Thursday, January 19, 2017

Rahib.....oh Rahib

Ada kisah tentang seorang muda yang ingin jadi pertapa. Namun keinginanya itu terpaksa “kandas” oleh larangan orangtuanya. Anak muda itu anak tunggal. Ia akhirnya memutuskan untuk tidak menjalani dulu pilihannya. Anak muda yang baik, mempunyai potensi banyak, dewasa karakternya, dan keinginan untuk menjadi rahib itu harus “dikalahkan dulu” karena ia mencoba memahami pemikiran orangtuanya. Ketika ditanya dan menurut pengakuannya, orangtuanya ingin agar ia menjadi seorang imam yang ditahbiskan secara Katolik. Hmmm....memang ada anggapan itu selalu akan ada yaitu bahwa menjadi imam ya harus ditahbiskan karena tahbisan adalah prestisius daripada menjadi rahib atau bahkan bruder yang tidak ditahbiskan. Tahbisan selalu bernuansa sexy karena sepertinya tahbisan itu mirip-mirip sebuah peristiwa agung dalam hidup seseorang. Ibaratnya seperti pencapaian luar biasa oleh seorang yang berhasil meraih prestasi. Piala. Semacam peristiwa pernikahan oleh kedua pribadi mempelai yang mengucapkan janji dan dihadiri publik ramai saat peristiwanya di hadapan pemimpin agama dan saksi. Seremoni.

Ya, itulah yang terjadi. Aku bandingkan dengan apa yang terjadi jika seorang “hanya” menjadi rahib atau bruder. Aku hanya membayangkan nuansa sepi, sunyi, tak dihargai. Kesunyian dan kesepian dari dunia dengan berbagai semaraknya. Keramaian yang dirindukan dunia. Keramaian yang penuh pesta pora dan hiruk pikuk sorak pujian dan kebanggaan. Rahib kerjanya hanya hanya berdoa dan bekerja tangan. Bruder juga sama, ia hanya “kanca wingking” (babu) dari imam. Mereka adalah pribadi yang tak kelihatan karyanya. Mereka adalah pekerja yang remeh dan diremehkan. Mereka adalah pemain di tengah hiruk pikuknya keramaian rasa bangga dan pesta pora dunia. Mereka adalah pribadi sunyi. Mereka adalah pejuang penakhluk sepi. Hidup mereka adalah kesunyian. Hidup mereka adalah cemoohan. Hidup mereka adalah diremehkan. Hidup mereka adalah keterasingan. Hidup mereka ibarat tak dianggap oleh siapapun sampai-sampai dunia mereka ditolak dan disingkiri oleh mereka yang masih menghayati diri dengan tempik sorak prestasi dan kebanggaan bahwa manusia itu harus eksis.

“Rugi donk kalau anakku menjadi rahib atau bruder. Ia punya potensi. Ia harus kuliah. Ia harus bisa berbuat sesuatu yang besar. Ia tidak kurelakan hanya kerja tangan dan berdoa di sepi sunyi biara kontemplatif yang mengurung raga dengan kesunyian”. Aku hanya sekedar membahasakan lagi jeritan orangtua yang tak mengizinkan anaknya yang tunggal itu menjadi rahib. Ketidakrelaan untuk sebuah cara hidup yang gila. Ketidakrelaan terhadap pilihan martabat hidup yang sinting dan tak lumrah. Biarpun menjadi imam juga tak lumrah tetapi tahbisan masih mempunyai kemungkinan berkuasa dan punya sesuatu yang dibanggakan. Setidaknya bisa berdiri di depan umum dengan tangan terentang dan jadi figur publik. Ada kebanggaan yang bisa dipamerkan.

Namun demikian ketika aku tanyakan ke yang lebih paham soal perasaan, apalagi soal perasaan seorang ibu, yang anaknya tunggal, dan juga mungkin punya idealisme tertentu, ada sesuatu yang lain. Ada yang memang tidak mudah diterima ketika seorang muda saat ini mau jadi rahib. Hmmm.... rahib? Makanan apa tuh? Ngapain jadi rahib segala, kaya kurang kerjaan aja. Dunia membutuhkanmu. Dunia punya sesuatu yang lebih menjanjikan. Dunia punya segala yang kau inginkan, mengapa harus menjadi rahib? Apa gunanya ke sana? Ibumu benar bahwa kamu harus memilih jalan lain. Ibumu tidak merelakan kamu ke sana, hidup dalam kesunyian bersama komunitasmu. Masakan berkomunitas hanya untuk kesunyian? Masakan hidup bersama hanya untuk berdoa, kerja, berdoa lagi, makan, dan hanya itu-itu saja? Dunia lebih ramai. Dunia lebih memberikan banyak hal yang mampu kau nikmati. Bukan hanya ada kesunyian. Ibumu benar bahwa kamu harus memilih yang lain. Ibumu benar bahwa kamu harus mendewasakan dahulu dirimu sebelum memilih ke sana. Ibumu benar bahwa kamu harus lebih realistis dengan dirimu.


Itulah yang sekiranya kupahami dengan yang ada pada pemuda itu. Anak muda yang semula kuanggap kasihan, namun semoga ini menjadi situasi “kawah candradimuka” dari panggilannya. Entahlah, ada misteri ada usaha manusia. Dan manusia hanya bisa mengusahakan semampunya. Jika ada tantangan pastilah ada jalan untuk menuju pada tujuan itu sendiri. Perjuangan belumlah usah kalau manusia belum sampai pada kesudahannya bertatapan muka dengan muka dengan Sang Khalik. Tulisanku ini hanya mau mengungkapkan kesanku kemarin ketika pemuda itu pulang dengan membawa sejuta harapan, bahwa ada situasi yang harus dijalani. Ada situasi yang menghadang namun bukan berarti kalah perang. Selamat memurnikan perjuanganmu, hai Anak Muda! Semoga apa yang sudah diperbuat ibumu bukanlah penghalang jalan Tuhan bagimu. Dan semoga ibumu tidak menentang arus energi Tuhan itu.


noon@office

No comments:

Post a Comment