Menghilang tanpa izin, itulah yang terjadi beberapa hari lalu. Seorang anak "nyangkut" ke tempat kakeknya di sebuah desa. Alasannya sederhana, "Kalau aku harus izin dan bilang Pamong, maka akan tidak diperbolehkan." Anak itu sudah tidak krasan tetapi tidak mau bilang ke Pamong. Bahkan tidak pernah bilang. Ternyata dalam diamnya itu, ia merancang taktik untuk keluar dan akhirnya menghilang untuk selanjutnya pamit memutuskan tidak mau meneruskan perjalanan di asrama. Hidup ini adalah perjuangan. Hidup adalah peziarahan. Hidup memang menantang dan penuh tegangan. Karena itulah aku hidup. Karena itulah kehidupan itu penuh dengan berbagai tawa, kesedihan, pengkhianatan, kekecewaan, kehilangan, kemurungan, tetapi juga ada yang sebaliknya: berani berjuang, tertantang, tergugah dan tergugat. Maukah berjalan?Sudah ada tiga anak belum sebulan ini yang jebling karena tidak krasan. Ada yang melihat memang motivasinya rendah. Ada yang memang motivasinya dari orangtua. Ada yang karena sudah terbiasa terfasilitasi di rumah ketika melihat kesederhanaan di asrama ini, lalu hatinya ciut dan memutuskan kembali ke zona nyaman sebelumnya. Bagiku ini sekarang adalah soal kesanggupan untuk berpindah. Pindah dari zona nyaman dalam hidup dan berpindah, menyeberang ke zona yang tidak nyaman dengan satu alasan, menjadi pejuang yang harus berziarah.
Mungkin waktu dulu belum pernah ada pikiran seperti anak-anak zaman ini yang makin kompleks dan canggih pemikirannya. Apalagi fasilitas hidup sangatlah melimpah. Fasilitas membantu orang hidup mudah. Fasilitas tak menantang orang berjuang. Fasilitas menjadikan orang pandai berpikir untuk mendapatkan kemauannya. Dari asrama penuh perjuangan, daripada tidak krasan, hati terus bergulat, kalau bilang ke Pamong pasti akan diulur-ulur, maka escape saja dari kelompok dan bilang kepada rekan-rekannya bahwa "kalau sampai jam 07.00 malam aku belum kembali, jangan cari aku. Aku tidak akan bersamamu lagi." Sebuah keputusan sudah dibuat. Mungkin ia akan menjadi pejuang di luar sana dengan hati yang teguh. Mungkin tempatnya memang bukan di sini. Aku hanya berharap saja.
Aku hanya membayangkan waktu itu, dalam kehidupan yang serupa, aku tak kepikiran akan menghilang atau escape atau lari bahkan. Yang ada dalam diri rekan-rekan dan aku sendiri paling hanya menangis saat kesepian, tak krasan dan memang ada temanku yang menangis di pojok kamar tidur. Dia tak krasan. Baru seminggu ia akhirnya pulang. Tak seperti awal nafsu menggebu, kemauan tinggi setingkat dewa. Ketika menjalani realitasnya, ternyata penuh perjuangan. Namun demikian, yang mampu merasakan didikan ketidakmapanan, keterasingan, kegundahan, ketidaknyamanan, kini aku merasakan rahmat itu ada di sana.
Aku dapat merasakan Pamong yang kehilangan. Saat ini aku berada dalam posisi yang merasakan kehilangan. Sama seperti kisah domba yang hilang, pemilik atau gembalanya sampai harus mencari sampai ketemu dan ketika ketemu, ia sangat bergembira. Ditemukannya yang hilang, walau tak akan kembali pun setidaknya sudah ayem. Merasa tenang karena setidaknya, ia bisa ngaruhke, melihat sendiri, dan tidak meninggalkan. Setidaknya ada kehendak, niat bahwa si empunya tidak membiarkan pergi begitu saja. Tidak membiarkan dombanya hilang.
Memilih hidup jauh dari keluarga memang tidaklah gampang. Pilihan dengan segala komitmen dan konsekuensinya hanyalah bagi orang dewasa. Orang dewasalah yang mau menghidupi kehidupan yang tidak nyaman. Ketidaknyamanan bukan berarti kesengsaraan. Ketidaknyamanan adalah bagian dari kehidupan ketika orang harus menyeberang. Ketika pengalaman menyeberang itu menang, ia menjadi pribadi yang menempuh jalan keluaran, exodus. Seperti bani Israel keluar dari Mesir, mereka pun harus bergulat 40 tahun lamanya. Musa yang memimpin pun tak sampai tanah terjanji. Di Masa dan Meriba pun mereka memberontak dan protes kepada YHWH. Pelajaran dan didikan YHWH saat exodus itulah yang menjadikan mereka bangsa yang teruji.
Tak bisa orang hidup hanya lari dari masalah. Tak mungkin orang hidup hanya memilih yang nyaman. Tak bisalah orang hidup hanya berdasar kesukaan. Tidak semua itu dapat kita pilih dan kontrol. Ada kalanya hidup kita sangat ditentukan orang lain atau kondisi atau situasi di luar batas kendali kita, dan kita harus menjalaninya. Itulah kiranya didikan saat merenungkan situasi anak menghilang dan Pamong kehilangan.
*Sometimes, we live just like the prodigal. We lost. We escaped from our problem. But actually, we have to face it till we can find ourselves.
#Evening in my room#
No comments:
Post a Comment