Sejenak aku merenung tentang bangsa ini. Merenung tentang bangsa ini juga sebenarnya merenung tentang diriku dan sesamaku. Banyak hal terjadi akhir-akhir ini yang tentunya terkait dengan sejarah perjalanan bangsa ini dari waktu ke waktu. Ada kalanya aku membandingkan dengan pertumbuhan diri makhluk manusia itu sendiri. Saat masih bayi mungkin hanya bisa mendengar dan dari mendengar itu bayi memasukkan pemahaman dan membuat rumusan kata yang terucap. Mungkin dari mendengar itu si bayi membunyikan suara awal. Itulah bayi yang belajar berbicara dalam bahasa ibunya. Dan bahasa ibu itu yang tidak bisa hilang sampai kapanun karena didengar dari awal ia menjadi makhluk sampai ia bisa menyuarakan bahasa tutur. Dari bayi menjadi seorang anak kecil yang bisa berdiri dan berjalan berlari, ia membahasakan dari apa yang diperolehnya dari keluarga asalinya. Pemahaman-pemahaman yang ia punyai pun dari orang-orang dekat di sekitar rumah atau keluarganya. Ia membahasakan istilah-istilah yang ia dapat, yang ia pahami dari sekitarnya. Ia menyuarakan apa yang ia punyai dan pahami.Demikian juga bangsa ini. Bangsa ini pun menyuarakan dari yang ia punyai sejak adanya kata atau pemahaman itu. Ada banyak hal yang masih perlu kulihat dari bangsa ini. Pertama, aku merasa adanya ketidakpasan dalam mengungkapkan bahwa agama itu selalu nomer satu. Padahal ada yang sudah mengatakan kalau kebanyakan dan "mendem" atau mabok agama itu bisa berbahaya. Orang kebanyakan bisa menjadi kecanduan. Dari sini aku merindukan supaya ada gerakan mensekularkan pemahaman bangsa ini supaya lebih realistis hidupnya. Tanpa memahami yang fana dan sekular, mana mungkin orang mau masuk dalam kedalaman iman sebuah agama. Bangsa ini terlalu terburu dan seperti terpaksa mabok agama sehingga apa-apa dikaitkan dengan agama. Apa-apa sudah bawa-bawa Tuhan yang sebenarnya tidak mau cawe-cawe karena itu urusan manusianya. Namun kalau aku mengatakan ini terang-terangan maka dituduh ateis. Padahal belum tentu dan tidak pas.
Kedua, masih sehubungan dengan itu, orang akan sangat mudah menuduh saudaranya menjadi komunis dan di-PKI-kan jika sudah mengkritik agama dan praktik agama yang tidak pas. Dan ini yang kemudian kuanggap sebagai kebengisan yang tidak paham sesuatu yang benar. Orang akan mudah dicekal dan dipenjara atau bahkan dirajam kalau sudah mengkaitkan dengan komunis dan simbol-simbolnya. Gambar palu arit di negara ini sudah sangat menakutkan sehingga orang tidak bisa lagi membedakan itu sebagai apa dan kaitannya dengan apa. Semua digeneralisasi bahwa komunis itu ateis dan itu jahat, itu adalah setan laknat dan itu pembunuh dan lebih mengerikan dari pembunuhan sekalipun.
Logikanya tidak jalan. Apakah komunis itu identik dengan ateis? Tentu tidak. Orang akan bisa menjadi ateis tanpa harus menjadi komunis. Orang komunis pun belum tentu ateis. Nah, terus bagaimana ini? Kukira ini semua karena ada kesalahan atau kesesatan berpikir karena sebuah ideologi yang ditanamkan dalam diri bangsa ini sejak lahir atau ketika baru menjadi bangsa muda dan mengalami tragedi yang merenggut jutaan keluarganya dan itu kemudian diberi penanda bahwa yang menjadikan bencana ini adalah komunis, spesifik lagi PKI. Dengan rumusan yang memutarbalikkan fakta dan sejarah sebenarnya bisa jadi kemudian itu dicekokkan terus-menerus dalam pikiran bangsa ini dan menjadi pemahaman bangsa ini sampai saat ini. Orang takut dan menjadi terteror hanya karena istilah komunis dan PKI. Sebagai ateis individual kukira orang tidak akan dipenjara, namun sebagai PKI atau komunis akan dipenjarakan bahkan dibunuh di negara ini. Bahkan dengan logika yang tidak jalan, ideologi diidentikkan dengan DNA. Orang yang memilih ideologi komunis itu kemudian melahirkan anak yang komunis. Ini logika macam apa? Ini pemahaman (leluhur) dari mana?
Ketiga, aku prihatin bahwa partai-partai politik tidak punya gigi lagi. Mereka semua hanya lahir karena kepentingan pragmatis cari kekuasaan yang menguntungkan dan bisa duduk di kursi DPR atau kekuasaan eksekutif sebagai partai berkuasa. Tiada ideologi jelas dan tajam bagi sebuah bangunan sebuah bangsa ini. Tanpa ideologi jelas maka tidak ada pendidikan politik bagi masyarakat bangsa ini. Apalah artinya sebuah partai jika hanya berkepentingan untuk pilihan presiden dan pilihan legislatif jika tidak ada pendidikan politik yang ditawarkan atau diberikan kepada masyarakat manusianya dan berguna untuk sebuah bangunan bangsa?
Aku memahami apakah karena trauma jaman lama yang kemudian melahirkan "jaman baru" yang justru membawa dampak tidak ada ideologi jelas di bangsa ini sehingga partai-partai itu takut membuat dan merumuskan ideologinya? Aku hanya mengira-ira saja. Kalau dulu tanpa ada kata Pancasila di dalam rumusn "ideologi" sebuah partai maka partai itu tidak boleh hidup. Pancasila tetap harus hidup dalam diri setiap manusia negeri ini dan tidak hanya rumusan formalitas. Lima dasar hidup itu harus tetap dan mau tidak mau harus hidup. Tidak ada lagi debat tentang falsafah hidup.
Itulah yang kiranya kusebut sebagai salah kaprah dari bangsa ini. Banyak hal lahir dari kesesatan pemahaman sejak bangsa ini lahir dan bertumbuh sebagai pribadi yang hidup. Oleh karena itu, jika kesalahan-kesalahan pemahaman muncul, maka tidak lepas dari pemahaman awali yang sudah lebih dulu salah dalam dirinya. Pertanyaannya: kapan kita mau mengoreksi ini? Kapan kita mau berubah? Kapan kita mau melawan diri dengan kritis sehingga hoax, kesesatan logika, kesesatan pemahaman itu hilang dan mulai kita kritis dengan diri kita? Tanpa kritis dengan diri kita, maka kita hanya manusia-manusia dungu yang memperbodoh diri saja walau predikat atau gelarnya Doktor/Ph.D atau bahkan professor dan sebagainya. Bangsa ini akan punah karena kita memperbodoh diri sendiri, bukan karena diserang oleh bangsa lain.
#murning time#
min numpang share ya ^^
ReplyDeleteHayyy guys...
sedang bosan di rumah tanpa ada yang bisa di kerjakan
dari pada bosan hanya duduk sambil nonton tv sebaiknya segera bergabung dengan kami
di DEWAPK agen terpercaya di add ya pin bb kami D87604A1 di tunggu lo ^_^