Sunday, December 19, 2021

Living in Tension

Sering kali manusia tidak ingin hidupnya menderita. Perjuangan itu serasa menyakitkan. Namun demikian hanya segelintir orang di dunia ini yang hidupnya nyaman, semacam "anak Sultan" kalau bahasa orang sekarang. Tak adalah orang yang nyaman hidupnya jika masih ada di dunia. Sejak dari lahir sampai akhirnya mati, aku yakin bahwa manusia itu "harus" mengalami penderitaan, setidaknya hanya sekali seumur hiduplah. Oleh karena itu, jika ada orang mengeluh dengan hidupnya, serba susah, gampang capai, lelah, koq sepertinya belum mensyukuri akan keberadaannya di dunia. Atau setidaknya kurang sadar bahwa keterbatasan itulah yang mengakibatkan itu semua. Itu semua bagian dari perjuangan, penderitaan, kerja keras, serba rapuh.

Mengeluh mengesah memang bagian dari hidup. Namun mengeluh mengesah itu kadang bagiku koq membuat tidak nyaman. Mungkin ini bagian dari diriku yang tidak bisa menerima orang yang mudah mengeluh. Setidaknya semenjak sadar diri bahwa hidup itu perjuangan, buat apa keluhan-keluhan itu selalu disodorkan pada banyak orang atau setidaknya diriku? Bahwa ada tegangan dalam hidup antara diri ideal dan diri real, it is OK. Diri idealnya adalah bahwa aku tidak mudah mengeluh, tidak mudah capai, tidak mudah komplain, dan sebagainya. Diri realnya adalah diriku mudah mengeluh, mudah capai, mudah komplain dan sebagainya. Bagiku ini membawa sebuah panggilan bahwa aku harus menjadi lebih realistis daripada idealis. Orang selalu berat melangkah karena yang dibawa adalah beban-beban idealisme yang tak mudah terwujud lebih daripada pandangan hidup yang realistis dan memeluk kerapuhan itu sendiri. Bahwa orang boleh komplain, capai, mengeluh, tetapi itu tidak menjadi pola yang rutin dan seperti diekspose terus-menerus yang membuat orang lain juga tidak suka. 

Beban-beban idealisme itu membuat orang berjalan terseok-seok. Ketakutan akan masa depan, ketakutan akan reputasi, ketakutan akan hancurnya karier, ketakutan akan stigma sosial kadang masih kita bawa dan semacam idealisme dalam diriku yang akhirnya membuat hidup ini tak bisa mewujudkan satu per satu. Orang menjadi stress, tertekan, hanya berangan-angan dan tak berbuat apa-apa. Hidup menjadi kelam dan lebih mudah lelah. Kekawatiran akan kehancuran dan kegagalan hidup lebih banyak membawa bencana daripada menerima, memeluk, dan menyadari sebagai milik dirinya. 

Siapa yang tak pernah gagal? Kukira juga tidak ada. Aku takut gagal pun adalah beban. Ketika beban itu menjadi obsesi untuk dihindari maka semakin hari semakin memperberat hidup. Namun demikian, bisa jadi orang-orang yang belum bisa menerima diri karena efek-efek masa lalu dengan trauma-trauma (luka) mungkin akan tidak mudah untuk meletakkan beban-beban itu. Ada seorang yang pada tahun 1998 tidak secara langsung mengalami peristiwa kerusuhan menjelang lengsernya Suharto. Ia seorang keturunan Tioghoa. Ia mengalami trauma secara tidak langsung dan mempunyai persepsi bahwa orang-orang di luar sukunya itu adalah jahat karena peristiwa itu. Untuk menyembuhkan luka itu, ia akhirnya membuat niat konkrit yaitu menjadi orang yang travelling ke mana-mana dengan menebeng (numpang) mobil orang lain tanpa harus membayar angkutan. Ia hanya ingin membuktikan bahwa orang lain itu tidak jahat. Ia sekaligus ingin menyembuhkan luka hidupnya. Setelah terbukti bahwa ia bisa travelling ke seluruh pelosok nusantara, ia akhirnya sadar bahwa banyak orang baik yang ia jumpai selama travelling nebeng itu. 

Kadang luka-luka atau beban kita tidak cukup hanya kita komplainkan saja. Butuh sebuah usaha konkrit yang membuat diriku sembuh, ringan, tidak banyak curiga. Seorang yang membuktikan bahwa ada banyak orang baik tadi akhirnya sembuh karena ia "mengalami" sendiri bahwa ada orang yang mau menolongnya. Ada banyak yang mau memberi tumpangan. Ada banyak follower-nya ketika ia mengupload ini dalam chanell online-nya. Bahkan ada banyak orang menawari untuk menjemput dan bertemu dengannya jika ia akan pergi ke sebuah tempat. Orang butuh pengalaman untuk kesembuhan.

Tegangan yang membuat orang hidup itu juga perlu diperhatikan. Ketika orang hanya merasakan satu sisi ekstrem dalam hidup, tentu ia hanya membuat frame sesuai dengan sisi yang ia condongi. Namun, kita sebenarnya dipanggil untuk menghidupi sisi tengah antara ekstrem satu dan ekstrem lainnya. Itulah sisi tension (tegangan). Orang tidak hanya melulu idealis, atau realis ekstrem. Justru menjadi idealis real atau realis ideal itu juga perlu. Sisi idealis dibutuhkan orang untuk bersemangat mencapai tujuan tertentu. Sisi realis dipakai sebagai cara menapakkan kaki hidup secara lebih mendarat. 

Banyak sebenarnya tegangan-tegangan hidup yang kita alami. Aku tidak bisa menyebut satu per satu. Tiap orang menemui tegangannya sendiri-sendiri. Dari menghidupi tegangan ini aku belajar banyak bahwa hidup itu tidak hanya monoton. Hidup itu kadang ada capainya, kadang ada ringannya, kadang berwarna, kadang membosankan. Usaha setiap hariku adalah memeriksa diri dan memaknai kehidupan yang sedemikian itu. Tentu hidup ini dijalani dengan kesadaran penuh. Kehati-hatian sangat disarankan. Apalagi di zaman sekarang, orang mudah dihantam ekstremitas tertentu: direkam, dipublikasi, dilaporkan, dikasuskan. Tentu ada muatan-muatan tertentu (motivasi tertentu). Oleh karena itu, prinsip kesadaran dan kehati-hatian itu sangat-sangat disarankan. Yang sudah berhati-hati saja bisa tersandung. Masih ada juga yang mensalahartikan atau tidak bisa menerima. 


"You must not only learn to live with tension, you must seek it out. You must learn to thrive on stress." 

(J. Paul Getty)




#afternooninmyroom#

No comments:

Post a Comment