Monday, March 4, 2024

Lik Kamdi dan Lik Man

Aku mencoba mengingat hal-hal di masa lalu. Ada ingatan tentan dua saudara atau keluarga yang sebenarnya kurang normal menurut ukuran orang yang menyebut diri normal dan sehat. Ingatan saya hanya berkisar mengingat mereka yang hidup sederhana, sakdrema, istilah Jawanya. Tidak banyak keinginan. Mereka berdua lebih hanya hidup, tinggal di rumah, mengerjakan pekerjaan-pekerjaan fisik, lebih-lebih diserahi mengurus ternak milik keluarga, kadang membantu macul di sawah atau kebun. Mengurus ternak biasanya dengan mencarikan rumput atau ngaritke sapi atau golek ramban untuk kambing. Itu pekerjaan tiap hari. Aku ingat betul keseharian mereka. Tidak ada yang lain. Makan sehari tiga kali, pakaian ya seadanya dan apa yang diberikan keluarga, itu yang mereka pakai. Hidupnya tidak ada penjaluk lain. 

Entah mengapa aku mengingat mereka berdua dan tentang hal itu lagi. Seolah-olah merekalah yang sebenarnya itu manusia sejatinya. Sedangkan aku ini kerap kali hanya hidup dengan berbagai hal yang justru membuat aku ini merasa aneh-aneh. Memang dunianya lain, namun aku disadarkan bahwa memang hidup ini perlu dihidupi dengan kesederhanaan dan apa adanya, tanpa banyak keinginan. Lik Kamdi dan Lik Man masih saudara bapak. Aku masih ingat bagaimana keluarga mereka pindah rumah di dekat rumah keluargaku sekitar tahun 1980-an. Waktu itu rumah mereka ada di pojok pinggiran dusun dekat Kali Kembang yang biasa para warga dusun pakai untuk mandi, cuci, dan minum. Sumber air di kali Kembang itu memang bersih dan jernih. Sampai sekarang masih ada. Kali itu lebih pada pancuran sebenarnya. Ada tiga bagian: paling atas agak kecil pancurannya, tengah yang besar grojogannya, dan bagian paling bawah yang masih disekat dua bagian untuk kaum laki dan satunya untuk perempuan. Letak kali Kembang memang di bawah dusun kami. Maka, kalau mandi di kali itu, kami pulang-pulang sudah basah keringat lagi. 

Kembali ke peristiwa perpindahan rumah keluarga Lik Man dari pojok dusun yang sepi dan cenderung dekat ladang dan situasinya kurang mendukung untuk sosialisasi, maka keluarga itu diminta pindah rumah dekat kami. Namun, kemungkinan kuat yang lain adalah pada waktu itu, ada situasi di mana masyarakat diancam dengan situasi keamanan yang kurang damai. Ada peristiwa "Petrus" (penembakan misterius). Aku masih ingat di kepalaku, sore hari setelah maghrib, biasanya warga dusun sudah siap-siap membunyikan ketongan agar warga masuk ke rumah. Para kaum laki sudah siap dengan berbagai senjata, seperti crengkeng, bambu runcing, arit, dan lainnya. Hal itu dibuat untuk ronda malam sehingga sewaktu-waktu ada orang asing yang mencurigakan warga cepat bergerak mengamankan wilayahnya. Oleh karena itu, perpindahan rumah ke area dekat rumahku itu menjadi solusi yang baik agar menjaga keamanan keluarga juga. 

