Friday, February 27, 2026

Mutu

Orang selalu cari kualitas. Orang cari yang bermutu. Ada yang mutunya rendah, sedang, dan tinggi. Itu semua tergantung kepentingan dan "selera" masing-masing. Dalam pencarian mutu, orang juga menciptakan standar ukuran, namun juga bahkan menciptakan kualifikasi dari mutu itu sendiri. Dunia saat ini sarat dengan penilaian-penilaian tertentu yang kemudian akan menentukan ini nilainya A, B, C dan seterusnya. Penilaian ini terkadang memang hanya sebuah formalisme belaka. Ketika sebuah kualitas itu diformulasikan dalam sebuah huruf atau angka kualifikasi, maka sebenarnya di sana membawa konsekuensi entah internal atau eksternal untuk setidaknya mengawal demi sebuah pemantapan atau peningkatan. Sayangnya, manusia ini seringnya jatuh dalam inkonsistensi. Demikian tidak mudahnya hidup itu dinilai baik itu secara kualitatif maupun kuantitatif.

Persoalan yang klasik dan selalu terjadi adalah bahwa banyak pihak tidak mau atau kurang mampu menjadi pengawal yang berkualitas atau bermutu juga. Akibatnya banyak hal di dalam kehidupan ini selalu terjatuh dari kejatuhan satu ke kejatuhan yang lain. Lembaga yang bahkan disebut pengadil pun kurang bermutu jika sudah menyangkut menilai konsistensi standard mutu dari salah satu tindakan manusia. Segala hal yang tanpa pengendali mutu akan selalu bermasalah. Namun bermasalah lagi ketika pengendalian mutu itu hanya berhenti pada tindakan formalisme semata. Ditambah lagi, orang merasa cepat puas dengan mutu yang pernah diraih atau prestasi yang pernah diraih, tanpa ada sebuah semangat yang melandasi bahwa konsistensi mutu itu demi sesuatu yang lebih besar. Misalnya adalah demi kemanusiaan yang lebih bermartabat dalam hal antre atau kebersihan lingkungan, dan sebagainya. 

Orang menjadi malas atau kurang mau menjadi pengendali mutu karena ia harus berhadapan dengan kerasnya resistensi. Orang merasa cepat puas diri karena tidak mau berkembang, orang cenderung status quo, mapan.  Orang mapan biasanya mencari segala macam cara supaya kemapanannya tidak diusik oleh si tukang kritik atau QC atau auditor atau asesor, dan lain-lain. Ketika si tukang kritik itu mati atau dimatikan atau dikebiri, biasanya salah satu bidang kehidupan itu akan mengalami kendala. Entah itu tidak lagi sesuai marwah atau beralihnya fungsi atau perubahan yang tak pernah dikomunikasikan. Dari sanalah kemudian merembet ke berbagai hal yang lain, seperti lambatnya kerja, ketidakdisiplinan, ketidakpedulian, semua serba formal dan mungkin ada ekses yang lain. 

Seperti contoh konkret ketika petugas negara ini mencanangkan sebuah proyek memberi makan pada sekian juta mulut anak dan masyarakat yang berkecimpung di bidang pendidikan. Tujuannya apa? Sarananya apa? Demi apakah proyek itu dibuat? Mengapa harus ada proyek itu? Siapa yang disasar dengan jelas? Siapa yang menjadi pelaku pembuat makanan, distributor, bagaimana kemasannya? Itu semua pertanyaan-pertanyaan dasar yang sudah diajukan tentunya, dan tidak semua manusia yang disebut masyarakat itu terlibat dan paham. Nah, ketika itu semua tidak dipahami maka proyek itu bisa dinilai (1) sepihak lahirnya. Benar bahwa petugas negara boleh saja menjadi "santa klaus" bagi rakyatnya dan itu hanya jika memang hal yang istimewa. Sayangnya, (2) petugas negara itu kurang memahami kebutuhan rakyatnya dan sepertinya proyek itu motif-nya tidak transparan diketahui oleh khalayak sehingga kita semua bisa menuduh bau amisnya proyek ini. (3) Dari pembuatan sampai ke pembagian (distribusi) terjadi masalah. Dari hal-hal kecil yang baru kusebut tiga itu pun sudah sarat dengan ketidakjelasan dari petugas negara. Motivasi yang baik harus dibarengi dengan cara dan sarana yang baik juga. (4) Dan yang keempat, tiadanya pengendali mutu mengenai keseluruhan proyek itu, yang akhirnya si tukang kritik datang dari rakyat itu sendiri.

Rakyat akhirnyalah yang menjadi pengendali mutu petugas negara ini dalam bekerja dan memberikan segala sesuatu demi rakyat itu. Jika memang kita itu demokratis, maka dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat itu bukan sekedar slogan semata. Hal-hal sederhana dan sepele ini pulalah yang harus kita jamin mutunya. Kita sebagai rakyat bukan koq selelu anti terhadap petugas negara namun yang terjadi di sini adalah bahwa gerak dan kerja petugas negara selalu buruk, sudah tidak jelas, tidak trasnparan sejak dari ide/ pikirannya dulu. Apa yang dibuat oleh petugas negara sering hanya menghambur-hamburkan duit. Sedangkan masih banyak hal yang membutuhkan duit untuk membangun baik itu perangkat lunak maupun perangkat keras dalam kita bernegara maupun bermasyarakat ini. 

Pertanyaanku sekarang adalah apakah kualitas bernegara kita hanya sebatas segini saja? Apakah kita hanya berhenti pada tarik-menarik kepentingan ini dan itu yang membuat dinamika bernegara ini makin tidak jelas, tidak terbuka dan saling membuat amburadul kehidupan ini? Sekali lagi pentingnya penjamin mutu (QC) itu sebuah keharusan dalam urusan hidup bersama. Dan susahnya adalah penjamin ini harus manusia yang mau tak mau berhadapan dengan manusia lain yang berani melawan dan memusuhi, sehingga akibatnya bisa saja hilangnya nyawa bagi penjamin mutu itu sendiri. Itulah yang tidak disukai orang yang dijadikan penjamin mutu. 

#inmyroom#      

No comments:

Post a Comment