Sunday, December 19, 2021

Living in Tension

Sering kali manusia tidak ingin hidupnya menderita. Perjuangan itu serasa menyakitkan. Namun demikian hanya segelintir orang di dunia ini yang hidupnya nyaman, semacam "anak Sultan" kalau bahasa orang sekarang. Tak adalah orang yang nyaman hidupnya jika masih ada di dunia. Sejak dari lahir sampai akhirnya mati, aku yakin bahwa manusia itu "harus" mengalami penderitaan, setidaknya hanya sekali seumur hiduplah. Oleh karena itu, jika ada orang mengeluh dengan hidupnya, serba susah, gampang capai, lelah, koq sepertinya belum mensyukuri akan keberadaannya di dunia. Atau setidaknya kurang sadar bahwa keterbatasan itulah yang mengakibatkan itu semua. Itu semua bagian dari perjuangan, penderitaan, kerja keras, serba rapuh.

Mengeluh mengesah memang bagian dari hidup. Namun mengeluh mengesah itu kadang bagiku koq membuat tidak nyaman. Mungkin ini bagian dari diriku yang tidak bisa menerima orang yang mudah mengeluh. Setidaknya semenjak sadar diri bahwa hidup itu perjuangan, buat apa keluhan-keluhan itu selalu disodorkan pada banyak orang atau setidaknya diriku? Bahwa ada tegangan dalam hidup antara diri ideal dan diri real, it is OK. Diri idealnya adalah bahwa aku tidak mudah mengeluh, tidak mudah capai, tidak mudah komplain, dan sebagainya. Diri realnya adalah diriku mudah mengeluh, mudah capai, mudah komplain dan sebagainya. Bagiku ini membawa sebuah panggilan bahwa aku harus menjadi lebih realistis daripada idealis. Orang selalu berat melangkah karena yang dibawa adalah beban-beban idealisme yang tak mudah terwujud lebih daripada pandangan hidup yang realistis dan memeluk kerapuhan itu sendiri. Bahwa orang boleh komplain, capai, mengeluh, tetapi itu tidak menjadi pola yang rutin dan seperti diekspose terus-menerus yang membuat orang lain juga tidak suka. 

Beban-beban idealisme itu membuat orang berjalan terseok-seok. Ketakutan akan masa depan, ketakutan akan reputasi, ketakutan akan hancurnya karier, ketakutan akan stigma sosial kadang masih kita bawa dan semacam idealisme dalam diriku yang akhirnya membuat hidup ini tak bisa mewujudkan satu per satu. Orang menjadi stress, tertekan, hanya berangan-angan dan tak berbuat apa-apa. Hidup menjadi kelam dan lebih mudah lelah. Kekawatiran akan kehancuran dan kegagalan hidup lebih banyak membawa bencana daripada menerima, memeluk, dan menyadari sebagai milik dirinya. 

Siapa yang tak pernah gagal? Kukira juga tidak ada. Aku takut gagal pun adalah beban. Ketika beban itu menjadi obsesi untuk dihindari maka semakin hari semakin memperberat hidup. Namun demikian, bisa jadi orang-orang yang belum bisa menerima diri karena efek-efek masa lalu dengan trauma-trauma (luka) mungkin akan tidak mudah untuk meletakkan beban-beban itu. Ada seorang yang pada tahun 1998 tidak secara langsung mengalami peristiwa kerusuhan menjelang lengsernya Suharto. Ia seorang keturunan Tioghoa. Ia mengalami trauma secara tidak langsung dan mempunyai persepsi bahwa orang-orang di luar sukunya itu adalah jahat karena peristiwa itu. Untuk menyembuhkan luka itu, ia akhirnya membuat niat konkrit yaitu menjadi orang yang travelling ke mana-mana dengan menebeng (numpang) mobil orang lain tanpa harus membayar angkutan. Ia hanya ingin membuktikan bahwa orang lain itu tidak jahat. Ia sekaligus ingin menyembuhkan luka hidupnya. Setelah terbukti bahwa ia bisa travelling ke seluruh pelosok nusantara, ia akhirnya sadar bahwa banyak orang baik yang ia jumpai selama travelling nebeng itu. 

Kadang luka-luka atau beban kita tidak cukup hanya kita komplainkan saja. Butuh sebuah usaha konkrit yang membuat diriku sembuh, ringan, tidak banyak curiga. Seorang yang membuktikan bahwa ada banyak orang baik tadi akhirnya sembuh karena ia "mengalami" sendiri bahwa ada orang yang mau menolongnya. Ada banyak yang mau memberi tumpangan. Ada banyak follower-nya ketika ia mengupload ini dalam chanell online-nya. Bahkan ada banyak orang menawari untuk menjemput dan bertemu dengannya jika ia akan pergi ke sebuah tempat. Orang butuh pengalaman untuk kesembuhan.

Tegangan yang membuat orang hidup itu juga perlu diperhatikan. Ketika orang hanya merasakan satu sisi ekstrem dalam hidup, tentu ia hanya membuat frame sesuai dengan sisi yang ia condongi. Namun, kita sebenarnya dipanggil untuk menghidupi sisi tengah antara ekstrem satu dan ekstrem lainnya. Itulah sisi tension (tegangan). Orang tidak hanya melulu idealis, atau realis ekstrem. Justru menjadi idealis real atau realis ideal itu juga perlu. Sisi idealis dibutuhkan orang untuk bersemangat mencapai tujuan tertentu. Sisi realis dipakai sebagai cara menapakkan kaki hidup secara lebih mendarat. 

Banyak sebenarnya tegangan-tegangan hidup yang kita alami. Aku tidak bisa menyebut satu per satu. Tiap orang menemui tegangannya sendiri-sendiri. Dari menghidupi tegangan ini aku belajar banyak bahwa hidup itu tidak hanya monoton. Hidup itu kadang ada capainya, kadang ada ringannya, kadang berwarna, kadang membosankan. Usaha setiap hariku adalah memeriksa diri dan memaknai kehidupan yang sedemikian itu. Tentu hidup ini dijalani dengan kesadaran penuh. Kehati-hatian sangat disarankan. Apalagi di zaman sekarang, orang mudah dihantam ekstremitas tertentu: direkam, dipublikasi, dilaporkan, dikasuskan. Tentu ada muatan-muatan tertentu (motivasi tertentu). Oleh karena itu, prinsip kesadaran dan kehati-hatian itu sangat-sangat disarankan. Yang sudah berhati-hati saja bisa tersandung. Masih ada juga yang mensalahartikan atau tidak bisa menerima. 


"You must not only learn to live with tension, you must seek it out. You must learn to thrive on stress.

(J. Paul Getty)




#afternooninmyroom#

Tuesday, November 30, 2021

Urusan Manusia

Manusia itu biasanya rempong dengan dirinya. Baru dengan dirinya sendiri aja sudah rempong, apalagi dengan orang lain. Biasanya akan menambah rempongnya persoalan dan urusan. Kebanyakan dari kita sering tidak sadar dan tidak mau sadar dengan diri sendiri. Apalagi kalau kelakuan sudah menjadi kebiasaan yang tak disadari maka apapun yang kulakukan adalah ketidaksadaranku. Orang biasanya hanya mengandalkan kemampuan diri yang sebenarnya di balik itu ada kerapuhan juga. Orang yang kerjaanya bagus dan rapi, di balik itu ada juga (kadang) kecenderungan perfeksionis. Perfeksionis itu bukan hal yang baik walau tampilan yang dibuatnya baik, karena itu adalah kebutuhan psikologis yang justru bisa membunuh dirinya dan orang lain. Seorang yang perfeksionis bisa jadi akan banyak mengatur dan ingin mengontrol semua hal. Siapa yang akan tahan dengan hal itu?

Banyak di antara kita melihat fenomena di luaran (tampilan) kadang tidak selalu sama dengan yang ada di dalamnya. Maka ada ungkapan "jangan menilai dari bungkusnya". Kembali ke orang yang perfeksionis tadi, bisa saja bungkusnya adalah kerapian dan ketertataan dalam segala. Namun demikian bisa saja hal itu adalah penyakit patologis dalam dirinya yang ingin mengungkapkan sisi ritualisme obsesifnya. Memang aku sendiri tak boleh menghakimi begitu saja kecenderungan spontan melihat penampilan seseorang. Nah, yang perlu dilihat lagi adalah bahwa kita bisa menilai seseorang dari dalamnya adalah ketika sudah hidup bersama dalam waktu yang cukup lama. Jika hanya melihat sebentar, itu belum kelihatan. Hidup bersama dan kerja bersama biasanya akan membantu melihat keaslian seseorang dari perilaku dan cara bertindaknya. 

Aku ingat akan seorang aktivis yang heroik membela kebenaran dan keadilan. Obsesinya adalah memang jika melihat ketidakadilan lalu ia akan melawan. Bahkan ia berani bertarung secara fisik. Bahkan seperti Moses yang melihat ada mandor memukuli budaknya dan akhirnya ia membunuh mandor Firaun itu. Si aktivis ini akhirnya berefleksi dalam hidupnya. Ia mengatakan bahwa memang ketika dia melihat ketidakadilan yang ada adalah inginnya melawan dan perangai pemberontak itu muncul. Ia ingat masa kecilnya yang memang melihat kejadian traumatis baginya. Keluarganya dipersekusi oleh seseorang yang berkuasa dan dikucilkan. Posisi tinggi dalam pemerintahan, akhirnya hancur karena persekusi itu dan dijadikan tahanan politik. Karier bapaknya menjadi hancur. Memang tidak sampai dibunuh bapaknya oleh seorang yang berkuasa itu, tetapi kehidupan keluarganya hancur karena hal itu. 

Ia cukup lama melihat proses kejadian itu dari SD sampai ia dewasa. Keluarganya selalu menjadi incaran intel karena tragedi masa lalu. Walau situasi negara sudah berbeda politiknya, namun labeling dan trauma itu masih terbawa oleh keluarganya. Bahkan dirinya pun mengalami trauma yang cukup lama. Mencuatnya heroisme untuk melawan setiap ketidakadilan itu terus menjadi obsesinya. Ia mempunyai banyak jaringan yang aktif mengadakan advokasi dan pembelaan pada kalangan tersingkir yang ditindas orang-orang yang berkuasa. Ia sangat getol menyuarakan kebenaran untuk membela keadilan, bahkan ia pun sempat jadi incaran orang-orang sewaan pihak yang ia lawan. 

Ada sisi-sisi heroisme itu tentu bukan karena situasi eksternal yang memang mendukung. Sisi internal seseorang juga mempengaruhi dirinya. Memang jika obsesi itu tak terselesaikan dengan mengolah dan mengintegrasikannya dalam hidup, biasanya akan menjadi penyakit yang menggerogoti diri. Namun masa tua juga tidak bisa dipungkiri. Usia tua akhirnya membuatnya tak bisa lagi seheroik dulu, apalagi dengan sakitnya. Heroisme itu memang ada masanya. Ketika muda itu orang bisa saja menjadi heroik dan itu luar biasa. Namun jika sampai tua ingin merasa heroik, ya itu malah seperti orang gila. 

Yang mau kukatakan di sini adalah dalam diri manusia ada kerapuhannya. Kerapuhan ketika bertemu kerapuhan yang lain tentu akan ada aksi dan reaksi. Bisa saja orang itu bisa berelasi sepadan. Bisa saja orang berelasi tidak sepadan dan cenderung mengalahkan dan dikalahkan. Ada relasi-relasi yang tidak sepadan karena di sana ada posisi atau otoritas tertentu yang ia miliki dan menjadi penentu akan sebuah hal. Misalnya saja seorang guru dan murid. Guru tentu punya otoritas tinggi karena ia bisa mendidik muridnya. Murid menerima didikan guru. Nah, sering kali karena penyalahgunaan otoritas ini, maka terjadilah abuse. Abuse itu terjadi dalam urusan manusia dengan manusia yang lain. Di sana ada perjumpaan kerapuhan dan kerapuhan. Jika guru itu mendidik murid dengan biasa dan tidak aneh-aneh yang menyebabkan murid itu tidak dikorbankan atau diserang, maka tidak akan ada komplain. Namun bisa saja guru itu mendidik dengan kekerasan, sering memukul, atau meraba-raba murid perempuan, hal itu sudah bisa menjadi abuse. Bahkan dalam urusan itu, guru yang tidak memakai cara pedagogi dan metodologi yang benar pun bisa diperkarakan dan dituduh "abuse". Misalnya, terlalu menjejali murid dengan PR yang banyak namun tidak pernah dikoreksi dan dikembalikan. Hasilnya tidak pernah diumumkan. Belum lagi jika ada perbedaan persepsi antara orangtua dan pihak guru atau sekolah. Hal seperti ini akan memunculkan kerempongan-kerempongan yang lain.

