Itulah kisah primata awal yang akhirnya diwarisi oleh mamalia-manusia yang berdiri tegak (pitecantropus erectus) dan kemudian makin dimodifikasi oleh manusia pandai (homo sapiens). Karena ingin memiliki betina-betina dalam kawanan itu, pejantan harus bertarung dan jika ada kawanan pejantan yang membunuh pejantan dominan di kawanan itu, mereka berhak memiliki betinanya. Demikian juga homo sapiens menemui situasi yang lain. Ketika mereka mulai menetap dan tidak nomaden lagi, mereka mulai sadar akan kepemilikan. Ketika ada klan lain yang menduduki lahan yang adalah "properti" mereka, maka mereka pun harus bertarung untuk menyingkirkan klan nomaden itu dari lahannya. Itulah mulainya perang antar manusia. Belum lagi sifat tamak dalam diri manusia, ia merasa tidak akan puas dengan kepemilikannya, maka ia menimbun barang-barang lain dari ternak, hasil kebun/hutan, logam, dan barang lain yang mulai mereka temukan. Itulah mulainya ketidakadilan.
Kemampuan yang telah berkembang merupakan sebuah keajaiban dari makhluk manusia yang berevolusi jutaan tahun lamanya. Dari primata ke pemburu ke nomaden ke sebuah klan yang menetap sebagai homo sapiens, ruang dan waktu telah menguji dan membentuk makhluk manusia sebagai yang seperti saat ini. Makhluk yang dahulu merdeka dengan keterbatasan kemampuan dan hanya berumah atapkan langit dan beralaskan bumi, saat berkembang, ia telah menjadi makhluk yang dengan kemampuan akalnya mengalahkan elemen-elemen alam yang dahulu mengurungnya. Seolah-olah alam takluk ke dalam tangan makhluk manusia ini. Ia merasa telah merampas kuasa langit dan mempermalukan hujan ketika menemukan sistem irigasi yang mengairi lahan untuk pertanian mereka. Ia merasa lebih kuat dari alam dan dari segala roh.
Bahkan ketika makhluk manusia makin bertambah banyak karena makin bertambah kuat secara intelektual, fenomena purba pun tidak serta-merta hilang dari dunianya. Pembunuhan, perang, ketidakadilan, saling sikut, kecemburuan, kerakusan tidaklah musnah. Malah semuanya itu makin masif, semuanya itu makin menjadi dengan peperangan tanpa awak. Pembunuhan massal makin seru. Darah tak lagi menggenang dalam peperangan antar serdadu. Permusuhan tak lagi terang-terangan dalam sebuah konflik fisik. Saat ini peperangan ada di dalam dunia maya, saling serang dalam perebutan kepemilikan data pribadi, perang tarif perdagangan, peperangan ada dalam keseruan dalam layar yang dipakai manusia dalam lompatan kemampuan itu.
Di bumiku yang bernama nuswantara ini. Sedari dulu memang menjadi bagian dari hunian homo sapiens, setidaknya ada soloensis dan manusia kecil dari Flores. Keramaian dan kegaduhan di bumi ini pun tak luput dari pergolakan dunia makhluk manusia itu sendiri. Di berbagai kisah dan berita, kita digaduhkan di bulan ini dengan hiruk pikuk merayakan berdirinya sebuah bangsa dengan batas-batas teritorinya, sebuah bangsa yang dirayakan karena terbebas dari penguasaan (dominasi) klan bangsa Eropa kulit putih. Namun apa daya, perayaan hiruk pikuk itu di tahun ini adalah perayaan hambar karena hambarnya sebuah tatanan yang menunjukkan ketidakjelasan. Kehambaran itu adalah sebuah fenomena yang dipicu oleh tatanan dunia yang juga sedang membara oleh peperangan di negara lain, perang dagang karena kerakusan, perang pengaruh karena ingin saling sikut dan menguasai. Di dalam negeri pun ada ketidakjelasan pemerintahan yang semakin menampakkan sisi kekurangpekaan pejabat dengan rakyatnya. Pajak melambung tinggi. Pengangguran menggelombang. Ketidakjelasan orientasi kepemimpinan membawa perjalanan bahtera negeri ini tak tahu arah dan tujuannya. Semua telah dirusak dari dalam dan terancam oleh situasi dari luar.
