Thursday, February 1, 2024

Vanity

Semenjak beberapa waktu ini aku merasakan bahwa aku harus menjauhi dan sebisa mungkin tidak menunjukkan diri. Ada sesuatu yang bagiku menakutkan. Ya, sebuah ketakutan karena ada sesuatu yang bagiku adalah pengalaman mendalam. Pengalaman itu adalah bahwa sekuat-kuatnya, sekuasa-kuasanya, sehebat-hebatnya atau apapun itu yang namanya nama besar, prestasi, kesuksesan yang dicari-cari orang kebanyakan, itu semua adalah tidak ada apa-apanya. Bahkan aku hanya bisa mengalami dan merasakan bahwa semua yang ditempelkan, disematkan pada diriku adalah fana. Sejak lama manusia merefleksikan bahwa selama hidup ini masih di dalam ruang dan waktu maka kefanaan dan (kadang) kesia-siaan (vanity).  Beberapa waktu lalu aku harus bergulat dengan berbagai hal yang tidak mudah, bukan hanya diriku namun juga menyangkut banyak orang. Ketika mengetahui secara dalam bahwa semua itu hanya sementara, tidak ada artinya, tidak pantas dibanggakan, aku makin merenungkan bahwa hidup ini adalah kesia-siaan, dalam pandangan para pesimistik. Aku masih punya optimisme namun demikian, kiranya supaya lebih realistik, aku pun tidak menyingkirkan pesimisme juga.

Nama besar, prestasi memang masih dicari dan diburu oleh sebagian besar dari penduduk di planet bumi ini. Aku tidak menyalahkan mereka semua, namun dari sana aku hanya ingin mengingatkan diriku sendiri bahwa itu semua hanya sementara. Mengapa sementara? Tidak ada yang abadi sementara kita masih ada di ruang dan waktu, kita dibatasi oleh dimensi itu. Selain itu, alasan yang lain adalah bahwa dalam hidup ini (karena dibatasi ruang dan waktu), ada kerapuhan (vulnerability). Itulah mengapa nama besar, prestasi itu hanya akan bertahan dalam periode tertentu. Bahwa ada legacy (warisan) yang pernah tercatat oleh sejarah itu iya. Namun demikian, sejarah akan mencatat dan dikenang oleh karena ada kekuatan yang menopangya. Tanpa ada kekuatan dan kekuasaan yang menopang, maka catatan sejarah itu hanya tinggal catatan dan tidak ada yang membaca, mengakui, dan mengagungkan juga. 

Ketakutanku tidak tanpa alasan. Aku takut untuk menjadi sorotan. Aku takut untuk menjadi besar. Aku takut untuk diagung-agungkan. Mengapa? Karena pada dasarnya aku tidak suka. Sisi yang lain adalah aku sadar sepenuhnya bahwa pada suatu masa tentu akan ada saat dimana itu semua berlalu dan lenyap. Tidak ada gading yang tak retak. Tidak ada nama besar yang tentu ada kekurangannya. Tidak ada kemegahan tanpa sebuah tumbal (harga yang harus dibayar). Aku belajar dari bangunan-bangunan besar dan megah peninggalan bersejarah yang mengagumkan. Itu semua tentu ada harga yang harus dibayar. Ada nyawa yang harus dipertaruhkan untuk membangun itu semua. Ada darah yang harus mengucur itu kebesaran itu. Bangunan-bangunan keajaiban dunia itu dibangun oleh kekuasaan para diktator. Mereka tentu mengorbankan banyak nyawa dalam proses pembangunan. Sebuah waduk di Wonogiri pun mengorbankan banyak kecamatan dan penduduknya harus dipindahkan ke pulau lain sehingga sampai ada slogan di sana "jer basuki mawa beya". Setiap kesuksesan harus ada harga yang harus dibayar. 

