Pagi itu, empat hari lalu aku mendapat kabar dari seorang perawat dan suster di Rumah Sakit. Telah ditemukan seorang bayi yang dibuang dekat tempat sampah di sebelah rumah seseorang. Seorang bayi perempuan. Ditemukan oleh seorang pekerja bangunan, katanya dibungkus dalam kantong plastik. Lalu dipalorkan dan diberikan bayi itu kepada Rumah Sakit untuk dirawat karena khawatir jika bayi itu terkena apa-apa dan perlu pengobatan. Tak lama kemudian, tuan rumah di mana bayi itu ditemukan, mengutus pembantunya untuk melihat dia. Dia punya niat mengadopsi bayi terbuang itu.Pagi itu juga, si bayi mungil itu dibaptis dengan nama Maria Bernadette. Aku menjenguknya di ruang perawatan. Tubuh bayi mungil dalam ranjang kecil dengan selang di hidungnya yang membantu dia bernafas normal. Aku hanya dapat berdoa dalam hati, "Semoga kamu sehat-sehat saja, Maria." Aku tertegun bersama pembantu yang hadir di Ruang itu. Aku ikut bersyukur bahwa masih ada orang yang berniat baik dan berbelarasa untuk jiwa yang tak bersalah ini.
Bagiku ada ironi yang terpikir olehku. Pertama, masih banyak orang yang menyia-nyiakan nyawa tak berdosa sedangkan masih banyak orang atau keluarga yang sangat mendambakan lahirnya anak di tengah-tengah keluarga yang mereka bangun. Bahkan sampai lama menunggu dan ada yang baru diberikan setelah hampir sepuluh tahun berkeluarga. Kedua, ada orang yang bijak dan berhati tulus merawat nyawa yang terbuang di tengah-tengah sekian banyak orang yang menyia-nyiakan hidup, anugerah ini. Aku lantas ingat sebuah kisah penyia-nyiaan ketika Anak Manusia tak mendapat tempat untuk dilahirkan di bumi. Semua rumah penuh. Semua mengatakan, "Maaf rumah kami penuh." Yang lain, "Tidak ada ruang di rumah kami. Silakan cari tempat lain." Sang ayah yang menuntun keledai dan ibu muda yang mau melahirkan tengah meregang itu, pontang-panting mencari sekedar tempat tenang untuk melahirkan. Hanya seorang yang akhirnya melihat jerih lelah kedua orang ini yang terpaksa memberikan ruangnya yang bercampur dengan kandang hewan. Tetapi tak mengapa. Masih ada RUANG untuk melahirkan.
Ruang, tak hanya sebatas ruang fisik. Ruang, bagiku adalah sebuah niat baik membantu sesama yang berkesusahan. Ruang dimana hati mau diisi oleh yang lain. Ruang, dimana hidup tak dibuang dan disia-siakan. Ruang, tak memberi kemerdekaan untuk hidup di tengah kemerdekaan yang lain. Maria Bernadette lahir dan memberiku sebuah renungan ini. Dia yang terbuang, bukanlah sebuah masalah. Dia adalah anugerah dan sekaligus tanggungjawab. Bagi orang tua yang telah membuang dia, aku hanya berdoa, "Semoga kalian tetap sadar dan bertanggung jawab atas hidup kalian." Suatu saat Maria Bernadette akan mengingatkan orangtua yang melahirkan dia kerinduan untuk memeluk kehidupan dan merawatnya. Apapun alasannya. Entah itu malu karena lahirnya seorang bayi (yang tak diinginkan). Entah karena tidak punya biaya untuk menghidupi bayi itu, atau alasan lain. Semua alasan kiranya dapat dimuat di sini tetapi cara mengambil keputusan dengan membuang tidaklah tepat. Kehidupan harus dirawat.
Maria Bernadette seolah memberiku pengalaman Natal kembali. Natal bukanlah sebuah perayaan gegap gempita saja namun sebuah peristiwa batin yang sejak semula mengajakku ke perjalanan salib dari sejak lahir sampai mati. Salib sejak Betlehem sampai Golgota.
*Maria Bernadette,the newborn baby girl, who was thrown away by her parent, found by a worker and gave her to hospital. A family adopted her and she make me reflect on how to respect, administer and manage life as far as possible. Our life is a ROOM, a SPACE that should be cared for. That's why we also need to notice it properly.
#Saturday afternoon in Cebu
No comments:
Post a Comment