Sunday, April 13, 2014

Piye Kabare?

Daun Palem atau Palma atau Palm menandai perhelatan sebagian orang di penjuru dunia untuk merenungkan sebuah JALAN. Jalan yang satu ini sering terdengar dan didengungkan banyak kalangan tetapi tak jarang pula JALAN ini merupakan jalan yang disingkiri sekian juta orang. Ada yang menempuhnya tetapi tak sedikit yang menyingkirinya. Siapa yang akan menyukai sebuah JALAN kalau melewatinya pun harus kerja keras, "rekasa", "ngaya", "kakehan gaweyan"(orang Jawa bilang), jerih lelah, dan sebagainya. Jalan ini bukan saja berwujud fisik yang ditapaki kaki dari satu tempat ke tempat yang lain.

Memang JALAN ini sering disebut sebagai jalan SALIB. "Jalan koq bernama salib. Jalan koq ada salibnya?" Ya jelas saja siapa mau disalib. Disalib bisa diartikan: (1) didahului ketika kita sedang enak-enak berjalan atau (2) dipaku di kayu palang yang berbentuk salib itu. Dari artinya pun  kita sudah dapat merasakan bahwa itu tidak mengenakkan. Dan ekspresi orang ketika tidak suka bisa bermacam-macam. Ada yang mengatakan "saya sering buat tanda salib tetapi untuk menjalaninya, hmmmm…ya tunggu dulu…." Itu pun diungkapkan dalam hati. Mau terungkap di mulut, masih berat. Takut dinilai tidak beriman, katanya. Ada juga orangtua yang mengatakan, "Ojo nganti anak putuku mengko rekasa kaya jamanku! " (Jangan sampai anak cucu saya nanti sengsara seperti zaman saya dulu). Dan yang lebih mengesan dan dibuat kesan sampai saat ini adalah sebuah gambar yang sudah meluas beberapa waktu lalu. Gambar itu menunjukkan seorang bekas pemimpin negeri ini dengan sebuah kata-kata: "Piye kabare Bro, isih enak jamanku tho?" (Bagaimana kabarnya saudara, masih enak zamanku kan?).

Jelas-jelas, ekspresi manusia di manapun dan kapan pun itu, sering lebih mau mencari enaknya daripada tidak enaknya. Manusia lebih mau mengarahkan hidup ini pada sebuah kenyamanan (yang tentu berbeda dengan keselamatan). Lalu apa bedanya dengan keselamatan? Seorang dosen pernah membandingkan demikian: Pada suatu hari seorang mahasiswa lulus ujian lisan di kampusnya. Karena saking senengnya, ia bersorak-sorak dan naik motor di jalan. Namun karena kurang hati-hati, ia menabrak motor lain di jalan yang ramai itu. Lalu ia dibawa ke Rumah Sakit untuk dirawat karena kakinya patah.

Sementara ia lulus ujian dengan memuaskan tetapi ia tidak lolos dari kecelakaan karena kurang hati-hatinya. Contoh sederhana itu hanya mau menggambarkan bahwa keberhasilannya saat ujian itu adalah kebahagiaan. Tetapi di jalan ketika pulang dari kampus ia masih harus berhati-hati atau bertanggungjawab atas hidupnya. Ia masih harus mengusahakan sesuatu yang lebih dari sekedar lulus ujian itu yaitu pulang sampai rumah dalam keadaan sehat dan dapat merayakan kegembiraan itu dalam keadaan yang baik. Itulah keselamatan.

Itulah JALAN yang harus kita tempuh. Tidak cukup hanya sampai pada kegembiraan dapat lulus dari ujian ini dan itu dalam hidup tetapi sampai batas akhir JALAN hidup itu dialami yaitu sampai sebuah perjumpaan dengan yang ilahi. Entah jalan di dunia ini terjal, berliku, kerja keras, dan penuh tantangan. Dan SALIB adalah sebuah penegasan (setidaknya kata St Ignatius dari Loyola) bahwa JALAN KESELAMATAN adalah JALAN SALIB itu. Jalan yang ditempuh Sang Guru sendiri sampai setia di Golgota. Golgota bukan sebuah akhir, tanpa harapan, tetapi di sanalah konformasi itu akan terjadi. Tanpa salib, iman kita mengatakan, tak ada kebangkitan. Salib sudah dialami sejak awal hingga akhir hidup Sang Guru.

Kembali kepada palma yang melambai-lambai, kembali pula pada perhelatan hidup di mana ada sorak-sorai tetapi juga sorak sorai itu bisa jadi kegembiraan dan pujian; sementara itu nanti sebagai hujatan dan cemoohan untuk membunuh Sang Guru, Raja yang sedang memasuki kotaNya. "Hosana Putera Daud, terpujilah yang datang atas nama Tuhan!" Suatu saat nanti menjadi: "Salibkan Dia ! Bunuh saja Dia!"


Minggu Palem 2014
BM-Solo



The way of the cross, the way that we often avoid. we avoid the WAY because we choose another way. We prefer the easy way to do things. No need to struggle. And I remember the Song: "It's a long road to freedom. A winding steep and high, but when you walk in love with the wind on your wing and cover the earth with the songs you sing, the miles fly by." Let's follow our King to Jerusalem.

No comments:

Post a Comment