Oleh karena itu, saat ini kita perlu berhati-hati dan bijaksana. Bertindak bijaksana dan sesuai dengan kode etik profesi yang kita jalani itu perlu. Kita bukan bertindak atas dasar ketakutan (fear) namun mau bertindak seprofesional mungkin sehingga tidak melanggar batas wewenang kita. Seorang tukang kebon tidak akan bertindak seolah-oleh guru kelas. Guru kelas tidak akan bertindak seolah-olah kepala sekolah. Itulah sebabnya bertindak sesuai koridor dan kewenangan itu perlu dalam konteks sebuah lembaga tertentu dengan aturan main tertentu. Sadar akan hal ini, kita perlu menjaga agar urusan kita tidak tumpang tindih. Kita juga tidak melanggar batas yang ada sehingga tidak menjadi pelaku abuse of power (penyalahgunaan kekuasaan).  

Apa yang kupikirkan dalam tulisan sebelum ini ("Ruang Celah") terbukti. Ada ormas yang sangat abusive sejak kelahirannya. Atau bahkan identitasnya sebenarnya adalah kekuasaan itu sendiri. Saat ini ormas itu dituntut banyak orang untuk dibubarkan. Namun masih ada pihak-pihak yang membela atau menyayangkan kalau dibubarkan. Alasanya ada-ada saja, seperti karena ormas itu melahirkan atau di dalamnya ada orang-orang penting dalam pemerintahan negeri ini. Nah, kalau ada orang-orang penting emangnya tidak bisa dibekukan atau dibubarkan? Memang, pembubaran itu tidak semudah membalik telapak tangan. Mereka butuh mengubah orientasi dulu. Jika gagal dalam reorientasi, maka layaklah mereka disebut bedebah. Sekali lagi urusan manusia itu selalu terkait dengan kekuasaan. 


#morning time#

Sunday, October 31, 2021

Ruang Celah

Satu hal yang kuprihatinkan di kota yang disebut ibunya kota ini. Aku menyebutnya sebagai prinsip ruang dan celah. Itu yang dijalani oleh hampir semua orang yang tinggal di sini. Prinsip itu mengatakan bahwa ruang adalah uang dan celah adalah jatah. Itulah mengapa tulisan ini kubuat. Kubuat ini ketika bulan hampir di wasananya. Sebuah sore menginspirasi aku membuat semacam untaian kata dalam benakku yang terus mencari ide manakah yang bisa kuungkap dari seluruh keprihatinan yang melanda diriku dan juga mungkin beberapa orang yang entah sadar atau tidak sebenarnya juga mengimpikan hal yang sama. Sedangkan tulisan ini adalah dari kacamata yang menurut orang yang kurang suka dengan penguasa-penguasa lokal partikelir yang seperti lebih berkuasa dari penguasa besar sebuah daerah atau negara. Pertanyaan-pertanyaan tentang peran mereka, mengapa mereka dibiarkan, mengapa mereka cenderung membuat sekat-sekat yang menutup ruang, apa artinya ruang dan celah di ibukota ini adalah butiran-butiran pertanyaan yang terus membuat diriku mencari jawab.

Sore itu, aku berjalan dalam ruas-ruas jalan yang ada di sekitarku. Selama perjalanan seperti biasa, pemandangan hilir mudik tentang orang dan barang. Kata orang, semakin orang bergerak, semakin orang itu melakukan tindakan ekonominya. Mobilitas memang menjadi kunci transaksi antar sesama orang. Sejenak sore itu aku mengamati apa yang terjadi di ruas-ruas jalan yang kulewati. Ternyata ada kapling-kapling yang selama ini kuanggap biasa. Namun karena saking biasanya itu, muncullah pertanyaan dalam diriku: "Mengapa ada kapling?" Lalu pertanyaan meningkat menjadi, "Mengapa ada ruas yang ditutup?" Jika aku melewati gang tertentu, aku mendapatkan jawabannya. Itu disebabkan karena pembatasan gerak orang selama pandemi. Jadi mereka menutup gang mereka selama ada pandemi ini. Namun di sisi lain mengapa jalan dibuat lebar (kemungkinan oleh pemerintah yang waktu itu diserang banyak pihak dan mengakibatkan pimpinannya dipenjara karena dipolitisir). Dan sekarang ruas jalan yang di pinggiran kali itu di sisi satunya diportal alias ditutup. Mengapa itu terjadi? Aku lama tidak mendapat jawaban. 

Mataku melihat adanya bendera-bendera tertentu di setiap ruas jalan di ibu kota ini. Ternyata ada sebuah kelompok tertentu yang disebut ormas itu masih tetap hidup dan merajai ruas-ruas jalan di sini. Itulah jawaban sementara yang kutemukan. Ruas jalan itu adalah ruang bagi mereka untuk mendapat uang. Uang adalah tanda kehidupan yang terus bergulir. Uang adalah tanda kekuasaan yang bercokol dan mencengkeram dalam ruang tertentu. Jawabanku itu makin kutelusur ke belakang dan itu adalah senada kebenarannya. Ada banyak ruas gang masuk keluarnya mobil, maka ada orang-orang yang memanfaatkan sebagai celah cari "berkah" yang adalah "jatah". Pak "ogah" akan selalu ada di setiap celah gang yang dirasa menguntungkan dan menghasilkan duit. Toko-toko ritail seperti Indomaret dan Alfamart saja yang dulu parkirnya gratis, saat ini sudah diparkiri oleh mereka-mereka yang melihat celah itu. Tiba-tiba orang nongol dan memarkiri kita saat pakai motor datang ke toko-toko itu. Itulah mengapa aku malas pakai motor jika ke sana karena dekat rumah. Lebih baik jalan saja daripada memberi uang Rp. 2000,00 kepada para "penadah jatah" itu. Aku pun sungkan saat ini mengeluarkan receh bagi penadah itu setiap kali "U-turn" di ruas-ruas jalan atau keluar dari gang. Alasanku adalah selama pandemi males cuci tangan terus sehabis menyentuh recehan. 

Ruang adalah uang. Celah adalah jatah. Itu kacamata dariku melihat fenomena ini. Dari kacamata mereka mungkin sebuah berkah. Berkah di mana kota yang disebut ibu dari kota-kota itu memang menyedikan ruang cari celah yang bisa jadi berkah karena merasa itu adalah "jatah" mereka. Bendera-bendera PP dan FBR itu sangat vulgar dan terang-terangan, bahkan ada yang pakai seragam kaos dengan nama-nama itu dan personelnya nongkring di pos-pos yang mereka labeli. Preman-preman ormas itu sudah menjadi penguasa lokal. Dan sepertinya negara ini belum bisa menghapus mereka. Sepertinya mereka itu orang-orang yang berjasa bagi lahirnya negeri ini. Mungkin ada benarnya karena keberadaan mereka juga terlahir dari kebutuhan negeri ini. Setidaknya, mereka lahir dari hal-hal yang kurang mengenakkan yang terjadi di negeri ini, entah itu sebagai pelaku kekerasan yang dibutuhkan penguasa atau hal lain. 

Hal lain yang terkait dengan celah adalah fenomena pengamen alias pengemis jalanan yang memakaiseragam ondel-ondel. Ondel-ondel yang katanya merupakan kesenian Betawi sudah berubah menjadi kelompok kesenian yang menjadi alat mengemis di ibukota ini. Bahkan yang lebih miris lagi adalah (1) mereka berkelompok lengkap dengan ondel-ondel besar, crew musik, dan mereka yang memegang ember atau kantung penadah uang. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak muda. Bahkan ada juga yang melibatkan anak kecil semacam dipekerjakan. (2) Fenomena ini makin marak dan menjadi memuakkan karena pemerintah daerah seolah merestui itu karena tidak ada yang menghapus atau menangkap mereka. (3) Kecenderungan dari pengamen yang adalah pengemis ini adalah tindakan "memaksa". Mengapa kusebut sebagai memaksa? Karena orang yang tidak menikmati juga jadi sasaran todongan mereka walau tidak ada kekerasan. Namun karena mereka menyodorkan orang yang tidak dalam konteks menikmati "kesenian" itu, maka ketiadaan konteks itu menjadi sebuah tindakan "paksaan" untuk sasaran meminta-minta saja. Bagiku ini adalah penistaan atau pelecehan kesenian itu sendiri. Katanya ondel-ondel itu kesenian Betawi. Ketika dipakai untuk mengemis, apakah itu menghargai kesenian adi luhur? Ketika mereka dihina, bisa saja mereka lantas merengek-rengek dihina. Padahal dari tindakan mereka ini, mereka sendiri yang menista diri sendiri. Berbeda dengan para pengamen jalanan di luar negeri yang hanya bermain musik, kotak dibuka dan diletakkan tanpa ada embel-embel menyodorkan atau meminta-minta dengan paksa. Aku cenderung tidak akan menyebut mereka pengemis namun pengamen. Walau tindakan itu menghasilkan esensinya sama yaitu meminta uang. Cara yang dipakailah yang berbeda. 

Sekali lagi celah adalah jatah. Ruang adalah uang. Memaksakan ruang supaya ada uang adalah cara pengemis jalanan dengan memakai kostum ondel-ondel. Aku tidak respect lagi dengan ondel-ondel karena mereka identik dengan pengemis.  Belum lagi mereka mempekerjakan anak-anak, itu adalah tindakan maltreatment yang sangat tidak bisa diterima. Namun bagi penguasa daerah saat ini, fenomena itu seperti lumrah saja. Mereka cenderung dilegalkan. Bahkan seperti itu bagian dari skenario besar antara ormas, penguasa daerah, dan sistem mencari jatah dengan membuat celah (ruang) "berkesenian" palsu yang sebenarnya adalah praktik-praktik premanisme yang menodong warga biasa dari rumah ke rumah atau di jalan. Pemerintah tutup mata saja. Biarkan preman bekerja dengan sistemnya. Tidak perlu saling mengganggu wong pemerintah juga tidak akan sanggup mengurus mereka, memberi lapangan (ruang) pekerjaan yang menghasilkan uang. Kukira itu pemikiran di balik fenomena itu. Oleh karena itu, di ibu kota ini, celah dan ruang selalu akan dibuat. Kalau sudah ada, itu dilestarikan. Jika ada yang mengobrak-abrik, maka tindakan preman yang nota bene adalah ormas akan muncul dengan sendirinya. Sistem lokal partikelir di dalam sistem besar sebuah negara berjalan bersama. Para kelompok preman yang adalah partikelir ini menjadi sosok penguasa lokal yang mau tidak mau sudah menjadi pembuka ruang kerja alias lapangan kerja alias celah jatah cari berkah. Apakah mereka dianggap oleh penguasa sebagai yang berjasa sehingga tidak dibubarkan?

Antara berjasa atau tidak bisa (tidak mau) menyelesaikan itu beda tipis. Poin untamaku adalah bagaimana sebuah sistem partikelir bisa hidup tanpa ada dukungan dari yang lebih besar kiranya tidak bisa hidup. Negara dan penguasa-penguasa lokal partikelir ini pastilah bersimbiosis mutualisme. Tentu ada kesalingan menutupi atau bahasa halusnya memberi ruang celah supaya bisa dapat jatah. Atau orang Jawa mengatak, "Wis ben isa obah ben entuk jatah". Inikah bonum commune?   



#pagiharidiakhirbulan#

Thursday, September 23, 2021

Berubah Itu Realistis

Bicara soal perubahan, orang sering dalam arti spiritual menamainya pertobatan. Pertobatan sejatinya berarti merubah arah dari yang lama ke arah yang baru. Orang bisa saja menyebutnya dengan mengubah arah hidup. Atau itu bisa dinamai dengan memperbaharui hidup, mereformasi hidup atau merenovasi hidup. Sebagaimana sebuah rumah itu dari waktu ke waktu tentu akan mengalami kerusakan di warna catnya atau gentingnya atau kayu-kayunya, atau bagian lain, maka rumah itu butuh direnovasi. Perlu ada pembaharuan di bagian tertentu yang mempengaruhi penampilan rumah itu. Aku memang tidak ahli dalam hal bangunan, namun setidaknya pernah mengamati orang merenovasi rumah atau bangunan sekolah. Awalnya pasti ada bagian yang rusak atau aus karena usia atau pengaruh cuaca atau memang terkena sesuatu maka harus ada perbaikan. Tujuannya supaya bangunan itu layak dipakai kembali oleh penghuninya. Bahkan kalau mau dijual pun tentu ada semacam keinginan merapikan, merenovasi beberapa bagian supaya menaikkan harga jual. Tentu tidak semua begitu. Ada juga rumah yang rusak dijual dan pembelinya menanggung biaya semuanya. 

