Friday, July 26, 2019

Hening

Beberapa waktu lalu aku berjalan dan sedikit menapaki tempat yang di luar kemapananku. Aku memang diprovokasi oleh saudaraku untuk datang dan melihat tempat itu. Ya, persis seperti ajakan "datang dan lihatlah!". Mendatangi dan melihat sendiri akhirnya juga membawaku pada menghirup dan menikmati apa yang tersedia dan terpapar di sana. Mulailah sebuah petualangan singkat dalam hitungan hari. Petualangan itu bukan hanya petualangan fisik namun juga petualangan batinku. Pikiran dan hatiku awalnya kurang begitu menikmati. Namun aku mencoba untuk mengatakan pada diriku untuk tidak hanya berpola mapan dan mainstream saja. Kucoba dengan yang anti mainstream. Ya, petualangan itu membawaku pada penemuan demikian. Ketika aku mencoba hal yang baru, tentu aku selalu waspada dan kuatir. Bahk
an aku sampai kuatir dengan mara bahaya yang akan kuhadapi, entah itu binatang buas atau kemungkinan-kemungkinan yang lain. Namun setelah mengalaminya sendiri, mengalami tentunya juga melampaui, akhirnya yang terkatakan dalam diriku adalah rasa syukur.

Pertama-tama, aku mengalami bahwa selama ini banyak hal yang terlintas itu mapan, terpola, teratur. Semua sudah ada. Aku terbiasa dengan kemapanan hidup. Yang kemudian kurasakan adalah bagaimana aku berhadapan dengan ketidakpastian, ketidakrapian, situasi yang kusam dan kotor, bahkan situasi yang serba tidak menentu. Ketika menyusur sungai di tanah rantau itu, aku merasakan kehidupan yang lain. Memang di tanah rantau itu kebanyakan dari penghuni adalah perantau. Tidak ada orang asli yang menghuni tanah itu. Ketika itu adalah tanah semua orang rantau, maka tata hunian dan ruang pun tidak terpola dengan baik. Ada pola yang baik, namun kondisi orang-orangnya pun juga tidak mendukung sepenuhnya.

Hal kedua yang kutemui adalah bahwa pada mulanya dan pada dasarnya semua makhluk itu butuh keheningan. Ya, dari awal kususuri sungai dengan tanaman mangrove, kawanan bekantan pun tidak mau nampak kalau ada kebisingan yang mengganggu. Mereka akan berani keluar dari persembunyiannya kalau hanya mendengar perahu yang tidak keras suaranya. Mereka akan mencari makan daun-daun mangrove untuk hidup mereka. Ketika melihat beruang madu yang diselamatkan dari para pemburu yang mau menjual pun, karakter binatang ini juga suka pada keheningan. Ketika ada yang berisik, mereka pun tidak mau keluar. Kedua jenis binatang ini ternyata memberi sedikit pemahaman bagi diriku bahwa pada dasarnya makhluk-makhluk ini suka pada keheningan. Lalu ketika habitat mereka dirusak manusia, maka mereka pun harus menyingkir. Kadang terlihat, kadang bersembunyi. Aku bisa memahami akhirnya bahwa ketika harmoni alam itu tidak terusak dan tercampuri oleh peradaban manusia, memang ada kedamaian. Walau rantai kehidupan itu tetap jalan. Ketika kemajuan peradaban homo sapiens ini berkembang maka makhluk lain pun tergusur. Mesin-mesin berat dan bunyi bising yang merusak tanah, air dan udara akhirnya menyingkirkan makhluk lain.

Ketiga, keberagaman makhluk terlebih tanaman, kulihat memang menyenangkan. Awal yang menakutkan dan mengkhawatirkan sebelumnya sudah menjadi sesuatu yang menyenangkan dalam beberapa hari. Aku hanya bisa mensyukuri pengalaman ini. Memang rasanya belum puas menikmati segala keasingan yang tidak sama dengan tempat dimana aku hidup. Keadaan alam yang luas, tanaman dan binatang yang bervariasi merupakan hal yang menarik dan begitu damai bagiku. Aku pun membaca-baca betapa pentingnya hutan bagi dunia. Paru-paru dunia yang sudah memberi kesejukan dan jadwal hujan yang relatif teratur bagi bumi memang memberi keindahan di sana. Keindahan itu di dalamnya juga mengandung keganasan jika kita tidak tahu dan merusaknya. Ya, di saat itulah jiwaku hanya bisa berbisik, "Tuhan Allahku, betapa mulia namaMu di seluruh bumi. Hutan dan margasatwa yang Kau cipta, tanah dan air yang memberi hidup, udara dan segala keriapnya, Engkaulah yang mencipta. Tuhan Allahku, betapa mulia namaMu di seluruh bumi...apalah manusia ini sehingga Engkau memperhatikannya....apalah diriku ini sehingga Engkau mengindahkannya...."

Dalam keheningan itulah jiwa ini memuliakan dan mensyukuri Hyang Esa. Dalam keheningan itulah jiwa ini menyatu dengan alam yang awalnya mengerikan namun di sana ada yang menghidupkan. Setidaknya beberapa hari aku merasakan itu di samping juga kebisingan anak manusia dengan kemajuan peradaban yang mengeruk bumi dan isinya. Ada sisi-sisi hutan yang terbakar. Ada bagian-bagian bumi yang disedot sumber alamnya. Ada bagian-bagian bumi yang dikeruk dan diangkut tambangnya. Ya, itulah teganga dalam hidup. Itulah tegangan-tegangan antara hidup dan menghabiskan sumber hidup. Hanya dengan merawat dan mengembalikan kondisi rumah kita, manusia tetap dapat melangsungkan kehidupannya bersama semua makhluk. Hanya dengan menghormati dan menghargai semesta, kita semua berbagi hidup dan bukan merusaknya. Dalam hening, banyak hal kujumpai dengan segala yang merajutnya.


#evening in my room#

No comments:

Post a Comment