Seolah seremoni formal tahunan rutin itu adalah sebuah hal yang harus dirayakan secara mekanis, latah. Manusia tak paham lagi perayaan sebuah "kamardikan" yang kadang hanya sebuah ritualisme formal. Orang dibutakan oleh daya mekanis mereka. Di sinilah pemaknaan itu perlu dibantu. Kemampuan manusia memaknai itu berdasarkan kepekaan mereka menangkap fenomena alam. Sebuah klan yang sudah menemukan rumah batu dan sudah menetap akan berbeda menghadapi bencana alam badai dengan sebuah klan yang masih nomaden dan hanya mempunyai rumah dari kayu dan kulit. Tentu klan yang sudah menetap dan punya rumah batu akan lebih stabil dan rumahnya tidak rusak oleh badai. Sedangkan yang nomaden akan terpengaruh oleh badai itu. Dari sini, kemampuan memaknai hidup dan kemerdekaan juga perlu melihat fenomena alam dan manusianya. Apakah sebuah negara wajib merayakan kemerdekaan itu hanya karena "wajib" merayakan dan dengan hal-hal yang seremonial belaka? Seremoni selama sebulan dengan keharusan ini dan itu, lomba-lomba dan upacara itu kiranya sudah kehilangan makna. Yang tersisa hanya kewajiban belaka. Bahwa memang itu adalah sebuah tanda, namun yang tak pernah kita lupakan adalah tanda makna itu sendiri.
Banyak orang sudah mencibir, muak, antipati, membuat sebuah tandingan lain. Itu berarti makna "kemerdekaan" ada masalah. Kita bukan anti kemerdekaan, kita bukan anti seremoni, asalkan semua itu dilandasi kepekaan nurani sebagai homo sapiens. Peka bahwa ternyata masih banyak ketidakadilan, penggarongan, penipuan, persekusi, korupsi, manipulasi aturan main, perusakan alam, dan lain-lain. Apakah dengan realitas seperti itu kita manusia ini layak disebut merdeka? Memang kemerdekaan tidak bisa mutlak 100% namun setidaknya alam tidak dirusak, manusia tidak dipersekusi, yang kaya tidak korupsi, orang miskin dimanupulasi, dan lain sebagainya. Kemerdekaan bukan hanya sebagai mereka yang berduit, mereka yang punya jabatan, mereka yang punya bekingan, mereka yang dekat dengan kekuasaan, mereka yang punya wewenang mengobati, mereka yang mengatur jalur hukum dan keamanan. Kemerdekaan adalah kita sebagai makhluk manusia dan alam semesta. Kemerdekaan berarti menghormati kebhinekaan, menghormati hak hidup dan kesehatan, membantu dan tidak serakah dengan mereka yang miskin, tidak menghalangi dan juga tidak merebut batas-batas wilayah, dan sebagainya. Itulah penghargaan pada martabat hidup yang merdeka. Kemerdekaan biasanya terenggut oleh mereka yang ingin berkuasa, rakus, dan tinggi hati.
Oleh karenanya, merayakan merdeka bukan hanya ritualisme formal. Merayakan merdeka adalah bagian dari hidup makhluk hidup yaitu dengan menghormati dan menghargai hidup itu sendiri. Yang sudah mati akan bangkit karena sebuah penghormatan dan penghargaan akan berharganya hidup. Primata sudah mempelajari arti kematian, kehilangan anggota dari kawanan, mereka mulai menangis kehilangan karena kematian anggota primatanya. Saat ini sebagai homo sapiens, kematian bukan lagi sebagai sebuah kehilangan namun sebuah efek dari ketidakmauan dikuasai oleh yang lain. Dan itu ibarat tak berharga lagi kehidupan ini. Bahkan ketika terjadi pembantaian massal dari zaman ke zaman, homo sapiens hanya diam, membeku, tak peduli. Dunia tak peduli akan pembasmian itu.
#inmyroom#

No comments:
Post a Comment