Pengalaman seorang Inigo dari Loyola memberi kita contoh bagaimana perubahan radikal dalam hidup itu butuh usaha luar biasa. Orang mengatakannya sebagai effort, perjuangan. Orang melihat para orang suci itu sering hanya dari penampilan terakhirnya yaitu kesuciannya. Kesucian itu dilihat sebagai pencapaian tertinggi yang kemudian seolah-olah menghapus perjuangan dan jerih lelah yang menghasilkan pribadi sedemikian itu. Sebenarnya kalau dicermati kisah hidup para suci itu mereka tidak mengharapkan kesucian itu disematkan dalam dirinya. Itu adalah pemberian, murni pemberian dari kita yang menghargainya sebagai sesuatu yang luhur. Aku yakin seyakin-yakinnya bahwa mereka hidup sedari lahir atau setelah sadar akah hidupnya tidak mencari kesucian yang seolah-olah diproyeksikan ke depan. 

Bahkan Inigo mengajariku untuk lebih realistis bergumul dalam hidup. Pergumulan Inigo memang awalnya ingin memperbaiki hidup dengan praktik-praktik kesalehan tradisional, dengan bertapa dan matiraga tanpa henti. Namun apa yang terjadi? Praktik-praktik kesalehan tradisional itu tidak memberinya kepuasan batin. Ia mengalami frustrasi dengan hidupnya, dengan masa lalunya, dengan praktik-praktik hidup selama ini. Mengusahakan segala sesuatu demi perubahan hidup itu tidak hanya berasal dari diri sendiri. Ada bantuan dari orang lain, yaitu dia juga pergi ke bapa pengakuan untuk mengakukan dosa-dosanya, ia bimbingan rohani, ia konsultasi tentang ini dan itu. Apa yang ia akukan pun itu-itu saja dan tidak pernah berubah. Ia sampai merasa bahwa beban masa lalunya membuatnya tidak tahan, dan ingin bunuh diri. Sampai pada akhirnya bapa pengakuannya memintanya untuk menghentikan praktik-praktik yang justru membuatnya frustrasi itu. Sekarang ia harus mengubahnya yaitu dengan menyerahkan itu semua pada Tuhan dan mencatat seluruh pergulatan itu dalam buku pribadinya. 

Pertolongan dari Tuhan yang disebut rahmat itulah yang kemudian membuatnya menyerah dan sadar bahwa tidak bisa semua itu diusahakan sendiri. Benarlah bahwa jika kau terus-menerus fokus pada keberdosaan, kelemahan, kerapuhanku, siapa yang dapat tahan? Seolah-olah hidup ini serba muram dan hitam kelam. Ada kesadaran bahwa aku dipanggil untuk melihat segala sesuatunya lebih optimistik, lebih berpengharapan, lebih punya horizon yang luas. Pada akhir masa pergulatan yang merupakan awal pertobatan itu, Inigo pun akhirnya dengan tekadnya menulis segala macam hal yang ia gulati. Aku yakin bahwa di sini, ia pun terbantu dengan menulis, mencatat segala hal sehingga ada bekas. Ada (hi)story yang ia catat dan itu setidaknya membekas dan melegakan secara bertahap. Aku yakin bahwa alat bantu dengan menulis ini membawa semacam pengaruh dalam perubahan hidup selanjutnya. Orang sekarang menyebutnya sebagai terapi menulis. Menulis membantu orang untuk menyembuhkan luka-luka atau penyakit dalam hidupnya. 

Menemukan kesadaran bahwa aku tidak bisa dengan sendiri membersihkan diri dari kerapuhanku itu bukan sesuatu yang mudah. Bisa aku bandingkan dengan mereka yang mengalami banyak luka dalam hidup, orang butuh waktu untuk benar-benar menerima dan memeluk kerapuhan itu sehingga mereka sembuh. Ada yang dilukai dalam relasi suami istri dalam berumah tangga, entah sebuah pengkhianatan pernikahan, entah oleh perilaku anak yang bandel, pemberontak. Ada juga karena mengalami kegagalan pernikahan berkali-kali. Ada yang terluka karena perlakuan orangtua yang keras dan cenderung abusive. Ada juga trauma itu oleh orang lain yang semula dianggap suci, berpengaruh, berwibawa, tokoh atau figur publik. Ada juga luka itu karena perang, konflik-konflik penuh kekerasan lain di berbagai penjuru dunia. Semua dari kita mempunyai kerapuhan sendiri-sendiri sesuai konteks hidup kita masing-masing. Ketika kerapuhan itu mengakibatkan rusaknya persepsi diri terhadap diri sendiri, orang lain dan bahkan yang ilahi sekalipun, maka bantuan akan merubah hidup itu dibutuhkan. 

Seperti Inigo, ia tidak bisa sendirian berjuang. Ia butuh orang lain sebagai pihak yang kepadanya dicurhati, dipakai sebagai tempat mengadu, berkonsultasi, mengkonfirmasi pengalaman dan usahanya. Ada kalanya memang apa yang disarankan orang lain itu tidak membantunya, namun setidaknya ada pihak lain yang mengobjektivasi dirinya untuk bersikap sebelum mengambil pilihan tertentu. Orientasi hidup ini dipengaruhi banyak hal dan bagaimana ia memandang hidup ini. Inigo menemukan bahwa hidup itu punya alasan adanya dan tujuannya. Hidup itu juga perlu disikapi dalam hal cara dan sarananya. Hidup tidak hanya mengalir saja. Hidup juga tidak hanya bergantung pada pihak lain. Hidup ini adalah kesalingan antara usahaku sendiri dan rahmat yang datang dari yang ilahi. Tujuan hidup pada dirinya sendiri bukanlah untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri namun untuk bersyukur, menghormati, dan melayani yang ilahi Sang pemberi kehidupan itu sendiri dengan itu ia menyelamatkan (baca: dibebaskan dari beban hidup) dirinya. Caranya adalah dengan bekerja, berusaha, memakai sarana-sarana di dunia ini dengan orientasi (sikap hidup) yang tidak terserap pada sarana itu. Walau sarana itu sangat canggih dan efektif dalam bekerja, namun jika sudah lekat dan membuat diriku tidak bisa mengambil jarak (menjadi tidak sehat) maka aku harus melepaskannya. 

Pengalaman Inigo menemukan tujuan dan sarana itu menghasilkan rumusan dahsyat tentang prinsip dan fondasi hidup. Orang sering terbalik-balik dalam mensikapi hidup dan sarana-sarana yang ada karena orang sering lekat pada sarana dan melupakan tujuan hidup. Kebutuhan hidup itu secukupnya dan tidak berlebihan. Orang jadi rakus karena orang hanya mau mengumpulkan sarana. Seolah-olah sarana itu akan selalu melekat pada dirinya dan berguna bagi meraih tujuan. Padahal tidak demikian halnya. Proses pemerdekaan diri dari beban masa lalu, beban-beban hidup lain tidak cukup diterima dan diamini, tetapi perlu disikapi sehingga hidup itu tidak berat. Mengambil jarak dari beban hidup atau masa lalu atau trauma-trauma tertentu juga tidak cukup dengan konsultasi psikologis. Penyikapan diri untuk mengambil jarak dan memerdekakan diri jauh lebih penting. Proses memerdekakan diri itulah yang kemudian membawa konsekuensi menyadari diri dan masa lalu lebih positif. 

Setiap orang butuh dicintai oleh siapapun. Dari penyadaran diri akan pengalaman dicintai itulah orang sebenarnya diajak untuk menemukan dirinya disembuhkan dari luka dan beban masa lalu. Setitik pengalaman dicintai, diorangkan, dipedulikan, dihargai, dihormati adalah obat bagi jiwa yang haus akan kesembuhannya. Tidak perlu banyak-banyak, sedikit saja pengalaman itu, sejauh pengalamanku juga bisa mengubah sangat besar dalam hidup. Hanya sebuah bingkisan roti bolu dari seorang ayah yang sebelumnya jauh dan merasa tidak mencintai, itu akhirnya bisa menyembuhkan dari persepsi tidak dekat dan tidak dicintai. Atau hanya sapaan hangat yang biasanya tidak terdengar lalu diberikan dari seorang ibu kepada anaknya yang selama ini berlaku tidak pantas dan menyakiti hatinya, tentu akan seperti air sejuk ketika dahaga. 

Inigo secara realistis mengubah persepsi diri dari beban-beban masa lalu (baca: keberdosaan) dengan latihan secara bertahap menerima dan mengubah persepsi terhadap diri dan hidupnya. Tidak selamanya orang berdosa itu akan tetap kotor dan orang suci tidak terlahir dari sananya putih warnanya dan terus putih. Aku hanya mau membahasakan apa yang diungkapkan Oscar Wilde: "Tidak ada orang suci yang tidak mempunyai masa lalu, tidak ada orang berdosa yang tidak memiliki masa depan". Hidup ini optimis, cerah dan berwarna. Walau dalam proses ada saja perjuangan. Panggilanku adalah untuk hidup realistis dengan segala kerapuhan namun tidak merasa diri lemah terus dan dengan segala kekuatan namun tidak merasa diri sombong dan jumawa. 


#noontime#


  

Monday, August 16, 2021

Merdeka dan Pancasila

Aku mungkin akan terus bergumam dan berbicara tentang hal ini walau sudah banyak yang kuungkapkan di tulisan-tulisan sebelumnya. Sepertinya rerasanan atau ketidakpuasan tentang negeriku sendiri, yang besok akan merayakan umurnya yang ke-76, tidak habis-habisnya. Semoga ketidakpuasan ini merupakan sebentuk cinta dan perhatian pada dirinya. Kata orang ini adalah omelan tak tentu arah. Ini adalah emosi orang yang tidak pernah puas. Memang. Namun hal ini kiranya perlu kita ungkapkan daripada hanya dipendam dan atau malah berdiam diri tak tahu menahu atau cuek dengan nasib negeri ini. Memang budaya omong atau bicara terbuka di negeri ini baru taraf belajar. Bahkan seumur 76 tahun saja, negeri ini pun belum berani membuka diri dan jujur dengan dirinya. Aku hanya mau bertutur tentang obrolanku dengan teman-teman dalam perjumpaan saat makan atau minum saat di rumah atau di dunia virtual yang berserakan ke sana ke mari. Intinya begini. Sudah lama negeri ini selalu jatuh di lubang yang sama. Bahkan dapat dikatakan siapapun pemimpinnya sepertinya ada kemungkinan negeri ini tidak akan pernah mencapai kemajuan (ideal). 

Pertama, negeri ini "meraih" kemerdekaannya hanya karena momentum Jepang kalah perang. Tidak ada kekalahan berarti yang dihasilkan dari membantai Jepang dengan telak dari tangan kita sendiri. Jepang takluk oleh Amerika dan sekutunya bukan oleh rakyat Indonesia. Kekosongan kekuasaan (vacuum of power) membuat Indonesia dapat memproklamasikan kemerdekaan. Memang Belanda sempat datang lagi untuk menguasai negeri ini selepas Jepang menyerah di Perang Dunia II. Namun de facto itu pertempuran yang sudah tidak berarti. Kita sudah siap perang dan tentara Belanda yang datang pun tidak masif. Ini bukan meremehkan, namun fakta sejarah mengatakan demikian.

Kedua, merunut dari dasar negara ini yang adalah Pancasila, saya akan menjelaskan dari sila ke sila selanjutnya. Sarana dan tujuan kukira perlu diterapkan dalam pendekatan melihat Pancasila. Sila pertama sampai kelima ibaratnya adalah susunan ide-ide yang dirunutkan untuk mengarahkan negeri ini pada sebuah tujuan. Ada sarana-sarananya untuk membantu itu. Sila pertama yang berbunyi "Ketuhanan yang Maha Esa" kiranya mau mengatakan bahwa prinsip percaya kepada Tuhan adalah dasar kerohanian bangsa ini untuk mengarah pada tujuan manusia hidup yaitu sebenarnya apakah mampu mewujudkan kesejahteraan bersama dan kehidupan bermasyarakat yang layak. Beriman kepada Tuhan bukan saja hanya beribadat sesuai dengan agama dan kepercayaannya namun menghargai kekurangan dan kelebihan, perbedaan, kerjasama, memberi ruang untuk hidup bersama. Tidak ada dominasi atau pemaksaan mayoritas kepada minoritas. 

Ketiga, sila kedua yang berbunyi kemanusiaan yang adil dan beradab mau mengatakan bahwa setiap manusia mempunyai hak dan kewajiban yang harus dihormati. Antar pribadi pun harus menghargai setiap pribadi yang lain entah itu dinyatakan dalam hukum negara atau tidak. Pada dasarnya manusia perlu menghargai saudaranya sebagai saudara dalam kemanusiaan. Itu sebuah prinsip dan praktik hidup yang tidak perlu diperdebatkan lagi. 

