Suatu hari, ketika siang sudah masuk sore, teman lamaku datang bersama keluarganya. Ia mengunjungi aku di tempat kerja yang adalah alma mater kami. Ketika jalan berkeliling, yang kami lihat adalah bangunan dan sudut-sudut yang masih sama dan ada juga yang sudah berubah karena kebutuhan zamannya. Satu yang menyentak kami, terutama dia. Aku sebenarnya sudah tersentak dan sekarang malah sudah terbiasa dan mungkin karena terbiasa inilah orang terbelenggu dan jadi menyerah. Itu soal bersih tidaknya beberapa sudut tempat kami dahulu yang sekarang sudah dipakai oleh penghuni lain.Sampah dan ketidakpedulian atau ketidaksamaan pemahaman mengenai kebersihan ternyata sudah membangkitkan ideku untuk menulis. Aku sangat benci kotor, dalam arti kotor yang disengaja dan cerminan ketidakpedulian. Entah mengapa sudah banyak yang berkomentar tentang kebersihan di alma mater ini semakin menurun. Aku sendiri juga menilai demikian. Aku tidak puas dengan sampah yang selalu ada. Apakah saat ini seseorang itu tidak bisa menilai itu kotor, itu bersih, itu rapi dan sebagainya ya? Pikiranku lantas bertanya-tanya ke sana. Apakah yang namanya sampah dan yang bukan sampah itu sama? Apakah arti sebuah kebersihan bagi manusia zaman ini? Apakah manusia zaman ini sudah tidak mau tahu artinya kebersihan? Atau ada sesuatu dengan mentalitas itu? Aku sering dongkol dan jengkel setengah mati. Aku sering hanya bisa memendam rasa marah dan jengkel ini. Dan ketika temanku datang lalu berkomentar tentang kebersihan, maka aku makin yakin bahwa memang kondisinya tidak bersih.Namun sayang kami belum bisa mengimbaskan ini bahwa kebersihan itu ya itu.
Kebersihan itu ya: lantai itu bersih dari kotoran. Kebersihan itu bukan sampah yang ditarus di meja, loker, kursi, bahkan di kapel. Kebersihan itu ya sampah harus masuk di tempat sampah, bukan di luar tempat sampah. Kebersihan itu ya kamar mandi tidak bau dan tidak ada plastik sabun, sampo, kotoran lain. Kebersihan itu tidak ada coretan di dinding. Kebersihan itu aula ditata kembali menjadi rapi dan tidak ada perabit yang habis dipakai dalam acara tertentu. Kebersihan itu ya taman menjadi bersih dan disapu dari daun-daun berguguran atau sampah lain. Kebersihan itu ya tisu tidak dibuang sembarangan. Kebersihan itu kapel tidak dikotori dengan kertas atau rautan pensil. Kebersihan itu refter tetap terjaga kebersihannya. Kebersihan itu ya kondisi ruang tidur tertata dan terlipat baju, selimut, dan bantalnya, baju digantung rapi dan ditata di lokernya. Kebersihan itu ya buku dan barang-barang di ruang rekreasi tertata dan tidak bersebaran. Kebersihan itu kelas juga tidak acak-acakan. Kebersihan itu tembok tidak dikotori dengan dipegang-pegang ketika tangan kotor. [Kebersihan dalam arti ini adalah kondisi bersih].

Semua itu butuh dilatih sering dan tidak terputus. Semua harus jadi habitus. Orang menjadi malu kalau tidak melakukan tindakan yang bersih. Ketika kebersihan menjadi bagian dari sikap hidup maka tidak ada lagi keluhan akan kebersihan. Temanku tadi mengatakan bahwa kebersihan itu bagian dari konsep managemen diri. Kata tokoh yang mendirikan Sekolah Pagi Indonesia: "Kebersihan itu jika saya dapat makan di WC yang kamu bersihkan". Orang muslim mengatakan bahwa kebersihan adalah pangkal dari iman. Yang terjadi semua adalah kebalikannya. Oleh karena itu, tugas berat kita adalah melatih manusia muda untuk hidup bersih. Ketika hidup bersih harus dilatih, maka akan banyak tantangan. Kebiasaan membuat anak bangun dengan melipat selimut, merapikan bantal, menyapu kelas, mengepel lantai, membuang sampah di tempat sampah, setelahnya sampah dibuang ke tempat pembuangan akhir, membersihkan selokan dari sampah yang ada. Ada jam opera atau bersih-bersih. Namun dalam kenyataannya kualitas membersihkan ruang tertentu itu tidak optimal. Ada mentalitas malas. Ada anggapan bahwa kalau sudah kerja setengah jam itu ya sudah. Tidak dilihat kualitas pekerjaan membersihkan. Tidak ada juga mandor yang mengawasi memang tetapi itulah pendidikan yang dilatihkan. Harapannya kesadaran itu muncul tetapi ternyata tidak bisa diadaikan. Jika ada mandor, anggapannya seperti diperbudak. Tidak mendidik mentalitas pribadi menjadi sadar akan kebersihan. Namun demikian realitas menyatakan bahwa jika tidak dikontrol, maka kualitas kerja membersihkan itu juga tidak optimal.
Temanku juga mengusulkan bahwa harus juga tetap ada pengingat setiap saat. Nah, itu dia. Itu yang tidak mudah. Apakah butuh mengangkat dan menggaji staf pengingat setiap saat non tenaga yang sudah ada ini? Pikirku kemudian apakah gunanya kita yang sudah dibayar dan diminta untuk menjadi staf? Akhirnya ini menjadi otokritik bagi kami. Jangan-jangan kita sendiri juga tidak punya standar kebersihan yang kita hidupi? Jangan-jangan hidup kita ini juga kotor dan belum sepenuhnya mau hidup bersih? Jika melihat anak zaman sekarang, ketika kita meminta membatasi barang bawaan: baju, celana, kaos, tas, sepatu, sandal, dan sebagainya, itu ternyata tidak mudah. Orangtua mereka akan membawakan 10 kali lipat barang yang sudah ada. Zaman ini sudah terlalu makmur. Ketika itu terjadi, mencuci sendiri malas. Bahkan ada yang membully temannya dengan menjadikannya babu dan mengupahnya. Ada juga yang menumpuk pakaian kotor dan dilaundry di luar. Atau bahkan tiap minggu kunjungan orangtua mereka mengirim pakaian kotor ke rumah supaya sebulan dicuci di rumah lalu bulan depan dibawa lagi setelah dicucikan orangtua. Banyak cara untuk tidak mengerjakan kegiatan mencuci pakaian sendiri, sehingga yang dicuci hanyalah yang ringan-ringan saja. Kerja tangan sudah tidak mudah dilakukan.
Untuk itu, tahun depan adalah tahun kebersihan menurutku. Oleh karena itu, aku hanya ingin melatih itu saja tetapi kadang tidak mudahnya adalah antar kita yang sudah tua pun punya selera dan standar sendiri-sendiri untuk hidup bersih atau sungkan mengingatkan untuk hidup bersih. Yah, kadang aku hanya bisa pasrah dengan kata-kata ini: "Tidak semua kamu bersih."
#Siang hari @office
No comments:
Post a Comment