Sunday, September 29, 2019

Ketika Aku Tak Mudah Mengapresiasi

Ini lahir dari sebuah permenungan dari waktu ke waktu. Aku sering merasakan dan mengalami sendiri bagaimana susahnya memberi apresiasi atau penghargaan bagi diriku dan orang lain. Sepertinya apa yang kulakukan kalau itu sudah sesuai dengan aturan main dan itu berjalan dengan baik ya sudah. Bahkan kalau sebuah pekerjaan itu dilakukan dengan semangat yang luar biasa dan hasilnya di atas target, bagiku ya itu memang harus demikian. Apresiasi atau penghargaan kiranya tidak ada dalam kamusku. Seolah kalau itu dikaitkan dengan situasi dan kecenderungan orang zaman sekarang, aku adalah sosok yang tidak tahu adat. Dari pihakku sendiri juga punya alasan: "lho, kan itu semua sudah memang seharusnya demikian. Orang bekerja ya sesuai dengan aturan main. Orang bertindak juga harus dengan kesadaran bahwa tindakannya harus bermutu. Kalau ada yang dibuat lebih dan membuat sebuah prestasi, ya itu lumrah." Aku sendiri terus merasakan itu, baik untuk diriku maupun apa yang dilakukan orang lain. Aku jarang memberi hadiah atau penghargaan atau apapun yang disebbut sebagai award. Aku sendiri kerap merasa tidak perlu diapresiasi atau diberi hadiah atau penghargaan atau apapun. Aku biarlah sebagai aku yang memang demikian ini.

Ternyata perilakuku yang seperti itu dilihat dan dinilai banyak pihak. Tidak hanya itu, ternyata sikapku pun terpengaruhi oleh mindset seperti itu. Itu sungguh  tidak mengenakkan bagi orang lain ternyata. Contohnya adalah ketidaksabaranku. Ketidaksabaran ini membuat orang lain merasa aneh kalau bekerja dengan aku. Kalau sedang bicara dan kurang bisa sabar, orang lain merasakan situasi ini. Aku sendiri merasakan bahwa aku tidak ingin sesuatunya berjalan tidak cepat. Aku ingin cepat-cepat mengerjakan yang lain. Aku kadang juga merasakan orang lain tidak segera bisa menangkap atau bekerja cekatan kalau itu dengan diriku.

Ketika bicara soal reward, aku selalu merasakan penolakan dalam diriku. Selalu ada konflik batin: "Mengapa orang selalu bicara soal reward, upah, sedangkan yang dikerjakan saja belum tentu berkulitas? Sedangkan kerja baik dan berkualitas itu adalah hal yang sewajarnya dan selayaknya. Jadi mengapa perlu reward?" Itu kerap kualami sebagai konflik batin. Aku sendiri selalu ada dalam tegangan itu. Tegangan itu saat ini kurasakan sebagai rahmat yang membawaku kepada kesadaran akan pengenalan diri dan pengolahan diri sebagai panggilan terus-menerus. Hal ini pun juga menjadi sikap kritis ketika zaman ini orang begitu mengagung-agungkan apresiasi karena di sisi lain ada ekstrem satu ke ekstrem yang lain. Mungkin aku ini kecenderungannya adalah ekstrem yang lain.

Beberapa waktu lalu dalam sebuah percakapan aku menyadari akan hal ini, yaitu ada pengaruh dari keluarga yang berakibat sulitnya memberi apresiasi. Saat aku usia SD, dari kelas 1 sampai kelas 6, aku diposisikan sebagai anak berprestasi. Aku memang punya talenta studi. Aku selalu ranking 1 kecuali saat kelas 5 di catur wulan pertama, aku dikalahkan oleh rekan sekelas, sehingga aku hanya ranking 2. Apa yang terjadi? Orangtuaku tak terima dengan "kekalahanku" ini? Bapak marah denganku saat aku mau tidur malam hari. Saat itulah aku takut. Aku jadi tidak bisa tidur karena kena marah bapak. Ibu juga sebenarnya kecewa dengan merosotnya rankingku. Ibu adalah guru SD di mana aku belajar. Dia jadi walikelas 4 waktu itu. Bisa jadi karena merosotnya prestasiku. Bapak marah karena takut kalau aku tidak serius belajar. Mungkin saat memarahiku juga bicara dulu dengan ibuku. Ibu mungkin juga malu karena sebagai anak guru koq tidak bisa maksimal prestasinya. Hal inilah yang terus kuingat bahwa ranking merosot itu hal yang tidak diinginkan, tidak boleh, jangan sampai. Itulah mengapa hal ini menjadikanku terbentuk untuk selalu berprestasi.