Keempat, sila ketiga berbunyi persatuan Indonesia. Persatuan ini sering disalahartikan. Maksudnya, slogan persatuan dan kesatuan sempat menjadi polemik pasca Orde Baru karena praktik-praktik penyeragaman. Persatuan Indonesia ini seolah-olah menjadi senjata ampuh dan mematikan ketika ada perbedaan (pluralitas) yang mau berbicara atas dasar kemandirian dan kemerdekaan dalam kebersamaan ini. Memang ada beban sejarah ketika bangsa ini mau menyatakan dirinya sebagai sebuah bangsa merdeka. Saat para pemuda mengikrarkan janji "satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa", di saat itulah ada kehendak kuat untuk menyatukan diri karena kita sadar akan keberagaman kita. DNA kita adalah beragam namun sering kali keberagaman itu kurang siap kita terima dan kelola dengan baik. Bisa saja kita bertanya, apakah kita harus pecah dulu untuk memperbaiki mekanisme nation state ini? Kalau pecah, sepertinya kita juga tidak siap karena pasti akan ada kekhawatiran dicaplok oleh kekuasaan-kekuasaan asing dan itu sudah cukup membuat trauma sejarah dalam diri bangsa ini. Jika tidak (harus) pecah, namun akan memperbaiki mekanisme bernegaranya bagaimana? Itu selalu yang akan menjadi dengungan pertanyaan di pergumulan berbangsa yang plural ini.

Kelima, sila keempat berbunyi kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat/kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Dalam pidato di forum PBB, Sukarno menyatakan sila ini dengan "democracy". Permusyawaratan dengan demokrasi disejajarkan. Memang demokrasi bagi bangsa ini adalah sebuah proyek besar yang tak pernah selesai. Mungkin demokrasi itu tidak pernah akan selesai dan terwujud karena itu seperti "copy & paste" dari tradisi asing. Demokrasi baru muncul ketika bangsa ini berjumpa dengan bangsa Eropa yang menjajah. Sebelumnya bangsa ini berbentuk kerajaan-kerajaan kecil. Kedaulatan ada di setiap jengkal tanah kerajaan yang kecil-kecil yang belum disebut Indonesia. Di Jawa ada berbagai kerajaan, demikian juga Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, NTT, Bali, Maluku, dan Papua tentu dengan kekuasaan suku-suku yang ada. Demokrasi bagi negeri ini adalah barang asing yang sedang ditiru dan diadaptasikan. Kita sebagai bangsa pun berpola asing karena pendidikan kita berbau Eropa.

Keenam, sila kelima adalah tujuan yang tidak pernah tercapai sekarang ini dan mungkin juga akan menjadi utopia, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tujuan kita menjadi negara bangsa (nation state) adalah ini - KEADILAN SOSIAL. Social justice juga dipakai Sukarno dalam pidatonya di PBB. Keadilan sosial belum pernah merata. Keadilan sosial hanya sebagai utopia saja (kata Marx). Namun itu semua akan dan (harus) kita tuju, entah sampai kapan akan terwujud. 

Nah, selama ini hal demikian itu hanya diandaikan saja. Sarana-sarana yang ada dan dipakai bangsa ini selalu gagal. Pancasila hanya dilihat sebagai rumusan "ndakik-ndakik" (bagus dan mengawang) yang disimpan oleh banyak orang dan dibunyikan saja saat upacara bendera entah peringatan kenegaraan apapun. Pancasila masih butuh break down dengan praktis. Dan sekali lagi, sila kelima yang adalah tujuan bangsa ini didirikan itu butuh sebuah sarana yang mendasar yaitu akses. Aksesibilitas itu entah fisik dan akses-akses yang lain. Misalnya, jalan itu harus ada supaya bisa mendistribusikan barang dan jasa ke seluruh pelosok negeri. Akses politik demokrasi juga perlu diusahakan supaya setiap warga negara itu bisa berpartisipasi dalam politik. Akses pendidikan dengan adanya kebijakan pendidikan dan sekolah harus diusahakan. Akses ekonomi, sosial, budaya, penghargaan terhadap keberagaman, dan akses yang lain pun perlu diwujudkan supaya keadilan itu terwujud.

Gampangnya saja begini: jika orang di Pulau Jawa itu bisa makan dan mengakses ruang publik dengan mudah, demikian juga yang harus terjadi di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, NTT, Maluku, Papua dan pulau lain yang tak terhitung jumlahnya. Harganya pun sebisa mungkin sama. Kemudahan juga diusahakan sama. Kalau pun ada perbedaan hanya dalam hal-hal teknis lokal dan tidak perlu dipersoalkan. Selama ini hal demikian masih saja menjadi kendala dan problem. Orang bisa saja mengatakan "ya kan zona waktu kita berbeda, transport mengusung barang dan jasa juga beda, biaya ini dan itu berbeda." Namun itu semua bisa saja hanya sebagai dalih pembelaan diri karena ada kartel atau mafia yang mencegat semua akses dan dipakai demi mengeruk keuntungan. Aku tidak mau menyebut satu per satu karena sudah terlalu banyak dan capai membahas itu. Intinya saluran akses kita sebagai sarana mewujudkan keadilan sosial itu terhambat, "njendel", tersumbat. Akses pemerataan itu belum dipikir, belum dirancang, belum dibuat, atau kalau sudah dibuat, itu malah disumbat demi kepentingan segelintir orang. Biaya birokrasi dan formalisme terlalu tinggi/mahal di negeri ini. Itulah korupsi. 

Oleh karena itu, permenunganku saat ini bagi negeri ini adalah pemerintahlah yang bisa mewujudkan akses demi keadilan sosial itu. Mengapa? Karena pemerintah adalah pihak yang dipercaya dan diberi wewenang untuk mewakili rakyat hadir sebagai pelaku yang mewujudkan tujuan bangsa ini didirikan. Sarananya ada, tinggal apakah ada kehendak kuat dan rancangan tepat untuk dieksekusi tanpa ada kepentingan mewujudkan keadilan sosial. Tidak bisa pemerataan ini diserahkan kepada swasta, karena beresiko dikorupsi/dibajak demi kepentingannya. Tidak bisa yang disalahkan adalah pendidikan karena pendidikan bukan bidang pragmatis mewujudkan tujuan negara ini didirikan namun pendidikan adalah sarana pencerdasan bagi rakyat demi mendukung kemajuan. Pemerataan itu sepenuhnya kewajiban pemerintah yang mengemban titah rakyat dalam mewujudkan tujuan negara ini didirikan.

Jelaslah bahwa dalam dasar negara ini ada sarana dan tujuan yang harus dipakai dan diejawantahkan. Aku hanya berharap bahwa pemerintah yang mempunyai otoritas itu membuat sistem yang jelas demi keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Jika ada pembajak di saluran-saluran manapun, ya negara harus membasminya, apapun resikonya dan siapapun pelakunya. Itulah sekedar permenungan sebelum hari esok (dan situasi pandemi ini membantu permenungan itu seraya berdoa bagi para pemimpin bangsa ini dalam menjalankan pemerintahan demi keadilan sosial).


#pagi hari ini-160821#  

Wednesday, July 14, 2021

Bernalar dengan Akal Sehat

Beberapa waktu ini, aku selalu menjumpai kejadian yang sangat memalukan dan memilukan. Kejadian yang selalu terkait dengan akal alias nalar. Cara berpikir memang penting sekali dikedepankan daripada penampilan. Sore tadi, saudaraku cerita sedikit tentang orangtua yang pertemuan dengan guru-guru di sekolah yang baru. Sekolahnya adalah sekolah internasional. Bahasa pengantarnya tentu bahasa Inggris. Namun ketika sampai pada sesi tanya jawab, mungkin karena bahasa Inggris hanya satu atau dua orang yang bertanya. Itu hanya salah satu contoh terdekat. Contoh kedua, berkaitan dengan covid-19 ini, Indonesia sedang panen rekor kasus dan tentu penderitanya. Kabar publik tentu juga dari laporan harian dari data pemerintah yang tentu kredibel. Dari semula pun banyak orang yang pikirannya masih pro dan kontra. Namun kontranya pun di sini tanpa nalar. Semisal menganggap covid ini sebagai yang tidak ada. Banyak yang tidak percaya. Ketika terkena, lantas ngamuk-ngamuk. Bahkan ketika di pesawat pun seorang cendekia yang belajar di Cairo merasa tidak percaya bahwa covid ini sekedar dibesar-besarkan. Itu contoh lain juga.

Aku menyorot contoh-contoh itu sebagai yang memalukan sekaligus memilukan karena bisa saja dengan penampilan sok intelek dan sok elit, orang bisa saja tak punya akal sehat. Nalar selama ini hanya dicatat sebagai raport angka di selembar kertas sertifikat atau ijasah atau lembar nilai yang lain. Sedangkan cara berpikir yang konkrit dan dasariah saja koq rasanya runyam. Bertanya saja kita tidak mampu, bagaimana akan menjawab. Oleh karena itu, aku merasa bahwa entah dari mana akar dari ketercerabutan pendidikan nalar sehingga bangsa ini menjadi sedemikian dungu dan memilukan cara berpikirnya. 

Sebagai contoh konkrit yang aku sendiri mengalami adalah saat SD sampai SMP, pelajaran PMP selalu identik dengan pelajaran yang harus menjawab dengan panjang lebar dan bagus-bagus. Artinya, dengan nilai bagus di PMP seolah "jaminan" moralnya juga bagus. Ternyata NONSENSE besar. Moralitas tidak identik dengan penjelasan panjang lebar bagus-bagus seolah-olah dengan mengerti atau tahu tentang yang baik itu dapat menjalankan yang baik pula. Ini salah satu contoh yang aku pandang juga mendasar di karakter bangsa ini.

Hal lain adalah kurangnya sambungan antara teori dan praktik dalam belajar. Asosiasi dalam proses pembelajaran di sekolah itu jarang dijalankan sehingga teori tinggal teori sehingga hanya hapalan akhirnya. Baik itu jurusan IPA dan IPS itu sejatinya hapalan. Sering dulu anak IPA menuduh kalau di IPS itu hanya belajar hapalan. Tidak menurutku. Semua pelajaran di sekolah itu hapalan karena pedagoginya tidak sampai pada membawa orang pada asosiasi dalam penalaran yang merangsang orang berpikir, bernalar. Di jurusan IPA, orang menghapal rumus-rumus kimia, matematika, fisika, dan yang lain. Di jurusan IPS, hapalannya banyak. Itu hal lain. Asosiasi ini terkait dengan bagaimana implementasi dari rumus atau konsep yang dipelajari. Akhir-akhir ini ada metode inquiri. Sebenarnya hal ini mau mengarah ke situ. Namun apa daya guru-guru kita selama ini banyak nerocos menjelaskan soal ini dan itu dari teori ke soal latihan. Atau teori hanya diberi daging satu contoh. Setelah itu, murid ditinggalkan dengan banyak pertanyaan yang menguap atau tertekan di batok kepalanya. Tidak ada diskusi. Tidak ada tanya jawab yang membuat diskursus saat belajar. 

Ketidakmampuan bertanya karena represi guru terhadap murid menyebabkan kemandulan bernalar. Hal ini penting seperti yang diceritakan saudaraku tadi. Bertanya itu bagian dari belajar. Bertanya itu bagian dari ilmu pengetahuan. Tanpa bertanya maka tidak akan ada logika-logika bertahap yang menghasilkan penjelasan runut dan sistematis. Pertanyaan boleh tidak runut dahulu, namun keberanian bertanya itu sudah membawa orang memperhatikan yang sedang dipelajarinya. Pelajaran bertanya kiranya menjadi penting. Banyak mahasiswa yang bahkan tidak mampu bertanya sehingg skripsinya kacau, tidak selesai-selesai, merumuskan masalah saja tidak mudah. Ini menandakan bahwa bertanya itu penting. Sedang dalam budaya kita selama ini bertaya itu dominan dianggap tabu. Oleh karena itu, Romo Mangun membuat kebiasaan tiap hari Sabtu di Mangunan waktu itu ada pelajaran bertanya. Seharian itu untuk mencari pertanyaan sebanyak-banyaknya tentang apa yang ingin ditanyakan, yang belum diketahui, dan tentu ada arahan bertanya dengan baik. Tidak ada pertanyaan bodoh, bagi beliau. 

