Kadang ini membuat diriku tidak nyaman walau yang mengupload bukan diriku tetapi orang lain. Orang bisa saja menelusuri perjalananku dan melaporkan itu entah sebagai komentar atau jika berniat jahat ya bisa dikasuskan dan sebagainya. Orang dengan seenaknya bisa masuk dalam kawasan atau wilayah atau ruang orang lain. Antara privasi dan ruang publik sudah tercampur. Dan bagiku, aku masih rada-rada "trauma" dengan penerobosan atau "bludhusan" (dalam istilah Jawa-nya) ini. Aku sadar bahwa memang kita tidak bisa lagi bersembunyi. Bahkan seandainya tidak punya gawai pun orang lain yang mendokumentasikan kita dan mengupload di dunia maya, akhirnya juga membuat diriku terpampang di sana dan mudah diakses siapapun. Jadi, sikap hati-hati dan waspada itu perlu. Kecenderungan "kepo" orang saat ini sangat kuat. Kebiasaan melihat status di medsos itu sudah fenomena lumrah. Dunia semakin transparan. Itu baik. Namun di sisi lain, kebiasaan "kepo" dan "bludhusan", memantau, memata-matai (tentu dengan kepentingan dan muatan tertentu) itu tentu tidak bijaksana. Seandainya pun tahu, ya apa harus kemudian diangkat sebagai isu yang harus bernada "mengecek", menanyai kembali, menginvestigasi? Inilah yang bagiku sangat-sangat tidak menyenangkan, membuat sebuah rasa tidak nyaman.
Semakin ke sini aku semakin disadarkan untuk berhati-hati, dengan semangat jongos tidak ingin "kemlinthi". Siapakah aku ini sehingga pamer-pamer diriku dan pekerjaanku, perjalananku, dan sebagainya. Aku merasa bahwa dengan notifikasi dari mesin itu, aku makin disadarkan bahwa diriku ini rapuh. Kerapuhan itu bisa menjadi senjata penyerang yang mematikan sekaligus lubang kelemahan yang diincar orang lain untuk menjatuhkan. Ketika euforia FB, aku senang sekali upload foto-foto pemandangan, aku berada di mana, apa saja kegiatanku, dan sebagainya yang nadanya pamer. Ketika aku menjalani pekerjaan yang lain terlebih membaca fenomena kejatuhan-kejatuhan tokoh-tokoh karena postingan-postingan entah ujaran kebencian, entah video tiktok, entah foto-foto pribadi yang kurang layak, aku baru menjadi sadar bahwa kita dibawa pada dunia absurd yang harus makin belajar hati-hati. Orang baru sadar ketika dirinya dikomentari orang lain itu tidak benar atau yang menohok atau melukai pihak lain tapi kita tidak peka. Dan aku tidak ingin seperti itu.
Penyalahgunaan kekuasaan atau power itu tentu mulainya dari yang sederhana. Orang tidak merasa lagi sensitif dengan penyalahgunaan itu. Kemudian ketika publik merespon, ia baru dihajar oleh cacian dan reaksi-reaksi negatif tentang dirinya dan apa yang dibuatnya. Orang pamer kekayaan. Orang pamer keberhasilan. Orang pamer hal-hal yang sifatnya kegiatan dan keberadaan atau status dirinya. Dan itu sangatlah umum lumrah di masa ini. Tapi bagiku semakin patut waspada (dan mungkin agak was-was juga) ketika aku diposting orang lain, walau itu hanya sekedar foto biasa, foto yang tidak ada nuansa ketidakpantasan, tetapi ketika dibaca oleh kaca mata orang lain yang punya kepentingan berbeda, pasti akan bernilai lain. Entah itu bernuansa menginvestigasi, entah itu sok ingin tahu, entah itu kepo, semua itu bisa saja terjadi di zaman serba informatif ini.
Ya, aku hanya bermula dari notifikasi "setahun yang lalu" oleh google picture dan tiba-tiba aku juga merasa koq diriku tidak secure kadang. Dan ini kadang membuatku perlu siap-siap menerima berita yang tidak mengenakkan, entah dilaporkan atau dituduh, atau dapat pesan dari nomer tidak dikenal, atau penipuan-penipuan dalam bentuk apapun. Segala sesuatu itu mungkin terjadi. Namun sekali lagi, kewaspadaan itu penting. Walau aku sadar bahwa bahkan ketika orang sudah wasdapa pun, ada sandungan-sandungan yang kadang terjadi. Orang Jawa menyebut: "kesandhung ing tawang." Artinya, sehati-hatinya kita, ada saja halangan atau kegagalan yang bisa saja menghadang di jalan. Ibaratnya berjalan di udara atau di langit, koq ya bisa tersandung.
#noontimeinmyroom#
No comments:
Post a Comment