Tuesday, December 16, 2025

Sampai Kapan Kita akan Bertahan

Bukan hanya karena bencana di Sumatera aku menulis ini. Lebih-lebih karena aku muak dengan gaya dan cara bertindak dari pengurus negara sampai saat ini. Bencana ini hanya satu dari sekian malapetaka yang masih dan terus akan terjadi di negeri ini. Negeri yang memang sudah sejak dahulunya adalah negeri yang silih berganti akan seperti ini dengan bencana alam maupun bencana kemanusiaan. Bencana alam adalah genetika negeri ini karena kita di atas lempeng api yang tidak pernah tidur untuk sewaktu-waktunya membakar apa saja yang di atasnya. Lempeng itu akan terus bergerak karena bagian dari kehidupan planet ini. Namun demikian, bencana kemanusiaan akan lebih dahsyat hadirnya karena itu sudah menganak-pinak dilahirkan dari mentalitasnya dengan trauma-trauma yang diakibatkan oleh ketidakpedulian manusianya terhadap manusia yang lain. Kebenaran biasanya akan samar, namun kebenaran biasanya akan hadir dan memberitahu kita juga lewat bencana dan suasana yang tidak mengenakkan lainnya. 

Pagi tadi ada sebuah kebanggaan namun kebanggaan itu kiranya menjadi semu ketika keadaan realnya adalah kebanggaan yang bisa saja akan berubah di suatu saat. Banyak dari kalangan tua membanggakan negeri ini yang maha luas itu bertahan dari tahun ke tahun. Aku hanya nyeletuk, "itu kebaggaan orang tua, yang mengimaginasikan Majapahit, namun kami orang muda hanya bisa bertanya, 'sampai kapan kita akan mampu bertahan seperti ini?' " Demikian celetukku. Aku menyadari bahwa jika imaginasi itu tidak pernah akan kita rawat dan kita melalaikan keadaan real kita, maka mendingan kita berpisah dan mengadakan kesepakatan sendiri-sendiri untuk mendirikan sebuah negara yang lebih kecil-kecil daripada kesulitan menyelenggarakan negara yang maha luas dan tak realistis ini. Zaman adanya diktator sebelumnya kita sudah terlalu lama hidup bukan dalam persatuan tapi persatean. Yang penting harus disate, untuk disamakan dalam satu tusuk bambu atau jeruji logam itu. Kesatuan bukanlah kesatean. Kesatuan itu mengandaikan adanya penerimaan keberagaman dan lebih realistis mengelola hidup bersama. Idealisme tidak selamanya akan merawat hidup bersama jika ada ketimpangan di sana sini. 

Yang lain adalah soal cara bertindak (selain kebanggan merawat imaginasi kesatean - jika tidak mau disebut kesatuan) untuk mengelola hidup bersama (bonum commune) kita. Apapun bentuk nation state kita, tidak ada yang "harga mati". Semua itu ada dalam dialektika. Semua ada dalam on going, semua ada dalam on the process of becoming. Seandainya dalam proses menjadi itu ada kesepakatan lain yang mengubah cara bertindak kita, maka kita pun harus dengan realistik menerima dan menjalankan. Tidak selamanya negara yang kita bangga-banggakan itu bentuknya kesatuan, bisa jadi federasi atau bahkan bisa jadi kesepatakan atau mufakat itu kita lepas dan kita berdiri sendiri-sendiri entah itu sesuai pulau atau latar belakang suku kita. Aku tidak alergi akan perpecahan yang mengubah dan membuat sebuah formasi baru. Aku tidak menampik adanya negara kecil-kecil yang mungkin di sana akan lebih mewujudkan "keadilan sosial bagi seluruh rakyat" dengan lebih baik. Aku juga akan mendukung semua cara untuk mewujudkan kemerdekaan sebagai bagian dari "kemanusiaan yang adil dan beradab" ketimbang hanya mempertahankan bungkusnya saja namun dalamnya itu berisi ketidakadilan, bencana, korupsi, dan segala bentuk perampasan kehidupan.  

Di saat bencana ini terjadi, di sanalah kita diuji. Ketika suasana real adalah hidup yang tidak baik-baik saja, di sanalah kita sedang diuji untuk bersungguh-sungguh komitmen dengan hidup itu sendiri. Apakah aku sungguh mau mengusahakan sesuatu yang perlu dan intinya saja atau aku hanya perhatian pada luaran, tampilan, polesan? Kerja keras dan kesederhanaan adalah mentalitas yang perlu kita bangun. Tentu itu perlu didukung oleh kejujuran dalam kerja kita dan cara kita bertindak. Aku memoles diri dan aku mau menutupi kerapuhanku, biasanya aku hanya menunggu bom waktu saja kapan aku akan bertahan dengan hal-hal yang tidak perlu ini. Mentalitas kita sudah terlalu bebal dengan hal-hal yang perlu. Kita terlalu lama hidup dengan polesan-polesan asesoris kehidupan yang tak perlu. Kita terlalu bangga dengan kebesaran luasnya wilayah. Kita bangga dengan menjadi "bangsa yang besar." Kita terlalu lama membiarkan elite politik yang meninabobokkan kita dengan tipu daya mereka dan kita tidak berani melawan. Struktur hidup bersama dalam mengurus bonum commune sudah kita biarkan korup sejak lama. Orang-orang yang mengurus negara ini sudah terlalu lama bukan melayani tetapi pejabat alias elite. Mereka ada karena tujuan kita hidup bersama, bersepakat, mengadakan kontrak sosial ini dan mereka kita serahi tugas mengurus semua itu. Namun jika kemampuan mereka tidak ada, ya seharusnya kita bisa menolak mereka. 

Pemikiranku adalah tentang hidup bersama, pengelolaannya, dan pertanyaan cermin bagi kita: "sampai kapan kita akan bertahan dengan hal-hal yang tampak lumrah namun sudah tidak sesuai ini?" Sepertinya, kita perlu mengevaluasi diri. Perlu ada sebuah tindakan keras dan tegas dari kita manusia yang adalah masyarakat ini. Tindakan itu adalah sebuah tuntutan apakah masih mau melayani masyarakat atau kita paksa mundur dari tugas itu (aku tidak mau menyebut itu sebagai jabatan, karena akan melahirkan kata pejabat). Mereka kita tugasi maka mereka adalah petugas kita. Kalau melihat fenomena gerakan masyarakat sipil yang dikoordinasi oleh Ferry Irwandi, aku sudah tidak kaget lagi. Hidup di negeri yang maha luas ini membutuhkan petugas yang murah hati, tak cari nama, tak memanfaatkan bantuan untuk numpang status sosial saja, penuh liku birokrasi yang tak mencerminkan pelayan dan pengurus bonum commune. Hidup di negeri ini bagiku hanya seperti kost di republik yang lupa akan ke-republik-annya. Semenjak kita lahir, kita sudah tidak dilayani oleh lembaga yang namanya negara. Kita hanya hidup di sebuah ruang republik namun kita harus bayar. Ada berbagai harga yang harus dibayar sebagai masyarakat. 

Kita perlu sadar akan keberadaanku, siapa yang kupercaya dan tidak bisa dipercaya, bagaimana sebab dan akibat dari cara bertindak kita sebagai warga republik yang diurus oleh para pengurus yang tidak becus ini menjadi bagian dari hidup kita. Selebihnya, kita bernegara ini hanya mengurus sendiri. 


#dipagihari# 

No comments:

Post a Comment