Bangsa ini akan makin menjadi dungu kalau hanya dinasehati dengan cekokan atau minuman agama yang soleh-soleh tapi semu. Nalar ditatapkan dengan norma-norma agama. Kalau terlalu kritis dengan memakai nalar lantas ditakut-takuti dengan hadiah surga atau neraka. Itu akan menambah semakin memalukan dan memilukan. Kesenjangan pendidikan terjadi di sana-sini. Pendidikan dari negara yang terdegradasi dan bahkan terkorupsi oleh mentalitas feodal dan normatif menjadikan pendidikan hanya formal belaka. Serba formalisme dalam pendidikan merusak esensi pendidikan yang membangun nalar. Pendidikan di Indonesia identik dengan seragamnya apa, buku paketnya apa, belum lagi keluhan pengajar: RPP-nya seperti apa, laporan ke Dinas seperti apa, akreditasinya harus berapa, dan sebagainya. Semua itu formalisme akut yang merusak nalar manusia Indonesia jadi dungu dan tumpul. Tau sopan santun hanya ketika suasana formal dan diharuskan. Namun ketika dalam keadaan sendiri, ya seenaknya sendiri. Semua buah dari formalisme feodal dan feodalisme formal. 

Coba lihat ketika pejabat-pejabat atau birokrat berbahasa. Mereka akan "mundhuk-mundhuk" (Jawa sangat sopan) dan terkesan halus. Kemudian ada kata "mohon ijin, Komandan/Bapak/Yang terhormat". Dalam pidato pejabat, sapaan kepada Yth ini dan itu akan dua halaman sendiri. Isi pidato bahkan tidak jelas. Semua itu membikin mual dan muak.

Akhirnya, saat ini kita menuai badai. Badai itu bukan hanya soal covid-19 tetapi lebih pada cara mensikapi, cara menangani, cara menghadapi, cara bertindak mengobati, mencegah dan sebagainya. Selalu saja apa yang dibuat dalam kebijakan publik selalu saja identik dengan ketidakberesan. Setelah banyak yang tumbang, entah apa yang akan dilakukan kemudian. Mentalitas masih formalistik maka paling pulihnya keadaan bukan karena sistem pencegahan yang mantap tetapi karena alamiah saja. Mungkin baik jika dibiarkan saja banyak yang terseleksi oleh alam daripada kita mengeluhkan ini dan itu karena sistem mengandaikan cara berpikir yang matang, nalar yang sehat dan logika yang mau taat pada aturan. Biarkan angka kasus covid melonjak di Indonesia ini. Tentu nanti ada situasi melandai. Toh, nanti bangsa ini juga akan lupa bahwa pernah ada pandemi dan pernah ada yang mati. Bahkan yang matinya oleh manusia pun seolah tidak ingin diungkap lagi karena tidak ingin diungkap aibnya. Apalagi yang membunuh saat ini bukan manusia, ah...aku percaya akan segera dilupakan. Yang diingat adalah adanya covid-19 namun apa dan bagaimana itu, ah....masa bodoh tentu.


#di tengah pandemi#


  

Monday, July 12, 2021

Ketika "Travelling is Suffering"

Di saat berangkat ke bandara, aku sudah yakin tapi juga memikirkan sesuatu. Temanku yang akan ke Manila pun mengalami penundaan dan akhirnya menglihkan tujuan ke Cebu. Ketika aku menulis ini ceritanya sudah lain, karena dia juga dibatalkan atau ditolak perjalanan ke Cebu. Dalam hati aku sudah mengatakan bahwa "travelling is suffering now." Aku padahal sudah kontak dia di saat aku sudah ada di cabin pesawat yang mau membawaku terbang. Aku membayangkan dia juga dalam perjalanan ke bandara atau sedang check in atau ruang tunggu, tetapi belum ada balasan sampai hari berikutnya dia mengatakan: "Welcome to your contry. Me, I am still in Canisio. Refused boarding yesterday. Looooong story, I will tell you why when I am ready. Now very stressed." Aku hanya menjawab bahwa itu menyedihkan dan aku akan mendoakanmu". 

Apa yang kubayangkan kemarin mungkin hampir saja terjadi padaku. Ketika petugas check in menanyai salah satu penumpang dari Jepang di depanku dan sempat berdebat lama sampai dia harus menyelesaikan permasalahannya, aku akhirnya juga mendapat giliran check in dengan berdegup-degup, "Jangan-jangan persyaratanku juga belum beres". Ketika aku ditanyai petugas, aku mencoba menjelaskan dan memberi apa yang dimaui. Aku persiapkan seluruh senjata dokumen yang ada. Bahkan kalau itu menyangkut kebijakan negara, aku siapkan dengan print beberapa dokumen.

Akhirnya aku lolos dari tahap check in. Tahap selanjutnya adalah security check, aku coba patuhi dan lolos. Tidak ada barang yang membuat alarm berbunyi saat discan. Tas-tas pun tidak ada barang berbahaya. Lolos juga akhirnya dari tahap security check. Selanjutnya adalah tahapan imigrasi, maka aku hanya memberi passport yang ada visanya. Sempat ditanya petugas, "Hanya visa?". Aku menjawab "iya". Lalu dicaplah. Lolos juga tahap imigrasi. Lalu sampailah di toko/ souvenir shops. Aku hanya membayangkan nanti ada regulasi yang harus berbelit di dalam negeri, maka aku tidak banyak belanja. Namun bersyukur bahwa sampai atas di ruang tunggu pun juga lolos dan bisa masuk pesawat dengan nyaman. Saat sebelum transit, perjalanan nyaman, karena relatif kosong.

Pengalaman lain adalah di saat transit. Aku sudah melihat hal yang tidak mengenakkan. Kerumunan orang-orang kita sudah kelihatan aslinya. Kita sebagai bangsa yang bergerombol, suka "ubyang-ubyung" (dalam bahasa Jawa: bergerombol ke sana ke mari). Sepertinya sebagai pribadi, kita ini bangsa yang minder untuk bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Dengan bergerombol, orang menjadi pemberani dan berkuasa. Dengan bergerombol, orang jadi tidak memperhatikan sekitar. Dengan bergerombol, orang bersembunyi dalam anonimitas. Itulah kata lain dari tidak bertanggungjawab. Dan benar apa yang terjadi saat di pesawat, mau duduk saja masih mencari-cari nomer kursi, membawa bawaan per orang lebih dari 1 tas. Akibatnya bagasi cabin menjadi penuh sesak. Waktu untuk boarding jadi lama. Belum lagi pelanggaran lain yaitu tidak memakai masker dengan baik sehingga pramugari harus mengingatkan terus.

Hal yang sama pun terjadi saat terbang. Pramugari harus mengingatkan supaya masker dipakai. Dan saat mendarat, aku sudah memastikan kekacauan pasca penerbangan, yaitu kabin penuh dengan sampah berserakan di bawah kursi. Kesan jorok itu sungguh asli karakter orang-orang yang seperjalanan denganku. Itulah bangsaku, saudara-saudaraku.

Saat di bandara dalam negeri, ketidaknyamanan lain pun terjadi. Antrean panjang untuk mengurus kelengkapan dokumen terjadi. Baik penumpang maupun petugas bandara juga kulihat pelayanan tidak profesional. Tidak ada kerapian. Orang tidak mudah antre dan jaga jarak. Kedisiplinan pun minim. Sekali lagi itulah bangsaku, saudaraku. Sifat jorok juga dipertontonkan di saat antrean. Kadang sampah dan menyampah sering terlihat. Walau ada peringatan soal penipuan karantina di bandara, aku tidak percaya pada peringatan itu, karena yang membuat peringatan juga penjahatnya. Aku percaya pada kejahatan sistematis dan itu sebenarnya dipertontonkan di bandara. 

Oleh karena itu, covid-19 ini memberi pelajaran berharga. Namun sementara orang masih saja belum belajar untuk itu. Bangsa yang besar selalu juga bangsa yang besar dengan permasalahannya. Oleh karena itu, aku tidak lagi bangga menjadi bangsa yang besar. Itu nonsense belaka. Ketika orang semaunya sendiri, antre tidak mau, belajar tidak mau, bertanggung jawab tidak bisa, entah mau jadi apa bangsa ini. Aku serba mengeluh karena aku punya impian. Impian itu adalah bangsa ini maju pemikirannya. Bangsa ini menjadi bangsa yang bertanggung jawab. Bangsa ini menjadi bangsa yang terdidik dan jujur. Semoga dengan itu semua bisa membangun sistem kehidupan yang juga sama: jujur, tertata, dan bertanggung jawab. Mengakui sakit covid-19 saja tidak mudah karena rasa malu, minder, takut disalahkan, namun tidak sadar bahwa itu semua tidak bertanggung jawab kalau menulari yang lain. 

Tulisanku kali ini hanya mau berbincang soal itu saja. Selebihnya, aku juga mendapatkan pengalaman dengan orang Philipin yang ketemu di bandara dan cerita bahwa dirinya baru kali ini travelling sendiri. Biasanya dengan grupnya, dan ini pengalaman berharga karena tahu kalau shampo harus ditaruh dibagasi bukan dibawa ke cabin, karena akan dibuang oleh petugas...hahahaa....dalam hal ini aku tertawa. 


#noon time in quarantine#

Saturday, June 19, 2021

Masih Harus Terus Belajar Menjadi Merdeka

Aku sudah menulis beberapa waktu lalu tentang "kesiapan untuk merdeka". Dan itu tidak sekali jadi. Merdeka itu tidak mengenakkan. Dengan merebaknya covid-19 ini jelas menunjukkan indikasi itu. Siapa yang siap menjadi merdeka akan selamat dibanding mereka yang tidak atau belum siap. Merdeka berarti siap menerima resiko, mempersiapkan diri dari resiko, menerima konsekuensi apapun yang terjadi seberat apapun. Orang yang masih terjebak dalam perbudakan dan penjajahan (secara mentalitasnya) akan lebih menyalahkan orang lain, situasi eksternalnya dibanding dengan mempersiapkan diri dari hal-hal yang ada. Biasanya hal itu lebih mengarah pada edukasi dan persiapan diri. Dan itu akan membawa dampak pada bagaimana mengelola sistem kehidupan di dalam komunitas masyarakatnya. 

Menarik melihat perbandingan orang-orang Eropa/Amerika kulit putih yang saat ini jauh lebih teruji kemampuan mengatur dirinya. Bisa dipahami karena mereka adalah penjajah dan tuan atas budak-budak yang semua adalah orang kulit berwarna. Di saat covid-19 menyerang lebih dari setahun ini, dunia ketiga masih kelimpungan dengan naiknya kasus. Sedangkan dunia pertama sudah relatif aman, walau kita juga belum tahu seberapa jauh keamanannya. Bermula dari merebaknya di India karena pesta keagamaan. Sama dengan di Indonesia yang beberapa waktu ini naik kasus penularan karena pesta/perayaan keagamaan. Dari perayaan itu, massa berkerumun. Tentu tidak semua terdeteksi siapa pembawa virus dan yang tertular. Akibatnya, ketidaksiapan dan kengeyelan itu berdampak dengan naiknya kasus covid-19. 

Kembali ke tema "kesiapan untuk merdeka", aku melihat adanya kemampuan (dan ketidakmampuan) mengelola sistem kehidupan bersama dalam hal: "akuntabilitas, responsabilitas, dan transparansi" (ART). Kemerdekaan adalah seni (ART). Kemerdekaan adalah seni mengatur diri sedemikian rupa sehingga tidak ada penolakan terhadap ART itu sendiri. Sedangkan bangsa yang masih komplain untuk bertanggung jawab, transparan dan tidak mau jujur dengan dirinya, ya akan menuai hasilnya. Data berapa jumlah kasus secara jujur pun bangsa Indonesia ini masih sulit didapatkan. Banyak ketidakjujuran karena takut distigmatisasi karena covid-19 ini. Sedangkan karena tidak jujur ini menimbulkan efek penularan yang akhirnya merebak. Orang ada yang tidak percaya covid-19 itu ada, termasuk orang India merasa diri bahwa dewa-dewanya jauh lebih sakti dari covid-19. Akibatnya, kebodohan itu berakibat saat ini. Orang Indonesia juga sama saja. Pemerintah sudah melarang mudik. Namun orang masih saja ngeyel. Akibatnya, dari kerumunan keluarga yang mudik atau dikunjungi itulah, penularan terjadi. Bisa dipastikan juga, pemerintah kuwalahan juga mengatur bangsa yang ngeyel sih. Di sisi lain, penegakan hukum menjadi problem karena mentalitas kurang siap merdeka, kurang jujur dan akibatnya korupsi di mana-mana. Korupsi itu bukan soal duit saja, namun soal kemerdekaan untuk berani diatur dan mengatur diri dan kehidupan. Dikomentari sedikit saja biasanya orang sudah kapok dan menyerah. Pemerintah dinilai zalim kalau keras sedikit. Ya, ini akibat kita terlalu lama dizalimi oleh rezim diktator NuvOrd. Lalu mentalitas bahwa pemerintah selalu salah itu masih melekat kuat. Akibatnya penegakan hukum juga masih setengah hati. Hukum masih bisa dibeli oleh orang-orang kaya yang mampu memanfaatkan hal ini. 

