Wednesday, September 9, 2020

"ABS" dan Ketidakjujuran

Selama pandemi ini, ada hal yang menarik bagiku untuk kuingat. Ada virus yang memang menyerang seluruh dunia terutama bagi manusia alias homo sapiens. Si Covid ini mengubah dunia manusia sehingga seperti tidak ada lagi Si Cupid. Pertama-tama, ada ketakutan dalam diri manusia karena virus ini mematikan dan belum ada obatnya. Kedua, dari ketakutan ini orang cenderung menyembunyikan sesuatu dalam dirinya untuk terbuka bahwa dirinya sakit atau terkena virus itu sehingga orang menyingkir dari dirinya atau takut orang lain menyingkiri. Ketiga, dari sini akibatnya adalah orang menjadi tidak jujur. Orang menjadi takut kena cap atau stigma. Mekanisme stigmatisasi inilah yang menyebabkan orang menjadi takut dan tidak jujur.

Dari fenomena itu, aku hanya menelisik secara spekulatif. Spekulasi yang ada di benakku adalah bahwa bangsa ini belum sembuh dari pergulatan dasariahnya yaitu soal ketidakmampuan diri untuk menerima sejarah hidupnya yang memang penuh ketakutan, kekuatiran dan akhirnya membuat diri tidak jujur. Ketidakjujuran ini membawa dampak pada orang lain yang akhirnya tidak bersalah menjadi terkena virus itu. Beberapa klaster yang karena kerumunan atau kasus di klinik atau puskesmas atau di tempat-tempat publik menandakan bahwa selain ada ketidaksadaran, di sana ada ketidakjujuran dari beberapa orang yang abai akan hal ini. Bahwa dirinya harus menjaga diri supaya membantu dirinya dan orang lain, itu yang perlu mendapat perhatian.

Ketakutan dan teror adalah sebuah suasana yang sudah ditebarkan sejak tragedi 55 tahun lalu. Setelah ada tragedi berdarah tahun '65, Indonesia selalu disuasanai dengan teror dan kekuatiran. Rezim ketakutan menjadikan bangsa ini menanamkan mental takut dan kuatir. Akibatnya adalah ketidakjujuran dan selalu ingin menyembunyikan identitas, rasa, ide, bahkan ekspresinya. Zaman menjadi zaman yang semu. Keteraturan, pembangunan, pemerintahan, pertumbuhan ekonomi dan apapun yang ada hanyalah sistem menekan supaya orang takut. Ketakutan dipakai sebagai ideologi supaya tidak lagi hiruk pikuk dengan debat, diskusi, berpolemik, dan beragam ekspresi sosial budaya yang ada. Dalam novel Lentera Batukaru dikatakan bahwa orang yang terciduk karena kelompok politik yang "dianggap" komunis disebut "kena garis". Artinya orang itu dicekal oleh penguasa atau aparat lalu dipenjara atau entah akhirnya dihabisi nyawanya.

Pasca tragedi itu, orang cenderung takut dan selalu bertingkah "sesuai aturan" atau "sesuai instruksi bapak". Lahirnya mentalitas "takut akan bapak" menjadi istilah "ABS" atau "Asal Bapak Senang". Itu sudah bukan rahasia lagi. Itu menjadi idiom yang mendarah daging sehingga dari para birokrat atas sampai bawahan, mental itu dijalankan. Ketika tidak sesuai Bapak, maka ketakutan yang ada adalah dimarahi, dihukum, didiskreditkan, disudutkan dan bahkan dihilangkan nama atau nyawanya. Itu semua adalah pola yang sudah umum dan menjadi "kurikulum" tersembunyi namun efektif dalam membentuk bangsa ini menjadi seperti sekarang ini. Reformasi tahun '98 kiranya belum menyembuhkan trauma dan mentalitas ini. Euforia Reformasi yang seharusnya memerdekakan itu tidak terjadi seperti harapan kita. Rezim ketakutan masih dibawa oleh sekian generasi yang saat ini menjadi orang-orangtua yang melahirkan generasi muda saat ini. Pewarisan mentalitas atau trauma ini juga masih terasa sampai sekarang. Satu generasi belum cukup menghilangkan bekas luka trauma ini. Tebaran ketakutan masih mewarnai atmosfer hidup bangsa ini.

Sistem tata kehidupan belum memberi ruang merdeka penuh percaya. Kemerdekaan sebatas kita "rayakan" pada tanggal 17 Agustus saja. Itu pun hanya lips service karena keharusan. Kemerdekaan dan memberi ruang penuh percaya kiranya perlu dilatihkan dalam setiap sisi kehidupan bangsa ini. Selama ini kita masih terkungkung dalam kekerdilan karena orang sering tidak diberi ruang kemerdekaan yang di sana tentu ada ruang tindakan bersalah. Namun demikian, di sana ada ruang pengampunan dan memberi sanksi tegas. Ketidakmampuan memberi dan menerima sanksi tegas menunjukkan bahwa pribadi itu tidak merdeka dan tidak bertanggung jawab. Orang yang demikian itu tidak pantas dipercaya. Tidak kredibel dalam tindakan menunjukkan orang yang tidak mempunyai kemerdekaan bertanggungjawab pada hidup.

Terlalu lama kita hidup dalam ketertutupan yang tidak memberi ruang tanggung jawab. Orang tidak diberi kemerdekaan berekspresi. Orang tidak diberi ruang merdeka memberi diri untuk berekspresi mengungkapkan kejujurannya. Oleh karena itu, sebagai pribadi manusia bangsa ini selayaknyalah terus dan tak jemu menanamkan dan melatih diri untuk berani mempercayai dan bertanggung jawab. Namun di sisi lain, mau dan berani konsekuen atas tindakan. Ada pihak yang dengan tegas memberi sanksi dan itu konsisten memberi sanksi tanpa pandang bulu (bahasa hukumnya adalah penegakan hukum). Dalam parenting pun baik jika orangtua berani dengan konsekuen melatih anak untuk jujur dengan berani berekspresi, bertindak bertanggungjawab, dan akalau itu salah, maka ada sanksi tegas. Tidak ada toleransi yang membuat dia nyaman. Menerima kesalahan dan kegagalan dengan merdeka memang tidak mudah, tetapi itulah yang perlu dilatihkan.




#morningtime#