Ketika aku mencoba mencari dan terus mencari, baru yang ketiga itu yang cocok. Dan cocoknya pun perlu sebuah uji coba dengan proyektor. Apakah karena kabelnya yang juga menentukan atau yang lain, aku juga setidaknya hari ini tadi sekedar mencoba alat yang memang cocok dengan kabel yang spesifik untuk sambungan HDMI. Sayangnya memang aku belum mencoba kabel yang menjadi sambungan HDMI dengan connector/thunderbolt/converter yang memang kucari-cari. Mungkin baik juga besok aku mencoba untuk mengoperasikan dengan dua konektor sebelumnya yang ketika kucoba tidak beroperasi.
Uji coba dan pencarian itu memang perlu. Dalam ilmu pengetahuan, aku ingat akan langkah-langkah penelitian ilmiah sampai pada titik penemuan. Ibaratnya, sebuah perjalanan, aku menyebutnya kelokan-kelokan yang harus dilalui. Ketika berjalan dan menemukan kelokan, tentu kita akan melaju dengan kecepatan yang berbeda dari ketika kita berjalan di jalan lurus. Kelokan biasanya membuat orang harus berjalan melambat dan sedikit berhati-hati, apalagi kelokan itu ada tanjakan atau turunannya. Ketika kita memakai alat transportasi itu baru akan terasa. Ketika hanya jalan kaki mungkin tidak sehati-hati kalau mengendarai mobil atau motor. Kelokan adalah fase berhati-hati. Biasanya ada rambu-rambu yang memperingatkan kita agar lebih berhati-hati dan waspada. Ketika jalan tidak ada yang lain pun kita perlu hati-hati, apalagi ketika ada yang berhenti atau mogok di kelokan itu. Kalau tidak waspada, kita bisa menabrak atau mencelakai orang di sekitar kita.
Ibaratnya dalam sebuah kelokan, aku pun harus berhenti sejenak, berhati-hati, banyak perhatian dan membaca tanda-tanda yang ada. Aku tidak akan menancap gas dulu ketika di kelokan. Aku juga mungkin perlu perhatian juga dan membaca dengan baik ketika mencari dan mencari mana yang pas dan cocok ketika mencari konektor tadi, walau memang kasusnya aku sudah mencoba dua kali membeli namun baru cocok yang ketiga.
Menerima atau tidak, aku perlu siap dengan ketidaknyamanan dalam sebuah perjalanan. Kadang kelokan membuat orang harus merasa tidak nyaman. Orang perlu lebih mengamati sekitar. Orang perlu lebih mencermati bahwa tidak bisa serta-merta kita berjalan dan merasa seperti di jalan biasanya. Orang perlu sadar harus ganti perseneleng rendah, bukan karena nanjak saja. Kelokan juga perlu menjadi peringatan bagiku untuk sedikit bersabar. Tidak hanya itu, aku perlu rendah hati untuk bersabar. Kadang orang merasa bahwa kesabaran itu hanya soal waktu. Tetapi lebih daripada itu, kesabaran itu soal kerendahan hati untuk tidak cepat-cepat seperti kecepatanku. Tidak membanding-bandingkan seperti standarku. Tidak merasa diabaikan dan tidak berguna lagi karena selama ini aku banyak peran dan tugas-tugas yang menjadikan aku berada di posisi yang ya dapat dikatakan "pemting". Dan sekarang harus melaju di "kelokan" peziarahan dan harus tahu diri.
Aku jadi ingat "teriakan-teriakan" orang dalam sebuah WAG yang merasa dirinya "tidak dipakai" lagi gara-gara miskomunikasi dan jadwal yang seharusnya dia penuhi ternyata sudah dikerjakan orang lain karena sarang surupnya sebuah komunikasi dalam WAG. Semua butuh waktu. Orang merespon juga butuh waktu. Orang menghubungkan juga butuh waktu plus konsentrasi. Lha kalau yang menghubungkan saja tidak fokus, maka akan terjadi sarang surupnya komunikasi. Efeknya adalah ada orang yang merasa kecewa karena sudah membatalkan janjian dengan orang lain demi menyanggupi yang ditawarkan dalam WAG. Marahlah dia sehingga keluar ungkapan: "Apa saya ini sudah tidak dipakai lagi ?!!!!" dengan nada marah karena sebagian kata yang hurufnya dibuat besar (kapital).
Dalam hidup memang kadang ada orang yang merasa "tidak berguna lagi" atau "tidak dipakai lagi." Ada sebuah syndrome tertentu yang jika tidak hati-hati menjadi mengganggu bagi kesehatan jiwa pribadi maupun orang-orang yang di sekitarnya. Ketika orang merasa dirinya "tidak kepakai lagi", bisa jadi dulunya ia sangat amat berjasa dan menikmati keberjasaannya itu di mana-mana dan kapan saja. Lalu ketika keberjasaannya dicukupkan oleh waktu, ia tidak siap untuk "tidak menjadi siapa-siapa lagi". Dan tidak menjadi siapa-siapa itu sebenarnya biasa, namun bagi sebagian orang itu sangat menyakitkan. Orang bisa sampai sakit dan akhirnya "mati ngenes" (Jawa: mati karena sengsara batinnya) karena saking tidak bisa mengambil jarak untuk merasa diri sebagai "orang penting, terhormat, disegani, dipuja-puji" dan sebagainya dan sekarang tidak lagi. Orang tidak siap menerima diri dan kenyataan bahwa itu semua ada waktunya.
Yah, itulah sekelumit permenunganku di saat aku menjalani sebuah kelokan di awal tahun ini. Semoga kelokan-kelokan yang lain tidak membuatku kaget atau tidak nyaman. Semua jalan adalah momentum untuk belajar dan bermenung. Tidak semua akan baik-baik saja, tentu ada kelokan, kejutan, peralihan, dan hal-hal lain dalam dinamika hidup. Hidup selalu perlu dijalani dengan rendah hati.
#noontimeinnewspace#

No comments:
Post a Comment