Sunday, July 17, 2022

Ruang

Ini bukanlah sesuatu yang menyangkut tiga dimensi. Bukan pula yang menyangkut sesuatu yang kelihatan oleh mata. Aku masih tetap tertegun oleh apa yang sedang kualami dalam hidup dan aku merasakan campuraduknya segala sesuatu. Saat kuingat kejadian yang kualami beberapa waktu lalu, aku memasuki sebuah ruang gelap yang tak bisa kuukur luasnya. Ruang itu hanya gelap. Itu yang kumasuki. Dari situ aku hanya mendengar suara yang warnanya sama seperti suara bapakku. Aku tak tahu datangnya dari mana, namun suara itu jelas terdengar dan aku pun masih ingat sampai sekarang. "Katresnan iku ya labuh labete urip." Aku tak mau bicara tentang apa itu "katresnan", namun aku hanya mengingat saat itu, saat setelah suara itu terdengar dalam ruang gelap yang nan luas tak terukur, aku hanya bisa menangis. Aku tidak sampai sesenggukan namun air mataku berlinang saat itu. Mungkin itu adalah saat kuingat terakhir kali aku meneteskan air mata. 

Aku seperti mengingat ke belakang lagi. Aku ingat saat bapakku membawakan roti bolu sendiri, sore-sore dan aku menemuinya saat di asrama. Saat itulah, aku meneteskan air mata setelah bapakku pulang. Aku hanya bisa mengenang bahwa bapak ternyata mencintaiku. Aku yang semula tak pernah setersentuh ini, justru dengan apa yang dibuat bapak itu, dan tentu kukaitkan dengan suara yang terdengar dalam ruang gelap yang luas itu, aku akhirnya sadar bahwa saat itulah aku mengalami rekonsiliasi. Entah mengapa, aku juga tidak sepenuhnya memahami. 

Di saat ini, saat di mana beban hidup makin terasa nyata, aku kembali mendapatkan ruang itu. Ruang dimana aku memang sedang "to give space for time and time for interior space" di sini. Di saat segalanya seperti runtuh, gelap, hancur, kotor, meaningless, aku pun mencermati diriku: "Apa yang sedang terjadi?" Aku mencoba "wiweka" apakah aku akan hancur oleh kegagalanku? Apakah aku was-was dengan segala yang akhirnya membuat aku terlihat buruk? Aku makin disadarkan oleh kenyataan diriku bahwa ada hal-hal yang tak bisa dikontrol oleh diriku semua. Semula yang kuanggap baik-baik saja, ternyata tidak. Semula yang kuanggap bisa dipercaya, ternyata tidak. Semula yang kuanggap sudah bisa diminimalisir, ternyata karena satu dan lain hal, tentu ada persoalan yang diriku tak paham seluruhnya, akhirnya merusak. Aku sadar sepenuhnya bahwa ada kesalahan itu pasti. Kesalahan yang terus direproduksi dan dimonitor kemudian diangkat terus tentu akan membuat hidup ini tak tahan. Tentu, tidak mengapa bahwa diri ini sedang tidak baik-baik saja. Pergumulan yang dihadapi tentu memakan waktu. Ada saat di mana ruang kesalahan itu dimasuki, bukan karena itu diproduksi terus-menerus, namun jika hal itu terjadi secara kasunyatan, aku pun juga harus siap memasukinya.

Di mana ada ruang kesalahan, (aku berharap) di situ ada ruang pengampunan. Dan siang ini aku tersentuh dengan ungkapan ini: "For where love is concerned, silence is always more eloquent than words." Aku hanya menyambungkan puzzle-puzzle dalam kepingan-kepingan hidupku dari memasuki ruang gelap yang luas kemudian ingatan akan bapakku yang membawakan roti bolu dan suara-suara yang terngiang dalam benakku yang sampai saat ini masih membekas. Di saat aku mengalami "down", rupa-rupanya ada sebuah memori yang menggerakkanku untuk tetap mampu menapaki hidup walau itu berat. Saat ini aku memang diam. Aku lebih banyak beban yang membuatku harus diam. Diam bukan berarti terbungkam namun diam karena aku memang harus diam. Diam itu diam bukan pasif tetapi diam untuk lebih memberi ruang bagi waktu dan waktu bagi "jagad cilik" berbicara lebih tajam bagi nuraniku. Diam ini adalah diam untuk mendengarkan lebih tajam dan teliti. 

Mungkin suara di ruang gelap yang luas dan memori bapakku yang membawa roti bolu itu adalah sebuah rentang waktu dalam ruang dan sekaligus ruang dalam waktu yang menyadarkanku akan kerapuhan, rekonsiliasi, dan "katresnan". Dan aku sadar bahwa seburuk-buruknya diriku, sejatuh-jatuhnya diriku, sekotor-kotornya diriku, dan apapun yang dikatakan itu jelek, aku masih harus sadar aku ini sudah tercipta dan dicipta oleh karena "katresnan" itu sendiri. Aku terhubung dengan rantai ruang dan waktu dengan seluruh rantai ruang dan waktu kehidupan itu sendiri. Rantai ruang dan waktu yang tercipta oleh Sang Pencipta dan itu kusebut untaian "katresnan" dari yang mencipta, lewat para leluhur dan keluargaku. Leluhur tidak terbatas di lingkup keluargaku namun leluhur seluruh ciptaan dari bermilyar-milyar tahun yang lalu sebelum dan setelah terciptanya homo sapiens. 

Malam ini, kurenungkan diriku dan segala kerentanan hidup dan segala resiko yang harus dihadapi. Malam ini kubawa seluruh pergulatan dalam diam. 


#inmyroom#

No comments:

Post a Comment