Sebenarnya aku sudah agak lama menemukan fenomena seperti ini, yaitu pada prinsipnya untuk manusia zaman ini tidak bisa diandaikan dan mengandaikan lagi. Awalnya, untuk mengerjakan sebuah proyek tertentu, aku harus membuat sebuah SOP dan teamwork yang harus ada juklak dan juknis sampai sedetil-detilnya. Itu terjadi di sebuah sekolah di mana aku pernah bekerja. Namun ternyata fenomena ini tidak hanya terjadi di sebuah sekolah yang memang menurutku itu wajar dan aku pun harus belajar bersama mereka yang menjadi pendidik. Aku akhir-akhir ini menemui hal yang mirip-mirip dan itu adalah berlatar belakang kesempitan cara berpikir, common sense yang tidak lagi jalan, penalaran yang tidak berjalan seperti selayaknya, dan dibarengi dengan pemahaman nilai yang juga kurang dalam. Keluasan dan kedalaman itu dibutuhkan dalam hidup. Itu harga mati.
Aku menyadari betapa susahnya menanamkan nilai bagi anak sekolah menengah karena fase mereka adalah penemuan jati diri. Mereka tidak sekedar meniru. Mereka butuh sosok atau figur sebagai role model namun demikian mereka butuh eksplorasi diri seluas-luasnya dan memahani suatu hal sedalam-dalamnya setingkat usia mereka. Maka di dalam tahap ini kami perlu memberi pemahaman-pemahaman yang bukan doktinal atau definisi yang selalu memakai bla-bla-bla adalah.... atau yaitu..... Kami menghindari hal itu sebisa mungkin karena hidup ini dimensinya tidak definitif. Tidak ada yang pasti amat dalam hidup kecuali ketidakpastian itu sendiri. Maka, SOP, detil acara, bagaimana menjalankan, siapa PIC-nya, berapa durasi dan apa saja yang dibutuhkan itu selalu harus ada. Tentu berapa duit yang dipakai untuk sebuah proyek perlulah dibuat anggarannya. Tidak bisa hanya mengandalkan tutorial lisan dari senior ke yunior. Demikian juga ketika melihat fenomena tidak sinkronnya apa yang dilatihkan di sekolah dan di rumah, maka kita adakan "sekolah bagi orangtua". Intinya supaya kurikulum sekolah sinergis dengan kurikulum keluarga, dan tidak saling menegasi. Di sekolah diajarkan kemandirian, di rumah semua dilayani. Di sekolah diajarkan kesederhanaan, di rumah malah diajak foya-foya dengan kemewahan. Semua akan mubazir pada waktunya jika demikian itu.
Nah, beberapa waktu ini aku melihat hal yang mirip namun sedikit berbeda konteks. Fenomena itu kutemukan bermula dari melihat beberapa hal yang diungkapkan banyak pihak melalui visualisasi medsos atau obrolan ringan-ringan berat. Aku menemukan ini (1) kita terlalu terbiasa dengan seremonial yang menghabis-habiskan duit "hanya" untuk sebuah pesta sepekan. Ada yang mendapat subsidi 13 juta ada yang anggarannya 60 juta untuk seluruh acara sepekan itu. (2) Ada fenomena bahwa orang hidup dalam pola atau hukum "boleh dan tidak boleh". Misalnya, ada banyak penjelasan mengenai ini dan itu terkait dengan warna, waktu, bentuk, dan sebagainya terkait seremoni no (1) di atas. Ada sebuah penjelasan yang diposting di sebuah status WA: "Pada hari Sabtu Sepi kita memakai pakaian warna hitam bukan karena tobat atas dosa tetapi tanda duka". Ada debat juga katanya pada hari Jumat sebelumnya tidak boleh memakai warna hitam karena kalendernya berwarna "merah" nuansanya.
