Dari apa yang kujalani ini aku berpikir dan merenung sembari berjalan dan berlari. Kadang aku juga merasakan kaki ini harus terantuk batu, kadang kesleo ringan, kadang melalui jalan berbatu, kadang melalui jalur tanah berumput. Semua itu adalah bagian dari olah raga yang kujalani, latihan fisik dan tentu ini tak menyingkirkan latihan bermenung lebih dalam tentang hidup. Yang kutemukan kemudian adalah tak semua jalur bisa kulalui dengan cara dan kecepatan yang sama. Jalan berbatu tak mungkin dilewati dengan kecepatan berlari, maka harus berjalan supaya kaki tidak kesleo atau tersandung. Jalan tanah berumput bisa dilalui dengan kecepatan dan cara berlari karena kaki dapat menapak dengan lebih lancar, tidak bergelombang jalannya.
Kiranya refrain itu yang saat ini menggaung di angan dan kalbuku. Mengapa demikian? Tak bedanya dengan latihan fisik, latihan mental dan kerohanian kiranya juga sama. Tidak bisa hanya memaksa diri dengan cara yang sama, namun konteks kita hidup dan situasi kondisi di luar diri kita pun perlu diperhatikan. Kondisi jalan dan jalur yang kita lalui dalam hidup akan berpengaruh pada kecepatan dan cara kita bertindak. Bukan lantas itu menjadi tidak konsisten, namun semua langkah laku kita perlu kita sesuaikan dengan konteks kita berjalan, konteks kita hidup.
Orang yang sedang mengalami kesuksesan entah itu sifatnya material atau mental, tentu jalannya dengan kecepatan tinggi. Aura kebahagiaan, kebanggaan, keceriaan mewarnai energi hidup. Orang yang sedang terpuruk tentu tidak bisa berlari kencang, kecepatan 20 km/jam saja sudah cepat. Ketika jam 10.00 pagi melewati jalan tol Cikampek sampai menjelang JORR, jalan masih lancar. Belum banyak mobil yang melewati jalur itu. Namun ketika masuk JORR sekitar jam 12.00 siang dan di hari kerja maka jalur itu adalah jalur neraka, padat merayap. Orang harus tahu konteks di mana ia hidup, berjalan, bepergian dan lewat jalur mana agar meminimalisir kemacetan. Kiranya hal itu sama dengan hidup ini. Tak bisa kita akan melalui jalur yang sama untuk sebuah hal yang berbeda. Jalur yang sama akan berbeda kepadatan di jam yang berbeda. Jalan setapak pun punya karakteristik yang berbeda. Seperti di atas tadi, ada jalan berbatu dan ada jalan berumput. Ada kalanya naik, ada kalanya turun, ada kalanya landai, datar.
Ketika kita dalam masa yang konsolatif, semua terasa bahagia dan bersemangat, walau itu berat. Ketika desolasi melanda, maka hanya ada kegalauan, abu-abu, bahkan kelam. Jalan memang perlu kita lalui. Yang penting adalah bagaimana kita melaluinya. Tidak bisa kita memaksakan semua itu dengan apa yang kita lakukan atau dengan ukuran kita. Tak cukup menahan hujan supaya tidak membasahi lapangan hanya dengan menutup lapangan itu dengan terpal. Tentu perlu membuat resapan yang lebih baik agar lapangan itu cepat menyerap dan mengalirkan air dari lapangan.
Resiko memang perlu diperhitungkan. Jika kita hanya memaksakan cara dan kecepatan yang kita pakai saja, maka resiko kesleo atau terantuk batu akan terkena pada kita. Meminimalisir resiko itu justru yang harus kita ambil agak tubuh tetap terjaga dan kita tidak menyalahkan hal-hal di luar diri kita. Resiko tetap saja ada dalam hidup ini namun bagaimana mensiasati resiko yang merusak, itu lebih baik daripada kita menjalani hidup hanya dengan mata kuda. Itulah hidup. Tidak bisa hanya berpatokan pada diriku saja, tapi melihat konteks hidup juga penting. Itulah sebabnya tak semua jalan bisa dilalui dengan cara yang sama.
#noontime#

No comments:
Post a Comment