Friday, December 30, 2022

Perputaran

Setiap saat kita mengalami perubahan. Entah perubahan itu dalam waktu cepat atau lambat. Kita semua itu revolutif sekaligus evolutif. Bumi pun mengalami gerak itu.  Ada yang namanya rotasi. Kita mengalami setiap hari, karena lamanya 24 jam. Maka ada siang dan malam. Sedangkan kalau revolusi, kita alami setiap 365 seperempat hari atau setahun. Maka ada pergantian tahun. Menurut beberapa sumber yang kubaca kecepatan mengelilinginya kurang lebih 100.000 km/jam. Sedangkan kecepatan rotasi adalah 1.670 km/jam. Gerak planet biru ini juga membuat makhluk hidup di atas dan di dalamnya juga bergerak. Ada peristiwa-peristiwa. Ada perubahan. Ada yang tetap. Ada yang hilang. Ada yang tumbuh. Ada yang bergerak cepat. Ada yang bergerak cepat. Ada yang karena kecepatan jadi kecelakaan, ada yang bertumbukan. Ada yang melambat. Ada yang melompat cepat. Cepat atau lambat itu akhirnya juga relatif. Kecepatan yang paling cepat adalah kecepatan cahaya. Belum ada yang menandingi. Kita baru memakai km/jam dan belum memakai kecepatan cahaya. 

Tahun 2022 akan berpindah ke tahun 2023. Tutup tahun 2022 pasti akan dirayakan dengan menyambut tahun 2023. Setiap tahun akan ada acara tutup tahun dan menyambut tahun baru. Ada bunyi terompet. Ada kumpul-kumpul. Ada pertunjukan-pertunjukan, dan masih banyak lagi. Sepertinya setiap tahun selalu sama. Ada juga sih yang beragam cara merayakannya. Tetapi untuk saat ini aku merasa bahwa perayaan-perayaan seperti itu harus kualami sebagai hal yang rutin dan tidak perlu selalu diikuti. Ya, mengikuti dengan sikap "low profile" saja. Hura-hura, hiruk pikuk, pesta pora, bukan duniaku. Istilahnya "it's not me". Aku cenderung melihat semua itu dalam kacamata batin yang lebih hening. Melihat perubahan, perputaran semua itu adalah bagian dari jalan hukum-hukum alam semesta. Orang-orang mencari momentum dan tempat untuk merayakan. Bagaimanapun aku juga tidak bisa menilai yang lain-lain itu jelek. Itu soal selera. Dan soal selera tidak bisa diperdebatkan.

Rasanya secara jagat cilik, duniaku selama sehitungan revolusi bumi ini adalah masa-masa penuh

pergolakan. Ada suka. Ada duka. Ada kegembiraan. Ada kesedihan. Ada kegalauan. Ada harapan. Namun demikian, aku merasakan dan menyadari bahwa hidup itu tidak selalu datar. Hidup kadang naik, kadang turun. Kadang itu menyenangkan secara fisik dan psikis. Kadang itu menyeramkan, mencemaskan, membuat galau, kalut dan sebagainya. Hidup itu ada dalam ruang dan waktu, tidak ada yang selalu sama dan tidak ada yang selalu berubah dan sebaliknya. Perubahan itu niscaya. Yang tetap pun ada. Jagat gedhe memang juga ada banyak pergolakan. Ada perang di zaman ini (Rusia vs Ukraina). Perang-perang kecil pun terjadi dimana-mana. Ada kemenangan, ada kekalahan dalam piala dunia yang diselenggarakan di Qatar beberapa waktu lalu. Ada bencana alam. Ada kerusuhan. Ada kematian ratusan jiwa di Malang. Ada bencana dimana-mana, seperti Cianjur. Banjir, gempa bumi, tanah longsor seperti langganan tiap tahun.  Tapi masalahnya adalah random, kita tidak bisa menebak dimana akan terjadi. Tindakan preventif pun -karena saking bebalnya- jadi tidak berguna karena alat pendeteksi banyak dicuri, analisa dan informasi tidak segera diumumkan dan sebagainya. Manusia masih banyak bebal dalam belajar.

Aku percaya pada perubahan. Aku percaya pada dinamika. Tidak ada sesuatu yang selalu akan sama. Walau ada yang mengatakan "tidak ada yang baru di bawah matahari". Memang. Secara prinsip mungkin sama, tak ada perubahan. Namun secara gerak, bentuk, macam, cara kadang ada perubahan. Bahkan aku pun mempercayai bahwa suatu saat institusi besar yang namanya "pasamuan suci" ini akan berubah, dan aku mendambakan perubahan. Entah perubahan itu radikal atau tidak. Kalau yang radikal itu masih ditakuti atau ditolak, maka perlu perubahan yang pelan mungkin. Perubahan itu ada dalam angan dan harapan di hati. Judul-judul lagu yang dinyanyikan Chrisye pun mungkin mewakili. "Badai pasti berlalu". Ada "Kidung" yang syairnya berbunyi "Tak selamanya mendung itu kelabu." Perubahan itu pasti ada. Perubahan dari yang baik ke yang buruk atau dari yang buruk ke yang baik. Entah kapan akan terwujud. Tidak semua perubahan itu kita ketahui. Ada juga sih perubahan yang kita desain, rancang, dan buat. Aku banyak belajar sabar, rendah hati, menerima kepahitan dan pengkhianatan dalam hidup. Kadang terasa menyakitkan. Kadang harus kuterima sebagai akibat dari kesalahan dan kerapuhanku. Itulah nuansa-nuansa dinamika dalam menjalani hidup dan perputaran di atas planet bumi ini. 

Persoalannya adalah kadang kita ingin cepat-cepat. Kita tak mau melambat. Bahkan kadang dalam hidup ini seolah-olah semua itu harus cepat. Zaman ini memang semua serba cepat. Bahkan gaya main sepak bola pun mengandalkan kecepatan. Yang cepat itu memang tidak membosankan. Namun ketika kecepatan yang diutamakan, maka sering yang terjadi adalah mudah hilang dan lupa. Itu fenomena zaman ini. Semua serba cepat, bahkan makanan pun cepat saji. Mengunyah itu rasanya saat ini menjadi sesuatu yang tak biasa. Tubuh manusia itu hanya menerima yang sudah diolah, pabrikan. 

Di kesempatan refleksi dan merenung di akhir tahun ini, aku hanya mau mengutip apa yang ditulis oleh Pierre Teilhard de Chardin. Sepertinya yang terurai olehnya itu mewakili pergumulanku, peristiwa-peristiwa hidupku selama setahun ini:

Above all, trust in the slow work of God.
We are quite naturally impatient in everything 
to reach the end without delay.

We should like to skip the intermediate stages.
We are impatient of being on the way
to something unknown, something new.

And yet it is the law of all progress
that it is made by passing through
some stages of instability - 
and that it may take a very long time.

And so I think it is with you;
your ideas mature gradually - let them grow,
let them shape themselves, without undue haste.

Don't try to force them on,
as though you could be today what time
(that is to say, grace, and circumtances acting on your own good will)
will make of you tomorrow.

Only God could say what this new spirit
gradually forming within you will be.

Give Our Lord the benefit of believing
that his hand is leading you,
and accept the anxiety of feeling yourself 
in suspense and incomplete.




#noontimebeforelunch#

No comments:

Post a Comment