Sore kemarin, aku datang. Datang ke lokasi di mana bangunan kecil dan tua itu dulu menjadi penting bagi peziarahan Inigo sebelum memasuki kota Abadi. Aku hanya membayangkan dan membandingkan, walau itu tidak senada dan tidak sama, dengan pengalaman Petrus dalam narasi novel 'Quo Vadis' di mana sama-sama berada di luar kota Abadi dan beristirahat. Petrus mengalami perjumpaan dengan Sang Guru yang memanggul salib memasuki kota Abadi. Sedangkan Inigo juga mengalami visiun dalam doanya berjumpa dengan Sang Guru yang memanggul salib dan Bapa. Petrus bertanya, 'Quo Vadis, Domine?' Sang Guru menjawab singkat, 'Ad Romam'. Sedangkan dalam visiun Inigo, 'Ego ero vobis Romae propitius' (Aku akan menyertai kalian di Roma: terjemahan bebas).
Keduanya mengalami Sang Guru yang memanggul salib. Keduanya mengalami tempat yang sama, di luar kota Abadi. Keduanya sama-sama mengalami peneguhan yang menantang, yaitu salib yang dipanggul Sang Guru. Itulah tantangan simbolik dan sekaligus konkrit dalam hidup dan peziarahan. Jika menengok dalam rumusan yang dibuat oleh kelompok Inigo berabad-abad kemudian, dan konteksnya adalah abad ke-21, dikatakan di sana makna visiun itu bagi peziarahan hidup rohani demikian: 'Apa yang dialami Inigo dalam visiunnya itu adalah sebuah peneguhan. Peneguhan itu bukanlah sebuah impian yang dengan mudah menjalaninya di kota Abadi karena kelompok awal ini akan mengalami berbagai kontradiksi yang dialaminya. Bahkan bisa saja mereka "disalibkan" atau mengalami perjuangan berat menjalaninya. Itulah realitas konkrit yang menjadi bayangan atau proyeksi ke depan dari visiun itu.
Peneguhan bahwa kelompok awal itu akan menyerahkan hidup dan karya perjuangan mereka kepada pimpinan utama di dunia yang waktu itu ada di kota Abadi, yaitu Paus sebagai wakil Sang Guru. Oleh karena itu, visiun itu membawa makna (1) di kota Abadilah mereka akan diteguhkan sebagai kelompok, dan (2) bagaimana mereka akan setia pada Gereja di bawah pimpinan Paus sebagai wakil Sang Guru di dunia. Jelas, setelah itu di tahun-tahun berikut, Inigo dkk pun harus merumuskan diri mereka dan karya mereka. Mereka harus menjalani deliberasi (pertemuan untuk menegaskan langkah dan diri mereka) selama beberapa waktu di rumah Frangipani di kota Abadi. Tentu menghadap Paus dan menyerahkan diri bukan semata-mata tidak membawa apa-apa. Rumusan diri dan karya perlu dibuat sedemikian rupa sehingga Paus menyetujui dan menandatangani itu.
Kesederhanaan di tengah hiruk pikuk kota Abadi yang syarat dengan banyak kepentingan yang ada memanggil Inigo dkk untuk merumuskan diri dan karya mereka. Siapa mereka dan apa yang dikerjakan, itulah yang mereka perbincangkan dengan serius sebelum menghadap Paus. Aku belajar dari cara bertindak ini dan juga suasana yang melingkupinya. Aku mencoba menghirup udara tempat itu kemarin. Sederhana memang. Namun aku juga sadar bahwa Inigo sedang bergumul dengan idealisme yang harus direalisasikannya yaitu kelompoknya, cara hidupnya, dan segala hal yang menjadi konsekuensi-konsekuensinya.
Semakin Inigo dibawa masuk ke hiruk pikuk dunia, semakin ia makin sederhana dengan hidup dan cara bertindaknya. Salib awal bisa dibaca ketika kelompok ini tidak mudah disetujui Paus karena ingin dimasukkan ke salah satu kelompok yang sudah ada sebelumnya. Namun Inigo tetap bersikeras merumuskan dirinya lain dengan kelompok sebelumnya. Paus pun memahami itu akhirnya. Berabad-abad kemudian kelompok ini mengalami salib terbesar yaitu pembubaran (supresi). Walau akhirnya direstorasi kembali, namun perlu menjadi catatan bahwa salib itu nyata yaitu perjuangan dan kesederhanaan. Ini hanya pendapatku, kemungkinan kelompok ini 'disalibkan' karena tidak sederhana lagi (entah ada yang terlalu dekat dengan kekuasaan dan kekayaan) atau memang ada pihak yang tidak menyukai, itu perkaranya.
Hidup dalam kesederhanaan tidak selalu akan membawa kepada masalah-masalah sederhana dalam hidup. Namun dengan kesederhanaan, manusia setidaknya sudah tidak membebani dirinya dengan banyaknya barang bawaan yang menyengsarakan dirinya.
#afternoon#

No comments:
Post a Comment