Sekali lagi kesiapan untuk merdeka itu soal mentalitas. Kita terlalu lama dijajah dan terjajah, baik dari luar maupun dari dalam. Artinya, penjajahan itu bukan saja oleh bangsa lain tetapi oleh bangsa sendiri dan mengakibatkan mentalitas jadi tertindas. Ketertindasan membuat orang jadi ingin menghindari kesengsaraan, kerja keras, ketidaknyamanan dalam hidup. Padahal merdeka itu ya justru harus berjuang terus. Merdeka bukan mau seenaknya sendiri, serba ngeyel dan tak mau diatur. Orang merdeka itu orang yang mau menjadi bangsa yang mampu mengatur diri sedemikian rupa sehingga tidak ada kelekatan dalam dirinya. Orang yang menjadi jujur dengan dirinya itu merdeka. Orang yang merdeka itu tidak sulit ditata dan menata dirinya. Itulah tanda ART: akuntabel, responsibel, transparan. Tanpa ART ya kita tidak merdeka. 

Aku melihat bahwa tembok besar budaya kita masih mengajarkan untuk selalu formal, sopan santun, sok agamis, sok suci. Kenyataannya kebalikannya. Formal itu sebenarnya tembok untuk menutupi korupnya. Sopan santun itu untuk menutupi kenyataan bahwa sebenarnya "urakan" di dalamnya. Sok agamis ya karena agama masih dipakai sebagai alat menakut-nakuti orang dengan hukuman neraka. Padahal ya siapa sih yang tahu itu? Nerakan dan surga juga buatan manusia. Sok suci kaitannya dengan agama dan moralitas. Moralitas kita sebenarnya juga tidak bagus-bagus amat. "Jaim" saja yang terjadi selama ini. Kaum munafikun lebih banyak dan berkuasa daripada yang jujur. Untuk terbuka pada diri sendiri masih sulit, bagaimana akan jujur dengan orang lain. Mau jujur dengan orang lain takut jadi ajur (ambyar) karena sistem masyarakat yang masih membelenggu. Sistem kejujuran masih mahal di masyarakat kita. Semua masih rentan, masih bisa diatur ("aturable" kata saudaraku). 

Ya, akhirnya aku hanya masih bisa menyebut bahwa menjadi merdeka itu perjuangan. Merdeka itu harus jujur dan terbuka pada diri sendiri, kenyataan, dan bahkan orang lain (tidak perlu menyangkut-nyangkutkan Tuhan). Sistem kejujuran dalam masyarakat kita belum terbentuk. Jika sistem ini belum ada, bagaimana kita mau menjadi maju? Kemajuan ya sebatas supervisial, mudah hilang dan dilupakan. Kemajuan dalam arti korupsi mungkin akan paling top. Namun kemajuan dalam arti ART ya paling-paling kita jeblok. Mau membongkar fakta dan kebenaran pun kita masih berat karena setiap suara kebenaran itu konsekuensinya berat. Bisa-bisa nyawa melayang walau bukan masa NuvOrd lagi tetapi virus NuvOrd itu masih kuat dibanding covid-19 (sepertinya). Paling covid-19 ini beberapa tahun lagi bisa dikendalikan. Virus NuvOrd ini sudah menjangkiti sejak 1966. Tahun 1998 ada reformasi. Sekarang tahun 2021, virus itu masih berbahaya dan ada. Ada korban 500.000 orang pasca VecOrd (data minimal). Hitungan lain ada sekitar 1.000.000-1.500.000 orang mati (dalam waktu 2 tahun). Lha, covid-19 dalam setahun lebih sedikit ini baru 54.000 yang mati di Indonesia (data 18 Juni 2021). Kita masih harus terus belajar untuk menjadi merdeka.


#room#

Thursday, June 3, 2021

Simplicity: La Storta

Kesederhanaan. Itulah yang mengajakku kemarin menyelami apa yang dialami Inigo di perjalanan menuju kota Abadi. Sebuah kapel kecil membisu di pojokan jalan (pertigaan tepatnya). Bangunan kecil yang sudah mengalami pembangunan lagi setelah perang dunia kedua itu menyiratkan sebuah kesederhanaan. Pengalaman mistik Inigo terjadi di situ. Aku mencoba menyelami, mencecap, menghirup udara di sekitarnya, tentu ada perbedaan dengan masa lalu. Setidaknya pengalaman itulah yang membawaku dan mendorongku untuk kembali mereguk cita rasa itu. Memang di kota Abadi itulah, Inigo hidup dan mengalami sendiri 'kesederhanaan'. Kota Abadi sendiri jauh dari kesederhanaan. Kesederhanaan seolah lupa hinggap di kota-kota besar. Namun entah mengapa, Inigo selalu suka kota-kota yang penuh hiruk pikuk sedangkan pengalamannya selalu bernuansa sederhana.

Sore kemarin, aku datang. Datang ke lokasi di mana bangunan kecil dan tua itu dulu menjadi penting bagi peziarahan Inigo sebelum memasuki kota Abadi. Aku hanya membayangkan dan membandingkan, walau itu tidak senada dan tidak sama, dengan pengalaman Petrus dalam narasi novel 'Quo Vadis' di mana sama-sama berada di luar kota Abadi dan beristirahat. Petrus mengalami perjumpaan dengan Sang Guru yang memanggul salib memasuki kota Abadi. Sedangkan Inigo juga mengalami visiun dalam doanya berjumpa dengan Sang Guru yang memanggul salib dan Bapa. Petrus bertanya, 'Quo Vadis, Domine?' Sang Guru menjawab singkat, 'Ad Romam'. Sedangkan dalam visiun Inigo, 'Ego ero vobis Romae propitius' (Aku akan menyertai kalian di Roma: terjemahan bebas). 

Keduanya mengalami Sang Guru yang memanggul salib. Keduanya mengalami tempat yang sama, di luar kota Abadi. Keduanya sama-sama mengalami peneguhan yang menantang, yaitu salib yang dipanggul Sang Guru. Itulah tantangan simbolik dan sekaligus konkrit dalam hidup dan peziarahan. Jika menengok dalam rumusan yang dibuat oleh kelompok Inigo berabad-abad kemudian, dan konteksnya adalah abad ke-21, dikatakan di sana makna visiun itu bagi peziarahan hidup rohani demikian: 'Apa yang dialami Inigo dalam visiunnya itu adalah sebuah peneguhan. Peneguhan itu bukanlah sebuah impian yang dengan mudah menjalaninya di kota Abadi karena kelompok awal ini akan mengalami berbagai kontradiksi yang dialaminya. Bahkan bisa saja mereka "disalibkan" atau mengalami perjuangan berat menjalaninya. Itulah realitas konkrit yang menjadi bayangan atau proyeksi ke depan dari visiun itu. 

Peneguhan bahwa kelompok awal itu akan menyerahkan hidup dan karya perjuangan mereka kepada pimpinan utama di dunia yang waktu itu ada di kota Abadi, yaitu Paus sebagai wakil Sang Guru. Oleh karena itu, visiun itu membawa makna (1) di kota Abadilah mereka akan diteguhkan sebagai kelompok, dan (2) bagaimana mereka akan setia pada Gereja di bawah pimpinan Paus sebagai wakil Sang Guru di dunia. Jelas, setelah itu di tahun-tahun berikut, Inigo dkk pun harus merumuskan diri mereka dan karya mereka. Mereka harus menjalani deliberasi (pertemuan untuk menegaskan langkah dan diri mereka) selama beberapa waktu di rumah Frangipani di kota Abadi. Tentu menghadap Paus dan menyerahkan diri bukan semata-mata tidak membawa apa-apa. Rumusan diri dan karya perlu dibuat sedemikian rupa sehingga Paus menyetujui dan menandatangani itu. 

Kesederhanaan di tengah hiruk pikuk kota Abadi yang syarat dengan banyak kepentingan yang ada memanggil Inigo dkk untuk merumuskan diri dan karya mereka. Siapa mereka dan apa yang dikerjakan, itulah yang mereka perbincangkan dengan serius sebelum menghadap Paus. Aku belajar dari cara bertindak ini dan juga suasana yang melingkupinya. Aku mencoba menghirup udara tempat itu kemarin. Sederhana memang. Namun aku juga sadar bahwa Inigo sedang bergumul dengan idealisme yang harus direalisasikannya yaitu kelompoknya, cara hidupnya, dan segala hal yang menjadi konsekuensi-konsekuensinya. 

Semakin Inigo dibawa masuk ke hiruk pikuk dunia, semakin ia makin sederhana dengan hidup dan cara bertindaknya. Salib awal bisa dibaca ketika kelompok ini tidak mudah disetujui Paus karena ingin dimasukkan ke salah satu kelompok yang sudah ada sebelumnya. Namun Inigo tetap bersikeras merumuskan dirinya lain dengan kelompok sebelumnya. Paus pun memahami itu akhirnya. Berabad-abad kemudian kelompok ini mengalami salib terbesar yaitu pembubaran (supresi). Walau akhirnya direstorasi kembali, namun perlu menjadi catatan bahwa salib itu nyata yaitu perjuangan dan kesederhanaan. Ini hanya pendapatku, kemungkinan kelompok ini 'disalibkan' karena tidak sederhana lagi (entah ada yang terlalu dekat dengan kekuasaan dan kekayaan) atau memang ada pihak yang tidak menyukai, itu perkaranya. 

Hidup dalam kesederhanaan tidak selalu akan membawa kepada masalah-masalah sederhana dalam hidup. Namun dengan kesederhanaan, manusia setidaknya sudah tidak membebani dirinya dengan banyaknya barang bawaan yang menyengsarakan dirinya.


#afternoon#

Sunday, May 30, 2021

Memento Mori

Ketika sebuah kematian itu hadir, tak kan ada seorang pun bisa menolaknya. Apapun itu bentuknya, caranya, di mananya, dan kapannya, kematian tetaplah kematian. Sore ini aku baru saja bersama rekan-rekan mengingat akan sesosok teman yang kematiannya mengagetkan kami. Tak tahu dinyana, kami dikejutkan dengan peristiwa hilangnya dia sebelum ada acara konser yang akan diselenggarakan dengan kelompoknya. Selang sehari setelahnya, ada kabar bahwa ada sesosok mayat ditemukan di bengawan Solo. Akhirnya keluarga mengkonfirmasi, dan sosok itu adalah tubuh sang sahabat. Kami semua kaget dan tidak tahu harus menyebutnya sebuah tragedi apa. Setidaknya, kematian itu menggerakkan kami. Berita demi berita kami ikuti. Arus informasi yang begitu masif di era saat ini memang membuat kami harus memilah-milah. 

Kematian itu begitu dekat. Kematian itu begitu cepat. Aku yang mengikuti berita dari grup angkatan dan perbincangan antar pribadi dari beberapa yang kukontak, aku menduga-duga ada apa. Namun tetap saja itu dugaan. Aku tak mau masuk terlalu dalam. Yang pasti adalah bahwa kematian itu sudah kami peringati hari ini di tujuh harinya. Tentu ada narasi di balik atau di belakang itu semua. Namun sekali lagi narasi itu entah akan berbicara dan mengungkapkan dirinya kapan. Aku juga hanya bisa berdoa bagi jiwa sang sahabat yang kepergiannya seperti tanpa sebab. Itu yang kurenungkan hari ini. 

Banyak hal kami kisahkan dari kepergian sahabat ini. Ada yang berkisah tentang kebaikan. Ada yang berkisah tentang penyesalan karena tidak menggubrisnya. Ada yang berkisah tentang passionnya. Ada yang berkisah tentang dampaknya bagi kami yang bersolider dan berempati atas segala macam hal yang kami buat terutama bagi keluarga yang ditinggalkan. Apresiasi terhadap apa yang kami buat adalah bahwa kami tidak menilai kematian itu dari sebabnya, narasi di belakangnya, dan sebagainya. Kami melihat kematian sebagai kematian, dan narasi yang lain adalah narasi akan manusia yang menjadi bagian dari kematian itu. Itu yang diapresiasi dari salah seorang rekan. Dan yang begitu mengesan adalah dari kematian ini kami ingin membangun narasi yang lain, yang lebih menunjukkan ada makna baik dalam kerapuhan kami sebagai manusia. 

Orang bisa saja menyebut sebagai solidaritas. Dan dari kacamata biasa, solidaritas itu kemudian bisa diartikan dengan membantu, menyokong, mensuport keluarga yang ditinggalkan, apalagi dengan kebutuhan yang mendera di depan mata. Kematian itu yang menghadirkan solidaritas. Dari kematian, orang bersolider. Orang melayat. Orang memberi dukungan satu dengan yang lain. Orang bisa saja menjadi pragmatis. Apa yang harus dengan segera ditangani itulah yang harus dibuat. Itu baik. Tidak ada yang salah. Gerak cepat perlu dibuat. 

