Dalam hidup sehari-hari banyak hal akan menemui bahwa bagaimanapun itu akan selalu ada penilaian. Dan penilaian itu akan berujung pada sebuah rekomendasi tertentu terhadap nasib seseorang atau barang. Sering yang tidak kita sadari dan tidak kita maui adalah hal itu. Penilaian mungkin masih bisa kita terima walau menyakitkan. Sedangkan vonis membuat kita memang tidak bisa mengelak lagi dan hanya bisa pasrah menerima. Namun demikian, ketika ada orang yang berjuang untuk berkelit dari vonis itu, kiranya perjuangan dan usahanya bisa juga dipuji karena untuk keluar dari sebuah vonis dibutuhkan keberanian menerima atau sebaliknya menghindari. Walau vonis sering kali sudah merupakan putusan akhir (final) yang akan membawa pada konsekuensi pada hukuman dengan kualifikasinya masing-masing.
Aku bisa merasakan bahwa ketika vonis datang rasanya seperti menghindari dan tidak mau menerima itu. Kalau diriku dinyatakan bersalah karena telah mencuri ayam tetangga, maka berdasarkan peraturan hukum pidana vonisnya adalah dihukum sekian lama. Tentu itu tidak mudah untuk segera diterima. Walau kita punya argumen atau alasan mengapa sampai kita mencuri, dari teks hukum kita sudah ketahuan, ada bukti, dilaporkan, diadili dengan beberapa tahapan pengadilan, dan akhirnya divonis menjalani hukuman sekian waktu, maka itulah yang harus dijalani. Aku ingat akan kecerdikan seorang bendahara yang tertangkap korupsi dengan memakai otoritasnya mengelola keuangan. Ia yang sudah tahu jika akan dihukum oleh tuannya, akhirnya memakai cara licik yaitu memanfaatkan mereka-mereka yang pernah jadi partnernya untuk membuat manipulasi keuangan agar ia pun masih mempunyai keuntungan walau sudah divonis akan dihukum oleh tuannya. Kecerdikan untuk keluar dari jerat hukuman itu, walau nyata-nyata salah dan akan dihukum, merupakan sebuah cara minus malum bahwa dalam keterpojokannya pun si bendahara itu masih bisa mengambil keuntungan.
Sekali lagi vonis mau tidak mau harus kita hadapi. Namun dalam menghadapi itu semua kita masih bisa bermain secara cerdik agar setidaknya serugi-ruginya nama baik kita, kita masih bisa mengambil keuntungan. Kecerdikan manusia yang divonis jelek itu pertanda bahwa kita tidak mati dengan vonis itu. Vonis memang harus kita jalani namun demikian kita tidak menjadi habis karena vonis itu. Aku bisa membayangkan bahwa mereka yang sudah terkena hukuman akibat perbuatannya harus sampai pada sebuah tahapan bahwa diri mereka sudah dibatasi namun hidup tidak sekedar mati karena dibatasi oleh vonis. Kemampuan untuk melampaui vonis atau hukuman itu adalah kemampuan transenden dari manusia.
Aku sangat terkesan dengan hidup seorang bapak yang membesarkan anak perempuan yang mau dijual ibunya ketika dilahirkan gara-gara tidak ingin memeliharanya. Ibunya pisah dari bapaknya karena alasan keluarga yang tidak menyetujui pernikahan orangtua anak ini. Hidup bapak dari anak perempuan ini seolah sudah divonis oleh pihak keluarga istrinya bahwa ia tidak layak untuk jadi suami anaknya. Vonis moral dari pihak keluarga istrinya ini membuatnya harus bergulat dengan kehidupan yang harus dilanjutkan. Bahkan ia pun sempat hampir putus asa dan ingin mengakhiri hidupnya karena hidup yang dirasakan berat. Vonis dari keluarga istrinya yang menyakitkan. Sikap istrinya terhadap anaknya yang mau dijual kepada orang lain. Kondiri real kehidupan yang harus dijalani untuk menyambung hidup dirinya dan anaknya, menjadi hal yang menyesakkan. Ia pun pernah mengalami tertipu oleh orang lain karena urusan bisnisnya tidak berjalan dengan baik. Hidup ini seperti menjalani vonis satu ke vonis yang lain. Ia menyebutnya ujian satu ke ujian yang lain.
Seorang yang sudah mengantungi vonis kiranya juga perlu bersikap menerima, ikhlas dengan vonis itu. Mengapa? Apapun vonis itu tetaplah vonis. Ada faktor-faktor yang sudah nyata-nyata terlihat dan memang ada benarnya. Maka kata vonis itu sama dengan "verdict" (dari kata "verus" ; benar dan "dicere" : berkata). Ada benarnya. Ada buktinya. Ada faktor yang menyebabkan penilaian itu terputuskan secara final. Bahwa ada usaha untuk berkelit, menghindar, mengambil keuntungan dari situasi tervonis itu bagiku sah-sah saja. Namun perjuangan yang masih menjadi perlu dan harus adalah untuk mencapai sebuah titik atau level yang namanya berserah, ikhlas.
Orang untuk sampai pada keihklasan itu tidak mudah. Orang akan tetap merasa bahwa aku sesalah apapun itu harus "ngeles" dulu, harus berkelit dulu, sampai pada sebuah titik di mana aku tidak bisa menghindar lagi. Di situlah kita dilatih untuk menjadi berbesar hati (jiwa besar) untuk menerima (self acceptance) bahwa aku ini memang rapuh, aku ini tidak layak, aku ini tidak masuk kriteria. Biarlah sang waktu yang membuktikan atau menyembuhkan pemberontakan diriku yang merasa harus menghindar dari segala macam hal yang telah divoniskan kepadaku.
#inmyroom#

No comments:
Post a Comment