Monday, March 10, 2014

Jalan, Perhentian, Melanjutkan

Aku tidak tahu kata yang mana yang harus kupilih. "Akhirnya" tetapi tidak cocok. It's finally but not the end. A final but not an end. Itu kata yang sering kami pakai beberapa hari ini setelah program selama enam bulan kami jalani. Mungkin seperti kata Sang Tersalib, "consumatum est". "Semua sudah terlaksana. Sampun kaleksanan sedayanipun." Tetapi itu pun bagiku belum cukup karena balum semuanya kujalani (mungkin). Ini sebuah perjalanan dan perhentian. Masih harus ada kelanjutan. Dan aku pun masih merasa harus melanjutkan.

Aku bersyukur atas perjalanan ini. Di negeri orang dengan beberapa rekan yang sebelumnya juga kurasakan seperti orang asing di negeri asing. Hidup memang peziarahan, sebagai musyafir. Dan orang Jawa selalu mengatakan "urip kuwi mung mampir ngombe", hidup sekedar mampir minum. Maka apa yang kujalani selama enam bulan hanya salah satu tahapan "mampir ngombe" itu. Tak boleh terlalu lama, tak boleh terlalu menikmati. Menikmati dalam arti krasan dan lekat tentunya. Tetapi krasan dalam arti menjalani dengan sepenuh hati tentu harus. Kuingat ruang dan waktu bersama menjalaninya. Kuingat tenpat-tempat yang "bersejarah" bagiku dan bagi kami. Itulah yang pernah kami jalani. Dalam ruang dan waktu, kami berziarah. Dalam ruang dan waktu itulah kami belajar untuk memberi ruang dan waktu dalam hidup kami bagi sesama. Ya, ruang dan waktu.

Hanya ungkapan terima kasih dan rasa syukur sekali lagi aku buat catatan ini. Bukan sekedar itu sebenarnya tetapi bagaimana aku mengabadikan dalam ruang dan waktu juga karena aku menyadari hidupku saat ini masih ada dalam dimensi itu. Kuingat saat datang awal di bulan September tahun lalu, dan sekarang sudah menjalaninya. Waktu begitu cepat berjalan. Seperti kisah mitos, Dewa Waktu akan mencaplok anak-anaknya sendiri jika tak menyadari akan keganasannya. Sang Waktu, Batara Kala, Kronos adalah namanya. Dan itulah yang kadang dialami anak manusia. Mereka tak hanya saling memakan tetapi kadang secara mental dimakan oleh waktu. Perang adalah saling memakan secara fisik. Tetapi ketika mereka tak menyadari Sang Waktu, mereka kalah perang dengan Sang Waktu.


Betapa benarnya sebuah kebijaksanaan yang selalu mengajak anak manusia untuk hidup dalam alam kesadaran, pemeriksaan batin, pemeriksaan diri. Kesadaran adalah senjata untuk berperang dalam perjalanan hidup. Kesadaran adalah senjata dalam berperang. Dengan kesadaran aku berjalan (semoga). Dengan kesadaran aku berhenti (semoga). Dengan kesadaran aku melanjutkan (semoga). Itulah mantra yang harus selalu kulantunkan dalam peziarahan hidup.


Dan semoga lyric lagu "Show me The Way" dari Styx ini menjadi mantraku berjalan terus dan terus…


Every night I say a prayer in the hope that there's a heaven
And every day I'm more confused as the saints turn into sinners
All the heroes and legends I knew as a child have fallen to idols of clay
And I feel this empty place inside so afraid that I've lost my faith

Show me the way, show me the way
Take me tonight to the river
And wash my illusions away
Show me the way

And as I slowly drift to sleep, for a moment dreams are sacred
I close my eyes and know there's peace in a world so filled with hatred
That I wake up each morning and turn on the news to find we've so far to go
And I keep on hoping for a sign, so afraid that I just won't know

Show me the way, Show me the way
Take me tonight to the mountain
And wash my confusion away

And if I feel light, should I believe
Tell me how will I know

Show me the way, show me the way
Take me tonight to the river
And wash my illusions away
Show me the way, show me the way
Give me the strength and the courage
To believe that I'll get there someday
Show me the way

Every night I say a prayer
In the hope that there's a heaven...




 morning in #504#



No comments:

Post a Comment