
Pernah melihat lukisan Rembrandt, "Return of the Prodigal Son?" Lukisan itu telah menjadi karya yang luar biasa, apalagi setelah Henri J.M. Nouwen membuat tulisan rohani yang mengupas akan lukisan itu. Tentunya bukan saja karena semata kehebatan lukisan Rembrandt tetapi juga karena tulisan Nouwen itulah aku mampu mengenali lukisan yang terkenal itu. Buku yang diterjemahkan pada tahun 1995 itu sebenarnya sudah aku baca pada tahun 1996. Setahun setelah terbitan dalam bahasa Indonesia. Aku lupa isinya semua tetapi yang aku ingat adalah kedua tangan yang memeluk anak bungsu yang kembali itu ternyata berbeda bentuk dan gayanya. Nouwen menuliskan demikian, " kedua tangan itu berbeda. Tangan kiri sang bapa yang sedang menyentuh bahu si anak bungsu begitu kuat dan berotot. jari-jarinya mengembang dan menutupi bahu dan punggung si anak hilang... Berbeda dengan tangan kanannya! Tangan kanan ini tidak memegang atau mencengkeram. Sentuhannya begitu halus, lembut pada bahu si anak bungsu. ia ingin membelai, mengusap, menawarkan penghiburan, dan kelegaan. Itulah tangan seorang ibu."
Bungsu
Dengan membaca dan juga mundur dari keramaian beberapa waktu lalu, diriku memang mengingat kembali bagaimana isi buku itu dan juga dinamika pertobatan sebagai manusia. Si bungsu yang bengal yang berkata: “Saya
adalah anak bungsu yang badung yang sedang dalam perjalanan pulang, menantikan
sambutan Bapa.” Itulah kata-kata si bungsu yang bengal, yang meminta harta dari bapanya dan pergi ke tanah asing, menghilang entah kemana. Di sana ia berfoya-foya, bersama pelacur-pelacur. Hidupnya akhirnya "nelangsa", sedih, susah, dan akhirnya kelaparan. Uang dan harta dari bapanya sudah habis. Sebuah pengalaman pergi, "minggat", menghilang entah kemana. Pangalaman anak manusia yang memberontak dari rumahnya. Ada penolakan radikal dari si bungsu bengal yang juga menidak dari jati dirinya sebagai anak. Tindakan
pergi berarti penolakan tanpa perasaan terhadap rumahnya tempat dia dilahirkan
dan dibesarkan. Pergi ke negeri yang jauh berarti pemutusan ikatan yang
mendasar dari sebuah cara hidup, cara berpikir dan cara bertindak yang telah
diturunkan turun temurun dari generasi ke generasi. Hal ini tidak hanya tidak
menghargai tetapi juga merupakan suatu pengkhianatan terhadap nilai-nilai
berharga yang ada dalam keluarga dan masyarakat.Di sisi lain ia juga tuli terhadap bisikan cinta. Rumah adalah pusat keberadaan saya. Di situ saya dapat mendengar suara yang berujar,”Engkaulah anak yang Kukasihi, kepadamulah Aku berkenan.” Suara itu datang kepada saya melalui orang tua, guru, teman-teman, dan yang paling utama melalui mass media. Suara itu mengatakan,”Tunjukkan kepada saya bahwa Anda adalah anak yang baik, lebih baik dari teman Anda. Saya berharap Anda berprestasi di sekolah. Tanda-tanda suara itu nampak dalam perasaan-perasaan yang muncul dalam diri saya. Kemarahan, dendam, iri hati, keinginan untuk membalas, nafsu, keserakahan, perselisihan, dan persaingan adalah tanda-tanda jelas bahwa saya meninggalkan rumah.
Ada pencarian ke tempat yang sebenarnya tak ia temukan yang ia cari itu. Selama saya senantiasa disibukkan oleh pertanyaan,”Apakah engkau mencintai aku?”, maka saya memberikan segalanya kepada suara-suara dunia dan menempatkan diri saya dalam perbudakan karena dunia ini dipenuhi dengan banyak “JIKA”. Dunia akan mengatakan,”Ya...saya mencintai engkau JIKA engkau menarik, pandai, dan kaya.”Perbudakan mungkin merupakan kata yang paling tepat untuk menjelaskan masyarakat sekarang ini yang boleh disebut hilang. Perbudakan membuat kita terlekat pada hal-hal yang oleh dunia ditawarkan sebagai kunci pemenuhan diri: kekayaan dan kekuasaan, kedudukan dan kehormatan, mengumbar nafsu makan dan minum, dan pemuasan seksual tanpa membedakan antara cinta dan nafsu.
Si bungsu sadar dan akhirnya bangkit, sadar bahwa di rumah bapanya banyak makanan dan tempat untuk tidur. Berbeda dengan tanah asing. Kesadarannya membawanya untuk melangkah, maju dan kembali ke rumah Bapa. Kesadaran dan niat menunjukkan pertobatan ke arah bapa kembali. Ia ingin meraih keputraannya kembali, martabat keputraan yang selama ini ia hilangkan. Kisah si bungsu adalah kisah kepulangan ke rumah bapanya. Road Home. Menerima pengampunan menuntut kesediaan penuh untuk membiarkan Allah memberikan kesembuhan, pemulihan, dan pembaharuan. Penyerahan diri yang sebagian akan menghasilkan pengampunan yang tidak penuh. Martabat sebagai anak tidak didapatkan. Yang didapatkan adalah status sebagai orang upahan. Sebagai seorang upahan, saya cenderung menjaga jarak, memberontak, menolak, lari, atau mengeluhkan upah.
