Tuesday, August 13, 2024

Cyperus rotundus

Kadang aku berjalan di jalan setapak yang sudah dipaving. Awalnya jalan itu adalah jalan setapak yang sebagian berbatu, sebagian berlumpur tetapi ada juga bagian yang kering dan berumput. Namun karena alasan tertentu, jalan itu sekarang sudah diperkeras dengan paving. Satu hal yang kulihat dari jalan setapak itu, yaitu adanya rumput yang tumbuh tidak hanya di tanah yang memang masih tanah, tetapi kehebatan rumput adalah dia tidak menyerah walah di atasnya dipaving, dia tetap mencari celah untuk hidup dan berkembang. 

Ini mungkin adalah sebentuk impresi yang datang beberapa hari ini. Rumput itu sepertinya mati di musim kemarau namun tetapi berpotensi hidup ketika sepercik air menuangi tanah tempatnya hidup. Begitu luar biasanya daya hidup tumbuhan yang memang di sana ada akar kata "tumbuh". Daya tumbuh itu memang luar biasa. 

Aku pun mengingat kembali peristiwa beberapa waktu lalu di Jakarta. Ketika tanah Jakarta itu sudah lesu dan tak ada tanda kesuburan, karena semua layaknya aspal saja, namun ketika ada segunduk tanah yang kering dan diterpa hujan, di gundukan itu tumbuhlah rumput dan tanaman lain yang bebijiannya tertidur (dormant) di situ. Tanah itu mengandung kehidupan. Dan kehidupan itu adalah tumbuhan yang biji atau umbinya tertidur di situ menunggu guyuran air hujan untuk merangsangnya tumbuh. 

Lebih hebat lagi adalah rumput. Aku melihat rumput teki yang cenderung mengganggu atau semacam gulma. Dulu waktu kecil, rumput teki itu dipakai untuk memberi makan jangkrik yang ditangkap dan dikandangkan di sebuah kotak bambu. Jangkrik itu diberi makan rumput teki supaya "ngeriknya keras" alias bunyinya keras. Itu kesan lama tentang rumput teki. Saat ini aku berbeda melihatnya, rumput teki itu meberi inspirasi lain. Rumput teki yang kecil dan pendek cenderung hidup di daerah yang dalam arti tertentu menantang. Ia akan subur tentunya di tanah yang bernutrisi, namun demikian ia juga bisa tumbuh di tanah yang di atasnya ditimbuni bebatuan. Dan saat aku berjalan di jalan berpaving itu, rumput teki itu pun tumbuh. Aku lantas terhenyak, begitu kuat dan dahsyatnya kekuatan hidup rumput itu. Dia walau ditimbuni paving tetap bisa mencari celah dan ruang hidup. Dia tidak menyerah ketika kekuatan berat menimpa dirinya, bahkan seolah menutup ruang hidupnya. Kekuatan rumput teki itu mengingatkanku akan kekuatan akar rumput yang sering dipakai dalam menyimbolkan kekuatan rakyat kecil. Dan bukan hanya itu, kekuatan daya tumbuhnya itu yang memang luar biasa. Walau kelihatannya kecil dan pendek, ia mempunyai daya tumbuh. Walau ia ditekan, ia tetap bisa bertahan hidup dan bisa mencari celah supaya bisa tumbuh. Bahkan bagi yang tanahnya dipaving, tumbuhnya rumput teki itu mempersulit orang untuk mencabuti atau membersihkannya karena tumbuh di sela-sela paving.

Bagiku ini jelas. Inspirasi ini memberiku gambaran bahwa hidup ini bukan sesuatu yang lembek. Hidup ini keras. Dengan kekerasan hidup ini aku bisa belajar dari rumput teki, yaitu tidak menyerah walau ditimbuni banyak masalah atau beban hidup yang solah-olah beban hidupku itu paling berat di antara beban-beban hidup orang lain. Ternyata, rumput teki memberiku pemahaman lain, ia tidak lembek, ia tidak menyerah, ia tidak mati, ia tidak mengeluh, tetapi dengan lambat namun pasti ia mencari celah di antara yang menimbunnya, dan tetap hidup, bertumbuh dan berkembang. Aku tidak tahu apa yang dia katakan jika aku bisa mendengarnya. Mungkin minim keluhan darinya hanya karena ditimbuni paving lantas tidak bisa bertumbuh. Buktinya ia masih bisa hidup. Meratapi kegelapan dan beban hidup itu tak membantu apa-apa, justru mencari celah dan menyalakan lilin harapan itu yang harus kita buat. 

Jika hanya memikirkan dan meratapi hidup yang penuh salah dan kekurangan ya siapa yang dapat tahan? Jika kita hanya memikirkan olok-olokan orang lain akan kekurangan, kelemahan, kesalahan, aib, kejelekan kita maka kita hanya akan berhenti tak bertumbuh. Namun rumput teki mengajariku untuk tak berhenti bertumbuh walau dianggap jelek, jahat, tak bermartabat sekalipun. Aku sejelek-jeleknya dan dianggap tak bermartabat ini masih punya daya hidup. Tak padam oleh olok-olokan orang lain dan tak berhenti hanya menghakimi diriku yang tidak ideal.  

Aku ingat kata-kata ini: Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal namun tidak putus asa; kami dianiaya namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Sebuah daya hidup dan daya juang yang terus menerus didengungkan dan tidak mengerdilkan dan mematikan kami. Itulah sebentuk harapan yang terpancar dari hidup manusia. Viktor E Frankl memberi nama teorinya Logoterapi. Ia memfokuskan pribadi untuk mengenal diri dan menerima dirinya dengan totalitas sehingga dapat memaknai hidupnya bahwa dirinya adalah berharga dan dengan itu tumbuhlah harapan hidup dan daya hidup itu. Manusia perlu belajar hidup seperti rumput teki yang tak menyerah ditimpa musibah. Tak padam walau hidup suram. Tak gentar walau dirinya terlempar. 

Perjuangan dalam hidup tidak menjadi suatu yang asing. Maka celotehanku ini juga bagian dari bulan ini yang kumaknai sebagai bulan perjuangan, bukan sekedar menikmati hasilnya yaitu kemerdekaan. Dan kemerdekaan itu mengandaikan kemauan untuk hidup, tumbuh, dan berkembang dalam situasi apapun. Merdeka !!! 

No comments:

Post a Comment