Saturday, September 24, 2022

Pengasingan

Aku menyatakan diri bahwa manusia itu jauh dari sempurna. Namun demikian adagium ini tidak mudah diterima begitu saja. Sejak manusia berkisah pun itu sudah terjadi. Ketidakmudahan menerima bahkan saudaranya sendiripun terbukti. Teringat ini, aku pun mencoba menelusur perjalanan kisah manusia sejak ada dalam narasi. Aku hanya bersumber dari satu narasi yang cukup dikenal. Sedangkan aku percaya tentu masih ada narasi-narasi primordial asali lain yang tentu senada. 

Karena kecemburuan hati seorang Kain maka Habel pun disingkirkan. Mereka ada saudara. Persembahan Habel lebih diterima Allah daripada milik Kain. Itulah sebabnya kedua saudara ini menjadi bermusuhan. Kisah ini sepertinya bernada (seolah-olah, jika dilihat dari pihak yang tidak terima) Allah pilih kasih ketika menerima dua persembahan dari dua saudara ini. Inilah pembunuhan pertama, "the first murderer" dalam narasi peradaban manusia. Kain sebenarnya tahu bahwa ketidakmurahan hatinya bukan terjadi begitu saja. Ia melatih diri untuk tidak murah hati, ia tidak melakukan apa-apa untuk murah hati. Iri hati bukanlah perasaan yang muncul begitu saja, tetapi suatu kesengajaan. 

Oleh karena itu, yang terjadi adalah bagaimana menyingkirkan Habel, adiknya. Ia mencoba membungkam Habel. Ia menghapus keberadaannya. Ia membunuhnya. Membunuh bisa dimulai dengan memperkeras suara kepada pihak lain, marah. Membunuh bisa dengan mengatakan hanya yang ada di kepalaku sendiri dan tidak mempertimbangkan sudut pandang orang yang kuajak bicara. Membunuh bisa saja dengan berbagai cara yang membuat orang lain sakit, terluka, marah, trauma, kecewa, cemas, tidak nyaman, mengintimidasi, dan berbagai tindakan yang ujungnya meniadakan orang lain karena demi keberadaan dirinya dan memuaskan kehendak dirinya. Bisa saja orang terus-menerus mengulang permintaan atau penjelasan atau tuntutan kepada pihak lain.

Padahal Allah sudah bertanya kepada Kain, "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya." Hal itu tidak dihiraukan Kain lagi. Ia pun segera menerima godaan dan hanya ada kemarahan, sehingga tindakan pembunuhan pun terjadi. Ketika di padang itu, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia. 

Karena Kain membunuh, darah Habel pun bertetiak sehingga Allah mendengar. Ia bertanya, "Apakah yang telah kau perbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepadaku dari tanah. Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu...; engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi." Kain menjadi terasing dari dirinya. Kain terasing dari tanah dia berpijak asalnya. Kain terhempas karena ia bersekutu dengan kemarahan dan iri hatinya.  

Membunuh atau dibunuh itu tergantung dari sudut pandang siapa yang akhirnya lebih kuat, lebih berkuasa. Semula bisa saja orang dituduh sebagai pembunuh, tapi di periode yang lain, ia dibunuh karena situasi politik berlawanan dari situasi yang membuatnya berkuasa sebelumnya. Bahkan narasi bisa saja dibelokkan karena kekuasaan narasi itu dibangun demi kepentingan tertentu. Dalam sebuah keluarga besarpun ada yang menjadi pembunuh dan ada yang menjadi pihak yang terbunuh. Kisah Kain dan Habel menjadi terus berulang dalam bilangan kisah sejarah manusia dari zaman ke zaman. Membunuh dan dibunuh itu sesuatu yang terus berulan, dan kata Pengkotbah tidak ada yang yang baru di bawah matahari. Dan segala sesuatu ada waktunya. Perpolitikan telah membuktikan bahwa yang dianggap berkuasa pun bisa terbunuh secara massal dan dihilangkan demi kepentingan politik kekuasaan yang lebih besar. Bahkan mengakui bahwa yang membunuh dan pembunuhan massal telah terjadi itu adalah kesalahan itu pun sampai saat ini belum dibuat. Masih ada balok besar yang menghalangi untuk sebuah pengakuan dan meminta maaf. 

Manusia masih memilih mengasingkan diri dari tanahnya dan lebih memilih mengembara dalam keterasingannya. Mengasingkan orang lain dengan meniadakan keberadaannya seperti sebuah pola yang sejak adanya manusia sudah diturunkan. Dirinya pun akhirnya terasing. Aku sadar bahwa diasingkan itu tidak mudah. Diasingkan itu harus berhati-hati. Diasingkan itu selalu diawasi dan dicurigai. Hidupnya seolah diawasi dan disorot. Geraknya dibatasi. Hidupnya rentan. Keselamatannya tidak terjamin. Seolah-olah yang mengasingkan itu mau mengurusi setiap gerak geriknya. 

Aku sadar bahwa sering banyak orang (mungkin diriku juga) menganut aliran ideologi "Kainisme dalam perbuatan dan kata-kata". Aku mengakui bahwa tentu ada pihak-pihak yang telah kulukai dan kusingkirkan secara sengaja atau tidak. Aku bahkan menemui sendiri bagaimana kainisme itu sudah mempengaruhi pola perilaku manusia dari zaman ke zaman yang karena kemarahannya, ia sebenarnya belum berdamai dengan kesakitan, trauma, kecemasan, ketakutan dan frustrasinya. Itu semua diproyeksikan kepada pihak lain ke semua arah dan seperti api yang memercik semua terkena dampaknya. Tersulut sedikit, api kemarahan itu membakar semua hal di sekitarnya. 

Aku akhirnya hanya bisa menengok pada diriku. Kucoba berserah dan memohon rahmat ilahi agar keluar dari keterkurungan "tanah asing" karena aku seperti "pelarian" yang terbuang sehingga menjadi "pengembara". Aku sadari bahwa diri ini jauh dari sempurna, orang lain pun juga. Harapannya adalah ada waktu yang akan menjawab kegelisahan orang di tanah terasing ini. 



#gotinspirationinthenite#

 

No comments:

Post a Comment