Ada kisah tentang seorang muda yang ingin jadi pertapa.
Namun keinginanya itu terpaksa “kandas” oleh larangan orangtuanya. Anak muda
itu anak tunggal. Ia akhirnya memutuskan untuk tidak menjalani dulu pilihannya.
Anak muda yang baik, mempunyai potensi banyak, dewasa karakternya, dan
keinginan untuk menjadi rahib itu harus “dikalahkan dulu” karena ia mencoba
memahami pemikiran orangtuanya. Ketika ditanya dan menurut pengakuannya,
orangtuanya ingin agar ia menjadi seorang imam yang ditahbiskan secara Katolik.
Hmmm....memang ada anggapan itu selalu akan ada yaitu bahwa menjadi imam ya
harus ditahbiskan karena tahbisan adalah prestisius daripada menjadi rahib atau
bahkan bruder yang tidak ditahbiskan. Tahbisan selalu bernuansa sexy karena sepertinya
tahbisan itu mirip-mirip sebuah peristiwa agung dalam hidup seseorang.
Ibaratnya seperti pencapaian luar biasa oleh seorang yang berhasil meraih
prestasi. Piala. Semacam peristiwa pernikahan oleh kedua pribadi mempelai yang
mengucapkan janji dan dihadiri publik ramai saat peristiwanya di hadapan
pemimpin agama dan saksi. Seremoni.
Ya, itulah yang terjadi. Aku bandingkan dengan apa yang
terjadi jika seorang “hanya” menjadi rahib atau bruder. Aku hanya membayangkan
nuansa sepi, sunyi, tak dihargai. Kesunyian dan kesepian dari dunia dengan
berbagai semaraknya. Keramaian yang dirindukan dunia. Keramaian yang penuh
pesta pora dan hiruk pikuk sorak pujian dan kebanggaan. Rahib kerjanya hanya
hanya berdoa dan bekerja tangan. Bruder juga sama, ia hanya “kanca wingking” (babu)
dari imam. Mereka adalah pribadi yang tak kelihatan karyanya. Mereka adalah
pekerja yang remeh dan diremehkan. Mereka adalah pemain di tengah hiruk
pikuknya keramaian rasa bangga dan pesta pora dunia. Mereka adalah pribadi
sunyi. Mereka adalah pejuang penakhluk sepi. Hidup mereka adalah kesunyian.
Hidup mereka adalah cemoohan. Hidup mereka adalah diremehkan. Hidup mereka
adalah keterasingan. Hidup mereka ibarat tak dianggap oleh siapapun
sampai-sampai dunia mereka ditolak dan disingkiri oleh mereka yang masih
menghayati diri dengan tempik sorak prestasi dan kebanggaan bahwa manusia itu harus
eksis.
“Rugi donk kalau anakku menjadi rahib atau bruder. Ia punya
potensi. Ia harus kuliah. Ia harus bisa berbuat sesuatu yang besar. Ia tidak
kurelakan hanya kerja tangan dan berdoa di sepi sunyi biara kontemplatif yang
mengurung raga dengan kesunyian”. Aku hanya sekedar membahasakan lagi jeritan
orangtua yang tak mengizinkan anaknya yang tunggal itu menjadi rahib. Ketidakrelaan
untuk sebuah cara hidup yang gila. Ketidakrelaan terhadap pilihan martabat
hidup yang sinting dan tak lumrah. Biarpun menjadi imam juga tak lumrah tetapi
tahbisan masih mempunyai kemungkinan berkuasa dan punya sesuatu yang
dibanggakan. Setidaknya bisa berdiri di depan umum dengan tangan terentang dan
jadi figur publik. Ada kebanggaan yang bisa dipamerkan.
Namun demikian ketika aku tanyakan ke yang lebih paham soal
perasaan, apalagi soal perasaan seorang ibu, yang anaknya tunggal, dan juga
mungkin punya idealisme tertentu, ada sesuatu yang lain. Ada yang memang tidak
mudah diterima ketika seorang muda saat ini mau jadi rahib. Hmmm.... rahib?
Makanan apa tuh? Ngapain jadi rahib segala, kaya kurang kerjaan aja. Dunia membutuhkanmu.
Dunia punya sesuatu yang lebih menjanjikan. Dunia punya segala yang kau
inginkan, mengapa harus menjadi rahib? Apa gunanya ke sana? Ibumu benar bahwa
kamu harus memilih jalan lain. Ibumu tidak merelakan kamu ke sana, hidup dalam
kesunyian bersama komunitasmu. Masakan berkomunitas hanya untuk kesunyian?
Masakan hidup bersama hanya untuk berdoa, kerja, berdoa lagi, makan, dan hanya itu-itu
saja? Dunia lebih ramai. Dunia lebih memberikan banyak hal yang mampu kau
nikmati. Bukan hanya ada kesunyian. Ibumu benar bahwa kamu harus memilih yang
lain. Ibumu benar bahwa kamu harus mendewasakan dahulu dirimu sebelum memilih
ke sana. Ibumu benar bahwa kamu harus lebih realistis dengan dirimu.
Itulah yang sekiranya kupahami dengan yang ada pada pemuda
itu. Anak muda yang semula kuanggap kasihan, namun semoga ini menjadi situasi “kawah
candradimuka” dari panggilannya. Entahlah, ada misteri ada usaha manusia. Dan
manusia hanya bisa mengusahakan semampunya. Jika ada tantangan pastilah ada
jalan untuk menuju pada tujuan itu sendiri. Perjuangan belumlah usah kalau manusia
belum sampai pada kesudahannya bertatapan muka dengan muka dengan Sang Khalik.
Tulisanku ini hanya mau mengungkapkan kesanku kemarin ketika pemuda itu pulang
dengan membawa sejuta harapan, bahwa ada situasi yang harus dijalani. Ada
situasi yang menghadang namun bukan berarti kalah perang. Selamat memurnikan
perjuanganmu, hai Anak Muda! Semoga apa yang sudah diperbuat ibumu bukanlah
penghalang jalan Tuhan bagimu. Dan semoga ibumu tidak menentang arus energi
Tuhan itu.
noon@office