Lik Man bicaranya agak kurang jelas kadang. Lik Kamdi jauh lebih jelas. Orang sering menyebutnya "kurang normal" seperti kebanyakan orang. Namun kekurangnormalannya tidak menghalangi untuk beraktivitas sebagaimana yang lain. Mereka juga bisa membantu sesama dalam kerja bakti. Mereka juga diminta membantu ngangsu air saat ada rewang di tempat tetangga. Mereka juga bisa angkut-angkut membantu tetangga bekerja di saat ada sambatan. Intinya, ketidakmampuan seperti orang normal biasa itu bukan halangan membantu sesama. Dan yang lebih penting lagi adalah mereka tidak sangat dianggap oleh orang lain walau mereka adalah sesama manusia. Mereka tidak banyak protes. Mereka adalah manusia lugu, karena ketidaknormalan secara mental, namun mereka itu justru yang dalam ingatanku saat ini menjadi guru penting kalau mengingat sosok manusia. Orang yang mengaku diri normal dan sehat kadang jauh dari sosok manusia berharga karena bisa memanipulasi dengan otaknya. Akal budi menjadi alat memutarbalikkan fakta, membuat HOAX, merekayasa pembunuhan karakter, memainkan peran untuk membuat kepentingannya tercapai.

Aku hanya melihat sosok Lik Man dan Lik Kamdi sebagai pribadi manusia yang tahunya hanya hidup sederhana, makan, minum, berpakaian, tidur, bekerja tanpa ada rekayasa apapun. Hidup mereka adalah kesederhanaan dan itulah kekudusan. Tidak ada tipu daya dalam dirinya. Tidak ada kemunafikan. Tidak ada keculasan. Tidak ada keinginan untuk menjatuhkan orang lain. Kalau mereka dianggap tidak normal pun, mereka tidak marah. Orang lain tidak merasa terancam oleh tingkah laku mereka. Kadang kita yang merasa diri normal inilah yang justru banyak tingkah dan membuat masalah. Sehat dan normal bukan jaminan bahwa manusia itu hidup dengan jujur, apa adanya, sederhana, tidak banyak tingkah manipulatif. Aku menyadari bahwa dengan mengingat dua sosok pribadi itu aku diajak untuk nrima lebih sadar diri bahwa aku pun perlu tidak aneh-aneh, lebih jujur dan murni dalam keinginan. Bahwa aku pernah mengalami jatuh bangun, justru di sanalah aku dilatih untuk makin peka dengan diriku. Bahwa aku pernah terperosok sehingga menyebabkan orang lain terluka, di sanalah aku diajak untuk berani mengakui kesalahan dan berani meminta maaf. Kadang yang kuhadapi adalah realitas dunia yang tidak mau memaafkan. Budaya pengampunan seolah hanya berhenti pada balas dendam. Kalau aku bisa membalas, maka di sanalah seolah selesainya sebuah masalah. Padahal ketika ada pembalasan, di sanalah mulainya lingkaran setan kekerasan dan budaya kematian. Orang takut bertobat karena lingkungannya tidak mau memaafkan. Memaafkan itu dianggap lemah. Memaafkan itu dinilai mubazir. Memaafkan itu hina. Sebaliknya meminta maaf itu harus dibarengi dengan penghakiman, bahkan pembunuhan jika bisa. Itulah hukum yang berlaku di dunia ini. 

Peristiwa pembunuhan Joshua bin Joseph pun sebenarnya juga demikian. Dia yang mengajarkan kasih dan pengampunan, dibalas dengan pembunuhan dan tidak ada yang mau mengampuni dia. Dia yang mengampuni orang yang dianggap bersalah pun harus mati karena kebrutalan dan nafsu haus darah dari massa yang mengamuk tak terelakkan. Pengampunan tidak mungkin muncul dari ketertutupan hati yang masih membenci dan mau menang sendiri. Hati yang kurang sederhana hanya akan menimbulkan kematian bagi sesamanya. Hati yang tidak memberi ruang seluas-luasnya pada hidup orang lain akan menghasilkan dendam ke dendam yang terus berkesinambungan. 

Lik Man dan Lik Kamdi setidaknya mengajarkanku akan kesederhanaan pribadi dalam (anggapan orang yang menganggap mereka) tidak normalnya sosok pribadi manusia itu. Mungkin karena itulah, aku wajib bertanya lebih dalam lagi: "Apakah memang demikian hidup ini?" Yang merasa diri normal harus belajar dari yang kurang atau dianggap sebagai yang tidak normal?


#morningtime# 

No comments:

Post a Comment