Waktu itu aku ingat betul kata-kata seorang pemain bola dari Bulgaria yaitu Hristo Stoichkov, "Aku suka kemenangan karena dunia suka dengan orang-orang menang." Pemain itu memang memberi inspirasi. Dunia sepak bola juga menjadi kesukaanku. Dunia bola adalah dunia yang tahu 3 hal: menang, seri, atau kalah. Itu pun kalau dalam kompetisi penuh. Kalau turnamen hanya ada 2 hal: menang atau kalah. Dunia kalah dan menang inilah yang juga menjadi duniaku. Kalau aku tidak berprestasi, duniaku kalah. Kalau aku berprestasi, maka aku menang. Apresiasi macam apa yang kudapat? Aku tidak meminta apa-apa. Yang kudapat hanya sebuah pengakuan diri, bahwa diriku tidak kalah. Tiada barang atau apapun yang selalu diberikan orangtuaku saat aku mencapai ranking. Prestasi belajar itu lumrah sebagai seorang student, tak perlu hadiah. Itulah kiranya pendidikan karakter yang kudapat dari orangtua. Ini juga sebenarnya yang bagiku mendidik karena orang tidak lembek dan tidak manja karena harus dipuji atau dimanja dengan hadiah. Hadiah itu sesuatu yang berharga karena ada tuntutan tertentu, bukan menjadi candu dari luar untuk diriku.

Aku menilai dunia zaman ini terlalu berlebihan memperlakukan mereka yang berprestasi. Ini akibat orang tidak bisa membedakan antara hal yang sungguh jadi excellency dan itu semacam kebutuhan psikologis akibat terlalu besarnya pengagung-agunan kemampuan diri manusia. Seorang anak lebih akan meminta atau lebih tepatnya menuntut tagihan dari luar daripada dilatih untuk menyemangati dirinya dengan hadiah daripada sebuah keutamaan untuk berbuat yang terbaik dahulu tanpa memikirkan apa nanti hadiahnya. Dunia zaman sekarang berkebalikan: kalau bisa menentukan hadiahnya mengapa tidak sekarang saja, baru kita buat yang terbaik. Itu sepertinya mengurangi makna keutamaan. Keutamaan yang ada berkata "buatlah dahulu segala sesuatunya dengan sebaik mungkin, balasannya akan kamu temukan nanti. Seek ye first the Kingdom of God and the righteousness, and all these things shall be added unto you."

Itulah refleksiku tentang diriku, bahwa ketika aku melihat rekan kerja yang selalu mindset-nya adalah hadiah, honor, dapat berapa, dapat sertifikasi atau tidak, dapat reward atau tidak, bagiku itu memuakkan. Pemerintah juga tidak membuat kebijakan yang tegas dan jernih bahwa sertifikasi yang seharusnya menjadi penghargaan untuk excellency itu disalahgunakan untuk menambah kesejahteraan saja. Pengembangan diri guru tidak terjadi karena perubahan intensi karena tidak terkontrol dengan jelas apa tuntutan dari sebuah penghargaan certified teacher itu. Sertifikasi akhirnya jadi mobil Avanza, Terios, Xenia, rumahnya direnovasi, dandanannya lebih cantik, dan sebagainya. Baru setelahnya kementrian keuangan menyoroti hal ini: "Guru lebih sejahtera namun tidak berkembang profesionalitasnya." Jelas, karena perubahan intensi dari mau menjadikan profesional seorang guru, berubah menjadi sejahteranya seorang guru karena tambahan uang sertifikasi. Bukan kemampuan akademik dan pedagogiknya berubah namun kesejahteraan diri dan keluarganya yang berubah. Aku bukannya membenci peningkatan kesejahteraan tetapi perlu lebih kritis dan berimbang: ya kesejahteraan bertambah, juga profesionalitasnya maju.

Itulah insight di bulan September ini, yaitu bahwa ketika aku tidak mudah mengapresiasi itu tidak tanpa sebab. Di sana ada sebab-sebab lebih dalam dari masa lalu dan masa sekarang. Impianku adalah bekerja bersama kolaborator yang murah hati, mendalam secara intelektual dan spiritual, mau bekerja keras dan tidak mata duitan atau suka menghitung-hitung reward. Dalam permenungan dan imaginasiku, aku tertunduk dan mendaraskan dalam batinku:


Eternal Word, teach me to be generous; 
teach me to serve you as you deserve,
to give and not to count the cost,
to fight and not to heed the wounds,
to toil and not to seek for rest,
to labor and not to seek reward,
except that of knowing that I do your will. 
Amen. 




#evening time#

No comments:

Post a Comment