Tuesday, October 22, 2024

Parseus

Ada sebuah masa di mana manusia ingin menentukan nasibnya sendiri tanpa harus takut pada amukan dewa-dewi di zaman mitologi. Kisah ini menandakan adanya sebuah perubahan cara berpikir manusia lama yang sarat dengan mitos-mitos ke manusia baru yang tidak lagi takut akan kemarahan dewa-dewi yang dibuatnya sendiri. Manusia harus memberi penghormatan kepada dewa-dewi supaya mereka tidak menurunkan bencana atau murka pada manusia. Bencana alam dan penyakit serta nasib buruk dipercayai sebagai tulah dari murka dewa-dewi. Dan itu dalam mitologi Yunan kuno ditandai dengan para tokoh yang mau membebaskan belenggu manusia lama ke manusia baru. Ada sejumlah nama seperti Hercules, Parseus, dan Achiles. Ketiga nama itu adalah manusia hybrid. Mereka adalah setengah dewa, setengah manusia, karena ayahnya adalah dewa Zeus. Ibunya adalah manusia biasa. Biasanya di awal cerita dikisahkan bahwa Zeus "membuahi" perempuan manusia sehingga lahirlah anak manusia setengah dewa dengan segala kekuatannya masing-masing. 

Anak manusia setengah dewa ini kemudian berperan dalam pembebasan cara pikir dan bertindak manusia di mana ia adalah makhluk yang mempunyai otonomi menentukan pilihannya sendiri atau menentukan nasibnya  sendiri di dunia. Yah, ternyata dalam masa tertentu manusia perlu menyadari diri bahwa dirinya adalah makhluk yang merdeka dan mempunyai otonomi untuk menentukan nasib sendiri, terbebas dari cara berpikir mitis dan tidak merdeka.   

Banyak dari antara kita terjebak dalam keterbelengguan. Hidup rasanya tidak merdeka. Hidup ini seperti terbelenggu. Belenggu yang ada adalah berbagai kepentingan, relasi, pengalaman masa lalu atau keinginan masa depan, dan termasuk norma-norma kaku dalam relasi antar makhluk yang menjadikan kita seperti terbelenggu karena kondisi tertentu. Dalam sebuah percakapan, ada kisah tentang dua hal dari dua anak manusia.  Seperti biasa anak manusia membuat sebuah hal yang kemudian justru membelenggu jiwanya ketika hal yang dibuatnya tidak menyelesaikan masalahnya atau malah membuat masalah baru karena satu dan lain hal. 

Ketika sebuah relasi menjadi belenggu karena relasi yang dibangun selama ini justru menimbulkan kesedihan, beban, kungkungan tak kunjung berhenti. Awalnya tak ada yang mau mendengarkan atau meringankan beban relasi yang tak harmonis itu. Kemudian ada pihak yang mau mendengarkan dan sedikit banyak meringankan beban derita relasi itu. Di satu sisi, karena relasi masa lalu seorang anak manusia mengalami keterbelengguan karena statusnya adalah orangtua dan anak. Ketika masih anak-anak, ia sangat ditekan ibunya. Relasi terjadi karena yang satu takut yang lain menekan. Yang satu menekan supaya anak itu menuruti ibunya sedemikian sehingga mau membebaskan diri dari kungkungan relasi masa lalu ini tak kunjung bisa. Si anak sampai-sampai merasa bahwa kalau ia tidak mengindahkan ibunya, ia seperti anak durhaka. Padahal di usia yang sudah dianggap dewasa, sebagai pribadi ia wajib menentukan nasibnya sendiri. 

Kunci utama dalam hal ini adalah menentukan nasib sendiri, berani membuat keputusan dan mau menjalankan keputusan dengan konsekuen. Ketika relasi antara dua orang dewasa diresmikan, maka di sana ada konsekuensi, yaitu berani untuk komitmen dalam situasi apapun. Namun jika tidak berjalan dengan semestinya relasi itu di tengah jalan, maka banyak pertanyaan, banyak hal yang bisa saja akan diambil salah satu pihak untuk berbuat yang mungkin bisa saja disebut "mengkhianati" komitmen itu. Jika ada pola relasi timpang, maka apa yang harus dibuat? Akankah kita hanya memberi nasihat supaya yang lemah mengalah? Apakah kita hanya melihat secara normatif legalistik persoalan relasi antara dua orang dewasa ini sehingga kadang yang ada hanya jalan buntu? Ketika yang lemah dan kalah itu memberontak dan mengambil jalan lain dan berelasi dengan yang meringankan beban, biasanya yang terjadi adalah penghakiman. Ia bisa dikatakan tidak setia, pengkhianat, dan lain-lain yang lebih kasar secara moral. Orang dengan mudah akan menghakimi tanpa melihat dari sisi yang lebih luas dan utuh. 

Ketika seorang anak yang sudah menginjak dewasa namun belum bisa mandiri secara finansial dan harus memutuskan nasibnya/pilihannya, biasanya ia tidak segera akan berani karena terbebani oleh rasa tidak enak karena masih dibiayai orangtua, nanti takut orangtuanya kecewa, akan ada penghakiman dari keluarga dan sebagainya.   Apalagi jika di masa lalunya, si anak masih punya beban-beban relasi yang bernada hutang budi, maka butuh rekonsiliasi. Keberanian untuk berbicara jujur pada orangtua adalah kunci, walau tidak semudah aku membalikkan telapak tangan. Kadang ada rasa berat, sungkan, tidak mau mengecewakan dan sebagainya. 

Di satu sisi kita terbebani oleh masa lalu kita, di sisi lain ada yang terbebani oleh sikap legalistik dan sok moralis dari budaya masyarakat kita. Aku sedikit banyak harus berani mengatakan bahwa jika sebuah sarana manusia justru membelenggu dirinya demi kebaikan jiwanya (keselamatan) maka sarana itu bisa diletakkan. Apapun itu jika sudah membelenggu, bersifat toxic, menindas, membebani, atau mengurangi kualitas martabat manusia pada dirinya, maka manusia berhak untuk membebaskan diri. Memang konsekuensinya adalah cercaan publik bahwa ada ungkapan moralis yang pasti akan menghancurkan martabat dirinya yang memang sedang lemah. Banyak dari pribadi manusia dihancurkan dengan pembunuhan karakter karena tidak sejalan dengan narasi mayoritas atau narasi moralitas yang sebenarnya dominasi kuasa kepada yang tak punya kuasa. Mitos-mitos dalam kehidupan ini sangat kompleks dan kadang kita berada di belenggu yang satu ke belenggu yang lain. Kita tidak bisa benar-benar merdeka karena dunia kita sudah dikuasai oleh kuasa-kuasa yang terstruktur dan itu mudah sekali menjadi penghakiman bagi mereka yang sebenarnya terjajah dan terbelenggu. 

Keberanian membebaskan diri tentu akan mendapat tantangan dari dunia yang terstruktur oleh sikap-sikap pengadil yang tak adil lain. Melihat secara utuh dan mendalam setiap persoalan manusia adalah perlu, sehingga tidak terjadi penghakiman yang tak adil. Dunia manusia bukan dunia hitam-putih. banyak warna dan banyak juga abu-abunya. Bahkan anak manusia bisa mengatakan bahwa norma (dengan muatan moralitasnya) diadakan untuk anak manusia dan bukan manusia untuk hal-hal tadi karena anak manusia adalah tuan atas apa yang dibuatnya. 

#noontime#

No comments:

Post a Comment