Monday, October 27, 2025

Keberacunan dan Kegelapan

Bangsa yang hidupnya ada dalam kegelapan tidak akan melihat terang. Terang bagi bangsa ini hanya sekedar sepercik cahaya yang menyinari memori sesaat belaka. Tidak ada bangsa yang lebih menyedihkan daripada bangsa yang  hidupnya menyukai kegelapan. Itu hanya sekelumit ucapan mazmur pribadi di tengah hiruk pikuk kehidupan bangsa yang entah mau kemana pergi dan berlalunya nanti. Jargon-jargon yang selama ini menggaung seolah-olah hanya angin lalu saja. Kadang kita dibius dengan jargon-jargon memabukkan dan kita tenggak tanpa lambaran makanan lain sehingga cepat memabukkan. Ada yang mengatakan "Kita adalah bangsa yang besar. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan para pahlawannya." Ada lagi yang mengatakan bahwa "NKRI harga mati". Semua itu adalah jargon-jargon dari muntahan racun memabukkan yang disebut sebagai ultra otoritarianisme belaka. Setelah aku menelisik, bangsa ini memang lahir dan dilahirkan di masa nasionalisme didengungkan dan oleh kekuatan fasisme yang menjadikan bentuk negara dan orang-orang di dalamnya mencetuskan sebuah negara bangsa. 

Aku bisa memahami bahwa di tengah-tengah lahirnya negara bangsa ini ada kekuatan yang selalu kuat entah mendominasi atau tidak, pengaruhnya tetap ada dan terasa. Ada sebuah negara di dalam negara. Kekuatan itu nyata dan di zaman rezim sekarang tengah dihidupkan kembali. Rezim yang sarat racun dan kegelapan tengah berkuasa di bumi ini. Hal itu juga tidak luput dari pengaruh negara bangsa lain yang situasinya sebelas dua belas. Artinya, jagat gedhe sedang menampilkan tokoh-tokoh yang senada dan seirama.  Entah itu di negara yang superpower atau di negara -negara kere, kiranya tokoh-tokoh yang sedang dimunculkan oleh dunia ini adalah mereka yang memang berwatak pemimpin yang populis kapitalis. 

Dari waktu ke waktu, di masa rezim ini yang belum berumur panjang, sudah banyak hal yang terjadi. Dan itu memilukan. Namun demikian, ini bukan hanya dari pengelihatanku dan mungkin karena aku sudah mempunyai sentimen kurang baik. Ada banyak pemberitaan dan kenyataan bahwa di sana-sini ada banyak kejanggalan dilihat dari kaca mata orang yang memang mengidealkan soal tata kelola dalam hidup bersama. Ada ironi di sana-sini ketika melihat ketidaksehatan dalam menyusun para pengelola negara ini. Kegemukan sebuah pengurus adalah cermin kekurangbecusan seorang pemimpin dalam mengelola sebuah komunitas negara bangsa. Hal lain adalah membuat lembaga-lembaga baru yang menghambur-hamburkan uang adalah sebuah realitas bahwa pemimpin ini adalah pemimpin yang tak pernah mengalami situasi sulitnya hidup sebagai rakyat kecil. Walau jargonnya adalah demi kesejahteraan masyarakat, demi mengentaskan kemiskinan, demi rakyat kecil, semua itu hanya omon-omon saja. Kenyataannya, si pemimpin ini adalah seorang yang tak pernah merasakan kemiskinan materi. Yang kemudian muncul lagi adalah kejadian-kejadian massal di mana banyak anak SD, SMP, SMA/K keracunan makanan. Makanan itu dari para pengurus negara. Idenya adalah memberi makan bergizi pada generasi muda yang masih belajar di tingkat dasar dan menengah. Ide dan cita-cita yang mulia. Namun yang baik itu perlu dibarengi dengan tindakan detil yang baik juga. Ternyata itu terlewatkan. Ketika banyak anak keracunan, anehnya adalah para pengurus negara ini hanya diam saja, ada yang menangis tipu-tipu, ada yang tanggapannya salah dan sebagainya. Misalnya, ketika ahli gizi dan para pemantau keracunan ini bicara di parlemen, salah satunya adalah "guru dijadikan budak proyek makan gratis ini", maka tanggapan pengurus negara yang cetek pikirnya adalah segera memberi tambahan uang bagi guru-guru yang harus mengkoordinasi makanan itu. 

Aku sekali lagi tak habis pikir. Aku sudah cenderung muak dengan rezim yang mempermainkan pengelolaan hidup bersama ini entah dengan aturan mainnya diubah-ubah seenaknya, dengan ongkos mahal dalam hidup bersama kita, dan juga kekuatan represif yang saat ini sudah mulai merebak di sana-sini dan akan, sedang dan sudah berkuasa lagi. Mereka-mereka yang memakai lars panjang dan pengoperasi sah senjata adalah pihak yang tak kusukai. Aku sebagai pribadi sudah pernah mengalami betapa menindasnya jika kaum bersenjata ini berkuasa. Mungkin saat ini belum sangat terasa namun sudah kelihatan di mana-mana. Dari urusan sampah sampai dapur, mereka ada. Dari penyelewengan arti ketahanan pangan mereka dicawe-cawekan oleh rezim yang memasukkan para kaum bersenjata ini ada di dalam dan mengurusinya. 

Yang aku rasakan sampai saat ini adalah sebuah kekuatiran dan ketakutan bahwa racun dan kegelapan itu akan dibawa kembali menyelimuti hidup negara ini. Keracunan itu hanya bagian kecil dari genosida yang mungkin sedang dirancang. Kalau hanya terjadi satu yang keracunan, itu tragedi. Tapi kalau yang keracunan itu ribuan, itu hanya statistik. Itulah cara pandang pemimpin otoriter - represif - haus darah. Wajahnya kelihatan manis dan gemoy namun di dalamnya adalah wajah bengis iblis dari neraka jahanam yang siap melalap hidup semua makhluk. 

Mungkin inilah tulisanku di masa kegelapan dan keracunan. Aku tidak tahu harus sampai kapan masa ini akan berlalu. Orang kita hanya punya memori pendek-pendek, yang akan mengangkat pembantai jutaan orang jadi pahlawan, yang membiarkan ketakutan kembali mengontrol diri kita, yang membiarkan kita alergi membaca buku-buku bermutu, dan yang menjerumuskan hidup kita pada abad gelap (obscurum saeculum).    



#pesimisvsoptimis#

No comments:

Post a Comment