Memilih dan menentukan adalah sebuah praktik hidup manusia setiap saat. Namun di saat tertentu, pilihan itu harus dibuat semacam pesta rakyat besar-besaran. Itulah waktu-waktu ini yang sarat dengan keramaian untuk sebuah pilihan presiden. Orang dibawa pada kegaduhan sana sini. Bahkan saking ramainya, orang dibawa pada sentimen sana dan sini. Permusuhan demi permusuhan dilontarkan dengan kata-kata yang berserakan di sana sini. Jika dihitung dengan mesin, mungkin sudah trilyunan kata dan ungkapan permusuhan dan sentimen perseteruan itu. Yang selalu membuat aku menjadi tidak habis pikir adalah ungkapan salah data dan penuh dengan yang tak logis meluncur begitu saja. Dan orang juga mau menelan mentah-mentah karena sudah terkontrol oleh sentimennya.Inilah yang kemudian menjadi penting karena sebagai keturunan Sapiens, aku menjadi terusik. Homo Sapiens yang memenangkan proses evolusi selama jutaan tahun hanya kemudian mau menjadi mundur peradabannya karena perseteruan tertentu. Ini kutulis karena tertarik dengan tulisan Yuval Noah Harari, seorang ahli sejarah dunia dari Oxford. Ada 3 tahap penting dalam proses revolusi manusia: revolusi kognitif mengawali sejarah sekitar 70.000 tahun silam, revolusi pertanian mempercepat sejarah sekitar 12.000 tahun silam, dan revolusi sains yang baru mulai berlangsung 500tahun silam yang boleh jadi akan mengakhiri sejarah dan mengawali sesuatu yang berbeda.
Fokus pada revolusi kognitif, sekitar 2,5 juta tahun silam otak manusia paling awal memiliki kira-kira 500-600 cc. Homo saipiens modern otaknya memiliki rata-rata 1200-1400 cc. Ini membawa banyak efek pada hidup Homo Sapiens. Ia tidak lagi mempunyai otot yang kuat seperti sebelumnya. Ia juga harus lama untuk mengusahakan makan dan meramunya bagi kehidupannya. Bayi sapiens pun seperti lahir "prematur". Artinya, ketika masih bayi, ia tidak bisa langsung bisa mandiri dan mencari makan sendiri. Ia harus dibantu oleh induknya sampai usia cukup mandiri untuk hidup. Namun kemampuan untuk berkomunikasi dan berpikirnya makin luas dan luar biasa. Dikatakan bahwa mutasi-mutasi genetik tanpa sengaja mengubah sambungan di dalam otak Homo Sapiens, memungkinkan mereka berpikir dengan cara-cara berpikir yang tak pernah ada sebelumnya dan berkomunikasi menggunakan jenis bahasa yang sepenuhnya baru.
Dari apa yang kupikirkan di awal, aku kemudian mau melihat kembali dengan pertanyaan-pertanyaan ini: apakah manusia (lanjutan dari Sapiens) kemudian mau menyusutkan kapasitas otaknya sehingga tidak berpikir panjang lagi untuk hidup bersama? Artinya apakah demi kemenangan kelompoknya lantas tidak berkembang pikirannya dan hanya berpikir untuk kalangan kelompok saja? Jika melihat gerakan-gerakan radikal sepertinya peradaban terancam oleh kepicikan cara berpikir kelompok tertetu. Apakah cc-nya mau disusutkan menjadi 500-600 cc lagi? Artinya ini menjadi lucu karena pada dasarnya makhluk itu selalu bereveolusi dan berkembang. Jika nalar tidak mau diajak berkembang, bagaiman peradaban akan berkembang? Keramaian kampanye pilpres ini membuktikan kemamuan kognitif sapiens yang menjadi aktor dan pendukung siapa dan mana yang cukup bernalar dan logis. Dan inilah yang kemudian menjadi memalukan jika manusia alias sapiens koq memilih yang tidak logis dan bahkan rekam jejak hidupnya jelas tidak menunjukkan ke-sapiens-an, yaitu mantan pembunuh, penculik, psikopat. Sapiens berarti cerdas dan bijaksana. Oleh karena itu, kecerdasan dan kebijaksanaan menjadi pertaruhan dalam pertarungan ini.
Relakah kita menjadi mundur dan tidak berarti lagi dalam hidup ini sebagai makhluk yang berpikir dan mempunyai kebijaksanaan? Kiranya kita perlu berpikir lebih dalam dan jernih bahwa kita adalah sapiens yang punya kemampuan berpikir dan bijak dalam bertindak, termasuk dalam memilih. Namun kadang ada fenomena yang ironis dalam hidup. Sama seperti kasus Jerman di era Perang Dunia II. Bagaimana bangsa Jerman yang terkenal dingin dan rasional, banyak ilmuwan datang dari sana, bisa memilih dan percaya pada Der Fuhrer si Hitler yang kejam dan irasional (dalam arti tertentu)? Di era itu kekejaman demi kekejaman bisa terjadi dan menghabiskan nyawa jutaan orang Yahudi karena dibantai. Alasannya, sentimen ras dan mungkin karena kepentingan politik-ekonomi. Itulah salah satu tragedi dalam sejarah Sapiens. Belum lagi kalau itu kita tarik di Indonesia pasca 1965, tentu juga ini bisa diperbandingkan dengan tragedi Nazi Jerman.
Dalam sebuah kontes, yang terpenting adalah bagaimana nalar dan kebijaksanaan itu menjadi penentu dalam pilihan kita. Pertimbangan nurani juga perlu melihat rekam jejak sejarah. Dan sekarang orang dengan mudah akan menilai sebenarnya. Jika hanya menutup mata (nurani) maka sejarah sapiens akan menjadi sejarah kemunduran peradaban.
#morning#
min numpang share ya ^^
ReplyDeleteHayyy guys...
sedang bosan di rumah tanpa ada yang bisa di kerjakan
dari pada bosan hanya duduk sambil nonton tv sebaiknya segera bergabung dengan kami
di DEWAPK agen terpercaya di add ya pin bb kami D87604A1 di tunggu lo ^_^