Banyak kisah dan cerita tentang kehidupan ini. Ada yang rapuh karena tubuh dipakai berlebihan dan tak kenal lelah, sehingga tubuh pun menagih kebutuhannya untuk diistirahatkan. Oleh karena itu, muncullah tegangan saraf dan tekanan darah yang tinggi. Gejala pecah pembuluh darah pun mengakibatkan tubuh menjadi tak terasa lagi di saraf perasa. Dan seseorang pun mengalami penyakit yang bernama stroke. Ada bagian-bagian tuuh yang tak bisa digerakkan karena saraf tak bisa lagi mengkoordinasi, bekerja sama dengan fungsi otak karena kerusakan tertentu. Wajah dan bibir menjadi pelo, tak mampu berbicara seperti biasa. Saat tubuh mengalami masa di ambang batas itu, manusia baru sadar dan merasa bahwa dirinya perlu mengatur diri sedemikian rupa sehingga tidak terjadi kerusakan yang lebih hebat.
Kisah lain adalah kerapuhan karena kerentaan. Rapuh dan rentan itu pasti ada. Renta dan tua itu adalah proses selanjutnya. Karena ketuaan dan kerentaan, maka sisi rapuh itu makin menyeruak. Orang tak serta merta merasakan bahwa tubuhnya menjadi renta. Ketika aku bertanya pada salah satu yang sudah uzur tentang bagaimana mengalami masa tua, ia menjawab, "Tidak terasa, yang dirasakan adalah sama seperti saat muda. Hanya kemudian saya merasa bahwa fisik menjadi terbatas geraknya". Hidup bagaikan baru kemarin sore. Namun ketika semua itu menjadi terbatas, maka kesadaran menua itu tak serta merta menyertai. Aku hanya ingat sebuah ungkapan dalam tayangan satu acara di TV: "In the time that you are still young, you have to remember that someday you will become old."
Hidupku adalah cerita demi cerita. Ada yang merasa diri harus ini dan itu. Ada yang merasa harus sesuai dengan apa yang dipikirkannya. Ada pula kisah bahwa serenta usia 80an, orang itu masih belum merasa tenang dan selalu idealis. Hidupnya adalah kisah demi kisah protes dan ketidakpuasan. Dan ia adalah orang yang penyendiri. Dia merasa tidak puas dengan orang lain, komunitasnya, apa yang dilakukan teman-temannya. Semua serba salah, bahkan mungkin Tuhan pun di matanya salah dengan apa yang diciptakanNya. (Bahkan mungkin dia pikir Tuhan pun salah dalam menciptakan dirinya). Rasa tidak puas dan ingin menyendiri menjadi pola hidup yang jika mengetahui lebih dalam tentang hidupnya ada sisi-sisi antara idealis, inkonsisten, merasa diri otonom dan benar. Ketika mengusulkan sesuatu secara ide, banyak hal ditulis dan itu bagus. Namun itu semua tidak pernah ia jalani. Idenya sebatas ide atau sebatas yang ia bisa tuliskan. Aksinya untuk mewujudkan itu hanya sebatas untuk orang lain. Ia sendiri bahkan tidak menjalankannya. Menjengkelkan, ya. Pasti orang seperti ini menjengkelkan.
Ada lagi kisah seorang anak manusia yang ketika di masa tuanya ia ingin selalu atau merindukan dininabobokkan oleh yang membantunya. Ia selalu menyebut yang merawatnya di rumah jompo itu "mama". Selidik punya selidik, sejarah hidupnya adalah sejarah tentang kerinduan seorang anak manusia yang baru bisa melihat dengan mata kepala sendiri kedua orang tuanya saat ia berusia 19 tahun. Dan ketika itu pula, ia harus pergi demi keputusan martabat hidupnya. Sosok orang tua baginya adalah sebuah sosok kerinduan terus-menerus karena ketika di masa kecilnya, ia tidak pernah melihatnya. Tubuhnya renta dan rentan, kerinduannya masih bertahan dan mengendap di alam bawah sadarnya, lalu ia selalu memanggil "mama".
Sebenarnya masih banyak penggalan-penggalan kisah demi kisah, cerita demi cerita. Namun aku cukupkan sampai di sini. Aku hanya mau menyampaikan bahwa hidup ini penuh cerita. Hidup ini tak selamanya adalah kisah sukses dan sempurna. Orang yang menuntut dan menghukum orang lain harus ini dan itu bahkan sampai menyingkirkan mereka yang bersalah, kiranya mengingkari hidup itu sendiri. Orang jahat dan orang baik dibiarkan hidup bersama. Kejahatan dan kebaikan itu hidup berdampingan walau secara moral manusia, yang jahat harus dikalahkan. Kenyataannya, keduanya berkelindan dan berdampingan.
Tak selamanya hidup ini adalah kisah sang perkasa seperti Hercules. Tak selamanya hidup ini berkisah tentang kejayaan dan kemegahan bangunan. Hidup ini berkisah tentang kejayaan dan keruntuhan, kemerdekaan dan penindasan, kehidupan dan kematian, kesucian dan keberdosaan. Aku bukannya permisif, namun perlu lebih menerima jika ada keburukan dan menghargai kebaikan. Hitler pernah akan menciptakan manusia super, Ubermensch alias Superman. Namun semua itu gagal total karena terlanjur kalah perang. Aku tak bisa membayangkan jika itu terwujud saat itu. Manusia yang cacat disingkirkan. Manusia yang bodoh dibunuh. Manusia yang bersalah pasti dihabisi. Ternyata kehidupan berkata lain. Kerapuhan masih tetap diberi ruang. Kerentaan masih diberi kesempatan. Kesalahan diberi pengampunan. Aku tak tahu itu semua apa maksudnya. Setidaknya, aku belajar untuk makin rendah hati menerima segala kerapuhan, kerentanan, ketidakberdayaan, bahkan kesalahan yang kadang tak ingin kita terima sekalipun. Yah, sekali lagi itulah cerita demi erita.
#eveningtimeinmyroom#

No comments:
Post a Comment