Pengalaman seorang Inigo dari Loyola memberi kita contoh bagaimana perubahan radikal dalam hidup itu butuh usaha luar biasa. Orang mengatakannya sebagai effort, perjuangan. Orang melihat para orang suci itu sering hanya dari penampilan terakhirnya yaitu kesuciannya. Kesucian itu dilihat sebagai pencapaian tertinggi yang kemudian seolah-olah menghapus perjuangan dan jerih lelah yang menghasilkan pribadi sedemikian itu. Sebenarnya kalau dicermati kisah hidup para suci itu mereka tidak mengharapkan kesucian itu disematkan dalam dirinya. Itu adalah pemberian, murni pemberian dari kita yang menghargainya sebagai sesuatu yang luhur. Aku yakin seyakin-yakinnya bahwa mereka hidup sedari lahir atau setelah sadar akah hidupnya tidak mencari kesucian yang seolah-olah diproyeksikan ke depan.
Bahkan Inigo mengajariku untuk lebih realistis bergumul dalam hidup. Pergumulan Inigo memang awalnya ingin memperbaiki hidup dengan praktik-praktik kesalehan tradisional, dengan bertapa dan matiraga tanpa henti. Namun apa yang terjadi? Praktik-praktik kesalehan tradisional itu tidak memberinya kepuasan batin. Ia mengalami frustrasi dengan hidupnya, dengan masa lalunya, dengan praktik-praktik hidup selama ini. Mengusahakan segala sesuatu demi perubahan hidup itu tidak hanya berasal dari diri sendiri. Ada bantuan dari orang lain, yaitu dia juga pergi ke bapa pengakuan untuk mengakukan dosa-dosanya, ia bimbingan rohani, ia konsultasi tentang ini dan itu. Apa yang ia akukan pun itu-itu saja dan tidak pernah berubah. Ia sampai merasa bahwa beban masa lalunya membuatnya tidak tahan, dan ingin bunuh diri. Sampai pada akhirnya bapa pengakuannya memintanya untuk menghentikan praktik-praktik yang justru membuatnya frustrasi itu. Sekarang ia harus mengubahnya yaitu dengan menyerahkan itu semua pada Tuhan dan mencatat seluruh pergulatan itu dalam buku pribadinya.
Pertolongan dari Tuhan yang disebut rahmat itulah yang kemudian membuatnya menyerah dan sadar bahwa tidak bisa semua itu diusahakan sendiri. Benarlah bahwa jika kau terus-menerus fokus pada keberdosaan, kelemahan, kerapuhanku, siapa yang dapat tahan? Seolah-olah hidup ini serba muram dan hitam kelam. Ada kesadaran bahwa aku dipanggil untuk melihat segala sesuatunya lebih optimistik, lebih berpengharapan, lebih punya horizon yang luas. Pada akhir masa pergulatan yang merupakan awal pertobatan itu, Inigo pun akhirnya dengan tekadnya menulis segala macam hal yang ia gulati. Aku yakin bahwa di sini, ia pun terbantu dengan menulis, mencatat segala hal sehingga ada bekas. Ada (hi)story yang ia catat dan itu setidaknya membekas dan melegakan secara bertahap. Aku yakin bahwa alat bantu dengan menulis ini membawa semacam pengaruh dalam perubahan hidup selanjutnya. Orang sekarang menyebutnya sebagai terapi menulis. Menulis membantu orang untuk menyembuhkan luka-luka atau penyakit dalam hidupnya.
Menemukan kesadaran bahwa aku tidak bisa dengan sendiri membersihkan diri dari kerapuhanku itu bukan sesuatu yang mudah. Bisa aku bandingkan dengan mereka yang mengalami banyak luka dalam hidup, orang butuh waktu untuk benar-benar menerima dan memeluk kerapuhan itu sehingga mereka sembuh. Ada yang dilukai dalam relasi suami istri dalam berumah tangga, entah sebuah pengkhianatan pernikahan, entah oleh perilaku anak yang bandel, pemberontak. Ada juga karena mengalami kegagalan pernikahan berkali-kali. Ada yang terluka karena perlakuan orangtua yang keras dan cenderung abusive. Ada juga trauma itu oleh orang lain yang semula dianggap suci, berpengaruh, berwibawa, tokoh atau figur publik. Ada juga luka itu karena perang, konflik-konflik penuh kekerasan lain di berbagai penjuru dunia. Semua dari kita mempunyai kerapuhan sendiri-sendiri sesuai konteks hidup kita masing-masing. Ketika kerapuhan itu mengakibatkan rusaknya persepsi diri terhadap diri sendiri, orang lain dan bahkan yang ilahi sekalipun, maka bantuan akan merubah hidup itu dibutuhkan.
