Orang di negeri ini senangnya bikin "kisruh". Orang Jawa menyebutnya sebagai kegaduhan, kekacauan, ketidaksinkronan, kekalutan dan sebagainya. Intinya senengnya yang bikin orang tidak nyaman dan tidak tenang. Entah mengapa bangsa ini menjadi suka kekisruhan dalam hidup. apakah karena mereka kurang "menep" dalam hidupnya? Artinya bangsa ini terlalu suka dengan hiruk pikuk material dalam setiap perkara. Menep artinya mengendap, mendalam, mampu membeningkan diri dari suasana yang serba gaduh, mubal (alias terus dikacau). Bagaikan endapan dalam sebuah air, endapan itu mudah sekali diaduk-aduk dan menjadikan air keruh. Rasa "wening" itu hilang. Praktik-praktik kerohanian dalam hidup pun kadang atau sering hanya sekedar formalisme belaka sehingga hanya tampak luaran saja yang hidup. Sedangkan kerohanian dari dalam itu tidak terolah. Berdoa saja tidak hening. Berdoa dan sujud harus diekspose, dicorongkan dengan publikasi suara dan visual. Ini adalah sebuah otokritik jelas bagi hidup bangsa ini. Kritik terhadap bangsa yang mengaku diri beragama, namun ternyata tidak beriman dalam kehidupan rohani yang dalam. Agama hanya simbol pakaian luar saja yang menutupi aurat fisiknya. Tidak lebih dan tidak kurang.Kegaduhan dan kekisruhan sering nampak dalam kehidupan di pasar dan di jalanan. Orang di pasar cenderung tidak mau diatur tempat transaksinya. Orang di jalan tidak mau antre dan mendahulukan yang lain. Menyerobot seolah sudah biasa di negeri ini. Yang kalah tidak mau mengakui. Yang menang semoga juga tidak memakai kemenangannya untuk kekuasaan sendiri. Sekali lagi kuistilahkan hidup bangsa ini serba "kisruh".
Kisruh itu mudah gaduh. Kisruh itu mudah ngeles. Kisruh itu mudah inkonsisten. Kisruh itu serba maunya sendiri. Dan itulah problem bangsa yang mungkin tidak terolah mentalnya setelah sekian lama ada dalam alam bawah sadar yang inferior, bangsa ini sebenarnya belum dewasa untuk menerima diri. Bangsa ini masih perlu belajar berpuluh-puluh tahun supaya menjadi bangsa yang dewasa dalam mensikapi hidup. Kekisruhan itu juga nampak dalam sistem yang dibuat, serba tumpang tindih. Semua ingin semua. Semua ingin semua dilakukan. Tidak ada fokus yang jelas. Tidak ada prioritas yang perlu dijalankan. Itulah tanda kekisruhan hidup dan cara bertindaknya. Banyak hal menjadi bukti akan kekisruhan yang selama ini terjadi. Orang yang minder dan merasa diri inferior pasti akan melihat dirinya perlu ini dan itu. Berhadapan dengan orang yang percaya diri pasti akan gelagapan dan perlu menyiapkan senjata. Bangsa ini sudah lama dihabisi kepercayaan dirinya bahwa dirinya mampu berdiri di kaki sendiri. Maka terjadilah juga dominasi antara yang satu dengan yang lain, antara yang bersenjata dan yang tidak bersenjata, antara yang pernah berkuasa dan yang baru berkuasa. Perebutan kekuasaan itu sangat jelas dan transparan.
Beberapa hari lalu aku mendengar perkataan orang kecil, dan itu adalah bapakku sendiri. Dia mengatakan begini, "Sebenarnya rakyat itu sudah legowo. Tapi karena elit-elit di pusat itu terus berkelahi maka rakyat juga terbawa untuk berkelahi." Itulah perkataan rakyat jelata, rakyat biasa yang sebenarnya tidak menginginkan apa-apa kecuali kedamaian dan ketenangan. Bukan kisruh. Bukan perang. Bukan permusuhan.
Salah satu yang perlu dilakukan bagi bangsa ini adalah menyelesaikan persoalannya sendiri. Belum ada proses berdamai menerima keadaannya yang real. Bangsa yang inferior adalah bangsa yang perlu melatih diri menerima kekurangan dan kelebihannya, serta melihat sejauh mana ancaman dan peluang yang bisa dibuat. Intinya adalah memetakan diri dan hidupnya. Kepercayaan diri adalah kunci. Sementereng apapun dirinya jika tidak percaya diri maka tidak bergunalah sosok pribadi itu. Mau diberi perhiasan apapun, ia tidak percaya diri. Berbeda dengan pribadi yang percaya diri, ia tidak memakai apapun dalam pakaiannya, tetap saja ia mantap berjalan dan bertindak. Berdamai dengan diri sendiri, mengakui diri apa adanya, mau terbuka dan belajar dari pengalaman itulah yang dibutuhkan bangsa ini. Itulah pembelajaran dari kekisruhan selama ini. "Being a mess is exhausting; but if it is not a mess, it is not a progress".
#morning time#
No comments:
Post a Comment