Kematian itu yang mengumpulkan. Orang berbondong-bondong melayat karena ada kematian. Orang berkumpul untuk menyatakan belasungkawa. Orang datang untuk mengiringi kepergian. Kematian memang kadang mengumpulkan yang tercerai berai. Dan itulah kisah anak manusia. Orang datang juga untuk mengenang. Di saat pandemi ini orang tak lagi bisa berbondong-bondong. Melayat hanya terbatas yang diundang. Itulah ironi di masa pandemi. 

Sore ini aku hanya  bisa berdoa bersama. Itulah seungkap kata dan karsa yang menyingkap makna. Kematian tetaplah kematian. Ingatan akan kematian hanya ada pada makhluk manusia. Ada makam. Ada tanda. Ada ritual. Ada peringatan. Ada makna. Aku akhirnya juga mengingat bahwa suatu saat akan mengalami yang sama, kematian. Oleh karena itu, ingatanku hanya pada "memento mori" (ingatlah bahwa suatu saat kamu (akan) mati). Selamat jalan,  sobat. 



*Catatan tambahan: Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Kalau penyebab kematian yang dicari memang perlu ketekunan dan perjuangan. Di (sejarah) bangsaku ini sudah terlalu biasa dengan sebab yang tak terjawab. Bahkan untuk kematian sekian juta nyawa di suatu masa, tak ada yang mau bertanggungjawab, seolah tanpa sebab. Apalagi hanya satu nyawa yang ditemukan di bengawan solo. Jika memang penyebabnya adalah hal pribadi, ya sudahlah. Tetapi kalau penyebabnya adalah sebuah intrik, itu yang kadang tidak fair secara kemanusiaan. 



#sore hari#

Saturday, May 1, 2021

May Day

Hari ini sudah memasuki bulan Mei. Waktu berjalan cepat rasanya. Kemarin setelah istirahat sejenak dari aktivitas biasa, kami bertiga mencari pizza dan hang out sejenak. Ada alasan supaya tidak hanya ngendon di kamar, seperti rahib saja. Hari ini nanti kami juga janjian akan keluar jalan-jalan ke suatu tempat. Tidak ada intensi khusus yang ada dalam benak kami. Yang kemarin sempat mencuat keluar adalah kita berbagi rahmat untuk ngobrol dan sekedar makan pizza dan menikmati bir di senja hari. Kita sulit membedakan antara sore dan malam karena musim yang berbeda dan terang bisa sampai jam yang bagi sebagian tempat sudah malam sebenarnya. Dan hari ini adalah hari buruh sedunia, hari peringatan St Joseph pekerja dan sebagian negara sosialis/komunis merayakan hari pentingnya. 

Sebenarnya ketika makan pizza kemarin, aku sudah merasakan ada yang tidak beres saat mengunyah. Pizza yang dibeli memang krispi karena dipanaskan dulu setelah dipesan. Ada yang pecah di sebelah kiri bawah. Namun di atas kanan juga ada yang rapuh. Dan aku pun seperti biasa mengabaikan itu. Gigiku memang sudah lama mengalami karies dan sepertinya seperti genetik dalam keluarga, tidak ada yang punya gigi awet. Setelah menikmati pizza sambil ngobrol ke sana kemari, kami bertiga berjalan ke gelatteria untuk melanjutkan "perjamuan" sore itu dengan gelatto. Di sebuah piaza kecil kami ngobrol lagi sambil menikmati gelato sebelum meleleh. Obrolan tentang Gereja, keluarga, aktivitas kami dan sebagainya sebagai bumbu sore itu dalam berbagi berkah. Banyak orang berlalu lalang. Ada yang dengan anaknya. Ada yang hanya berdua atau sendirian. Dalam situasi pandemi ini memang semua mengalami kerapuhan dan penderitaan. Banyak yang tidak seperti biasanya. Kami harus berjarak. Kami harus memperhatikan kesehatan dan sebagainya. 

Sambil memperhatikan berbagai pengalaman dalam obrolan kami, aku melihat banyak hal yang terjadi di sekitar kami. Banyak keluarga yang juga mengalami beratnya situasi karena harus bekerja keras mencari nafkah. Ada juga yang selama ini harus berjibaku dengan kesetiaan perkawinan dalam membangun keluarga. Di negara maju atau miskin masalahnya sama saja. Ada poin di mana manusia saat ini mengalami keterasingan dengan dirinya. Ketika banyak pilihan dan fasilitas yang diterimanya begitu mudah, orang juga mudah beralih dari satu hal ke hal lain. Di Singapura, negaranya maju. Kalangan tua suka untuk mengalami sistem tertata dan terkontrol seperti saat ini. Namun kalangan muda, mereka tidak suka. Mereka mendambakan kebebebasan. Negara dengan pelayanan prima kepada warga negaranya menjadi penting dan patut diapresiasi. Namun berbeda dengan generasi saat ini, mereka ingin bebas. Namun dengan kebebasan itu, kesetiaan dan ketertiban tidak bisa lagi terjamin. Ini akhirnya juga sama dialami dengan keluarga.

Seorang teman mengatakan bahwa keluarga-keluarga di Singapura mengalami masalah (1) kaum perempuan menikah lebih tua umurnya karena mereka mengejar karier, (2) karena sibuk, maka mereka tidak mau repot dengan mengurus dan mendampingi anak, (3) sangat rentan dengan kekerasan dan kebosanan dalam berumahtangga karena kurang ada komitmen. Komitmen untuk setia (fidelity) menjadi hal langka karena mereka ketika menghadapi ketidaknyamanan bisa berpindah haluan ke pilihan yang lain. Kebertahanan dalam kesulitan menjadi hal langka. Ini menjadi persoalan dalam diri manusia modern yang mudah sekali berpindah dari satu ke yang lain.  Sebagai pribadi (persona), orang tidak lagi mudah menghayati kesetiaan dan komitmen. Sebagai keluarga tantangannya sama. Akhirnya ada sebuah hipotesa bahwa ini juga akan berpengaruh dengan panggilan dalam Gereja. Panggilan mulai menurun karena kesetiaan dan komitmen juga tidak mudah dihayati. 

Akhirnya sore itu kami berjalan ke stasiun metro mengantar salah satud dari kami yang harus top-up tiket bulanan. Dalam perjalanan kami melihat banyak tawaran produk-produk di sepanjang pertokoan yang ada. Itulah gambaran dunia saat ini. Kemajuan dengan berbagai tawarannya membawa kita pada kemudahan-kemudahan berpindah dari satu ke yang lain. Sayangnya memang tidak semua orang mudah untuk memproses bagaimana cara memilih dengan baik. Kita dibiarkan mengembara dalam lautan pilihan yang ada. Bisa saja kita tenggelam. Bisa saja kita terapung-apung. Banyak kemungkinan yang ada. 

Sesampai di kamar, aku pun merasakan gigiku kembali. Gigi atas goyang dan ternyata sudah harus ditanggalkan. Akhirnya dengan paksa kucabut. Ternyata dengan mudah walau pasti ada darah yang keluar karena dicabut dari gusinya. Gigiku tanggal. Dan aku ingat kebiasaan yang agak-agak mitos dalam tradisi orang jaman dulu, kalau giginya tanggal yang bawah harus dibuang ke atas stap rumah. Kalau yang tanggal yang atas, maka harus dibuang ke bawah. Aku tidak tahu maksudnya sampai sekarang. 

Bulan Mei bagi sementara orang juga penting karena mulai dengan bulan rosario, mendoakan untaian rosario sebagai devosi kepada Ibu Maria. Devosi sebagai kebiasaan populer (baca: populis/ rakyat) di kalangan orang Kristiani (baca: Katolik) adalah tradisi di kalangan rakyat. Devosi yang masih tetap ada sampai sekarang merupakan kekayaan Gereja yang mungkin bagi sementara keluarga modern sudah tidak begitu diperhatikan. Devosi itu menuntut kesetiaan, keajegan, rutinitas, dan itu membosankan. Orang modern mudah bosan, maka devosi bukan hal yang menarik. Lama di hal yang sama itu tidak menarik. Lebih menarik adalah hal yang berubah-ubah atau bisa memilih. Apalagi pilihannya itu membawa keuntungan (materi) yang besar, itu akan menambah daya tarik walau tidak lama. 


#buonagiornata#

Friday, April 2, 2021

(Dan) Salib itu pun Masih Terpenjara

Ada dua pergulatan yang kutemukan selama beberapa waktu belakangan ini. Yang satu mengatakan bahwa “mengapa Tuhannya orang Katolik itu tidak mau hidup bagi yang dicintaiNya namun malah mati demi yang dicintaiNya? Itu kan tandanya Tuhan orang Katolik hanya putus asa.” Yang kedua mengatakan, “Koq rasanya ungkapan ‘the smiling face of the crucified’ itu tidak tepat ya? Menderita itu bukan bahagia, lho”. Pernyataan pertama itu ada pada orang yang ingin supaya Tuhan selalu jadi hero dan tidak bisa merasakan penderitaan sebagai manusia. Tuhan itu superhero, mengapa harus mati? Percuma saja kita mengimani Tuhan yang selalu Maha… Sedangkan kedua, pernyataan yang tidak setuju dengan ungkapan ‘wajah tersenyum dari yang tersalib’ seperti tidak mau menghayati bahwa itu semu adalah consummatum est’. Alias ‘semua sudah terlaksana’ atau 'sampun lumaksana' (Jawa). Jangan katakan yang menderita itu tersenyum donk, karena menyatakan tersenyum koq rasanya tidak pas ya... Disalibkan ya sakit, menderita dan pokoknya mengerikan. Pernyataan "sanggahan" itu seperti mau menyatakan ketidakterimaan bahwa yang sudah mati di salib itu tersenyum. Sedangkan ketika aku melihat mayat di peti jenasah tersenyum itu tanda bahwa yang meninggal itu bahagia walau kematiannya diakibatkan karena penyakit atau kesengsaraan apapun itu.

Pertama, ungkapan dari keinginan manusia yang maunya Tuhan itu superhero sehingga tidak perlu ada penderitaan. Tuhan seharusnya membantu memperingan penderitaan di dunia donk daripada susah-susah menderita dan jadi manusia. Buat apa sih menebus manusia kalau hanya akhirnya hanya menderita dan mati? Percuma aja disebut Tuhan kan? Percuma menyerahkan diri pada kekuasaan Tuhan kalau hanya akhirnya, ending-nya cuma Tuhan itu mati. Tuhan itu menderita bagi kita. Ah….ngapain manusia percaya pada Dia yang jadi manusia? Rugi. Mendingan Dia itu hidup dan berusaha sekuat mungkin hidup bagi yang dicintaiNya. Eh…ini malah mati bagi yang dicintaiNya. Mubazir banget kan? Balutan keputusasaan kalau dilihat dari manusia yang berharap sungguh akan kehebatan Dia yang menyelamatkan manusia dari penderitaan hidupnya. Apalagi dengan situasi pandemi yang tak kunjung henti, manusia butuh superhero yang menyelamatkan hidupnya dan membutuhkan penolong. Manusia butuh penyelesaian problem bukan ungkapan sok suci yang tidak menyelesaikan apa-apa. Atau yang satu ini tidak puas dengan doktrin bahwa Anak manusia mati demi manusia yang dicintainya. Maunya (manusia) itu Tuhan tidak mati tapi hidup bagi yang dicintaiNya. Kalau tidak puas dengan doktrin (Gereja) sih sebenarnya bisa ditulis dengan doktrin juga supaya sepadan apple to apple. Kalau hanya di sebuah postingan ya sama saja dengan ngomel sendiri. 

Kedua, manusia tidak main-main dengan penderitaan, masa Tuhan yang menderita diungkapkan “tersenyum” saat mati di salib? Kan konyol banget. Ada manusia yang tidak rela Tuhannya yang menderita diungkapkan tersenyum di salib. Kan Tuhan menderita, Tuhan itu sakit dan merasakan penderitaan yang dahsyat. Salib dan penderitaan memang tidak main-main. Ada aliran-aliran sekelompok manusia yang mengatakan bahwa Tuhan itu tidak boleh ditafsirkan macam-macam oleh manusia. Aku jadi ingat film “Il nome della rosa” atau The name of the rose (karya Umberto Eco). Film lama yang dibintangi Sean Conery itu bercerita sejarah abad pertengahan. Dalam sebuah biara Benediktin ada sejumlah kejadian pembunuhan. Dan itu yang diteliti oleh sejumlah Inquisisi Gereja (petugas pengadilan Gereja zaman dahulu). Salah satunya dari kelompok Fransiskan, yang lain dari kelompok Dominikan (biasanya). Singkat cerita, kejadian pembunuhan demi pembunuhan itu karena ada seorang rahib yang tidak setuju di biaranya ada tertawa dari sejumlah anggotanya karena paham dia membaca Kitab Suci adalah bahwa “Yesus tidak pernah tertawa.” Oleh karena itu, ketika ada anggota komunitas yang tertawa, maka akan mati (diracun) olehnya.

