan kejiwaan yang rentan dan mudah pecah banyak dialami oleh anak-anak zaman. Oleh karena itu, mencintai anak sebagai buah hati kiranya juga perlu berlatih tiap saat. Tidak selalu orangtua kenal dan tahu kebutuhan anak. Sering orangtua memaksakan kehendaknya demi kepuasan hati orangtua. Hasilnya sering malah kebalikan dari harapan. Terjadilah kekecewaan di suatu saat nanti. Fait accompli juga sebenarnya melatih anak untuk tidak jujur dengan dirinya. Ia dilatih untuk menutupi dirinya karena harus berhadapan dengan kebenaran lain yang harus dihidupi. Tinggal menunggu waktu saja kapan ia akan menyerah menutupi diri, dan tentu akan terbongkar. Sayang sebenarnya jika kita tidak hidup dalam kebenaran. Kejujuran sebenarnya menuntun seseorang laksana berjalan dalam terang dan cahaya yang dibawa. Kejujuran memang masih terus kita perjuangkan dengan berdarah-darah. Perjuangan itu setiap saat. Perjuangan untuk mengendalikan diri adalah perjuangan sejak manusia ada, karena di sanalah manusia itu berhadapan dengan kekuatan kodrat diri, pengaruh jahat dan pengaruh baik. Pendidikan bermula dari motivasi, bermula dari orientasi diri, bermula dari desire, dambaan, keterarahan diri ke mana aku mau berjalan.





Pagi hari
#office#