Celaka, kritikan, kejatuhan bisa terkenai siapa saja. Bahkan imperium yang menguasai sebagian besar dunia selama ratusan tahun pun bisa hancur. Kehancuran bisa karena faktor alam (bencana) dan bisa saja karena kejatuhan karena diserang dari luar maupun dalam. Semua ada batasnya. Maka dalam setiap sejarah peradaban manusia, selalu ada narasi yang membuat orang menjadi "abadi". Ada kisah mengenai seorang raja yang mencari keabadian dengan ramuan-ramuan misterius, ada juga sebuah naskah besar mengenai narasi bahwa untuk membalas kekalahan maka penguasa harus membuat sebuah babad besar yang menunjukkan bahwa kekuasaannya adalah dari Yang Maha Ilahi dan turun-temurun dari tokoh-tokoh besar yang melegitimasinya secara sah menjadi penguasa. Bahkan kekalahan perang bisa menjadi bisnis film yang mereguk keuntungan besar-besaran di pasar perfilman dunia. 

Kita sadar sepenuhnya tidak ada orang yang mau gagal. Oleh karenanya, kegagalan selalu disingkiri. Nama besar dan prestasi itu yang dicari. Namun demikian selalu dalam sejarah peradaban manusia, ada juga penyeimbang bahwa orang menyadarkan diri untuk tidak lupa pada kekecilan dan tiak berharganya diri kita dibanding dengan kekuatan yang pasti akan mengalahkan keangkuhan prestasi, nama besar, kesuksesan, keangkuhan, dan semacamnya. Ketika kejatuhan tiba, maka runtuhlah bangunan kita. Nama besar, kesuksesan, prestasi, nama harum sekalipun tidak berlaku lagi.

Aku ingat seorang tokoh besar yang sempat diasingkan bertahun-tahun karena dianggap berbahaya oleh rejim yang berkuasa. Ia tak bertemu keluarga bertahun-tahun. Akhirnya dia pun ketika dibebaskan oleh penguasa harus menerima realitas ditinggal istrinya yang menikah dengan orang lain. Pastilah ia merasa kecewa dan sakit hati. Namun di sisi lain ia pun mungkin karena sudah lama terbiasa tersakiti di pengasingan harus menjaga kewarasan dan menerima itu semua walau terpaksa. Rejim yang menahannya bertahun-tahun pun akhirnya juga tumbang di tangan rakyat karena kerapuhannya. Jadi di dunia ini hanya ada dialektika. Suatu saat kita di atas, suatu saat kita di samping, suatu saat di bawah. Segala sesuatu ada waktu dan masanya. Dan kalau dilihat dari sisi pesimistik, segala sesuatu itu adalah kesia-siaan. 

Menjadi kecil, sederhana, tak dikenal, tersembunyi adalah lebih baik daripada menyandang nama besar dan harus tampil di depan umum. Semua itu adalah kesia-siaan jika kita melihatnya hanya dari sisi pencapaian diri. Orang yang tidak siap menjadi kecil dan tak dianggap akan menderita. Lebih baik membiarkan pihak lain menjadi besar dan aku menjadi kecil; itu jauh lebih baik daripada terobsesi menjadi besar dan berkuasa. Vanity oh vanity! 

Vanity of vanities, says the Preacher,
    vanity of vanities! All is vanity.
What does man gain by all the toil
    at which he toils under the sun?
A generation goes, and a generation comes,
    but the earth remains forever.
The sun rises, and the sun goes down,
    and hastens to the place where it rises.
The wind blows to the south
    and goes around to the north;
around and around goes the wind,
    and on its circuits the wind returns.
All streams run to the sea,
    but the sea is not full;
to the place where the streams flow,
    there they flow again.
All things are full of weariness;
    a man cannot utter it;
the eye is not satisfied with seeing,
    nor the ear filled with hearing.
What has been is what will be,
    and what has been done is what will be done,
    and there is nothing new under the sun.
Is there a thing of which it is said,
    “See, this is new”?
It has been already
    in the ages before us.
There is no remembrance of former things,
    nor will there be any remembrance
of later things yet to be
    among those who come after.


#inmyroom#  

No comments:

Post a Comment