Ada ekstrem satu dan ekstrem yang lain dalam pergumulan iman. Menjadi orang yang beriman Katolik atau Kristiani memang tidak mudah. Di satu sisi ia harus beriman sungguh pada Tuhan yang Maha Kuasa itu, namun di sisi lain Tuhan yang Maha Kuasa itu koq menjadi manusia dan mati (ending-nya).  Ini adalah paradoks iman Kristiani. Yang satu melupakan sisi di mana Tuhan itu memang memutuskan diri menjadi manusia, yang punya kelemahan, berdarah dan berdaging, terikat pada ruang dan waktu. Akhirnya Dia pun mengalami kematian. Namun di sini ada yang lupa bahwa justru tanpa salib, kebangkitan (Paskah) itu mubazir. Kisah Kitab Suci dilahirkan atas narasi-narasi mengenai penyaliban tentunya. Jemaat-jemaat purba tentu akan mengenang penyaliban karena itu hukuman yang lazim bagi kriminal dan penjahat-penjahat pada zaman itu. Anak Manusia pun akhirnya mati disalib (bukan hanya di salib) karena penyaliban itu bukan karena tujuannya namun karena konsekuensi atas tindakanNya untuk menyelamatkan manusia. Menyelamatkan di sini bukan secara fisik menjadi superhero namun menyelamatkan alam pikiran dan cara hidup manusia supaya lebih menyadari diri akan keterbatasan dan penderitaan yang memang dialami manusia, tidak disangkal. 

Kaitannya kemudian adalah ketika Anak Manusia itu tidak menyangkal penderitaan sebagai konsekuensi atas apa yang dijalani dalam hidup yang benar, maka Dia pun tidak merasa sedih dan susah dalam mengamini penderitaan, penyesahan, dan penyaliban. Di akhir hayatNya, Anak Manusia memang terkulai mati. KematianNya tidak merupakan sesuatu yang larut dalam kesedihan, namun Dia menerima dengan tabah dan tersenyum, “ke dalam tanganMu, kuserahkan nyawaku”. Sedih dan berat itu tentu ketika penderitaan itu di-iya-kan dan harus dipeluk dan dipanggul. Salib yang menjadi tempat akhir hidup manusia itu masih harus dipeluk dan dipanggul. Lalu di manakah penyelamatan? Penyelamatan ada pada makna baru mengalami penderitaan, bahwa bukan sebuah akhir namun hidup baru dengan makna baru. 

Viktor Frankl memberi teorinya “logo terapi” dan tentu dalam bukunya Man Search for Meaning. Dan ini sempat difilmkan yang akhirnya menyabet Oscar pada tahun 1997. Dalam penderitaan, manusia masih bisa tertawa. Manusia masih bisa menertawakan penderitaannya karena penderitaan tidak membunuh kemanusiaannya. Yang mati adalah tubuh dan raganya. Kemanusiaan tidak mati karena penderitaan. Film dari Roberto Benigni ini begitu mengesankan dan menyentuh, hidup dalam penderitaan membuat orang harus berani menatap harapan. Ada masa depan walau hidup itu gelap, penuh penderitaan, ditekan dalam masa-masa penuh kekejaman. Seolah dunia kiamat dengan penderitaan. “La vita e bella.” Hidup itu indah. Itu cerita film yang mendapat Oscar. Orang bisa merasakan dan menghayati kebahagiaan setelah tentu bergulat dengan penderitaan dan beratnya hidup. Ada suatu masa dimana manusia ingin menghindari penderitaan, “Jika boleh cawan ini berlalu dariku,…namun karena ini kehendak Allah (konsekuensi atas perjuangan dengan benar/kebenaran), maka akan kujalani.” 

Apakah berarti di sini, Allah menginginkan anakNya menderita? Tidak. Kehendak Allah yang dimaksud adalah jalan kebenaran yang harus ditempuh manusia. Kiranya kita semua bukan makhluk yang masokis, yang mencari-cari penderitaan demi kesenangan pribadi. Tuhan juga bukan masokis. Bapa juga bukan bapak yang sadistis, bahagia kalau orang lain menderita. Penderitaan dan kematian adalah konsekuensi atas perjuangan manusia. Dan jalan perjuangan itulah yang memang perlu dilalui, maka itulah passio kita. Tuhan pun tersenyum karena Dia memanggil kita untuk tidak takut pada perjuangan dan penderitaan. Tuhan pun mengajak kita untuk berani meninggalkan diri kita untuk sebuah perjuangan yang tidak egois. Para pahlawan sudah memberi teladan konkrit. Mereka berjuang demi sesuatu yang luhur yaitu kemerdekaan. Mereka tidak mencari-cari kematian namun karena konsekuansi atas perjuangannya, maka mereka mati dalam perjuangan itu. Tidak perlu kita terbelenggu oleh hidup dan anggapan kita bahwa Tuhan itu harus hidup sesuai dengan frame hidup kita. Justru saat ini kita disadarkan bahwa perjuangan adalah jalan penyelamatan hidup, bukan sebuah hidup yang harus disingkiri.


#lavitaebella# 






Sunday, March 7, 2021

Orang Tua dan Anjingnya

Hari kemarin ada kabar dari rumah bahwa bapakku sudah divaksin. Orang tua menjadi prioritas oleh negara setelah tenaga kesehatan. Tentu vaksinnya adalah Sinovak. Kabar tentang vaksin memang semua penuh misteri. Apalagi saat ini orang bisa menjadi pemberita dengan mudahnya membuat berita dan memposting di media sosial. Bahkan media yang dikatakan "mainstream" pun juga kadang mengambil berita dari kabar media sosial yang tentu lebih cepat daripada media yang dikelola korporasi besar. Kabar lain tentang vaksin adalah orang membandingkan efektivitasnya melawan kekuatan virus selama pandemi ini. Orang kulit putih akan memilih Pfiser atau Modena dibanding Sinovak atau Sputnik yang memang lawan ideologi politik mereka. Ah, itu bagian dari perang (dagang dan ideologi) yang tak pernah mati sebelum kiamat planet bumi ini. Alasannya kadang mengada-ada. "Saya tidak percaya China karena China tidak transparan uji klinisnya". "Saya tidak percaya itu Sinovak karena itu bisa membunuh orang". Apalagi yang mabok halal haram mengatakan, "Itu dari China, pasti dibuat dari minyak babi". Apapunlah orang bisa membuat berita dan narasinya sendiri. Sah-sah saja koq.

Orang tua menjadi tema yang menarik. Ada orang yang di masa tuanya itu menyenangkan. Dia bisa menerima ketuaanya. Dia tidak membebani anak cucunya. Dia bisa tinggal dengan siapa saja. Itu adalah anugerah masa tua yang menyenangkan. Ada juga yang sebaliknya. Di masa tuanya orang menjadi sensitif. Banyak beban dan pikiran melanda hidupnya. Sepertinya ada hal yang tidak mau dia lepas. Dan bahkan sampai sakit pun tidak mati-mati. Hal itu sangat menyusahkan hidupnya, anak cucu dan orang lain. Orang yang seperti ini kadang disebut "punya aji-aji". Dalam hati aku kadang tidak percaya. Ya, bisa jadi ada kekuatan adi kodrati yang membuat orang jadi sakti, tetapi itu semua kadang tidak masuk dalam nalarku. 

Ketuaan menjadi titik kesadaran bahwa diri manusia punya batasnya. Semakin kita merayakan ulang tahun, semakin kita merayakan pendeknya umur kita walau nyanyiannya adalah "panjang umurnya". Apalah arti panjang umur jika malah menyusahkan diri dan orang lain? Apalah arti umur panjang jika hidup ini cukup dijalani dengan kebijaksanaan bukan panjangnya umur? Suatu saat aku didekati orang tua yang mengatakan, "Sepengetahuan saya, karya itu mengikuti orangnya, karya akan mati dengan orangnya." Dalam hati aku mengatakan, "Orang ini tidak tahu diri. Apa kata hukum kehidupan, jika semua hanya yang tua yang hidup dan mati. Lantas apa arti orang muda?" Namun waktu itu, aku hanya menjawab, "Oooo, begitu ya." Ketika orang menjadi sensitif dengan usia dan karya yang dipeganya, maka di situlah aku menjadi melihat lebih dalam bahwa ada sesuatu yang perlu disikapi dengan lebih bijaksana.

Kukira bukan hanya orang yang membaktikan diri dalam komunitas religius atau yang mendedikasikan diri dalam hidup berkeluarga akan mengalami hal ini. Aku juga bisa melihat bagaimana ketuaan ini bisa menjadi beban ketika di masa tuanya seorang ayah tidak siap untuk meninggalkan pekerjaan rutinnya dan akhirnya "post power syndrom" dan tak lama kemudian jatuh sakit yang membuat dirinya drop secara fisik dan mental. Aku juga bisa melihat bagaimana orang berjuang untuk melepaskan atau merelakan urusan rumah dengan segala macam tetek bengeknya kepada yang lebih muda. Contoh konkretnya adalah nenekku sendiri. Dia tidak mudah hanya untuk urusan dapur dan masakan. Sampai pada akhirnya waktu menantukan lain dengan jatuhnya dan lama sakit berbulan-bulan tidur di ranjang sampai akhirnya dipanggil Tuhan. 

Dalam diri manusia akhirnya ada saja hal-hal yang menjadi "pegangan", entah itu kebiasaan, hobby, pekerjaan, rutinitas, barang, dan sebagainya. Justru ketika kita menjadi tua, hal-hal itu baru sangat kelihatan apakah sikap terhadap "pegangan" itu kita menjadi lebih "sumeleh", merelakan diri dan berpindah ke keberterimaan akan apa yang dialami sekarang. Tua kadang tidak menjadikan orang bijaksana. Tua bisa hanya karena umur fisik yang dipaksa oleh waktu. Namun kebijaksanaan dan keberserahan diri menerima estafet ke generasi selanjutnya kukira itu adalah perjuangan juga. Bukan berarti perjuangan dan segala macam hal itu buruk namun di sanalah aku belajar akan ujian berat dalam hidup. 

Kemarin aku melihat orang tua dan anjingnya. Orang tua itu menuntun anjingnya di pedestrian. Ya, memang banyak orang menuntun anjing kulihat. Namun aku tertarik memotret orang tua dan anjingnya. Entah kenapa. Di masa tua, dia masih bisa berjalan dan menuntun anjing. Itu sebuah hal yang kukira baik. Tentu orang tua itu akan menuntun di jalan di mana ia akan berjalan, dan bukan di mana anjingnya akan berjalan. Tentu kadang ada saat anjingnya tertarik dengan sesuatu lalu berhenti. Kadang anjingnya kencing di jalan atau berak, maka orang tua itu berenti juga. Atau bahkan kadang orang tua itu harus menarik anjingnya agar tidak membuat hal yang mengganggu orang atau barang milik umum di situ. Suatu hal yang menarik yang bisa dipotret dari orang tua dan anjingnya. Di sana masih ada potret tentang orang tua yang berjalan. Di sana ada anjing yang dituntun atau anjing itu menuntun orang tua itu, bisa sebaliknya tentunya. Anjing menjadi sahabat manusia. Manusia menjadi sahabat anjing. 

Dari sana aku bisa lebih sadar bahwa kadang aku bisa menarik sesuatu yang kutuntun, namun di sisi lain aku yang harus ditarik karena faktor usia yang renta sudah menyergapku. Orang tua dan anjingnya menjadi kesan yang menarik setelah aku merenungkan siang ini dan juga melihat kembali gambar-gambar yang kupunyai. Selain itu, ada Kidung Simeon yang selalu dikumandangkan sebagai pujian penutup hari para pertapa atau para biarawan-biarawati. Itulah kidung yang mau mengungkapkan keberterimaan atas rahmat Tuhan yang sudah mempertemukan dengan Masa Depan dan sekarang saatnyalah untuk undur diri supaya Masa Depan itu yang bekerja.

Sekarang, Tuhan, perkenankanlah hamba-Mu berpulang *
dalam damai sejahtera menurut sabda-Mu.
Sebab aku telah melihat keselamatan-Mu *
yang Kau sediakan di hadapan segala bangsa:
Cahaya untuk menerangi para bangsa, *
dan kemuliaan bagi umat-Mu Israel.



#Buona Notte#