Tuesday, June 24, 2025

Negeri Penjahat

Dengan pernyataan pejabat publik yang sudah mengingkari adanya sebuah peristiwa kejahatan yang telah terjadi pada masa lalu, ia sudah menjadi bagian dari pelaku yang melakukan tindakan kejahatan itu sendiri. Peristiwa itu bukan saja hanya masalah angka atau kuantitas berapa korbannya. Jika itu hanya satu saja korbannya, korban tetap saja korban. Ia punya nama, identitas, keluarga, dengan berbagai latar yang melingkupinya. Ia punya martabat yang harus dihargai. Ia adalah manusia. Manusia adalah makhluk yang menyejarah. Peristiwa tidak bisa hanya ditulis hanya dengan sesederhana penyangkalan bahwa tidak ada bukti, tidak ditulis dalam buku sejarah, tidak ada macam-macamnya. Seringkali peristiwa yang menyangkut korban yang trauma akan lebih sulit mengungkapkan diri karena malu, takut dihujat massa, merasa itu aib dan tak pantas. 

Peristiwa pemerkosaan massal tahun 1998 karena adanya kerusuhan massal pada waktu itu memang lingkupnya di Jakarta dan sekitarnya. Itu adalah lokasi peristiwa dengan berbagai titik seperti Glodok, Pluit, Sunter, dan beberapa wilayah lagi yang ada. Tahun itu adalah tahun perubahan yang cukup signifikan di negeri ini. Tahun di mana ada sebagian nyawa melayang karena pergantian kekuasaan. Di negeri ini memang ketika pergantian kekuasaan harus dengan sebuah tragedi, biasanya ada korban yang harus dijadikan tumbal. Sekali lagi, setidaknya sudah ada beberapa titik momentum  yang ada. Ada tahun 1945 dari kekuasaan penjajahan ke kemerdekaan (situasi perang dunia kedua), dua puluh tahun kemudian tahun 1965 di mana ada pergantian kekuasaan dari Sukarno ke Suharto, terjadi tragedi berdarah pembantaian 500 ribu sampai 1 juta nyawa melayang, dan tahun 1998, ketika pergantian rezim Suharto ke era yang disebut reformasi (aku tidak menulis dalam huruf kapital karena tak layak rasanya), terjadi kerusuhan dan kekerasan seksual yang dialami sejumlah besar kalangan wanita Tionghoa yang diperkosa dan dibunuh dengan brutal. Tonggak-tonggak sejarah itu menentukan nasib anak-anak di negeri ini sebenarnya, namun sering kali karena kurang menghargai sejarah, maka penentuan itu tak berbuah apa-apa sampai detik ini. 

Dari peristiwa penyangkalan atau pengingkaran data dan fakta sejarah di negeri ini oleh pejabat publik yang terhormat (dengan nada sinis), aku begitu yakin bahwa memang bangsa ini tidak kenal dan tidak menghargai sejarah. Aku menjadi miris dan prihatin sejak dulu. Yang ada hanya tradisi atau kebiasaan ingin populer, suka yang viral namun tidak mendalam pada diri dan hidupnya. Kesannya adalah sederhana yaitu seorang pejabat menyangkal peristiwa sejarah, namun itu adalah sebuah tindakan berbahaya yang menyangkal jati dirinya atau malah menunjukkan jati diri si penjahat itu sendiri. 

Orang kadang merasa kalau sejarah itu harus yang baik-baik, yang "ditulis dengan tone positif". Jika aku bisa misuh di hadapan pejabat itu, yang kuucapkan adalah "positif dantjoek-mu !" Apakah sejarah hanya demi kepentingan tertentu, maka ini yang kemudian sering menjadi perdebatan. Aku pun mengakui bahwa penguasa dan pejabat saat ini adalah bagian dari sejarah pelaku dan korban pada tahun 1998. Ada sebagian mereka adalah pelaku-pelaku kejahatan itu dan ada sebagian dari mereka adalah korban yang "dibius oleh pelaku kejahatan" sehingga mereka mau menjadi bagian dari lingkaran negeri penjahat ini. Yang dulunya adalah anak muda yang keras menentang rezim Suharto pun akhirnya takluk oleh biusan dari penguasa sekarang dan akhirnya mau menjadi salah satu staff-nya atau asistennya. Aku tidak melihat lagi idealisme mereka yang berapi-api zaman itu. Sementara para pelaku kebanyakan adalah mereka-mereka yang dengan jumawanya pembawa senjata yang sah untuk membunuhi anak bangsanya sendiri. 

Aku pun heran bahwa sebagian besar anak bangsa dan negeri ini saat ini takluk oleh mereka-mereka yang dulunya dianggap sebagai penjahat dan musuh idealisme mereka. Apakah karena sudah terbiasa terbujuk oleh cuan, maka kita sebagai anak negeri ini rela melacurkan diri pada segala sesuatu atau mereka yang menjadi penjahat dan merusak citra martabat kemanusiaan itu sendiri? Aku menjadi seorang yang rasanya idealisme menjadi anak di negeri ini sudah mati. Dulu di tahun 1998, aku setidaknya menjadi bagian dari mereka yang mengalami kekerasan itu. Walau ketika datang ke Jakarta sesudah kerusuhan Mei. Namun setidaknya, selama Juni-November 1998, kekerasan itu masih terasa. Ketika melihat daerah Glodok, rasanya memang mengerikan. Warna hitam setelah bekar-bakaran itu masih ada. Aura mencekam,takut, was-was adalah nuansa pada tahun itu. Walau ada sepercik cahaya yang pantas dibanggakan dengan tumbangnya rezim diktator, dan munculah udara harapan demokrasi. 

Namun semuanya itu semu ternyata. Saat ini atmosfer kesemuan itu makin menyeruak. Masa yang disebut reformasi itu bukanlah masa yang membanggakan, namun masa yang mengecewakan. Harapan itu seolah mengecewakan. Sampai saat ini rasanya dengan pencapaian yang ada, negeri ini masih timpang hidupnya, karena satu hal yang dilupakan yaitu tidak menghargai (sejarah) manusianya. Artinya, negeri ini tak menghargai jati dirinya, tak tahu sejatinya siapa diriku, sejarahku, pola perilakuku, apa tujuanku hidup sebagai manusia  negeri ini. 

Yah, aku akhirnya hanya bisa mengeluh dan mengesah dalam lembah keprihatinan ini. Aku hanya bisa menyuarakan keprihatinan hati terhadap negeri ini. Bagaimanapun juga ini adalah tumpah darah yang setidaknya membuat aku hidup. Dengan label yang kusematkan sendiri, yaitu aku hidup di "negeri penjahat". Bukan berarti aku mau sok suci dan steril dengan kejahatan. Setidaknya aku konsern dengan kehidupan negeri ini, supaya tidak melupakan sejarah, karena dengan tidak melupakan berarti berani berpijak pada kebenaran. Kebenaran tidak hanya baik-baik saja, namun ada yang menyedihkan bahkan yang mengerikan dan warnanya kelam juga. Apakah kita mau selalu berpola selalu harus ada tumbal jika ada pergantian rezim yang berkuasa ke rezim lain demi nafsu kekuasaan? Tujuh sampai sepuluh nyawa bisa dibalas dengan 500 ribu sampai 1 juta nyawa, apa perlu jumlah yang lebih besar lagi? Kurang berapa nyawa yang harus ditumbalkan di negeri ini?


#inmyroom#      

No comments:

Post a Comment