Ah, sekarang aku tidak lagi suka dengan istilah itu. Bagiku sekarang menghadapi situasi di mana kepercayaan tidak lagi ada. Baik itu karena perkara kecil maupun besar yang ada di masyarakat, aku sudah muak dengan "percaya itu indah". Yang pasti "disbelieve" itu yang mewarnai diriku. Entah seberapa percent yang ada dalam diriku, tetapi sekali lagi percaya itu tidak mudah. Menjadi percaya diri saja tidak cukup bersekolah selama 6 tahun dari kelas 1 SD sampai kelas 6 SD. Bahkan sampai menjelang pergi ke liang lahat pun ada orang yang percaya dirinya kecil. Menjadi percaya pada orang lain apalagi, sangat susah. Percaya diri, percaya pada orang lain, dapat dipercaya, dan beriman, itulah terminologi dalam tulisanku ini.Di saat-saat seperti sekarang ini, aku tengah merasakan "disbelieve" itu. Bahkan tesisku mengatakan bahwa selama masih hidup di dunia, tidak ada yang dapat dipercaya. Tesis kedua adalah tidak ada tempat yang aman di dunia. Semua serba tidak aman. Bahkan kalau mau menyimpan apapun bahkan mungkin lebih baik membuat "chip" yang disimpan di "cloud"-nya hati setiap manusia. Setiap pribadi pasti mempunyai ruang private yang tak dapat dimasuki siapapun selama belum ada "smart chip" yang dapat mendeteksi itu. Bahkan dalam film "Spectre", "smart blood" pun sudah ada. Teknologi ini dapat membuat orang dilacak di mana keberadaannya.
Bagiku, sebuah peristiwa kehilangan membuktikan bahwa tidak semua itu aman adanya. Memang ada sisi di mana kelemahan manusia adalah lupa, lalai, khilaf. Tetapi bahwa ada manusia atau pihak lain yang kemudian mengganggu, bagiku itu sudah merupakan penyebab adanya kehilangan. Orang mengambil dengan paksa dan tidak sepengetahuan yang empunya adalah sebuah pencurian. Akibat pencurian adalah kehilangan. Sudah banyak kisah-kisah kehilangan yang menjadikan korbannya tidak nyaman hidupnya.Apakah dengan demikian lantas mudah sekali mengatakan bahwa "percaya itu indah?" Tidak. Akhirnya yang harus disalahkan memang diri sendiri yang mengandaikan bahwa semua itu aman. Kehilangan orang-orang yang dicintai akibat perang atau kecelakaan atau bomb yang mematikan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, semua itu merupakan luka anak manusia di dunia yang penuh ketidakamanan. Skenario apapun itu yang pasti adalah bahwa efeknya tidak mengenakkan dalam hati manusia. Baru kehilangan barang saja, kita sering kali marah dan kecewa. Kehilangan membuat hati tidak lagi nyaman. Hati selalu diselimuti kekecewaan, kepedihan, kemarahan. Lengkap sudah rasanya kalau mau membuat peperangan, mulailah dengan membuat sebuah kehilangan. Perang Dunia juga mulai dengan membuat suasana salah satu pihak adalah kehilangan, maka semua akan terjadi.Tidak ada lagi "percaya itu indah." Yang ada kehilangan membuat peperangan. Kehilangan membuat tidak lagi percaya. Kehilangan membuat segala sesuatunya kacau dan menimbulkan niat yang tidak baik. Ada niat menangkap pelaku pencurian. Ada niat untuk balas dendam. Intinya membuat segala sesuatunya negatif. Hanya kekelaman dan rasa marah yang berkelanjutan. Efeknya bisa panjang. Efeknya bisa antar generasi. Mulanya dari kehilangan. Kehilangan yang menyesakkan. Kehilangan yang menyesakkan menimbulkan ketidakpercayaan. Ketidakpercayaan menimbulkan kemarahan karena balas dendam. Tidak ada "percaya itu indah." Yang ada, "Mari kita perang! TIdak ada lagi kepercayaan di antara kita!"
Itulah keterusikanku saat ini. Ketidakpercayaan karena suasana hati yang tak lagi percaya pada orang-orang di sekitarku. Percaya pun hanya berapa persen. Tidak percaya pada situasi di masyarakat. Apalagi ketika membaca orang-orang saling catut nama untuk mendapatkan keuntungan pribadi, dan gaya bicara dalam penyadapan itu demikian, "Freeport tetap jalan, kita bisa beli jet pribadi, happy-happy, golf". Belum lagi tragedi Paris 13 November 2015, tragedi Jumat kelabu, Friday the 13th. Semua dengan seenaknya mengambil nyawa orang lain yang sedang menonton konser dalam gedung pertunjukan. Mereka menembaki dengan senapan mesin. Mereka membawa bomb bunuh diri. Dan akibatnya nyawa orang lain terenggut dengan gampangnya.Mengambil dan menyalahgunakan dengan paksa, itulah pencurian brutal. Jika itu terus terjadi memang dunia ini rasanya tidak nyaman, Sewaktu-waktu teror itu terjadi dimana-mana. Sewaktu-waktu pengambilan paksa itu berlangsung dengan enaknya, Sewaktu-waktu memang adanya rasa was-was dan khawatir. Sekali lagi, percayalah pada diri sendiri. Waspada untuk segala sesuatu itu yang terbaik. Tidak usah dan tidak bisa lagi kita mengandaikan akan segala sesuatunya. Believe none. Segala sesuatu perlu dicek ulang. Segala sesuatu perlu dikonfirmasi, bahkan dengan bukti fisik yang detail. Tidak bisa kita membiarkan kepalsuan itu berkembang karena kita terlalu lunak dan mengandaikan. Kita sering permisif atas segala yang ada. Membiarkan pencuri memasuki ruang privat memang kesalahan kita. Lebih salah lagi adalah membuat kesempatan dan peluang pencurian itu sangat bodoh. Trust nobody, believe nothing. Just believe yourself.
#Disbelieve#
Late Morning @my office