Orang cenderung mencari kejelasan karena saat ini ada kecenderungan telat belajar, tidak mau membaca, tidak mau mencari sendiri, dan memakai pemaknaan dari otoritas yang mau mendukungnya (back up) agar sah dan tidak takut dimarahi otoritas tertentu. Untuk perkara no (1) kiranya memang itu tidak hitam putih penghakimannya. Aku menyorot itu seolah-olah pandanganku seperti Yudas yang mempermasalahkan seorang wanita yang meminyaki kaki Yesus dengan minyak yang mahal. Lalu Yudas mempersoalkan karena itu cenderung menghabis-habiskan duit, hanya untuk meminyaki kaki dan mungkin rambut Yesus yang panjang itu. Dalam drama musikal Jesus Christ Superstar, konflik ini sangat kentara karena memang drama itu garis besarnya adalah konflik Yesus dan Yudas. Jawaban Yesus adalah perminyakan oleh wanita itu adalah hak dari si wanita dan itu bisa diartikan sebagai antisipasi kematiannya. Aku bisa memaknai sebagai kemerdekaan setiap pribadi jika seseorang mau membeli minyak mahal untuk tujuan tertentu. Pernyataan Yudas seperti bernada himbauan agara kita tidak membuang-buang duit hanya untuk minyak namun duit itu bisa membiayai makan orang-orang miskin. Ada nuansa pertarungan antara sayap kanan dan kiri (walau dalam tradisi Yudas menyatakan ini hanya untuk berdalih saja karena ia lihai dalam mencuri uang. Apakah Yesus sayap kanan dan Yudas sayap kiri? Hahaha....itu hanya imaginasiku). Yang kubayangkan untuk no (1) memang pesta selalu ada biayanya. Namun bisakah kita berpesta tidak berdalih dengan "biasanya"? Pesta sederhana dan seperlunya sekali-sekali perlu diadakan. Setidaknya itu untuk shocked therapy. Ketika pandemi covid-19 pun hal itu bisa, apakah butuh pandemi dulu, baru bisa sederhana?Untuk perkara no (2), aku hanya mau menengarai kurangnya semangat belajar dan membaca. Orang di negeri ini terkenal itu karena sudah "terbiasa" difasilitasi, dihibur, disenangkan dengan kesuburan, keenakan, kenyamanan apapun itu. Orang mengatakan orang tropis itu suka menikamati hidup dan lupa bekerja keras karena hanya ada dua musim, penghujan dan kemarau. Tidak pernah merasakan cuaca membeku. Apa yang ditanam, akan tumbuh dengan sendirinya karena subur tanahnya. Perbedaan malam dan siang pun hampir imbang waktunya. Tidak ada perbedaan terang-gelap yang berarti. Tidak harus memikir ada penambahan atau pengurangan jam di musim tertentu. Bahasanya pun tidak perlu mikir tenses tertentu yang menyebabkan perubahan bentuk kata kerja karena hanya menempel-nempel kata semua sudah berubah dengan sendirinya. Cara berpikirnya memang beda. Itulah sebabnya orang-orang negeri ini cenderung akan mudah lupa, karena semua serba tempelan. Tidak mudah mengingat karena semua bisa diatur dan dipasang begitu saja. Kata kerja bisa saja lupa diberi tambahan "sudah" atau "sedang" atau "akan" untuk menyatakan tenses atau pekerjaan yang terkait dengan waktu. Perubahan kata kerja karena waktu sangat tidak kelihatan.
Refleksiku untuk dua fenomena ini adalah perlunya keluasan berpikir dan kemendalaman pemahaman (understanding) yang sebenarnya itu caranya adalah dengan kebiasaan berefleksi. Oleh karena itu, ilmu tidak hanya dipahami sebagai sebuah hafalan atau sesuatu yang harus kupunyai dengan masuk ke otak saja namun perlu ada sebuah cara memasukkan itu dalam hidup (embodiment: masuk ke dalam tubuh). Yang pernah kupakai misalnya adalah melatih murid untuk memberi tutorial ke temannya atau kelas supaya mempunyai pengalaman mengajar seperti gurunya, maka ilmu itu nyantol di kepala lebih lama daripada hanya menghafal untuk ujian. Membuat sebuah proyek pribadi atau kelompok jauh akan membuat paham daripada hanya menulis jawaban di atas kertas kerja. Orang harus memaksa diri atau dipaksa belajar memahami dengan berbagai cara apapun agar paham dengan lika-liku kehidupan dan tidak jatuh pada debat definitif tentang ini dan itu yang ujung-ujungnya "boleh tidak boleh" yang menjengkelkan itu.
Aku tidak serta-merta benci pada definisi namun definisi itu hanya salah satu cara memasukkan informasi dalam otak. Orang pun perlu diberi ruang berpikir dan mempertimbangkan untuk menentukan pilihan dan keputusan secara dewasa sesuai tahap hidupnya. Jika orang sudah tua dan masih berpola "boleh dan tidak boleh", aku merasa ada sesuatu di sana. Definisi itu hanya salah satu. Pemaknaan akan lebih berwarna dan dalam jika kita sungguh belajar, membaca, mencari sendiri lalu berdiskusi, sehingga ada dialektika. Hidup ini bukan hitam dan putih saja, namun berwarna macam-macam. Pegadilan yang benar adalah ketika sudah mendengarkan semua pihak dan bukan dari sepihak atau malah dari frame diriku saja. Dialektika membantu orang menemukan kebenaran. Socrates juga mamakai cara ini di saat mengajar para muridnya sehingga menemukan kebenaran. Metode ini ibarat bidan yang memancing orang yang mau melahirkan mendorong sendiri bayinya sehingga lahir. Kelahiran bayi itu adalah kebenaran. Maka metode dialektika ini terkenal dengan metode kebidanan.
Kemungkinan dunia kita ini agak abai dengan dialektika. Karena semua serba ada dan serba terfasilitasi, maka dialektika itu seperti barang mahal yang jarang dijumpai dalam hidup. Yang ada hanyalah mesin elektronik yang di-klick lalu kita hanya menemukan jawaban, kita kurang belajar bertanya. Kita hanya ingin jawaban, tak mau bertanya. Itulah kiranya yang kutemukan di waktu-waktu ini. Selamat berdialektika, selamat bermenung.
#noontime-inmyroom#

No comments:
Post a Comment