Seperti Inigo, ia tidak bisa sendirian berjuang. Ia butuh orang lain sebagai pihak yang kepadanya dicurhati, dipakai sebagai tempat mengadu, berkonsultasi, mengkonfirmasi pengalaman dan usahanya. Ada kalanya memang apa yang disarankan orang lain itu tidak membantunya, namun setidaknya ada pihak lain yang mengobjektivasi dirinya untuk bersikap sebelum mengambil pilihan tertentu. Orientasi hidup ini dipengaruhi banyak hal dan bagaimana ia memandang hidup ini. Inigo menemukan bahwa hidup itu punya alasan adanya dan tujuannya. Hidup itu juga perlu disikapi dalam hal cara dan sarananya. Hidup tidak hanya mengalir saja. Hidup juga tidak hanya bergantung pada pihak lain. Hidup ini adalah kesalingan antara usahaku sendiri dan rahmat yang datang dari yang ilahi. Tujuan hidup pada dirinya sendiri bukanlah untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri namun untuk bersyukur, menghormati, dan melayani yang ilahi Sang pemberi kehidupan itu sendiri dengan itu ia menyelamatkan (baca: dibebaskan dari beban hidup) dirinya. Caranya adalah dengan bekerja, berusaha, memakai sarana-sarana di dunia ini dengan orientasi (sikap hidup) yang tidak terserap pada sarana itu. Walau sarana itu sangat canggih dan efektif dalam bekerja, namun jika sudah lekat dan membuat diriku tidak bisa mengambil jarak (menjadi tidak sehat) maka aku harus melepaskannya.
Pengalaman Inigo menemukan tujuan dan sarana itu menghasilkan rumusan dahsyat tentang prinsip dan fondasi hidup. Orang sering terbalik-balik dalam mensikapi hidup dan sarana-sarana yang ada karena orang sering lekat pada sarana dan melupakan tujuan hidup. Kebutuhan hidup itu secukupnya dan tidak berlebihan. Orang jadi rakus karena orang hanya mau mengumpulkan sarana. Seolah-olah sarana itu akan selalu melekat pada dirinya dan berguna bagi meraih tujuan. Padahal tidak demikian halnya. Proses pemerdekaan diri dari beban masa lalu, beban-beban hidup lain tidak cukup diterima dan diamini, tetapi perlu disikapi sehingga hidup itu tidak berat. Mengambil jarak dari beban hidup atau masa lalu atau trauma-trauma tertentu juga tidak cukup dengan konsultasi psikologis. Penyikapan diri untuk mengambil jarak dan memerdekakan diri jauh lebih penting. Proses memerdekakan diri itulah yang kemudian membawa konsekuensi menyadari diri dan masa lalu lebih positif.
Setiap orang butuh dicintai oleh siapapun. Dari penyadaran diri akan pengalaman dicintai itulah orang sebenarnya diajak untuk menemukan dirinya disembuhkan dari luka dan beban masa lalu. Setitik pengalaman dicintai, diorangkan, dipedulikan, dihargai, dihormati adalah obat bagi jiwa yang haus akan kesembuhannya. Tidak perlu banyak-banyak, sedikit saja pengalaman itu, sejauh pengalamanku juga bisa mengubah sangat besar dalam hidup. Hanya sebuah bingkisan roti bolu dari seorang ayah yang sebelumnya jauh dan merasa tidak mencintai, itu akhirnya bisa menyembuhkan dari persepsi tidak dekat dan tidak dicintai. Atau hanya sapaan hangat yang biasanya tidak terdengar lalu diberikan dari seorang ibu kepada anaknya yang selama ini berlaku tidak pantas dan menyakiti hatinya, tentu akan seperti air sejuk ketika dahaga.
Inigo secara realistis mengubah persepsi diri dari beban-beban masa lalu (baca: keberdosaan) dengan latihan secara bertahap menerima dan mengubah persepsi terhadap diri dan hidupnya. Tidak selamanya orang berdosa itu akan tetap kotor dan orang suci tidak terlahir dari sananya putih warnanya dan terus putih. Aku hanya mau membahasakan apa yang diungkapkan Oscar Wilde: "Tidak ada orang suci yang tidak mempunyai masa lalu, tidak ada orang berdosa yang tidak memiliki masa depan". Hidup ini optimis, cerah dan berwarna. Walau dalam proses ada saja perjuangan. Panggilanku adalah untuk hidup realistis dengan segala kerapuhan namun tidak merasa diri lemah terus dan dengan segala kekuatan namun tidak merasa diri sombong dan jumawa.
#noontime#
