Dalam keadaan di mana ia tidak mampu menguasai hal-hal tadi, maka yang kemudian perlu dibuat adalah melihat hidup ini jauh lebih realistik ketimbang terobsesi untuk menguasai. Ketika seseorang menemukan dirinya adalah diri real di lini masa saat ini, maka aku menemukan diriku saat ini. Namun demikian, aku pun menemukan diriku yang terbentuk ini karena ada dimensi masa lalu yang juga "telah" membentukku. Aku sengaja memberi tanda petik pada kata 'telah' karena pertimbangan waktu saja. Masa lalu telah membentukku sedemikian rupa sehingga menjadi sekarang ini. Masa lalu telah mengukirku secara sadar atau tidak dan akhirnya aku sekarang ini yang hidup. Apakah perlu meratapi atau mensyukuri? Nah, itulah yang akhirnya menjadi penting digali sehingga menghasilkan jawaban atasnya. Masuk ke dalam inner-self kita adalah sebuah peziarahan juga. Memasukki diri dan jagat-nya adalah sebuah keberanian. Tidak semua orang berani karena akan menghadapi hal-hal yang tidak hanya menyenangkan tetapi lebih pada banyaknya kerapuhan.
Aku bisa mengutuki atau meratapi masa-laluku karena aku mempunyai obsesi akan diri saat ini dan yang akan kuukir nanti. Mengapa demikian? Kadang dalam kisah hidup manusia, ada yang merasa hidupnya penuh kemalangan, merasa kurang beruntung, koq tidak bahagia, dan ada hal-hal yang serba tidak nyaman. Itu terkait dengan apa yang dirasa secara pribadi dan ada yang terkait dengan relasinya dengan pribadi-pribadi saat ini atau ruang dan waktu saat ini. Katakanlah, aku merasa koq aku sering tidak suka dikritik oleh orang lain karena kritikan itu selalu membuatku agresif menyerang orang lain. Atau ada kesadaran lebih dalam bahwa ketika aku dikritik orang lain, aku teringat akan diriku yang meminta dipahami dan dipuji, eh koq aku mendapatkan hantaman kritik. Setelah ditelusur, ternyata dalam sejarah hidupku aku memang mempunyai sebuah pengalaman bahwa relasiku dengan ibuku adalah relasi yang hanya menurut saja dan hanya bisa menurut saja tanpa mempunyai daya untuk berdiskusi, menyampaikan pendapatku dan aku mengalami represi selama awal usia emasku. Dari sana aku sebenarnya merindukan sebuah ruang dipahami, aku merindukan ruang di mana aku pun bisa saja gagal, jatuh, tidak sesuai idealisme namun aku adalah aku yang juga butuh dipahami.
Aku merasa tidak nyaman kalau memprotes apa yang dilakukan orang lebih tua dariku karena aku ada dalam dilema (1) kalau aku melawan, aku selalu dimarahi dan kemarahan itu membuatku tak berdaya karena aku tidak dianggap atau tidak diperhatikan atau tidak diberi ruang merdeka atau (2) aku tidak boleh membantah karena itu adalah DOSA. Itulah yang membuatku terkungkung dalam keberadaanku saat ini, karena itu terekam dalam memori hidup tubuhku. Itulah tegangan yang memenjarakan diri.
Di sisi lain, seorang anak manusia akan bisa bersyukur atas pengalaman ketidaknyamanan masa lalu karena hal di atas ketika dirinya menyadari (dalam proses reflektif-nya) bahwa ketidaknyamanan masa lalu adalah sebuah anugerah di balik pengalaman negatif itu. Maksudnya demikian, ketika pribadi itu menyadari bahwa ada sebuah konflik terpendam di masa lalunya, ia mulai menyadari lewat perjuangannya bahwa apa yang dilakukan orang terdekatku adalah sebuah usaha yang ia bisa demi dirinya. Mungkin aku belum melewati masa menerima diri jika belum menelusuri lorong-lorong hidupnya di mana sebenarnya perlakuan ibunya adalah tindakan melindungi dan menyayangi jika belum direfleksikan. Penerimaan diri atas perlakuan kasih sayang itu bisa saja caranya adalah kurang sesuai kemauan si kecil yang sarat dengan super ego dirinya. Dan si kecil itu merekam dalam hidup tubuhnya dan akhirnya menimbulkan letupan-letupan agresi yang tak disadari. Misalnya, bisa saja seseorang tidak dekat dengan sosok ortunya karena merasa terus dipaksa sejak kecil dan akhirnya menyimpulkan diri bahwa orang tua tak mencintainya. Namun sebuah peristiwa kecil terjadi di masa remajanya, ternyata orangtuanya dengan penuh usaha mendatanginya di saat moment biasa namun berharga, dan itulah yang menyembuhkan. Memori hidup tubuhnya akhirnya mengubah simpulan itu, yaitu ternyata orangtuaku mencintaiku. Hatinya terharu dan di sanalah terjadi rekonsiliasi. Aku sudah tidak lagi menyebut orangtuaku membenciku atau tidak menyayangiku atau apapun itu.
Kedalaman biasanya ditemukan ketika jiwa seseorang itu ada dan menyediakan diri dalam keheningan. Ruang dan waktu hening itu perlu diusahakan. Tak mudah memang dalam hiruk pikuk hidup yang hanya menuruti jadwal harian yang tergerus oleh padatnya rutinitas atau aktivitas sehari-hari. Kadang kita pun perlu menyingkir dari kepadatan rutinitas. Kedalaman itu demi menumbuhkan jiwa yang kerdil menuju pada kedewasaan hidup. Menuju pada kedalaman adalah pengembaraan jiwa yang mau memaknai hidup bukan sekedar hidup yang biasa namun ada makna dari setiap jengkal atau rentangan sekecil apapun jejak hidupku. Kedalaman mengajakku untuk berani menghadapi setiap warna dan wajah dari hidupku, baik yang ceria atau yang bopeng-bopeng tak elok. Itulah tadi kusebut sebelumya sebagai peziarahan ke dalam inner-self. Kadang aku menolak ketidakelokan itu, namun sayangnya aku pun harus menghadapinya, menerimanya, bahkan memeluk kesemuanya itu karena itu adalah aku. Aku pun perlu memaknai keterlemparanku ke dunia ini supaya aku tidak terjebak dalam keterasingan hidup. Aku adalah orang asing dalam pengembaraan di dunia ini namun aku tidak mau terasing dari diriku dan duniaku.
#eveningtimewiththerain#
.jpeg)
No comments:
Post a Comment