Friday, May 26, 2023

Toxic

Aku agak kaget tapi juga merasa harus memahami orang per orang. Masalahnya adalah bukan hanya menyangkut satu dua orang, tapi persoalan ini sudah merangkak dari wilayah personal ke komunal dan itu yang mempengaruhi situasi kerja. Awalnya adalah permintaan perlakuan khusus, lama kelamaan permintaan itu seperti mengalir dan menjadi kebiasaan. Ternyata orang menjadi lupa kalau pekerjaan seorang karyawan tidak hanya menjadi fokus ke dirinya saja. Eh, ternyata manusia itu mudah lupa dan tak sadar diri. Inginnya dilayani, diladeni, diperlakukan khusus. Sayangnya, perlakuan khusus itu kemudian berubah menjadi relasi yang tidak sehat. Aku melihat adanya keluhan, komplain, ketidaknyamanan dan akhirnya menjadi problem yang perlu segera ditangani. Jika dalam berelasi yang selayaknya harus relasi A dan menjadi B, maka itu sudah melenceng dari awalnya. Ketika ada pelencengan-pelencengan itulah mulainya sebuah ketimpangan. Ketika terjadi ketimpangan, maka ada di sana relasi timpang dan itulah mulainya opresi, penindasan, penguasaan yang satu terhadap yang lain. Itulah penjajahan. 

Orang mengatakan relasi itu bisa saja menjadi toxic alias tidak sehat alias relasi beracun. Racun itu kalau masih ringan, ada obatnya. Namun kalau sudah berat, obatnya juga dosis tinggi atau malah kelewat berat ya tak ada obat. Itulah susahnya. Susah di sini artinya orang lain sudah merasa terbebani namun pihak satunya tidak merasa itu. Malah cenderung untuk mengekspose diri ke pihak-pihak lain. Ketika mengekspose diri ke pihak-pihak lain, tentu pihak lain itu juga bisa menilai aneh, "koq ini orang bertingkah aneh, kata-katanya aneh, permintaannya aneh-aneh?" Itulah yang menyebabkan relasi itu menjadi beracun bukan kepada kedua belah pihak namun sudah menyebar ke lingkaran yang lebih luar dari keduanya. Dan ketika sudah menyebar, racun itu sduah menjalar ke berbagai tempat. Aku memang sedang mencari cara bagaimana melawan racun itu.

Sebuah pekerjaan yang tidak menyenangkan melawan racun. Perlu mencari obat yang adalah racun pemusnah racun sebaliknya. Ada virus maka perlu anti-virus. Perkaranya adalah mencari anti-virus yang mujarab itu yang dibutuhkan. Tidak bisa serta merta melawan virus itu dengan anti-virus. Perlu kehati-hatian supaya malah tidak kontra produktif. Aku bisa saja mendengarkan atau melihat secara reaktif dari satu pihak, namun itu pasti akan membuat reaksi negatif atau resistensi dari yang lain. Aku sedang melihat dengan lebih prosporsional dan objektif setidak-tidaknya karena pola-polanya perlu dicermati dengan seksasma. Bagi yang terkena imbas kurang menyenangkan ini, aku pun juga perlu mengatakan bahwa perlu lebih tenang dan tidak reaktif. Memang mengalami orang yang tak sadar diri itu tidak mudah. Kita pun perlu memberi kesadaran pada yang meracuni itu sehingga terjadi proses penyembuhan kedua belah pihak. Jika sudah lebih possesif dan agresif, itu yang harus segera dipotong polanya. Itu yang memang membahayakan. Ada keterlukaan pada sisi pihak yang lebih lemah.

Aku hanya melihat di sini adanya ketimpangan power, kekuasaan, otoritas. Dan karena relasi timpang itu, maka ada kecenderungan yang satu terlukai, yang lain menjadi pemenang, penikmat, mendapat kepuasan. Nah, itulah abuse of power. Ada penyalahgunaan kekuasan dari yang lebih berkuasa kepada yang lebih lemah. Misalnya, mentang-mentang pimpinan, lalu memakai wewenangnya untuk mengerjain anak buahnya. Mentang-mentang karena pemuka umat, maka ia ingin diperlakukan khusus oleh karyawan, anak buah awam dan itu sering tidak sadar. Kalau sudah ada yang mengeluh, barulah itu muncul dan mencuat. Ada komplain dan laporan ke pihak yang lebih tinggi. Bahkah itu polanya halus, karena sering tidak eksplisit bahwa orang itu punya posisi kekuasaan namun karena jabatan atau status sosialnya walau tidak punya posisi di dalam komunitas, ia tetap saja berkuasa atas karyawan atau awam yang kemudian tidak berkutik ketika melihat sosok "tertahbis" atau "yang berkaul" atau "religius" dan sebagainya. Itulah mengapa abuse of power itu juga berarti spiritual abuse. Ada penyalahgunaan status kereligiusan pada pihak lain yang dikategorikan sebagai kurang atau bukan kalangan religius. Padahal dari sisi manusiawinya, kita sama-sama religius dan sama-sama punya badan wadag yang punya kerapuhan. 

Oleh karena itu, pertama, menyadari akan kerapuhan kita itu penting. Menyadari bukan berhenti pada menyadari tetapi itu menjadi kesadaran yang memberi warning bagi perilaku kita. Kedua, berhati-hati dan waspada bahwa yang kulalukan, kuucapkan, kupikirkan juga ada kalanya melukai sesama. Emosi memang kadang muncul. Kalau emosi negatif terungkap pada sesama, itu menyerang dan melukai. Jika da luka, maka perlu rekonsiliasi. Ketiga, mengolah diri sampai mati itu adalah perlu. Mengolah diri itu sebenarnya gabungan antara yang pertama dan kedua, kemudian diintegrasikan dengan penghayatan nilai atau keutamaan yang terus-menerus dibangun dan diusahakan dari waktu ke waktu bahwa manusia itu punya derajat yang mampu memperbaiki diri, berdamai, dan mengobati dirinya dan sesamanya. Istilah keren-nya ada integrasi antara sikap sadar, kehati-hatian, dan pengolahan diri terus-menerus. Bahwa diriku lemah itu diakui, tidak diingkari, namun kelemahan bukan hal yang harus disimpan terus namun dipakai sebagai dasar membangun dan mengolah diri sehingga menjadi pribadi yang sehat, membantu komunitas menjadi sehat dan tidak menjadi batu sandungan bagi karya atau relasi kerja antar sesama. 

Itu semua adalah pekerjaan rumah yang tak pernah selesai dari kita masing-masing. Oleh karena itu, antara kodrat dan rahmat selalu dibutuhkan kerjasama. Tidak ada rahmat yang efektif tanpa kodrat yang bekerja sama. Tidak ada kodrat yang menyempurnakan dirinya tanpa dibarengi rahmat dari Atas. Mungkin info grafis ini baik untuk sekedar info ringan namun membantu kita melihat diriku atau orang lain toxic atau tidak.

No comments:

Post a Comment