Sulung
“Terus terang, saya tak pernah memikirkan diri saya sebagai si anak sulung. Namun, selanjutnya... untuk beberapa lama, mustahil bagi saya melihat diri saya sebagai anak bungsu lagi. Saya adalah si anak sulung, tetapi yang hilang seperti si anak bungsu, kendati saya senantiasa ada di rumah sepanjang hidup saya.” Dalam keluhan ini, ketaatan dan kewajiban menjadi beban, dan pelayanan menjadi perbudakan. (hl. 82). Si sulung adalah sang pengamat utama atas kepulangan si bungsu. Dalam mengamati kejadian di depannya, dia mengambil jarak. Dia memandang sang bapa tanpa secercah kegembiraan terpancar di wajahnya. Dia tidak mengulurkan tangan atau tersenyum sebagai ungkapan penyambutan kedatangan sang adik. Dia hanya berdiri di sana, di sudut panggung. Tampaknya dia enggan untuk tampil.
Ketika melihat si bungsu pulang, marahlah si sulung. Ia "ngambek". Ia merasa "apa-apaan ini semua! Ngapain bapa membuat pesta seperti ini, menyambut anak bengal yang sudah menghabiskan banyak harta, berpesta pora bersama para pelacur, dan sekarang pulang.!" Ketika pulang pun masih dipestakan, disambut dengan hangat, diberi pakaian dan sepatu yang terbaik, disembelihkan lembu tambun, dipanggil para penari dan pemain seruling. Melihat seluruh keadaan itu, semua menjadi kemarahan dalam diri si sulung.
Sulung adalah keirian. Sulung adalah sikap tidak gembira melihat si bungsu pulang. Sulung marah. Sulung tidak gembira. Sulung adalah representasi atas iri hati kita. Ada kekuatan gelap yang hebat yang senantiasa menarik saya masuk ke dalam batin. Perasaan menyalahkan orang lain dan diri sendiri, mmbenarkan diri dan penolakan diri yang terus-menerus saling menguatkan bahkan dengan cara yang lebih buruk.
Setiap saat saya membiarkan diri larut dalam perasaan itu, saya semakin tenggelam dalam pusaran penolakan diri (Nouwen, hl. 84)... Keluhan terus terjadi dalam diri saya. Tragisnya, sekali orang mengeluh, ia akan diseret kepada hal yang paling ditakuti, yaitu penolakan lebih jauh. Ada kekhawatiran bahwa diri saya akan disingkirkan lagi, bahwa seseorang tidak akan bercerita kepada saya, bahwa saya tetap tidak tahu segala-galanya.(hl. 85). Menjadi anak sulung dalam pengalamanku pribadi adalah anak yang harus memberi contoh teladan kepada adik-adiknya, menjadi panutan, menjadi penegak moralitas di rumah, menjadi sosok yang harus tegar, kuat. Sering inilah yang menjadi beban hidup. Beban itu jika tidak hati-hati, akan menjadi belenggu yang mematikan, tak menjadikan diriku murah hati. Tak melihat orang lain yang juga mempunyai kelemahan. Aku mempunyai target dan tuntutan tinggi. Orang lain harus ikut diriku.
Si sulung kembali. Ia harus menyingkirkan segala persaingan dan iri hati menyingkir. Ia perlu hidup dalam penerimaan diri, tak lagi hilang karena iri hatinya.Harga dirinya memang dilukai secara menyakitkan oleh kegembiraan bapanya, dan kemarahannya menghalangi dia untuk menerima bajingan yang kembali itu sebagai saudaranya. Dia menjadi seorang asing di rumahnya sendiri.

Bapa
“Tidak peduli apakah engkau si anak bungsu atau si anak sulung, engkau harus menyadari bahwa engkau dipanggil untuk menjadi sang bapa.” Inti dari lukisan Rembrandt sebenarnya adalah tangan sang bapa. Pada tangan itulah segala terang terpusat; pada tangan itulah mata para pengamat terarah; dalam tangan itulah berkat menjadi daging; melalui tangan itulah si anak yang kepayahan dan sang bapa yang penat mendapatkan istirahatnya. (hl. 112)... Sekarang saya ragu apakah dalam kehidupan ini sayamemang sudah cukup menyadari bahwa Allah sebenarnya mencoba menemukan saya, mengenal saya, dan mencintai saya. Pertanyaannya bukan "Bagaimana saya menemukan Allah" tetapi "Bagaimana saya membiarkan diri ditemukan oleh Allah." (hl. 122)...Perumpamaan tentang anak yang hilang adalah sebuah cerita tentang cinta yang ada sebelum penolakan, dan tetap akan ada di sana setelah segala penolakan terjadi. Itulah cinta pertama dan abadi dari Allah yang sekaligus Bapa dan Ibu...Dalam melukiskan sang bapa, Rembrandt menawarkan sekilas cinta itu kepada saya. Itulah cinta yang selalu menyambut kedatangan kita. Itulah cinta yang selalu ingin merayakan kedatangan kita.(hl. 126).
Itulah sejenak permenungan di tempat sunyi bersama rekan-rekanku yang lain. Permenungan tentang kebungsuan, kesulungan dan kebapaan yang selama ini terjadi di dalam diri manusia. Kisah itu adalah kisah hidupku bersama sesama menuju pada Bapa sejati. Perjalanan ke Bapa sejati tak mudah dan memang di sanalah kita pun mengalami pergulatan batin itu. Itulah pertobatan hidup.
*Road home. The road to repentance is the road to be back to heavenly Father. We often live like prodigal but also as the elder. We call also, in our way of life, to be father, who has mercy, love, generousity to accept ourselves. We are sinners yet called to be his sons.
#after noon time in my office#
No comments:
Post a Comment