Thursday, March 6, 2014

No Room for Them

"…because there was no room for them in the inn." Aku selalu mencari jawaban. Jawaban itu kutemukan. Ruang, tempat sekali lagi aktual bagiku saat bermenung. "Tak ada lagi tempat bagi mereka dalam penginapan." Ya, itu kalimat yang begitu mengena. 

Kudengar sayup-sayup dari kejauhan, suara tangis bayi yang sesekali merintih. Kain lampin yang membungkusnya melindungi udara dingin malam itu. Ibu dan bapaknya ada di bayi yang lemah itu. Ibunya berkata kepada pria itu, "Terima kasih atas cintamu. Terima kasih atas seluruh perhatianmu". Pria itu kadang hanya mengangguk. Sedikit ia berkata, "Istirahatlah. Tubuhmu masih lemah." Dalam wajahnya tersirat kecapaian sehabis berjalan menuntun keledai tunggangan dengan beban istri dan barang. Sesekali rintihan dan suara bayi terdengar. 

Bau kandang dan sunyi malam tiba-tiba berubah dengan bunyi suara kaki berjalan, bunyi langkah beberapa laki-laki. "Wow, benar. Ada orang di kandang itu, " salah seorang memastikan. "Saudara, maaf, kami hanya ingin melihat kalian dan bayi yang baru saja lahir. Kami diberitahu Suara di padang gurun, waktu kami menjaga kawanan domba. Lalu kami bergegas ke sini." Yang lain berkata, "Sssstt..! Jangan berisik ! Kasihan bayi itu. Nanti dia terbangun." Pasangan itu hanya bisa tersenyum, menyapa mereka, dan mempersilakan masuk, "Iya, kemarilah. Temani kami. Kami pinjam tempat ini sekedar untuk meletakkan kepala kami. Apalagi istri saya baru saja melahirkan."

Mereka sedikit berbincang. Perjumpaan itu membawa kehangatan di tengah malam dingin. Perjumpaan itu memberi ruang kebahagiaan di tengah sunyi dan sesaknya suasana karena semua tak menerima kehadiran orang lain. Para gembala sadar agar keluarga dan bayi itu istirahat, maka pamitlah mereka untuk kembali ke padang. Dalam perjalanan, terdengar celotehan mereka, "Apa benar itu Mesias?" Yang lain menanggapi, "Tadi kita diberitahu Suara di padang dan kita ketakutan. Apa kamu masih belum percaya?" Yang lain menimpali, "Sampai saat ini aku masih bingung, setengah percaya, setengah tidak. Tetapi aku merasa yakin, itu Mesias." Banyak celotehan lain lagi. Kemudian salah satu mengatakan, "Hai teman, yang pasti kita senang. Kita harus memuji Allah. Kita sudah melihat sendiri apa yang dikabarkan Suara tadi. Aku tak peduli apakah itu Mesias atau bukan. Tetapi kita dikabari oleh Suara itu dan ketika kita membuktikannya, benar terjadi! Luar biasa! Terpujilah Allah!"


Malam kembali sunyi disinari gemintang di angkasa. Malam itu diterangi sinar hangat bagi hati sementara orang yang berjumpa dan saling berbagi kisah kasih. Kisah di antara yang tak digapai banyak orang. Mereka tak punya ruang di hati banyak orang. Namun malam itu telah menjadi peristiwa perjumpaan……. Ibu, bapak, dan bayi itu terlelap dalam pelukan sunyi malam. 







#Malam Sunyi Sang Bayi Suci#
(inspired by Luk. 2: 7)





"….because there was no room for them in the inn." Only they who had heart for others could see the Messiah. Since He came in the world, the world refused Him. He has no room. He and his mother and father have no room. We are called to have, to live and to share God's space in our heart to others.… Blessed are the poor in spirit, for theirs is the kingdom of heaven...Blessed are the pure in heart, for they will see God. 

No comments:

Post a Comment